Berpikir Kritis atau Berpikir Kreatif? Pilih Mana?

“Thinking is the hardest work there is, which is probably the reason so few engage in it” (Henry Ford)

Berpikir dalam KBBI didefinisikan sebagai menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu, atau menimbang-nimbang dalam ingatan. Berpikir banyak macamnya, di antaranya memiliki makna yang saling bertolak belakang. Misalnya antara berpikir subjektif (menurut pandangan/ perasaan sendiri) dengan berpikir objektif (menurut keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi). Atau berpikir deduktif (menyimpulkan dari yang umum ke yang khusus) dengan berpikir induktif (menyimpulkan berdasarkan keadaan yang khusus untuk diperlakukan secara umum). Berpikir realistik dengan berpikir autestik. Berpikir rasional dengan berpikir irrasional. Berpikir logis dengan berpikir emosional. Berpikir ilmiah dengan berpikir alamiah. Berpikir sistematis dengan berpikir acak. Berpikir analisis dengan berpikir sintesis. Lantas bagaimana dengan berpikir kritis? Apa yang menjadi lawannya?

Berpikir kritis adalah seni menganalisis gagasan berdasarkan penalaran logis. Ada proses analisis dan evaluasi yang menyertainya. Sikap tidak kritis bisa jadi muncul karena apatis, skeptis, atau karena taklid buta. Hanya saja berpikir apatis, skeptis, apalagi taklid buta seringkali tidak butuh benar-benar berpikir. Tidak perlu banyak pertimbangan, apalagi mengedepankan akal budi. Karenanya berpikir kritis jarang ‘dibenturkan’ dengan ketiga hal ini. Dalam berbagai literatur, ‘lawan’ dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif. Hal ini didasarkan pada karakteristiknya yang saling berseberangan. Berpikir kritis dicirikan sebagai berpikir analisis, konvergen, vertikal, fokus, dan objektif dengan mengoptimalkan otak kiri. Sementara berpikir kreatif memiliki karakteristik generatif, divergen, lateral, menyebar, dan subjektif dengan mengoptimalkan otak kanan. Lalu mana yang lebih baik? Berpikir kritis atau berpikir kreatif?

Berpikir kreatif adalah seni menghubungkan informasi menjadi gagasan baru. Gagasan spektakuler adalah buah dari berpikir kreatif. Bagi yang menggunakan referensi taksonomi Bloom, berpikir kreatif ini ada di level yang lebih tinggi dari berpikir kritis. Dimensi proses kognitif secara berurut dimulai dari remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (mengaplikasikan), analyzing (menganalisis), evaluating (mengevaluasi), hingga creating (membuat/ menciptakan). Berpikir kritis ada di level menganalisis dan mengevaluasi, sementara berpikir kreatif ada di level membuat dan menciptakan. Dapat dipahami bahwa mengkritisi sebuah karya (film, buku, dsb) akan jauh lebih mudah dibandingkan membuatnya. Lalu apakah artinya untuk dapat berpikir kreatif, seseorang harus mampu berpikir kritis terlebih dahulu? Mungkinkah berpikir kritis dan berpikir kreatif dapat dilakukan secara simultan?

Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Sebagaimana setiap manusia pasti memiliki belahan otak sebelah kiri maupun kanan, antara berpikir kritis dengan berpikir kreatif seharusnya tidak perlu didikotomikan. Keduanya ada di dimensi yang berbeda. Justru harus digunakan secara simultan. Misalnya dalam menulis sebuah buku, berpikir kreatif akan menghasilkan ide tulisan. Namun ide-ide tersebut harus ditata dalam sebuah outline atau gunung alur dengan berpikir kritis. Pemilihan diksi atau gaya bahasa lahir dari berpikir kreatif. Judul buku atau bab yang menarik pun hadir karena proses berpikir kreatif. Hanya saja buku yang rapi dengan proses editing yang baik membutuhkan sentuhan berpikir kritis. Review buku perlu berpikir kritis, sementara membuat buku baru perlu diawali dengan berpikir kreatif. Semakin tampak jelas perbedaannya kan? Atau justru kian tampak ‘simbiosis mutualisme’ antara keduanya?

Berpikir kritis dan kreatif adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Menghasilkan gagasan program inovatif butuh berpikir kreatif, namun merencanakannya secara detail termasuk menguji kelayakan gagasan tersebut perlu proses berpikir kritis. Kelincahan dalam mengelola dinamika organisasi butuh berpikir kreatif, sementara melakukan improvement (perbaikan) perlu berpikir kritis. Untuk menghasilkan gagasan ideal yang dapat diimplementasikan dan terus dikembangkan, berpikir kritis dan kreatif keduanya perlu untuk dilakukan secara simultan. Dan simultan disini sangatlah realistis, bukan utopis. Contoh sederhananya, bagaimana judul dan setiap paragraf dalam tulisan ini diawali dengan kata ‘berpikir’ dan diakhiri dengan dua pertanyaan membutuhkan proses berpikir kritis sekaligus kreatif. Menarik bukan? Jadi, pilih mana, berpikir kritis atau berpikir kreatif?

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron: 190-191)

Ilmu Kalau-kalau VS Berandai-andai

Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah ini: “Ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata ‘seandainya’ itu akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Beberapa hari lalu, penulis mengikuti training awareness ISO 45001:2018 terkait Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Salah satu ilmu baru yang diperoleh adalah ‘ilmu kalau-kalau’ untuk antisipasi bahaya atau risiko terjadinya insiden. Upaya preventif dalam analisis risiko memang memerlukan serangkaian jawaban atas pertanyaan ‘kalau begini’ atau ‘kalau begitu’. Berbagai kemungkinan, yang terburuk sekalipun, dibutuhkan untuk meminimalisir risiko yang bisa saja terjadi di masa mendatang. Mengingat kata ‘kalau’ bersinonim dengan ‘seandainya’, ‘ilmu kalau-kalau’ barangkali ada kesamaan juga dengan ‘ilmu berandai-andai’ yang dilarang. Benarkah demikian?

Dalam hadits di atas, kata ‘seandainya’ yang membuka pintu perbuatan setan adalah yang berorientasi ke belakang. Menengok masa lalu. Ada penyesalan, bahkan mempermasalahkan takdir Allah SWT yang menyertai. Padahal meratapi masa lalu takkan mengubah apapun. Terjebak dalam dua kekeliruan: membenarkan kesalahan atas nama takdir, atau menyalahkan pemberi takdir. Berbeda dengan ‘ilmu kalau-kalau’ yang berorientasi ke depan. Memprediksi berbagai risiko yang mungkin terjadi di masa mendatang. Ada harapan bahwa risiko tersebut tidak perlu terjadi, dan ada optimisme akan dapat melaluinya dengan mudah sebab setiap risiko sudah dipetakan solusi penanganannya. Belum tentu terjadi bukan berarti tidak akan terjadi. Masa depan tidak berubah, hanya saja ketika risiko benar-benar terjadi, ada upaya meminimalisir risiko yang sudah disiapkan, akan berbeda sekali dengan menghadapi risiko tanpa persiapan.

Berandai-andai dengan masa lalu tidak selamanya buruk. Jika penekanannya pada aspek informasi dan refleksi diri sebagai bahan introspeksi dan mengambil ibroh tentu masih dapat dibenarkan. Kalimat pengandaian dengan maksud agar dapat diambil pelajaran ini banyak terdapat dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Dalam hal ini, menengok ke belakang diperlukan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Menjadi pribadi yang lebih baik dengan belajar dari kesalahan. Sebagaimana syarat taubat, penyesalan disikapi dengan produktif: berhenti berbuat dosa dan tidak mengulanginya kembali. Jadi dalam ‘berandai-andai’ bukan penyesalannya yang dipermasalahkan, menggugat takdirlah yang dilarang. Atau melihat ke belakang untuk mengoptimalkan kebaikan yang pernah ada dalam sejarah masa lalu. Belajar keshalihan dari orang-orang shalih.

