Asal, Ganti, Jangan!

Bagi generasi muda, perubahan itu terlalu lambat. Bagi kaum tradisionalis tua, perubahan itu menghujat” (Dan Brown)

Ganti, Jangan, Ganti, Jangan? Pergantian memiliki makna yang sama dengan pertukaran, peralihan, ataupun perubahan. Ada yang muncul dan menggantikan, ada yang hilang dan digantikan. Pergantian juga mengandung unsur ketidakpastian. Berganti atau tidak, keduanya punya peluang untuk lebih baik atau semakin buruk. Pergantian membawa angin segar perubahan yang penuh tantangan, sekaligus mengusik kenyamanan status quo. Menggantikan tidak selamanya mudah, ada tanggung jawab yang menyertainya. Digantikan pun tak selamanya tercela, ada belenggu amanah yang akhirnya lepas sudah. Semuanya ada masanya. Selalu ada pelajaran dari pergantian masa kejayaan dan kehancuran.

Asal Jangan Ganti! Sebagian orang menolak untuk berganti dan diganti disebabkan potensi kehilangan yang akan dirasakan. Kehilangan materiil ataupun immaterial. Ada kerja panjang yang berpotensi terbengkalai, tidak dilanjutkan. Apalagi pergantian bisa berefek domino sehingga potensi kehilangannya akan semakin besar. Akibatnya, ada saja orang yang keras hati dan keras kepala, antipati dengan pergantian. Biaya pergantian dipandangnya terlalu besar, tidak sebanding dengan ketidakpastian keuntungan yang akan diperoleh. Berbagai argumentasi dan toleransi bisa dimunculkan demi memastikan tak ada pergantian atau dirinya tak tergantikan. Pokoknya, jangan janti!

Asal Ganti! Sebagian orang lainnya begitu memuja pergantian yang menjanjikan dinamika perubahan. Motifnya beragam mulai dari sekadar menyukai tantangan baru sampai potensi memperoleh keuntungan dari pergantian. Pergantianlah yang diyakini bisa mengubah masa depan, baik ataupun buruk. Pergantian dianggap satu-satunya solusi perbaikan atas berbagai kekurangan yang tentunya pasti ada. Akibatnya, ada saja orang yang ngotot harus ganti, anti dengan status quo. Pergantian dipercaya membawa asa dan harapan perbaikan, yang pasti tidak akan berubah –atau bahkan semakin buruk—jika dilanjutkan tanpa pergantian. Berganti atau mati. Bagaimana setelah berganti, itu perkara nanti!

Jangan Asal Ganti! Sebagian orang lainnya memilih untuk rasional. Menimbang manfaat dan mudharat. Bisa jadi tidak atau belum perlu diganti, bisa jadi sebaiknya atau bahkan harus diganti. Hal ini didasari bahwa pergantian perlu dilakukan di saat yang tepat, dengan cara yang tepat. Dan semua ada landasan argumentasinya. Ada ruang diskusi dan dialektika. Tidak perlu fanatik dengan pro atau kontra status quo. Dan tentu tidak anti pergantian. Jika tidak berganti, lakukan dengan penuh pertanggungjawaban. Jika harus berganti, lakukan dengan tidak asal-asalan. Mempersiapkan opsi terbaik, apapun keputusan yang akan diambil. Semua opsi dipandang mungkin, asalkan tidak asal.

Ganti, Jangan Asal! Jika dihadapkan pada dua pilihan ekstrim, ganti atau tidak ganti, jawaban ‘tidak ganti’ mungkin lebih aman, namun jawaban ‘ganti’ barangkali lebih tepat. Pergantian memang tidak lantas menjamin terselesaikannya masalah, namun masalah lebih berpotensi tidak terselesaikan tanpa pergantian. Sebab mereka yang nyaman di status quo akan cenderung menyepelekan masalah. Butuh keberanian dan cara baru untuk menyelesaikan masalah, dan hal itu lebih mungkin diraih dengan pergantian. Boleh berganti, tapi jangan asal. Perlu diperkuat alasan mengapa harus berganti, manfaat apa yang akan didapat dari pergantian, kemana arah pergantian dan bagaimana pergantian akan dilakukan. Semakin jelas dan detail, berarti semakin serius dan tidak asal. Sementara pihak pro status quo tidak harus memberi banyak alasan, cukup dengan melemahkan gerakan dan argumentasi, pergantian dapat dihindarkan. Sebab, kebanyakan orang cenderung cari aman dan sekadar ikut kemana angin berhembus. Bagaimanapun, perubahan adalah keniscayaan, pergantian adalah kepastian. Tinggal momentumnya yang perlu diupayakan. Siap berganti? Boleh, tapi jangan asal.