‘Ilmu kalau-kalau’ yang berorientasi ke masa depan juga tidak seluruhnya baik. Selain risk assessment, upaya envisioning untuk merumuskan visi ke depan juga sah-sah saja. Kata ‘kalau’ atau ‘seandainya’ merupakan kata penghubung untuk menandai syarat. Syaratnya bisa merupakan hal yang positif (misalnya andai saya jadi pimpinan), netral (misalnya kalau saya sudah berusia 30 tahun), atau negatif (misalnya seandainya saya jatuh miskin). Envisioning biasanya mengambil syarat positif sebagai inspirasi impian di masa mendatang. Sementara analisis risiko mengambil syarat negatif untuk ‘jaga-jaga’. Setelah syarat terpenuhi, apa yang akan dilakukan lah yang menjadi penting untuk diperhatikan. Pun berorientasi ke masa depan, menjadi bermasalah ketika ‘ilmu kalau-kalau’ digunakan untuk merencanakan perbuatan yang tidak baik di masa mendatang. Misalnya, kalau jadi pejabat saya akan korupsi. Godaan untuk korupsi mungkin merupakan risiko yang perlu diwaspadai bagi para pejabat. Namun tidak perlu berandai-andai menjadi koruptor, ataupun menganalisis penyelamatan seperti apa jika ternyata harus jadi koruptor. Perlu diingat bahwa ada dimensi do’a dalam setiap harapan dan angan. Karenanya, merencanakan perbuatan buruk bukanlah implementasi ‘ilmu kalau-kalau’ yang dibenarkan.

Selain itu, ada juga ‘ilmu kalau-kalau’ dan berandai-andai yang tidak perlu dilakukan. Terutama untuk hal-hal yang tidak realistis atau pada hal-hal yang hanya mendatangkan kecemasan yang berlebihan atau pada hal-hal yang diluar kendali untuk menanganinya. Tidak perlu membuang energi untuk menandai syarat yang mustahil terjadi. Kalau saya mempunyai kekuatan super, misalnya. Selain itu, penerapan  ‘Ilmu kalau-kalau’ adalah untuk menghadirkan ketenangan karena sudah mengantisipasi segala risiko yang mungkin muncul. Bukan untuk membuat fobia dan memandang masa depan dengan penuh kekhawatiran. Karenanya jangan menggunakan ‘ilmu kalau-kalau’ secara berlebihan. ‘Ilmu kalau-kalau’ dapat digunakan untuk syarat yang di luar kendali, namun tidak untuk tindakan penanganan yang di luar kendali. Hal tersebut masuknya ke bab do’a dan tawakal.

‘Ilmu kalau-kalau’ mengajarkan kita untuk merekayasa masa depan dengan memperhatikan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Jika dikembangkan, ilmu ini bisa memotivasi dan menginspirasi akan masa depan yang lebih baik. Berandai-andai mengajarkan kita untuk berkubang dalam masa lalu yang kelam. Jika berlebihan, akan cenderung melenakan diri, menyalahkan orang lain, bahkan kecewa terhadap Tuhan. Kita dapat belajar dari masa lalu tanpa harus berlebihan meratapi ketidakoptimalan di masa lalu. Dan kita juga bisa merencanakan masa depan tanpa lupa untuk berbuat yang terbaik di hari ini. Menyoal takdir yang telah terjadi, artinya berbicara tentang mengambil ibroh. Menyongsong takdir yang belum terjadi, berarti menguatkan perbekalan dan amal nyata di hari ini. Dan mereka yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esoknya lebih baik dari hari ini.

Dear Past, thanks for all the lessons. Dear Future, I’m ready…

Menghadapi Perubahan, Anda Komponen Elektronika yang Mana?

The ones who are crazy enough to think they can change the world are the ones who do” (Steve Jobs)

Di kolong langit tak ada yang abadi, semua akan berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan terjadi setiap saat, di semua lini kehidupan. Karena perubahan adalah keniscayaan, yang terpenting adalah persiapan dan penyikapan dalam menghadapi perubahan. Secara umum, ada dua cara menyikapi perubahan: pasif dan aktif. Sama halnya dengan komponen dasar elektronika, ada yang bersifat pasif, ada yang aktif. Beberapa komponen elektronika pasif diantaranya resistor, kapasitor, induktor, dan transformator. Sementara beberapa komponen elektronika aktif antara lain dioda dan transistor. Lantas bagaimana jika komponen elektronika ini dikaitkan dengan sikap seseorang dalam menghadapi perubahan? Anda termasuk komponen elektronika yang mana? Nomor 4 bikin Anda tercengang! Hehehe, ikut-ikutan gaya copywriting kekinian.

Komponen pertama adalah resistor. Fungsinya menghambat arus yang mengalir dalam rangkaian listrik. Nilainya berbeda tergantung kode angka atau gelang warna dan diukur dalam satuan Ohm. Gelang warna ada yang menunjukkan nilai resistor, ada yang menunjukkan nilai toleransinya. Besarnya nilai hambatan ini berbanding lurus dengan besarnya tegangan dan berbanding terbaik dengan besarnya arus listrik. Seseorang dengan tipe resistor akan menghadapi perubahan dengan resisten. Enggan beranjak dari zona nyaman. Khawatir dengan ketidakpastian. Takut dirugikan dengan biaya perubahan. Resistensi terhadap perubahan ini berbeda kadarnya, baik besarannya ataupun toleransinya. Namun intinya menolak perubahan, atau menolak untuk berubah. Semakin besar gagasan perubahan, semakin keras pula penolakannya. Resistensi hanya dapat berkurang dengan kesadaran untuk berubah dan kejelasan arah perubahan, itu pun bagi yang masih punya toleransi besar.

Komponen kedua adalah kapasitor atau kondensator. Kapasitor sebenarnya bisa berfungsi sebagai perata arus ataupun filter, namun fungsi utamanya adalah menyimpan arus listrik. Dibentuk dari dua permukaan yang berhubungan tapi dipisahkan oleh penyekat. Besarnya kapasitansi dalam satuan Farad berbanding lurus dengan besarnya muatan dan berbanding terbalik dengan besarnya tegangan. Kapasitor memiliki dua kaki yang tidak boleh salah dalam meletakkannya karena dapat membuat kapasitor menggelembung atau bahkan meledak. Seseorang dengan tipe kapasitor akan menghadapi perubahan dengan cuek. Tidak menolak pun mendukung, hanya sekadar menampung gagasan perubahan. Bisa menjadi ‘tempat sampah’ yang akan mengurangi dampak resistensi, namun informasi yang tidak berimbang bisa menyebabkannya lebih berbahaya dari yang resisten. Berbeda dengan yang resisten, semakin besar gagasan perubahan, ketidakpeduliannya akan semakin kecil. Karena ada batasan kapasitas, akan ada kondisi tertentu dimana seorang tipe kapasitor akan berhenti apatis. Biasanya ketika ada kepentingan dirinya yang terusik, baik dalam hal mendukung ataupun menolak perubahan.

Komponen ketiga adalah induktor atau koil (kumparan). Fungsinya beragam tergantung jenis dan rangkaiannya, bisa untuk mengatur frekuensi, memfilter ataupun menjadi alat kopel (penyambung). Besaran induksinyapun beragam dalam satuan Henry. Sebuah induktor ideal memiliki induktansi, tetapi tanpa resistansi atau kapasitansi, dan tidak memboroskan daya. Sifat-sifat elektrik dari sebuah induktor ditentukan oleh panjangnya induktor, diameter induktor, jumlah lilitan dan bahan yang mengelilinginya. Induktor juga bisa menyimpan energi seperti halnya konduktor. Seseorang dengan tipe induktor akan menghadapi perubahan secara logis, tidak asal menolak, menampung, ataupun menerima. Karena sudah mampu menyaring informasi, tipe ini mampu menjadi jembatan antara yang menolak dengan yang menerima perubahan. Hanya saja karena sifatnya induktif, tipe ini rentan mengambil kesimpulan dengan generalisasi, padahal bisa jadi ada perubahan yang sifatnya kasuistik. Dan biasanya memang tidak ada induktor yang ideal.

Komponen keempat adalah transformator atau trafo. Bekerja berdasarkan perubahan gaya medan listrik dan berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tegangan. Transformator terdiri atas inti besi, terminal input di kumparan primer, dan terminal output di kumparan sekunder. Seseorang dengan tipe transformator akan menghadapi perubahan secara pragmatis. Memang benar, transformator memiliki akar kata yang sama dengan transformasi yang identik dengan perubahan. Bahkan bergerak bersama perubahan. Hanya saja sebagai komponen elektronika pasif, perubahan yang dihasilkan tergantung dari banyaknya lilitan di kumparan primer atau sekunder. Bisa meningkatkan, bisa menurunkan. Bisa mempercepat, bisa menghambat. Tergantung besarnya dukungan. Tergantung manfaat yang dirasakan. Tergantung kepentingan yang terfasilitasi. Pragmatis mengikuti arah hembusan angin yang paling menguntungkan baginya.

Komponen kelima adalah dioda (dua elektroda) atau diode. Dioda memiliki 1 buah penghubung  (junction), sering disebut sebagai komponen dua lapis (lapis N dan P). Fungsinya beragam, tergantung dari rangkaian dan bahan penyusunnya. Sebagai komponen elektronika aktif, dioda bisa berfungsi sebagai penyearah, pengendali, pengamanan rangkaian, bahkan bisa memancarkan cahaya. Sebagai penyearah, dioda bisa mengalirkan arus listrik pada satu arah saja dan menghambat arus listrik dari arah berlawanan. Seseorang dengan tipe dioda akan menghadapi perubahan secara kritis. Filternya lebih kuat dari tipe induktor sehingga kesimpulan yang diambil pun akan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Pengelolaan yang tepat, bisa membuatnya mampu mengendalikan dan mengamankan perubahan. Bahkan menjadi inspirator perubahan. Cakap mengelola resistensi dan mendorong perubahan. Hanya saja jangan sampai salah posisi, pengaruhnya bisa kontraproduktif terhadap arus perubahan.

Komponen keenam adalah transistor. Fungsi transisitor juga beragam tergantung dari strukturnya. Transistor bisa berfungsi sebagai penguat arus, switch (pemutus dan penghubung), penstabil tegangan, modulasi sinyal, penyearah dan lain sebagainya. Transistor terdiri dari 3 kaki (terminal) yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor (K). Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya atau tegangan inputnya, memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Transistor adalah transfer resistor yang akan memindahkan penghambat. Transistor merupakan komponen penting penyusun Integrated Circuit (IC) yang lebih kompleks. Seseorang dengan tipe transistor akan menghadapi perubahan secara bijak. Tahu bagaimana menempatkan diri. Bisa menguatkan seperti trafo, namun outputnya jelas stabilitas perubahan bagaimanapun inputnya. Bisa mengelola resistensi seperti dioda, namun hambatan bukan sekadar dilawan, melainkan bisa diarahkan  menjadi akselerator perubahan. Jika dibutuhkan, bisa bertindak tegas seperti switch on off. Transistor seakan memiliki ruh yang sama dengan transisi yang identik dengan perpindahan dan perubahan. Masa transisi yang penuh ketidakpastianlah yang kerap menimbulkan ketidaknyamanan. Setelah melalui masa transisi perubahan akan terjadi seutuhnya. Transisi lah yang ‘mengerikan’, bukan perubahan yang merupakan keniscayaan. Dan tipe transistor akan sempurna dalam mengawal masa transisi.

Akhirnya, komponen-komponen elektronika di atas hanyalah analogi. Barangkali tidak sepenuhnya tepat. Namun cukup dapat dipahami bahwa perubahan seyogyanya bisa disikapi dengan aktif. Jika pada akhirnya perubahan akan terjadi, mengapa memilih pasif? Toh baik aktif maupun pasif, masa depan tetaplah tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Justru aktif dalam menghadapi perubahan dapat berpotensi merekayasa masa depan sesuai dengan yang diharapkan. Kritis dalam menghadapi perubahan adalah baik, namun bijak dalam menghadapinya adalah lebih utama.

Change will not come if we wait for some other person, or if we wait for some other time. We are the ones we’ve been waiting for. We are the change that we seek.” (Barack Obama)

Hukum Newton dan Gerakan Mahasiswa Jaman Now

Jika ada resultan gaya yang bekerja pada sebuah benda, maka akan dihasilkan suatu percepatan dalam arah yang sama dengan resultan gaya. Besarnya percepatan tersebut berbanding lurus terhadap resultan gaya dan berbanding terbalik terhadap massa bendanya” (Hukum Newton II)

Menyoal gerakan atau pergerakan, tentu ada korelasinya dengan hukum gerak. Dalam fisika klasik, hukum gerak Newton menjadi acuan. Dalam kehidupan sehari-hari, hukum kelembaman (Newton I) atau pun hukum aksi reaksi (Newton III) masih terbilang relevan. Bagaimana dengan gerakan mahasiswa? Jika mengacu kepada Hukum Newton II di atas sepertinya dapat dipahami bahwa akselerasi gerakan mahasiswa akan sangat ditentukan oleh berbagai aksi yang selaras dengan arah gerakan yang diharapkan. Tapi apakah berbanding terbalik dengan kuantitas massa mahasiswa? Atau barangkali gerbong gerakan mahasiswa saat ini terbebani dengan penuh sesaknya mahasiswa yang tak lagi menjadi ‘golongan elit cendekia pejuang masyarakat’?

Jika resultan gaya yang bekerja pada benda yang sama dengan nol, maka benda yang mula-mula diam akan tetap diam. Benda yang mula-mula bergerak lurus beraturan akan tetap lurus beraturan dengan kecepatan tetap“, demikian bunyi Hukum Newton I yang dikenal juga sebagai hukum inersia atau hukum kelembaman. Kelembaman adalah kelambanan dan kemalasan. Tak lagi tangkas. Apatisme mahasiswa bisa digerakkan, tapi gerakannya akan menuju pada apatisme yang lain. Sementara mahasiswa yang terus bergerak semakin langka. Barangkali demikian potret gerakan mahasiswa jaman now, bukan mati, hanya ‘lembam’. Kelembaman yang bukan tanpa alasan, sebab unsur ‘kaum terpelajar’ belumlah hilang disandang oleh para mahasiswa.

Generasi milenial adalah generasi kreatif yang pragmatis. Amanah yang diemban mahasiswa adalah Tri Dharma, bukan Tritura ataupun enam visi reformasi. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ada adalah Pendidikan dan Penelitian, bukan Organisasi dan Demonstrasi. Dan yang termasuk amanah adalah lulus tepat waktu. Amanah orang tua di tengah biaya kuliah yang semakin tinggi dan kurikulum yang semakin padat. Pun batas kuliah S1 maksimal ‘masih’ 6 atau 7 tahun, saat ini lulus kuliah 5 tahun dianggap sudah terlalu lama. Rata-rata lama kuliah di UGM yang katanya kampus kerakyatan saja sudah 4 tahun 8 bulan. UNY tetangganya malah hanya 4,5 tahun, bahkan rata-rata lama mahasiswa S1 kuliah di ITB hanya 4,2 tahun. Pendidikan dan penelitian dianggap lebih tepat untuk mengisi waktu kuliah yang relatif singkat. Toh syarat kelulusan adalah tugas akhir, bukan LPJ organisasi. Dan yang menjadi salah satu ukuran kualitas lulusan adalah nilai IPK, bukan banyaknya ikut aksi massa.

Lantas bagaimana dengan pengabdian masyarakat yang menjadi salah satu Tri Dharma? Sosial politik berbeda dengan sosial kemasyarakatan. Mahasiswa milenial pun masih tertarik mengikuti gerakan horizontal ke masyarakat. Kuliah Kerja Nyata, Bakti Sosial, ataupun program Community Development masih ramai peminat. Donasi kemanusiaan offline atau online juga tidak sepi. Aksi nyata membantu masyarakat dinilai sebagai bentuk kepedulian yang nyata. Apalagi jika dibandingkan gerakan vertikal dalam bentuk aksi massa yang jauh dari gaya kekinian. Gerakan mahasiswa pun mulai mengalami digitalisasi, di antaranya melalui media sosial, aplikasi Start Up, crowdfunding, ataupun petisi online. Peduli dan kontribusi tidak harus berupa demonstrasi turun ke jalan.

Setiap aksi akan menimbulkan reaksi, jika suatu benda memberikan gaya pada benda yang lain maka benda yang terkena gaya akan memberikan gaya yang besarnya sama dengan gaya yang diterima dari benda pertama, tetapi arahnya berlawanan”, demikian bunyi Hukum Newton III. Konon kesuksesan gerakan mahasiswa dapat dilihat dari apresiasi (respon positif) dari stake holder, penyebaran luas isu melalui berbagai media, dan besarnya keterlibatan massa. Sayangnya, hukum aksi reaksi menunjukkan bahwa respon positif akan ‘diseimbangkan’ dengan respon negatif. Lihat saja kasus ‘kartu kuning untuk Jokowi’ oleh Zaadit Taqwa, Ketua BEM UI. Banyak pihak yang mengapresiasi bahwa ‘mahasiswa masih ada’, namun banyak juga yang mencibir Zaadit dengan dalih etika dan sebagainya. Atau kasus ditangkapnya belasan mahasiswa paska aksi evaluasi 3 tahun pemerintahan Jokowi – JK akhir Oktober 2017 lalu. Sementara berbagai pihak mendukung dan bantu mengadvokasi para aktivis mahasiswa tersebut, tidak sedikit pihak yang justru menyayangkan, mempermasalahkan dan menyalahkan mereka.