Beberapa orang melihat hal-hal dan mereka berkata, “Mengapa?”. Saya memimpikan hal-hal yang tidak pernah ada dan berkata, “Mengapa tidak?” (George Bernard Shaw)

Keutamaan Ibadah di Luar Ramadhan

Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengetahui hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Orang shaleh akan selalu bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun” (Syeikh Bisyr Al Hafi)

Setiap tahun, baik dalam tarhib Ramadhan ataupun khutbah Jum’at di akhir Sya’ban atau awal Ramadhan, penceramah biasa menyampaikan tentang keutamaan bulan Ramadhan dan beribadah di dalamnya. Walaupun sudah mainstream, Ramadhan memang istimewa. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Al Qur’an, bulan diturunkannya Al Qur’an, dan satu-satunya bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qadar. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa apabila telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka akan ditutup, dan para setan dibelenggu. Kondisi yang tidak ditemui di bulan lain. Namun bicara tentang keutamaan ibadah di bulan Ramadhan adalah perkara lain yang dapat diperdebatkan.

Ibadah shaum Ramadhan yang hukumnya wajib dan termasuk Rukun Islam memang lebih utama dibandingkan shaum sunnah di luar Ramadhan. Berdosa jika ditinggalkan dengan sengaja dan wajib diganti jika ditinggalkan membuat shaum Ramadhan ada di level yang berbeda. Yang juga berbeda barangkali i’tikaf menghidupkan lailatul qadar yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Perbedaan ini kemudian diperkuat dengan ganjaran diampuni dosa bagi mereka yang berpuasa dan menghidupkan malam Ramadhan dengan imanan wahtisaban.  Namun ketika menyoal tentang dampak puasa dan shalat malam terhadap fisik dan spiritual, dua kebahagiaan orang yang berpuasa, diijabahnya do’a orang yang berpuasa hingga hal-hal yang perlu dijaga selama berpuasa tidaklah berbeda antara Ramadhan dengan di luar Ramadhan. Bahkan beribadah di luar Ramadhan punya tantangan lebih.

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung seberapa beratnya ujian. Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya maka Dia menimpakan cobaan kepadanya. Sedekah yang utama adalah dengan sesuatu yang paling disukai. Berat memang, karenanya menjadi istimewa. Shalat berjama’ah di masjid yang paling besar ganjarannya adalah shalat shubuh. Terjaga dan beribadah ketika orang lain nyenyak tidur tentu tidak mudah. Jihad yang utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Penuh risiko dan tidak sederhana, karenanya menjadikannya mulia. Mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik dibandingkan mereka yang tidak bergaul dan tidak bersabar. Begitulah sunnatullahnya. Semakin berat ujian, kian besar pengorbanan, makin banyak kesungguhan yang diperlukan, akan semakin besar ganjarannya. Belajar dari Qur’an Surah Al Balad, ketika dihadapkan pada dua jalan, tidak banyak yang memilih jalan menanjak yang sulit ditempuh dibandingkan jalan yang mudah.

Begitulah beribadah di luar Ramadhan, lebih penuh tantangan. Berpuasa sunnah ketika orang lain berpuas makan tidaklah mudah. Istiqamah tilawah selepas zhuhur di saat yang lain bergegas istirahat dan makan siang punya tantangan yang jauh berbeda dibandingkan ketika Ramadhan. Di saat lingkungan lebih kondusif untuk beribadah. Perbedaan ini jelas terlihat dari interaksi umat Islam dengan masjid dan dengan Al Qur’an, ketika dan di luar Ramadhan. Perbedaan nyata terlihat dari jama’ah shalat Shubuh dan Isya, apalagi jika diteliti qiyamul lail nya. Padahal ibadah sejatinya adalah aktivitas sepanjang hayat, bukan hanya semangat ketika lingkungan kondusif. Imam Hasan Al Basri pernah berkata, “Sesungguhnya Allah tidak membatasi amal seorang mukmin dengan suatu waktu tertentu selain kematian”. Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, Surah Al Hijr ayat ke-99, “Dan sembahlah Rabb-mu sampai kematian mendatangimu”. Alangkah tidak pantasnya jika gema takbir hari raya menjadi batas amal ibadah seorang muslim. Na’udzubillah

Salah satu indikator sukses Ramadhan adalah terjaganya amal ibadah selepas Ramadhan. ‘Kun Rabbaniyyan Wa Laa Takun Ramadhaniyyan’, begitulah para ulama terdahulu menyampaikan. Hendaklah kita menjadi hamba Allah yang Rabbani, bukan menjadi ‘penyembah’ Ramadhan. Ketahuilah, keutamaan beribadah bukan hanya ada di bulan Ramadhan. Ibaratnya banyak orang berburu barang ketika cuci gudang, barang berlimpah dan banyak potongan harga. Mereka pun sekadar memperoleh barang murah yang tersedia. Sementara di hari biasa tidak banyak yang mencari barang, padahal walaupun sedikit lebih mahal, barang yang dipilih bisa lebih dijamin kualitasnya dan pelayanannya pun lebih optimal. Apalagi jika disadari bahwa barang yang dicari adalah kebutuhan sehari-hari, tidaklah tepat mengupayakannya hanya ketika cuci gudang. Ramadhan memang istimewa, namun satu tahun terdiri dari dua belas bulan, bukan hanya Ramadhan. Ada hak-hak Allah SWT yang tetap harus dijaga. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya, serta membimbing kita tetap pada jalan yang diridhai-Nya. Semoga kita tetap istiqamah beribadah sepanjang tahun, sepanjang hayat, serta dijauhkan dari sifat munafik. Aamiiin…

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (QS. Ali Imran: 8 )

Bismillah… Belajar Menulis Lagi…

Sesungguhnya medan berbicara itu tidak semudah medan berkhayal. Medan berbuat tidak semudah medan berbicara. Medan jihad tidak semudah medan bertindak. Dan medan jihad yang benar itu tidak semudah medan jihad yang keliru. Terkadang sebagian besar orang mudah berangan-angan namun tidak semua angan-angan yang ada dalam benaknya mampu diucapkan dengan lisan. Betapa banyak orang yang dapat berbicara namun sedikit sekali yang sanggup bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan dari yang sedikit itu banyak diantaranya yang sanggup berbuat namun jarang yang mampu menghadapi rintangan-rintangan yang berat dalam berjihad.” (Hasan Al Banna)

Mungkin tak banyak yang menyadari, dua hari terakhir website ini sempat suspend. Kendala teknisnya memang mudah teratasi, namun sebagai bahan refleksi sepertinya ini pengingatan bahwa sudah lebih dua bulan lamanya website ini tidak diupdate. Alasan klasik kesibukan atau fokus beribadah Ramadhan bisa saja menjadi dalih, namun ketidakkonsistenan semangat dalam menulis sejatinya menjadi faktor utama. Waktu masih bisa diupayakan, apalagi ide tulisan sungguh tidak kekurangan. Permasalahannya tinggal kesungguhan. Ya, medan menulis memang tidak semudah medan berkhayal. Tidak semua lintasan pikiran serta merta bisa menjadi tulisan yang dapat dinikmati banyak orang.

Medan berbicara dengan medan menulis barangkali punya beban yang relatif tergantung orangnya. Ada yang pandai berbicara namun kesulitan untuk merangkai apa yang disampaikannya dalam bentuk tulisan yang layak dibaca. Ada juga yang kurang cakap menyampaikan gagasannya secara lisan, namun buah karya tulisannya bisa jadi sangat tajam. Ada juga yang menguasai keduanya. Bagaimanapun, keduanya lebih sulit dari sekadar berpikir, apalagi berangan. Dan keduanya butuh dilatih. Buat penulis sendiri, medan menulis tidaklah semudah medan berbicara. Menyampaikan secara lisan apa yang terlintas di pikiran jauh lebih mudah dibandingkan menuliskannya. Sebab dalam menulis ada aktivitas membaca, berbicara (setidaknya dalam hati), dan menggerakkan pena atau mengetik di tuts keyboard. Lebih kompleks. Lebih mendekati medan bertindak.

Tidak semua lintasan pikiran perlu dipikirkan, dan tidak semua yang dipikirkan perlu untuk disampaikan, baik secara lisan ataupun tulisan. Ada jarak nyata antara berpikir, berbicara dan menulis. Sementara ada yang berbicara dan menulis tanpa berpikir, di sisi lain ada yang kesulitan untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Berbicara setelah berpikir tentu lebih bijak, pun demikian dengan menulis setelah berpikir. Kesan bijak tentu bukan hal yang utama, namun membayangkan betapa mengerikannya lisan dan tulisan yang keluar tanpa pemikiran panjang tentu perlu menjadi pertimbangan. Ada kesan negatif bagi mereka yang mudah mengumbar lisan dan tulisannya tanpa ilmu, tanpa malu, dan tanpa manfaat. Padahal akhlak kita bisa tercermin dari apa yang kita sampaikan, baik lisan maupun tulisan.

Lantas apakah diam benar menjadi pilihan cerdas? Tidak selalu. Jika tidak berpikir mencerminkan kebodohan, tidak menyampaikan sama saja mencerminkan ketidakpedulian. Karenanya tabligh (menyampaikan) menjadi salah satu sifat wajib bagi Rasul. Diam lebih baik daripada berbicara atau menulis yang tidak baik, namun berbicara dan menulis yang baik tentu lebih utama dibandingkan sekadar terdiam. Bisa jadi ada jiwa yang tercerahkan dan tercerahkan. Dan tulisan, punya efek yang lebih panjang daripada tulisan. Menjadi bukti otentik yang melintas ruang dan waktu. Dampak kebaikan ataupun keburukannya bisa lebih luas, dan lebih abadi.

Ketika kehilangan gagasan menulis, banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya dengan membaca, berdiskusi, atau pergi mencari inspirasi. Namun sejatinya gagasan itu ada dimana-mana. Apa yang kita pikirkan atau apa yang kita bicarakan bisa diolah menjadi sebuah tulisan. Bagian tersulit dalam menghasilkan tulisan adalah menuliskannya. Tak heran tips utama untuk bisa menulis adalah menulis. Medan bertindak yang tak semudah medan berkhayal ataupun berbicara. Karenanya cara paling ampuh untuk memunculkan motivasi menulis adalah dengan belajar menulis. Tak perlu dipusingkan dengan berbagai teori dan pemikiran. Cukup dengan menulis. Seraya memahami mengapa harus menulis. Sambil memperhatikan apa yang ditulis. Dan hasilnya, jadilah sebuah tulisan, seperti tulisan ini, yang semula hanya merupakan sebuah ikhtiar sederhana untuk kembali aktif menulis di website yang sempat suspend ini. Yuk, sama-sama belajar menulis lagi… Bismillah…