Ketika hukum kelembaman dan aksi – reaksi tampaknya membawa gerakan mahasiswa kembali ke titik nol, masih ada Hukum Newton II. Perbesar upaya konstruktif sambil meningkatkan kualitas mahasiswa penggerak (yang tidak harus banyak) untuk mengakselerasi gerakan mahasiswa. Lebih jauh lagi, gerakan mahasiswa mungkin perlu melupakan hukum klasik Newton yang tidak memperhitungkan perubahan bentuk dalam analisisnya. Hukum Newton juga tidak dapat menjelaskan berbagai fenomena dalam fisika modern, termasuk yang berkaitan dengan teori relativitas ataupun fisika kuantum. Dalam hal ini, hukum kekekalan momentum dan energi yang baru muncul dua abad kemudian bisa jadi lebih relevan. Potensi dan signifikansi gerakan pemuda dan mahasiswa tidaklah lekang oleh zaman, yang berubah barangkali bentuk dan platform gerakannya.

Saatnya gerakan mahasiswa bertransformasi di era kuantum yang menembus ruang dan waktu. Gerakan mahasiswa Newtonian masih sangat memperhatikan jumlah massa yang terlibat dalam aksi nyata, sementara gerakan mahasiswa kuantum sudah mengoptimalkan sumber daya dan massa yang ‘tidak nyata’ di dunia maya. Perjuangan gerakan mahasiswa di era digital tidaklah lagi sama dengan jaman old. Realita ini harus ditangkap sebagai peluang, bukan sebagai ancaman atas gerakan mahasiswa mainstream. Riset dan kajian dikuatkan. Kemampuan menulis dan berkomunikasi ditingkatkan. Sociopreneur dan pemberdayaan masyarakat disebarluaskan. Teknologi informasi dikuasai, isu dimainkan. Pendidikan karakter, value dan sense of crisis ditanamkan. Selanjutnya tinggal menciptakan dan menjaga momentum gerakan mahasiswa yang lebih kekinian. Sisanya biarkan energi vibrasi ala fisika kuantum yang akan terus memperbaiki dan menggerakkan.

Peran mahasiswa sebagai creator of change tidaklah berubah, karenanya gerakan mahasiswa seharusnya adaptif dengan perubahan. Peran sebagai social control pun tetap harus berjalan dengan tidak disempitkan maknanya sebatas demonstran. Peran sebagai moral force hanya akan efektif selama mahasiswa tidak abai terhadap moral dan integritasnya. Adapun peran sebagai iron stock adalah keniscayaan, karenanya dunia paska kampus menjadi penting untuk dipersiapkan. Karena aktivis adalah value bukan sekadar jabatan, peran mahasiswa ini akan terus melekat paska kampus, hanya berubah bentuk dan lingkup perjuangannya. Transformasi gerakan mahasiswa kuantum ini tidaklah mengubah peran, hanya mengoptimalisasinya di era globalisasi dan revolusi industri 4.0. Revolusi industri saja sudah masuk versi keempat, masak gerakan mahasiswa masih gitu-gitu aja? Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka” (Soe Hok Gie)

Ayo (Berhenti) Rapikan Meja Kerja Anda!

Jika meja yang berantakan adalah tanda pikiran yang berantakan, maka sebuah meja kosong merupakan tanda dari apa?” (Albert Einstein)

Kata-kata tersebut kerap menjadi pembenaran bagi mereka yang meja kerjanya tidak rapi. Seraya menambahkan bahwa meja kerja orang sekaliber Albert Einstein, Thomas Alfa Edison ataupun Steve Jobs pun jauh dari kata rapi. Argumen ini diperkuat dengan berbagai penelitian terkait. Misalnya peneliti di University of Minnesota (USA) menguji seberapa baik responden dapat mengemukakan gagasan baru saat bekerja di lingkungan yang rapi dan berantakan. Hasilnya, gagasan yang jauh lebih menarik dan kreatif muncul dari responden di meja kerja yang berantakan. Sementara responden di meja kerja yang rapi cenderung mengikuti peraturan dan enggan mencoba hal baru. Penelitian lain dari University of Northwestern (USA) juga menemukan bahwa orang dengan meja kerja berantakan lebih dapat menyimpulkan inspirasi kreatif dan mampu memecahkan masalah lebih cepat ketimbang orang yang meja kerjanya rapi.

Tapi bukankah berantakan tanda malas membereskan? Dan lingkungan kerja yang sehat adalah lingkungan kerja yang bersih dan rapi? Ada benarnya, namun tidak sepenuhnya. Sebelumnya perlu kita pahami perbedaan antara lingkungan kerja, tempat kerja, dan meja kerja. Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja pada saat bekerja, baik berbentuk fisik atau nonfisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat memengaruhi diri dan pekerjaannya saat bekerja. Lingkungan kerja yang baik tentu akan berdampak positif terhadap pekerjaan. Dan lingkungan kerja ini juga mencakup aspek nonfisik, misalnya hubungan kerja dengan atasan, rekan atau bawahan.

Adapun definisi tempat kerja menurut OHSAS 18001 (standar internasional untuk penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah lokasi manapun yang berkaitan dengan aktivitas kerja di bawah kendali organisasi (perusahaan). Tempat kerja ini perlu dikelola untuk menghilangkan pemborosan (waste) sehingga sumber daya bisa optimal. Salah satu metodologi penataan dan pemeliharaan tempat kerja yang banyak dikenal adalah 5S, yang merupakan gerakan untuk mengadakan pemilahan (seiri), penataan (seiton), pembersihan (seiso), penjagaan kondisi yang mantap (seiketsu), dan penyadaran diri akan kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik (shitsuke). Di Indonesia, metode 5S ini diadopsi menjadi 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) yang merupakan suatu program terstruktur yang secara sistematis menciptakan ruang kerja (workplace) yang bersih, teratur dan terawat dengan baik. 5R juga bertujuan meningkatkan moral, kebanggaan dalam pekerjaan serta rasa kepemilikan dan tanggung jawab pekerja. 5R digunakan juga dalam konsep Lean Management lainnya, seperti: Single Minute Exchange of Dies (SMED), Total Productive Maintenance (TPM), dan Just In Time (JIT).

Tempat kerja adalah bagian dari lingkungan kerja, tempat kerja yang baik akan meningkatkan produktivitas kerja. Pekerjaan bisa terhambat karena kesulitan menemukan alat kerja, mobilitas pun terganggu jika penataan ruang kerja tidak efektif dan efisien. Lalu bagaimana dengan meja kerja yang tentunya juga merupakan bagian dari lingkungan kerja? Meja kerja bisa menjadi bagian dari tempat kerja (workplace) yang harus memenuhi standar tertentu, misalnya untuk meja perakitan (assembly table) dan meja pengemasan (packing table). Namun meja kerja bisa jadi merupakan area pribadi yang lebih menggambarkan tentang karakter personal dibandingkan dengan kualitas pekerjaan. Dalam buku “Snoop: What Your Stuff Says About You”, Sam Gosling, profesor psikologi University of Texas (USA) menuliskan bahwa salah satu alasan ruang fisik, termasuk meja kerja seseorang, dapat mengungkapkan sesuatu adalah karena hal-hal itu pada dasarnya merupakan perwujudan dari sejumlah tingkah laku sepanjang waktu. Lebih jauh lagi, Lily Bernheimer, peneliti di University of Surrey (UK) dan Direktur Space Works Consulting, telah mengembangkan lima jenis kepribadian meja untuk sebuah perusahaan Inggris, Headspace Group. Dari hasil kajian Gosling dan psikolog kepribadian maupun lingkungan, meja kerja dapat menunjukkan lima potret dasar kepribadian: ekstrover, penyetuju, berhati-hati, cemas, dan terbuka untuk pengalaman.