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”  (Pramoedya Ananta Toer)

Kamp Candradimuka Kepemimpinan di Solo

Candradimuka itu adalah romantika kepemimpinan muda penuh keberanian di Solo. Saat itu keduanya masih berusia 22 tahun. Yang satu adalah Komandan Wehrkreise I Brigade V/ Penembahan Senopati, yang satunya Pimpinan Detasemen TP Brigade XVII/ Sub-Wehrkreise 106 Arjuna. Letkol Slamet Riyadi dan Mayor Achmadi, adalah dua tokoh utama dalam Serangan Umum empat hari di Solo, 7 – 10 Agustus 1949. Keduanya memimpin ribuan tentara pelajar yang dengan gagah berani melancarkan serangan ‘perpisahan’ sebelum gencatan senjata 11 Agustus 1949. Pun mungkin kurang dikenang dalam sejarah, serangan ini berhasil memperkuat posisi tawar politik perjuangan delegasi RI di Konferensi Meja Bundar (KMB) sehingga tercapai kembali kedaulatan RI pada 27 Desember 1949.

Candradimuka itu adalah manifestasi kepemimpinan yang mengayomi dan dicintai. Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) telah melakukan survey di 19 provinsi dan 26 kota di Indonesia sepanjang 2017. Hasilnya, Solo dinobatkan sebagai kota paling nyaman dan layak huni di Indonesia. Beberapa aspek yang dinilai di antaranya keamanan, keselamatan, kebersihan dan transportasi kota. Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo menduga selain karena faktor penataan kota, Solo terpilih karena warganya mau dan mampu mengelola kemajemukan. Mungkin tidak sulit menghadirkan kepatuhan kepada pimpinan atas nama otoritas jabatan. Namun menghadirkan cinta dan rasa nyaman bukan hal yang serta merta tumbuh. Butuh interaksi, inspirasi, dan keteladanan. “Sebaik-baik pemimpin kamu ialah pemimpin yang kamu cintai dan mereka mencintaimu, kamu doakan mereka dan mereka pun mendoakan kamu, dan seburuk-buruk pemimpin ialah pemimpin yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu.” (HR Muslim).

Candradimuka itu adalah kesederhanaan pemimpin yang dekat dan melayani. Bukan tanpa alasan tulisan ini menggunakan kata ‘Solo’ bukannya ‘Surakarta’. Ketika Surakarta lebih bernuansa administratif dan birokratif, Solo lebih bernuansa kultural dan kekinian. Terlepas dari latar belakang sejarah, nama Solo memang lebih sederhana, namun jauh lebih populer dibandingkan Surakarta. Bukan cuma karena lagu ‘Bengawan Solo’ dan ‘Stasiun (Solo) Balapan’ yang sudah familiar di telinga, branding Solo sudah sangat lekat dengan seni budaya Indonesia. Pemimpin yang populer memang belum tentu baik, namun pemimpin yang baik akan dekat dan melayani yang dipimpinnya. Ada kebanggaan terhadap pemimpin yang tidak tersekat formalitas. Solo bukanlah Oslo yang merupakan salah satu kota paling mahal di dunia. Ada harga tak ternilai di balik kesederhanaannya.

Candradimuka itu telah dijalani oleh Presiden RI saat ini yang besar namanya di Solo. Beliau yang meneladani jejak pendahulunya yang telah dimakamkan di Astana Giribangun dekat Kota Solo. Ya, candradimuka itu sebelumnya telah dijalani sosok presiden ‘legendaris’ yang beristrikan bangsawan Solo. Terlepas dari berbagai kekurangan, mereka adalah sosok pemimpin yang berani dan mengayomi. Figur yang melayani dan banyak dicintai. Semoga kamp candradimuka kepemimpinan di Solo mampu menginspirasi lahirnya pemimpin yang memiliki integritas, cendekia, transformatif dan melayani. Pemimpin yang keberadaannya membawa kemaslahatan dan kebermanfaatan. Selamat berjuang, para pemimpin kemanusiaan! Hidup mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

…Kami hadir untuk melayani kehidupan sesama insani. Asas maslahat membuat kami giat, asas manfaat membuat semangat. Bakti Nusa berjuang!!!” (Mars Juang Bakti Nusa)

Catatan: tulisan ini adalah pengantar dalam guide book Future Leader Camp 2018

Berpikir Kritis atau Berpikir Kreatif? Pilih Mana?

“Thinking is the hardest work there is, which is probably the reason so few engage in it” (Henry Ford)

Berpikir dalam KBBI didefinisikan sebagai menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu, atau menimbang-nimbang dalam ingatan. Berpikir banyak macamnya, di antaranya memiliki makna yang saling bertolak belakang. Misalnya antara berpikir subjektif (menurut pandangan/ perasaan sendiri) dengan berpikir objektif (menurut keadaan yang sebenarnya tanpa dipengaruhi pendapat atau pandangan pribadi). Atau berpikir deduktif (menyimpulkan dari yang umum ke yang khusus) dengan berpikir induktif (menyimpulkan berdasarkan keadaan yang khusus untuk diperlakukan secara umum). Berpikir realistik dengan berpikir autestik. Berpikir rasional dengan berpikir irrasional. Berpikir logis dengan berpikir emosional. Berpikir ilmiah dengan berpikir alamiah. Berpikir sistematis dengan berpikir acak. Berpikir analisis dengan berpikir sintesis. Lantas bagaimana dengan berpikir kritis? Apa yang menjadi lawannya?

Berpikir kritis adalah seni menganalisis gagasan berdasarkan penalaran logis. Ada proses analisis dan evaluasi yang menyertainya. Sikap tidak kritis bisa jadi muncul karena apatis, skeptis, atau karena taklid buta. Hanya saja berpikir apatis, skeptis, apalagi taklid buta seringkali tidak butuh benar-benar berpikir. Tidak perlu banyak pertimbangan, apalagi mengedepankan akal budi. Karenanya berpikir kritis jarang ‘dibenturkan’ dengan ketiga hal ini. Dalam berbagai literatur, ‘lawan’ dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif. Hal ini didasarkan pada karakteristiknya yang saling berseberangan. Berpikir kritis dicirikan sebagai berpikir analisis, konvergen, vertikal, fokus, dan objektif dengan mengoptimalkan otak kiri. Sementara berpikir kreatif memiliki karakteristik generatif, divergen, lateral, menyebar, dan subjektif dengan mengoptimalkan otak kanan. Lalu mana yang lebih baik? Berpikir kritis atau berpikir kreatif?

Berpikir kreatif adalah seni menghubungkan informasi menjadi gagasan baru. Gagasan spektakuler adalah buah dari berpikir kreatif. Bagi yang menggunakan referensi taksonomi Bloom, berpikir kreatif ini ada di level yang lebih tinggi dari berpikir kritis. Dimensi proses kognitif secara berurut dimulai dari remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (mengaplikasikan), analyzing (menganalisis), evaluating (mengevaluasi), hingga creating (membuat/ menciptakan). Berpikir kritis ada di level menganalisis dan mengevaluasi, sementara berpikir kreatif ada di level membuat dan menciptakan. Dapat dipahami bahwa mengkritisi sebuah karya (film, buku, dsb) akan jauh lebih mudah dibandingkan membuatnya. Lalu apakah artinya untuk dapat berpikir kreatif, seseorang harus mampu berpikir kritis terlebih dahulu? Mungkinkah berpikir kritis dan berpikir kreatif dapat dilakukan secara simultan?

Berpikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Sebagaimana setiap manusia pasti memiliki belahan otak sebelah kiri maupun kanan, antara berpikir kritis dengan berpikir kreatif seharusnya tidak perlu didikotomikan. Keduanya ada di dimensi yang berbeda. Justru harus digunakan secara simultan. Misalnya dalam menulis sebuah buku, berpikir kreatif akan menghasilkan ide tulisan. Namun ide-ide tersebut harus ditata dalam sebuah outline atau gunung alur dengan berpikir kritis. Pemilihan diksi atau gaya bahasa lahir dari berpikir kreatif. Judul buku atau bab yang menarik pun hadir karena proses berpikir kreatif. Hanya saja buku yang rapi dengan proses editing yang baik membutuhkan sentuhan berpikir kritis. Review buku perlu berpikir kritis, sementara membuat buku baru perlu diawali dengan berpikir kreatif. Semakin tampak jelas perbedaannya kan? Atau justru kian tampak ‘simbiosis mutualisme’ antara keduanya?

Berpikir kritis dan kreatif adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Menghasilkan gagasan program inovatif butuh berpikir kreatif, namun merencanakannya secara detail termasuk menguji kelayakan gagasan tersebut perlu proses berpikir kritis. Kelincahan dalam mengelola dinamika organisasi butuh berpikir kreatif, sementara melakukan improvement (perbaikan) perlu berpikir kritis. Untuk menghasilkan gagasan ideal yang dapat diimplementasikan dan terus dikembangkan, berpikir kritis dan kreatif keduanya perlu untuk dilakukan secara simultan. Dan simultan disini sangatlah realistis, bukan utopis. Contoh sederhananya, bagaimana judul dan setiap paragraf dalam tulisan ini diawali dengan kata ‘berpikir’ dan diakhiri dengan dua pertanyaan membutuhkan proses berpikir kritis sekaligus kreatif. Menarik bukan? Jadi, pilih mana, berpikir kritis atau berpikir kreatif?

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron: 190-191)

Ilmu Kalau-kalau VS Berandai-andai

Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu”, tetapi katakanlah ini: “Ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata ‘seandainya’ itu akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Beberapa hari lalu, penulis mengikuti training awareness ISO 45001:2018 terkait Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Salah satu ilmu baru yang diperoleh adalah ‘ilmu kalau-kalau’ untuk antisipasi bahaya atau risiko terjadinya insiden. Upaya preventif dalam analisis risiko memang memerlukan serangkaian jawaban atas pertanyaan ‘kalau begini’ atau ‘kalau begitu’. Berbagai kemungkinan, yang terburuk sekalipun, dibutuhkan untuk meminimalisir risiko yang bisa saja terjadi di masa mendatang. Mengingat kata ‘kalau’ bersinonim dengan ‘seandainya’, ‘ilmu kalau-kalau’ barangkali ada kesamaan juga dengan ‘ilmu berandai-andai’ yang dilarang. Benarkah demikian?