Sebagai area pribadi, meja kerja tidak harus rapi. Karena ‘rapi’ disini sifatnya menjadi relatif, tidak perlu distandardisasi. Craig Knight, seorang psikolog dan pendiri Haddington Knight (sebuah perusahaan di Inggris yang menggunakan sains untuk meningkatkan kinerja usaha) telah melakukan penelitian mendalam dalam personalisasi ruang kerja. Knight menemukan bahwa para pekerja yang meletakkan sedikitnya satu foto atau tanaman di meja mereka akan 15% lebih produktif . Para pekerja yang bisa menghias meja kerja seperti yang mereka inginkan akan 25% lebih produktif dibandingkan mereka yang bekerja di meja yang lebih kosong. Tiga peneliti lain yang menulis di Jurnal Psikologi Lingkungan juga mendapati bahwa dengan membuat tempat kerja lebih personal  akan memberikan kontrol lebih dan rasa kepemilikan di lingkungan kerja. “Menciptakan sebuah tempat milik pribadi di sebuah lingkungan kerja milik publik akan berkontribusi dalam kognitif positif dan kondisi afektif seseorang, yang kemudian menghasilkan sumber daya mental yang meningkat, dan dapat mengatasi dengan lebih baik gangguan yang berpotensi melemahkan karena rendahnya privasi.” tulis mereka.

It’s pointless to have a nice clean desk, because it means you’re not doing anything”, demikian ungkap Michio Kaku, seorang Profesor Fisika, yang rasa-rasanya senada dengan apa yang dikatakan Albert Einstein di awal. Ketika sebagian orang nyaman dengan meja kerja yang tertata rapi, sebagian yang lain justru menemukan gairah beraktivitas dalam meja kerja yang ‘ramai’. Seperti halnya pilihan cara belajar, kondisi meja kerja kerapkali hanya merupakan pilihan cara bekerja. Tidak harus sama antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. Pernyataan bahwa meja kerja boleh saja berantakan ketika dipakai namun harus kembali bersih ketika ditinggalkan terdengar bijak namun sebenarnya tidaklah tepat. Tidak sedikit orang yang sengaja tidak merapikan mejanya untuk mengingatkannya bahwa ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Merapikan mejanya justru membuatnya lupa akan pekerjaannya. Bukankah untuk mengingat lebih mudah (dan rapi) cukup dengan membuat note kecil di tempat yang mudah terlihat? Kembali ke pilihan cara bekerja. Tidak semua orang sama. Bruce Mau, seorang desainer Kanada pun berkata, “Don’t clean your desk. You might find something in the morning that you can’t see tonight.”. Sekali lagi, tidak rapi tidak sama dengan tidak produktif.

If your company has a clean-desk policy, the company is nuts and you’re nuts to stay there”, demikian ungkap Tom Peters, seorang penulis tentang praktik manajemen bisnis. Terdengar ekstrim. Namun dapat dimaklumi jika kita melihat meja kerja sebagai tempat aktualisasi yang punya privacy. Karenanya tak mengherankan banyak perusahaan menyediakan tempat khusus untuk bertemu dengan pihak internal atau eksternal, tidak membawanya ke meja kerja kecuali untuk alasan khusus. Meja kerja harus nyaman untuk mendukung produktivitas, namun parameter kenyamanan ini tentu beragam. Tidak harus semua orang mejanya serapi Bill Gates (Microsoft) atau seberantakan Steve Jobs (Apple), sesuaikan saja dengan karakteristik masing-masing orang untuk optimalisasi kerja. Namun perlu diingat, tidak rapi berbeda dengan kotor dan jorok. Sampah yang berserakan atau kotoran dimana-mana bukan kebiasaan produktif. Alih-alih menjadi kreatif dan kian produktif, yang ada malah menambah tingkat stress dan jadi sumber penyakit. Pun ada irisan, malas tidaklah sama dengan kreatif. Jadi, ayo (berhenti) rapikan meja kerja kita!

Then there’s the joy of getting your desk clean, and knowing that all your letters are answered, and you can see the wood on it again” (Lady Bird Johnson)

Kemampuan Superpower Terkuat? Memimpin!

“Whenever you find the whole world against you, just turn around and lead the world” (Anonymous)

“Kemampuan superpower apa yang Anda ingin miliki agar dapat menguasai dunia?”, demikian pertanyaan dalam salah satu sesi Workshop Design Thinking For Innovation yang penulis ikuti beberapa waktu lalu. Hasil polling tersebut tidak mengejutkan dimana kemampuan melihat masa depan (future vision : 45%) dan mengendalikan orang lain (mind control : 42%) menjadi jawaban yang paling banyak dipilih peserta. Sisanya, kemampuan berpindah dalam sekejap (teleportation) dan bergerak secepat cahaya (flash) masing-masing hanya memperoleh 6%. Sementara itu, tak ada peserta yang memilih kemampuan membuat bola api (fireball), kekuatan super (super strength), dapat tidak terlihat (invisibility),bisa terbang (jetfly), dan kemampuan menyembuhkan diri (self heal).

Pertanyaan dan hasil polling tersebut mengingatkan penulis pada salah satu anime mind blowing berjudul Code Geass. Dikisahkan Lelouch Lamperouge, seorang bangsawan Britania yang dibuang ayahnya hendak menciptakan dunia yang damai untuk Nunally, adiknya. Ia memperoleh kekuatan misterius bernama “Geass Power of the King” yang membuatnya mampu membuat orang melakukan apapun yang diperintahkannya. Dalam perjalanannya, ada batasan dari kekuatan tersebut, misalnya hanya bisa digunakan satu kali untuk setiap orang. Bahkan ada kondisi yang membuatnya tak mampu menggunakan kekuatannya. Namun kecerdasannya dalam memprediksi masa depan, membuatnya tak tertandingi. Dan di akhir cerita, Lelouch mampu menguasai dunia dengan menghancurkan dunia yang sekarang dan menciptakan dunia yang baru. Mind control yang dipadu dengan future vision menjadi kombinasi ampuh untuk menguasai dunia.

Code Geass jelas kisah fiksi, hasil polling pun juga barangkali tidak cukup representatif dan tidak cukup memenuhi kaidah ilmiah. Namun dapat dipahami bahwa kemampuan mengendalikan orang lain lebih powerful dibandingkan kekuatan yang hanya untuk dirinya, seperti teleportation, flash, fireball, super strength, invisibility, jetfly, ataupun self heal. Sebagaimana Profesor X memimpin para X-Men. Bagaimana pun menguasai dunia tidak mungkin dapat dilakukan sendirian. Kemampuan melihat masa depan pun hanya akan bermanfaat untuk dirinya jika tidak ada yang percaya. Dan kemampuan menggerakkan (enable others to act) ini merupakan salah satu karakteristik penting seorang pemimpin, demikian pula halnya dengan kemampuan untuk memprediksi masa depan (visioner). Sehingga, kekuatan untuk menguasai dunia sejatinya terhimpun dalam diri seorang pemimpin.

Perhatikan daftar Top 5 ‘Manusia Paling Berkuasa’ versi Forbes tahun 2016, secara berurut adalah: Vladimir Putin (Presiden Rusia), Donald Trump (Presiden USA), Angela Merkel (Kanselir Jerman), Xi Jinping (Presiden RRC) dan Paus Francis (Pemimpin Katolik). Sementara itu, salah satu majalah global terkemuka The Economist edisi 14 – 20 Oktober 2017 memajang wajah Xi Jinping dilengkapi teks bombastis “The World’s Most Powerful Man” di cover terdepan. Hasil lebih beragam diperlihatkan TIME dalam ‘The 100 Most Influential People of 2017’ yang membagi dalam lima kategori: Pioneer, Artist, Leaders, Titans, dan Icons. Pun demikian, Leaders tetap mendominasi, dimana 24 dari 100 nama masuk kategori Leaders. Atau jika kita coba menelaah buku ‘The 100’ karya Michael H. Hart yang memuat daftar 100 manusia paling berpengaruh sepanjang zaman. Akan didapati, selain Rasulullah Muhammad SAW di peringkat pertama, hampir separuh nama dalam daftar tersebut adalah pemimpin, baik pemimpin agama, kerajaan, ataupun Negara. Selebihnya ada ilmuwan, penemu, filsuf, penjelajah, seniman, penulis, hingga pahlawan nasional.

Dalam daftar Top 10 ‘Manusia Paling Berkuasa’ versi Forbes tahun 2016 juga terdapat nama-nama seperti Bill Gates (Microsoft – peringkat 7), Larry Page (Google – peringkat 8 ) dan Mark Zuckerberg (Facebook – peringkat 10). Mereka memang bukan pemimpin suatu Negara atau wilayah, namun tetap saja mereka memimpin perusahaan besar, leading dalam dunia teknologi informasi dengan jutaan bahkan milyaran ‘rakyat’nya. Membangun masa depan di zamannya. Jadi tetap saja, kemampuan terkuat untuk mengubah dan menguasai dunia adalah memimpin. Tak heran kepemimpinan banyak diperebutkan. Jangankan statement kontroversial, ‘berdehem’nya seorang pemimpin di kancah internasional saja bisa membuat gaduh dunia global. “With great power comes great responsibility”, demikian ungkap Uncle Ben dalam film Spiderman. Disinilah seorang pemimpin ada di antara surga dan neraka. Ganjaran atas kebijakannya akan terus mengalir, menjadi kebaikan kah, atau malah dosa yang tak berujung. Konsekuensi ini harus dipahami bagi siapapun yang ingin memperoleh kekuatan besar dengan menjadi seorang pemimpin.

Lalu bukankah ‘kuota’ untuk menjadi pemimpin terbatas? Ya, jika pemimpin dimaknai sebatas jabatan. Pernah mendengar kisah seseorang yang punya mimpi mengubah dunia namun akhirnya gagal dan di akhir kisah ia sadar bahwa seharusnya ia terlebih dulu mengubah dirinya? Benar, mengubah dunia harus dimulai dari mengubah diri sendiri, menguasai dunia mesti diawali dengan menguasai diri sendiri. Kemudian barulah diri ini didorong tidak hanya puas menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri karena semakin besar lingkup kepemimpinan, akan semakin besar potensi kebermanfaatannya. Tidak perlu berambisi terlalu tinggi, sentuhan kepemimpinan bisa diawali dari lingkup yang lebih kecil. Membangun keluarga pemimpin, misalnya. Atau penulis cukup terinspirasi dengan kata-kata seorang guru, “Jika kamu memimpin kelas dengan baik hari ini, siswamu akan memimpin dunia dengan baik di masa depan”. Mari kita menjadi pemimpin, untuk memperbaiki diri, keluarga, masyarakat, dan dunia!

If the king doesn’t move, then his subjects won’t follow” (Lelouch – Code Geass)

Karena Beasiswa Adalah Amanah

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.” (Bung Hatta)

Angka partisipasi pendidikan tinggi mengalami peningkatan cukup signifikan dalam tujuh tahun terakhir. Data BPS mengungkapkan bahwa selama tahun 1994 – 2009, Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 19 – 24 tahun relatif stagnan di kisaran 12%. Namun capaian ini terus meningkat sejak tahun 2010 dan tahun 2017 ini angkanya telah mencapai 24,67%, hampir dua kali lipat dari capaian tahun 2009. Program pemerintah yang paling mungkin memengaruhi capaian ini adalah Bidik Misi yang dimulai pada 2010 lalu untuk 20.000 mahasiswa. Dampaknya, terjadi peningkatan angka partisipasi pendidikan tinggi yang signifikan pada tahun 2013, tepat empat tahun setelah program digulirkan. Kuota maupun sebaran kampus Bidik Misi pun terus bertambah, termasuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pada tahun 2018 nanti, direncanakan kuota Bidik Misi akan menjangkau 90.000 mahasiswa.

Tidak hanya Bidik Misi, program beasiswa untuk mahasiswa memang kian marak dalam satu dasawarsa terakhir. Pemerintah pusat dan daerah, berbagai perusahaan, LSM, yayasan, para alumni hingga donasi individu seakan berlomba memberikan beasiswa. Bentuknya pun semakin beragam bukan hanya pembiayaan pendidikan, ada fasilitas tempat tinggal hingga pembinaan mahasiswa dengan tema tertentu, misalnya menghapal Al Qur’an, entrepreneur, atau kepemimpinan. Bahkan beasiswa untuk paska sarjana juga semakin banyak, di antaranya melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan RI. Zaman seolah berubah, jika dulu mahasiswa berebut mencari beasiswa, sekarang beasiswa lah yang sibuk mencari calon penerimanya. Mahasiswa penerima beasiswa tidak lagi eksklusif, mudah ditemukan dimanapun.

Kemudahan memperoleh beasiswa ini turut memengaruhi karakter para penerima beasiswa. Apalagi banyak program beasiswa yang hanya menjadikan indeks prestasi akademik sebagai indikator keberhasilan, abai dengan penguatan karakter penerima beasiswa. Padahal banyaknya beasiswa membuat calon penerimanya semakin pragmatis, memilih yang mudah diperoleh, dapat banyak fasilitas, dan tidak membebani dengan kewajiban apapun. Secara akademik mungkin mereka tidak bermasalah, namun belum tentu secara karakter. Mulai dari lemah komitmen, segera beralih ke beasiswa lain yang menjanjikan fasilitas lebih. Tak peduli fakta bahwa ketika mereka sudah menerima beasiswa sebenarnya ada kuota yang sudah mereka isi, artinya ada hak orang lain yang sudah mereka ambil. Toh ini kompetisi. Mudah menuntut haknya untuk memperoleh berbagai fasilitas yang dijanjikan. Mudah mengeluh, kurang mandiri, dan kurang berempati. Jangankan berpikir bahwa sejatinya beasiswa yang diperolehnya adalah donasi dari masyarakat yang di dalamnya tersimpan amanah dan harapan masyarakat, bahkan ada penerima beasiswa yang ‘memalsukan kemiskinannya’ hanya untuk memperoleh beasiswa. Tidak jujur dalam menyiasati beasiswa. Tak mengherankan tersedia layanan untuk melaporkan mahasiswa yang tidak layak untuk memperoleh beasiswa dalam website Bidik Misi.

Mekanisme pencairan beasiswa yang dirapel juga rentan penyelewengan, baik oleh penerima maupun pengelola beasiswa. Uang dalam jumlah besar yang ‘tiba-tiba’ diterima memungkinkan para penerima beasiswa tidak bijak dalam menggunakannya. Alih-alih untuk biaya pendidikan, beasiswa justru digunakan untuk beli gadget terbaru atau pelesiran. Jika sebagian uang beasiswa dikirimkan untuk membantu orang tuanya tentu masih dapat dimaklumi, namun jika digunakan sekadar untuk gaya-gayaan rasanya kok kejam sekali. Sementara masih banyak anak dari masyarakat marjinal yang tidak mampu melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi. Pengelola juga bisa jadi tidak berlaku amanah jika memang sengaja menunda pencairan misalnya, apalagi jika menjadi ‘broker’ beasiswa sehingga kuota justru diambil oleh mereka yang tak layak memperoleh beasiswa.

Tak hanya itu, amanah para pengelola beasiswa tidaklah kalah besarnya. Mulai dari menyebarkan informasi beasiswa seluas-luasnya dan sebenar-benarnya, hingga menyempurnakan ikhtiar dalam seleksi sehingga yang terpilih adalah mereka yang benar-benar layak. Ada sisi kemanusiaan yang perlu dihadirkan, tidak hanya bersandar pada rumus dan hitungan matematis. Banyak mahasiswa nyaris miskin yang selama ini kurang diperhatikan. Di sisi lain, ada upaya sekadar memenuhi kuota penerima beasiswa di beberapa kampus yang akhirnya menurunkan standar kelayakan calon penerima beasiswa. Amanah lain yang kerap terlupakan adalah mendidik para penerima beasiswa secara paripurna, bukan sebatas menggugurkan kewajiban untuk menyalurkan. Amanah dalam mengelola beasiswa juga mencakup makna memastikan bahwa beasiswa yang diberikan dapat efektif dalam menghasilkan SDM unggul pemimpin masa depan bangsa, yang tentu bukan hanya berkompeten, tetapi juga berkarakter.

Beasiswa adalah amanah, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya. Para penerima beasiswa akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana cara mereka memperoleh beasiswa, digunakan untuk apa, dan apa hasil atau kebermanfaatan dari beasiswa tersebut. Para pengelola beasiswa akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana mereka mengelola beasiswa dan para penerima beasiswa. Beasiswa sejatinya bersumber dari donasi masyarakat, termasuk pajak dan ZIS (Zakat, Infak, Sedekah). Beasiswa alumni atau donasi individu pun bagian dari masyarakat. Bahkan perusahaan pun memperoleh pendapatan dari masyarakat dan mengalokasikan dana CSRnya untuk program di masyarakat. Karenanya, program beasiswa seharusnya mampu memberi kontribusi kepada masyarakat. Tidak harus dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun sikap amanah dalam menyalurkan dan menerima beasiswa akan membawa kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Tumbuhnya kepercayaan donatur akan meningkatkan kedermawanan sosial. Ditambah lagi keberkahan dari hadirnya SDM berkualitas dari program beasiswa yang akan terus menebar kebermanfaatan bagi masyarakat. Dan manfaat pun terus berlipat dimulai dari satu kata sederhana: amanah.

Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani)

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas (2/2)

Tahun 2018 adalah tahun disruption. Era digital memberi perubahan terhadap peta kompetisi dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan. Pengembangan teknologi informasi memberi ‘gangguan’ terhadap gaya ‘jaman old yang sudah tak lagi relevan. Kemenristek Dikti dan kampus harus segera bebenah, meningkatkan agility untuk menghadapi perubahan zaman. Pendidikan tinggi berbasis e-learning misalnya, harus segera direalisasikan, tidak melulu ada dalam tataran wacana dan rencana. Riset dan inovasi harus terus dilakukan. Secara kuantitas memang masih harus digenjot pertumbuhannya karena saat ini Indonesia jauh tertinggal dalam hal riset dan inovasi. Namun secara kualitas juga mesti dibudayakan implementasi riset dan teknologi yang tepat guna. Keluhan tentang minimnya anggaran riset seharusnya tak jadi penghalang di era disruption ini. Betapa banyak inovasi sederhana yang dapat memberi manfaat tanpa harus berbiaya besar. Kurikulum pendidikan juga harus adaptif dengan perkembangan zaman. Ada paradigma, kebutuhan dan kompetensi yang jelas berbeda antara mendidik generasi yang ingin menjadi PNS atau karyawan, dengan generasi yang hendak menjadi digitalpreneur atau membangun aplikasi startup. Disruption ini harus diterima sebagai kenyataan sehingga menjadi tantangan untuk bisa berpikir dan bersikap sesuai dengan zamannya.

Tahun 2018 adalah tahun transformasi gerakan mahasiswa. Atau hibernasi lebih tepatnya. Secara pragmatis, para mahasiswa kian menyadari bahwa yang diperjuangkannya adalah Tri Dharma, bukan Tritura. Dalam Tri Dharma ada pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bukan organisasi, demonstrasi, dan lulus lama. Lulus tepat waktu dimaknai sebagai amanah, fokus ke pendidikan dan penelitian adalah caranya. Mahasiswa abadi sudah bukan masanya. Jika tahun lalu rata-rata lama kuliah mahasiswa UGM adalah 5 tahun 3 bulan, tahun ini rata-rata mahasiswa UGM menyelesaikan studi dalam 4 tahun 8 bulan. Rata-rata mahasiswa UNY berkuliah hanya 4,5 tahun, bahkan di ITB rata-ratanya hanya 4,2 tahun. Rata-rata indeks prestasi akademik juga semakin tinggi. Sementara itu, dharma pengabdian masyarakat tidak dimaknai sempit sebagai aksi turun ke jalan. Banyak aktivitas sosial kemasyarakatan yang dapat dilakukan manusia tanpa harus terjebak ke isu sosial politik. Kontribusi nyata mahasiswa ke masyarakat dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata atau aksi penggalangan dana bencana dianggap lebih jelas menggambarkan bentuk pengabdian masyarakat, dibandingkan orasi dan demonstrasi. Kajian dan audiensi dianggap lebih mencerminkan intelektualitas dibandingkan aksi massa. Demonstrasi mahasiswa turun ke jalan dianggap sudah lewat masanya, tergantikan dengan digitalisasi gerakan mahasiswa. Aksi massa akan ada dan harus tetap ada, hanya saja aktivitas kekinian yang lebih diminati. Bulan lalu misalnya, lihat saja bagaimana respon dunia maya saat mahasiswa ditangkap, bandingkan dengan ‘perlawanan’ dari cyber army saat pembuat meme Setya Novanto ditangkap. Diakui atau tidak, ada pergeseran pola perjuangan. Kain penuh tanda tangan sebagai pernyataan sikap digantikan oleh petisi online. Penggalangan dana untuk membantu masyarakat mulai beralih ke pola crowdfunding. Manajemen isu lewat selebaran akan tak berarti apa-apa dibandingkan hiruk-pikuk perang isu di media sosial. Berbagai aplikasi bernuansa advokasi pun mulai bermunculan. Media dan kanal gerakan mahasiswa kian variatif, dan aksi massa semakin dianggap tidak kekinian.

Tahun 2018 adalah tahun berulangnya masalah pendidikan. Banyak persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan. Misalnya masalah rasio dosen dan guru besar yang masih butuh waktu panjang untuk menyelesaikannya, demikian pula terkait kualitas mereka. Masalah akses pendidikan serta biaya pendidikan yang mahal juga masih akan ada. Minimnya anggaran riset atau kurangnya sarana dan prasarana pendidikan masih terus jadi keluhan. Link and match antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia paska kampus masih jauh panggang dari api, apalagi pemerataan kualitas pendidikan tinggi. Belum lagi persoalan akreditasi, efektivitas pendidikan, ataupun kualitas lulusan, masih menjadi PR pendidikan tinggi yang belum akan segera terselesaikan. Butuh kerja ekstra memang untuk menyelesaikan semua problematika tersebut, namun setidaknya hanya butuh satu kebijakan revolusioner, out of the box dan anti-mainstream untuk mempercepat penyelesaiannya. Karena berbagai masalah yang ada sudah terlanjur ada dalam zona nyaman sehingga akan tetap stagnan jika upaya yang dilakukan hanya biasa-biasa saja.

Dan tahun 2018 adalah tahun cemas dan harap. Bukan hanya bagi para calon kepala daerah, tapi bagi pendidikan Indonesia. Beberapa tahun terakhir, perubahan terjadi begitu cepat. Tak terbendung. Dinamika begitu tinggi sementara polarisasi semakin terasa. Kebijaksanaan pendidikan lah yang diharapkan mampu mengantisipasi dan menengahinya, bukan lagi kebijakan politik yang sarat syahwat kepentingan. Di satu sisi ada kecemasan akan hancurnya peradaban dalam hitungan waktu yang cepat ketika pendidikan gagal menjadi solusi. Di sisi lain ada harapan besar lahirnya generasi emas yang penuh kesadaran berjuang membangun Bangsa yang mulai tua ini. Yang pasti, tahun 2018 berisi momentum dua dasawarsa reformasi Indonesia. Ada semangat pembaruan yang menyertai. Tahun 2018 juga berisi momentum 11 dasawarsa kebangkitan nasional. Sebuah kebangkitan yang identik dengan tapak tilas peran pemuda dan pendidikan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ya, tahun 2018 adalah tahun reformasi kebangkitan pendidikan Indonesia. Semoga.

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas (1/2)

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas
(Outlook Pendidikan Tinggi 2018)

“Hitungan kuantitatif kerapkali hanya jadi make up yang mengelabui dan tidak bisa dibanggakan. Perkembangan pendidikan bukan berarti tidak perlu diukur, tetapi fokus pada aspek tangible dan jumlah tidak jarang justru menjauhkan dari hal-hal yang lebih esensial. Bahkan, target kuantitatif bisa menjadi beban. Padahal, keberhasilan tidak melulu berbicara angka.” (Purwo Udiutomo dalam ‘Bagai Pungguk Merindukan Pendidikan Gratis’)

‘Mencerdaskan kehidupan bangsa’ merupakan salah satu cita-cita mulia Bangsa Indonesia. Karenanya, fokus terhadap pembangunan pendidikan sudah semestinya menjadi agenda utama di masa lalu, kini, dan masa yang akan datang. Adanya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan anggaran pendidikan minimal sebesar 20% dari APBN/ APBD membawa angin segar perbaikan pendidikan di Indonesia. Dalam APBN 2018 yang telah ditetapkan akhir Oktober 2017 lalu, anggaran pendidikan dialokasikan sebesar 444,1 triliun (20% dari APBN), dimana 33,7% dialokasikan untuk pusat dan 62,9% ditransfer ke daerah. Sisanya sebesar 15 triliun dialokasikan untuk pembiayaan dana abadi pendidikan. Anggaran tersebut diantaranya akan digunakan untuk Program Indonesia Pintar (19,7 juta jiwa), Bantuan Operasional Sekolah (56 juta jiwa), Beasiswa Bidik Misi (401,5 ribu mahasiswa), pembangunan/rehab sekolah atau ruang sekolah (62,2 ribu), dan tunjangan profesi guru (1,9 juta guru). Berbagai program tersebut diharapkan berkontribusi untuk mencapai target 2018 di antaranya tingkat pengangguran 5 – 5,3%, tingkat kemiskinan 9,5-10%, indeks Gini 0,38, dan Indeks Pembangunan Manusia 71,5.