Dalam hadits di atas, kata ‘seandainya’ yang membuka pintu perbuatan setan adalah yang berorientasi ke belakang. Menengok masa lalu. Ada penyesalan, bahkan mempermasalahkan takdir Allah SWT yang menyertai. Padahal meratapi masa lalu takkan mengubah apapun. Terjebak dalam dua kekeliruan: membenarkan kesalahan atas nama takdir, atau menyalahkan pemberi takdir. Berbeda dengan ‘ilmu kalau-kalau’ yang berorientasi ke depan. Memprediksi berbagai risiko yang mungkin terjadi di masa mendatang. Ada harapan bahwa risiko tersebut tidak perlu terjadi, dan ada optimisme akan dapat melaluinya dengan mudah sebab setiap risiko sudah dipetakan solusi penanganannya. Belum tentu terjadi bukan berarti tidak akan terjadi. Masa depan tidak berubah, hanya saja ketika risiko benar-benar terjadi, ada upaya meminimalisir risiko yang sudah disiapkan, akan berbeda sekali dengan menghadapi risiko tanpa persiapan.

Berandai-andai dengan masa lalu tidak selamanya buruk. Jika penekanannya pada aspek informasi dan refleksi diri sebagai bahan introspeksi dan mengambil ibroh tentu masih dapat dibenarkan. Kalimat pengandaian dengan maksud agar dapat diambil pelajaran ini banyak terdapat dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Dalam hal ini, menengok ke belakang diperlukan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Menjadi pribadi yang lebih baik dengan belajar dari kesalahan. Sebagaimana syarat taubat, penyesalan disikapi dengan produktif: berhenti berbuat dosa dan tidak mengulanginya kembali. Jadi dalam ‘berandai-andai’ bukan penyesalannya yang dipermasalahkan, menggugat takdirlah yang dilarang. Atau melihat ke belakang untuk mengoptimalkan kebaikan yang pernah ada dalam sejarah masa lalu. Belajar keshalihan dari orang-orang shalih.

‘Ilmu kalau-kalau’ yang berorientasi ke masa depan juga tidak seluruhnya baik. Selain risk assessment, upaya envisioning untuk merumuskan visi ke depan juga sah-sah saja. Kata ‘kalau’ atau ‘seandainya’ merupakan kata penghubung untuk menandai syarat. Syaratnya bisa merupakan hal yang positif (misalnya andai saya jadi pimpinan), netral (misalnya kalau saya sudah berusia 30 tahun), atau negatif (misalnya seandainya saya jatuh miskin). Envisioning biasanya mengambil syarat positif sebagai inspirasi impian di masa mendatang. Sementara analisis risiko mengambil syarat negatif untuk ‘jaga-jaga’. Setelah syarat terpenuhi, apa yang akan dilakukan lah yang menjadi penting untuk diperhatikan. Pun berorientasi ke masa depan, menjadi bermasalah ketika ‘ilmu kalau-kalau’ digunakan untuk merencanakan perbuatan yang tidak baik di masa mendatang. Misalnya, kalau jadi pejabat saya akan korupsi. Godaan untuk korupsi mungkin merupakan risiko yang perlu diwaspadai bagi para pejabat. Namun tidak perlu berandai-andai menjadi koruptor, ataupun menganalisis penyelamatan seperti apa jika ternyata harus jadi koruptor. Perlu diingat bahwa ada dimensi do’a dalam setiap harapan dan angan. Karenanya, merencanakan perbuatan buruk bukanlah implementasi ‘ilmu kalau-kalau’ yang dibenarkan.

Selain itu, ada juga ‘ilmu kalau-kalau’ dan berandai-andai yang tidak perlu dilakukan. Terutama untuk hal-hal yang tidak realistis atau pada hal-hal yang hanya mendatangkan kecemasan yang berlebihan atau pada hal-hal yang diluar kendali untuk menanganinya. Tidak perlu membuang energi untuk menandai syarat yang mustahil terjadi. Kalau saya mempunyai kekuatan super, misalnya. Selain itu, penerapan  ‘Ilmu kalau-kalau’ adalah untuk menghadirkan ketenangan karena sudah mengantisipasi segala risiko yang mungkin muncul. Bukan untuk membuat fobia dan memandang masa depan dengan penuh kekhawatiran. Karenanya jangan menggunakan ‘ilmu kalau-kalau’ secara berlebihan. ‘Ilmu kalau-kalau’ dapat digunakan untuk syarat yang di luar kendali, namun tidak untuk tindakan penanganan yang di luar kendali. Hal tersebut masuknya ke bab do’a dan tawakal.

‘Ilmu kalau-kalau’ mengajarkan kita untuk merekayasa masa depan dengan memperhatikan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Jika dikembangkan, ilmu ini bisa memotivasi dan menginspirasi akan masa depan yang lebih baik. Berandai-andai mengajarkan kita untuk berkubang dalam masa lalu yang kelam. Jika berlebihan, akan cenderung melenakan diri, menyalahkan orang lain, bahkan kecewa terhadap Tuhan. Kita dapat belajar dari masa lalu tanpa harus berlebihan meratapi ketidakoptimalan di masa lalu. Dan kita juga bisa merencanakan masa depan tanpa lupa untuk berbuat yang terbaik di hari ini. Menyoal takdir yang telah terjadi, artinya berbicara tentang mengambil ibroh. Menyongsong takdir yang belum terjadi, berarti menguatkan perbekalan dan amal nyata di hari ini. Dan mereka yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esoknya lebih baik dari hari ini.

Dear Past, thanks for all the lessons. Dear Future, I’m ready…

Menghadapi Perubahan, Anda Komponen Elektronika yang Mana?

The ones who are crazy enough to think they can change the world are the ones who do” (Steve Jobs)

Di kolong langit tak ada yang abadi, semua akan berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan terjadi setiap saat, di semua lini kehidupan. Karena perubahan adalah keniscayaan, yang terpenting adalah persiapan dan penyikapan dalam menghadapi perubahan. Secara umum, ada dua cara menyikapi perubahan: pasif dan aktif. Sama halnya dengan komponen dasar elektronika, ada yang bersifat pasif, ada yang aktif. Beberapa komponen elektronika pasif diantaranya resistor, kapasitor, induktor, dan transformator. Sementara beberapa komponen elektronika aktif antara lain dioda dan transistor. Lantas bagaimana jika komponen elektronika ini dikaitkan dengan sikap seseorang dalam menghadapi perubahan? Anda termasuk komponen elektronika yang mana? Nomor 4 bikin Anda tercengang! Hehehe, ikut-ikutan gaya copywriting kekinian.

Komponen pertama adalah resistor. Fungsinya menghambat arus yang mengalir dalam rangkaian listrik. Nilainya berbeda tergantung kode angka atau gelang warna dan diukur dalam satuan Ohm. Gelang warna ada yang menunjukkan nilai resistor, ada yang menunjukkan nilai toleransinya. Besarnya nilai hambatan ini berbanding lurus dengan besarnya tegangan dan berbanding terbaik dengan besarnya arus listrik. Seseorang dengan tipe resistor akan menghadapi perubahan dengan resisten. Enggan beranjak dari zona nyaman. Khawatir dengan ketidakpastian. Takut dirugikan dengan biaya perubahan. Resistensi terhadap perubahan ini berbeda kadarnya, baik besarannya ataupun toleransinya. Namun intinya menolak perubahan, atau menolak untuk berubah. Semakin besar gagasan perubahan, semakin keras pula penolakannya. Resistensi hanya dapat berkurang dengan kesadaran untuk berubah dan kejelasan arah perubahan, itu pun bagi yang masih punya toleransi besar.

Komponen kedua adalah kapasitor atau kondensator. Kapasitor sebenarnya bisa berfungsi sebagai perata arus ataupun filter, namun fungsi utamanya adalah menyimpan arus listrik. Dibentuk dari dua permukaan yang berhubungan tapi dipisahkan oleh penyekat. Besarnya kapasitansi dalam satuan Farad berbanding lurus dengan besarnya muatan dan berbanding terbalik dengan besarnya tegangan. Kapasitor memiliki dua kaki yang tidak boleh salah dalam meletakkannya karena dapat membuat kapasitor menggelembung atau bahkan meledak. Seseorang dengan tipe kapasitor akan menghadapi perubahan dengan cuek. Tidak menolak pun mendukung, hanya sekadar menampung gagasan perubahan. Bisa menjadi ‘tempat sampah’ yang akan mengurangi dampak resistensi, namun informasi yang tidak berimbang bisa menyebabkannya lebih berbahaya dari yang resisten. Berbeda dengan yang resisten, semakin besar gagasan perubahan, ketidakpeduliannya akan semakin kecil. Karena ada batasan kapasitas, akan ada kondisi tertentu dimana seorang tipe kapasitor akan berhenti apatis. Biasanya ketika ada kepentingan dirinya yang terusik, baik dalam hal mendukung ataupun menolak perubahan.

Komponen ketiga adalah induktor atau koil (kumparan). Fungsinya beragam tergantung jenis dan rangkaiannya, bisa untuk mengatur frekuensi, memfilter ataupun menjadi alat kopel (penyambung). Besaran induksinyapun beragam dalam satuan Henry. Sebuah induktor ideal memiliki induktansi, tetapi tanpa resistansi atau kapasitansi, dan tidak memboroskan daya. Sifat-sifat elektrik dari sebuah induktor ditentukan oleh panjangnya induktor, diameter induktor, jumlah lilitan dan bahan yang mengelilinginya. Induktor juga bisa menyimpan energi seperti halnya konduktor. Seseorang dengan tipe induktor akan menghadapi perubahan secara logis, tidak asal menolak, menampung, ataupun menerima. Karena sudah mampu menyaring informasi, tipe ini mampu menjadi jembatan antara yang menolak dengan yang menerima perubahan. Hanya saja karena sifatnya induktif, tipe ini rentan mengambil kesimpulan dengan generalisasi, padahal bisa jadi ada perubahan yang sifatnya kasuistik. Dan biasanya memang tidak ada induktor yang ideal.