Tahun 2018 adalah tahun berlimpahnya beasiswa. Selain Bidik Misi, penerima beasiswa LPDP juga mengalami peningkatan menjadi 5000 mahasiswa. Belum lagi 2018 adalah tahun politik, selain Pilkada serentak di 17 provinsi dan 154 kabupaten/ kota, tahun depan adalah tahun pemanasan terakhir jelang Pemilu 2019. Program bantuan pendidikan semisal beasiswa akan lebih ramai di tengah masyarakat, untuk memenuhi janji sekaligus meningkatkan elektabilitas. Program bantuan pendidikan ini menjadi media kampanye yang lebih smooth dibandingkan money politics terang-terangan. Banyaknya beasiswa akan membantu peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan. Secara kuantitas, namun belum tentu secara kualitas. Ketika program beasiswa yang mencari calon penerimanya, bukan sebaliknya, kualitas input cenderung diabaikan. Dampaknya, perhatian terhadap kualitas keluaran para penerima beasiswa pun cenderung terlupakan. Bahkan, kualitas pengelolaan program beasiswa bisa jadi kurang diperhatikan. Mulai dari sosialisasi yang seadanya, proses seleksi yang kejar target tercapainya kuota, hingga pencairan beasiswa yang terus tertunda. Kalaupun ada program pembinaan untuk para penerima beasiswa, dilakukan ala kadarnya. Berpuas diri dengan data Indeks Prestasi akademik para penerima beasiswa yang tiga koma, padahal hampir semua mahasiswa jaman now IP-nya di atas tiga.

Tahun 2018 adalah tahun pembangunan infrastruktur, termasuk infrastruktur pendidikan. Berbagai pembangunan gedung yang mangkrak di sejumlah perguruan tinggi akan dikejar selesai di tahun 2018, atau paling lambat awal tahun 2019. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur di banyak kampus dengan berbagai sumber pendanaan misalnya dari IDB atau dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga akan segera diselesaikan. Anggaran infrastruktur untuk tahun 2018 mencapai 410,7 triliun. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat diberikan alokasi anggaran APBN sebesar 107,4 triliun, jauh di atas Kemenristek Dikti (41,3 triliun) ataupun Kemendikbud (40,1 triliun). Jika dikelola dengan benar, pembangunan infrastruktur ini akan mengatasi kesenjangan sekaligus menjadi investasi jangka panjang. Pun di sisi lain membuka ruang penyalahgunaan wewenang dan penyelewengan anggaran. Sayangnya, fokus pada infrastruktur (konteks) akan mengalihkan dari fokus pada isi (konten). Fisik yang megah takkan ada artinya jika jiwanya rapuh. Membangun kampus berbeda dengan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, memberikan tunjangan guru tidaklah sama dengan meningkatkan kualitas guru. Fisik memang jelas terlihat dan terukur, namun pembangunan pendidikan sejatinya adalah menyoal pembangunan manusia, bukan sekadar infrastruktur pendidikan. Karenanya standar sarana prasarana hanyalah salah satu dari delapan Standar Nasional Pendidikan.

(bersambung)

Apa Misi Visi Anda?

Ada yang terasa janggal dari judul di atas? Ya, mungkin karena kata ‘visi’ biasanya diletakkan sebelum kata ‘misi’. Sesuai dengan urutannya, karena misi merupakan penerjemahan dari visi. Tapi tentu penulisan judul tersebut bukan tanpa alasan. Tulisan ini tidak hendak menggugat bahwa misi layak disebut lebih dulu daripada visi, namun setidaknya akan coba dipahamkan bahwa misi memiliki makna yang lebih fundamental dibandingkan visi.

Misi didefinisikan sebagai ‘reason for being’ atau ‘why do we exist?’ Pertanyaan mengenai alasan keberadaan ini sangat mendasar dan perlu dijawab sebelum panjang lebar merencanakan masa depan. Sementara visi adalah ‘what do we want to become?’ Sebuah mimpi, cita dan harapan. Pendapat yang mengatakan bahwa misi berorientasi ke belakang sementara visi berorientasi ke depan, tidak sepenuhnya benar. Karena bagaimanapun, menyadari hakikat keberadaan (organisasi) kita sejatinya menyoal masa lalu, hari ini dan masa depan.

Pemahaman yang benar tentang siapa kita dan untuk apa kita diciptakan menjadi lebih fundamental dibandingkan pemahaman mengenai cita-cita hidup kita. Jati diri manusia sebagai hamba dan khalifah yang menyebarkan Rahmat Allah SWT tidaklah lekang oleh waktu, sementara cita-cita hidup kita bisa saja berubah. Bahkan jika cita-cita yang dimaksud berorientasi akhirat, misalnya mati syahid atau masuk syurga, tetap saja pemahaman terhadap misi, tugas dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan lebih penting. Ketika terjadi disorientasi, jawaban atas pertanyaan ‘siapa kita’ dan ‘mengapa kita ada’ akan lebih dalam maknanya dibandingkan sekadar ‘mau kemana kita’.

Tidak sedikit organisasi yang sibuk merancang impiannya di masa mendatang, namun melupakan hal mendasar: mengapa organisasi tersebut ada. Seorang pengikut mungkin saja tidak punya visi, karena sekadar mengikuti visi pemimpinnya. Pun demikian pengikut tersebut tetap punya misi, karena tanpa misi tak ada arti penting keberadaannya. Seorang pemimpin bisa saja hadir tanpa membawa visi, misalnya karena mengikuti visi kepemimpinan sebelumnya. Bahkan visi organisasi ini dapat dibuat bersama-sama, dengan atau tanpa melibatkan pemimpin. Namun tidak ada pemimpin tanpa misi. Misi kepemimpinan adalah memimpin, menggerakkan dan menjadi teladan. Seseorang yang tidak memimpin, tidak menggerakkan dan tidak pula menjadi teladan bukanlah seorang pemimpin.

Memang benar ada pula pengertian misi sebagai ‘our business’ ataupun ‘the chosen track’ yang bisa jadi dibuat setelah adanya visi. Di beberapa literatur ada yang membedakan antara purpose (misi sebagai alasan keberadaan) dengan mission (misi sebagai turunan visi). Tapi apapun pendekatannya, memahami jati diri organisasi tetaplah lebih utama. Pendapat yang mendefinisikan misi sebagai cara untuk mencapai visi (sehingga ada setelah visi) tidaklah tepat. Definisi tersebut justru membuat tumpang tindih antara misi dengan strategi yang didefinisikan sebagai cara (method), pola (pattern), atau taktik (ploy) untuk mencapai visi. Kesalahan lainnya dalam penyusunan misi adalah dibuat terlalu panjang seperti layaknya profil organisasi. Bukan hanya sulit untuk dihapal dan dipahami, posisi sebagai ‘the chosen track’ juga bisa kehilangan makna akibat misi yang terlalu rumit.

Suatu organisasi tanpa visi memang akan terombang-ambing karena ketidakpastian arah yang dituju, namun organisasi tanpa misi lebih buruk lagi. Sekadar visi tanpa memahami hakikat keberadaannya akan membuat organisasi berambisi untuk menggapai impian, dengan cara apapun yang dapat dilakukan. Fondasi berpijaknya organisasi rapuh dan rentan lupa diri. Eksistensi organisasi yang gagal memahami ‘why do we exist?’ hanyalah ditopang oleh faktor sumber daya (SDM, keuangan, waktu, dsb) dan keberuntungan. Bisa jadi organisasi cukup beruntung tidak runtuh bahkan berhasil mencapai visi. Namun seketika bingung apa yang harus dilakukan karena alpa akan hakikat dirinya. Atau tiba-tiba tersadar bahwa apa yang telah dicapai ternyata bukanlah sesuatu yang benar-benar diimpikannya. Dapat dibayangkan betapa besarnya sumber daya yang terkuras untuk sebuah kekosongan.

Satu visi dalam sebuah organisasi merupakan keharusan karena kita akan berjuang dalam cita yang sama, tinggal menjalankan peran masing-masing. Namun menyadari hakikat misi bersama tak kalah pentingnya. Sehingga kita menginsyafi bersama mengapa organisasi ini harus ada, untuk apa dan untuk siapa. Agar kita kian paham akan segenap tugas dan tanggung jawab yang menyertai. Dan semakin yakin akan kebenaran jalan yang ditempuh. Agar kita tetap sadar diri dalam menggapai mimpi. Dan tetap punya harga diri dalam memperjuangkan visi.

Jadi, apa misi dan visi (organisasi) Anda?

Without a mission statement, you may get to the top of the ladder and then realize it was leaning against the wrong building” (Dave Ramsey)