Komponen keempat adalah transformator atau trafo. Bekerja berdasarkan perubahan gaya medan listrik dan berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tegangan. Transformator terdiri atas inti besi, terminal input di kumparan primer, dan terminal output di kumparan sekunder. Seseorang dengan tipe transformator akan menghadapi perubahan secara pragmatis. Memang benar, transformator memiliki akar kata yang sama dengan transformasi yang identik dengan perubahan. Bahkan bergerak bersama perubahan. Hanya saja sebagai komponen elektronika pasif, perubahan yang dihasilkan tergantung dari banyaknya lilitan di kumparan primer atau sekunder. Bisa meningkatkan, bisa menurunkan. Bisa mempercepat, bisa menghambat. Tergantung besarnya dukungan. Tergantung manfaat yang dirasakan. Tergantung kepentingan yang terfasilitasi. Pragmatis mengikuti arah hembusan angin yang paling menguntungkan baginya.

Komponen kelima adalah dioda (dua elektroda) atau diode. Dioda memiliki 1 buah penghubung  (junction), sering disebut sebagai komponen dua lapis (lapis N dan P). Fungsinya beragam, tergantung dari rangkaian dan bahan penyusunnya. Sebagai komponen elektronika aktif, dioda bisa berfungsi sebagai penyearah, pengendali, pengamanan rangkaian, bahkan bisa memancarkan cahaya. Sebagai penyearah, dioda bisa mengalirkan arus listrik pada satu arah saja dan menghambat arus listrik dari arah berlawanan. Seseorang dengan tipe dioda akan menghadapi perubahan secara kritis. Filternya lebih kuat dari tipe induktor sehingga kesimpulan yang diambil pun akan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Pengelolaan yang tepat, bisa membuatnya mampu mengendalikan dan mengamankan perubahan. Bahkan menjadi inspirator perubahan. Cakap mengelola resistensi dan mendorong perubahan. Hanya saja jangan sampai salah posisi, pengaruhnya bisa kontraproduktif terhadap arus perubahan.

Komponen keenam adalah transistor. Fungsi transisitor juga beragam tergantung dari strukturnya. Transistor bisa berfungsi sebagai penguat arus, switch (pemutus dan penghubung), penstabil tegangan, modulasi sinyal, penyearah dan lain sebagainya. Transistor terdiri dari 3 kaki (terminal) yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Kolektor (K). Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya atau tegangan inputnya, memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Transistor adalah transfer resistor yang akan memindahkan penghambat. Transistor merupakan komponen penting penyusun Integrated Circuit (IC) yang lebih kompleks. Seseorang dengan tipe transistor akan menghadapi perubahan secara bijak. Tahu bagaimana menempatkan diri. Bisa menguatkan seperti trafo, namun outputnya jelas stabilitas perubahan bagaimanapun inputnya. Bisa mengelola resistensi seperti dioda, namun hambatan bukan sekadar dilawan, melainkan bisa diarahkan  menjadi akselerator perubahan. Jika dibutuhkan, bisa bertindak tegas seperti switch on off. Transistor seakan memiliki ruh yang sama dengan transisi yang identik dengan perpindahan dan perubahan. Masa transisi yang penuh ketidakpastianlah yang kerap menimbulkan ketidaknyamanan. Setelah melalui masa transisi perubahan akan terjadi seutuhnya. Transisi lah yang ‘mengerikan’, bukan perubahan yang merupakan keniscayaan. Dan tipe transistor akan sempurna dalam mengawal masa transisi.

Akhirnya, komponen-komponen elektronika di atas hanyalah analogi. Barangkali tidak sepenuhnya tepat. Namun cukup dapat dipahami bahwa perubahan seyogyanya bisa disikapi dengan aktif. Jika pada akhirnya perubahan akan terjadi, mengapa memilih pasif? Toh baik aktif maupun pasif, masa depan tetaplah tidak dapat diprediksi sepenuhnya. Justru aktif dalam menghadapi perubahan dapat berpotensi merekayasa masa depan sesuai dengan yang diharapkan. Kritis dalam menghadapi perubahan adalah baik, namun bijak dalam menghadapinya adalah lebih utama.

Change will not come if we wait for some other person, or if we wait for some other time. We are the ones we’ve been waiting for. We are the change that we seek.” (Barack Obama)

Hukum Newton dan Gerakan Mahasiswa Jaman Now

Jika ada resultan gaya yang bekerja pada sebuah benda, maka akan dihasilkan suatu percepatan dalam arah yang sama dengan resultan gaya. Besarnya percepatan tersebut berbanding lurus terhadap resultan gaya dan berbanding terbalik terhadap massa bendanya” (Hukum Newton II)

Menyoal gerakan atau pergerakan, tentu ada korelasinya dengan hukum gerak. Dalam fisika klasik, hukum gerak Newton menjadi acuan. Dalam kehidupan sehari-hari, hukum kelembaman (Newton I) atau pun hukum aksi reaksi (Newton III) masih terbilang relevan. Bagaimana dengan gerakan mahasiswa? Jika mengacu kepada Hukum Newton II di atas sepertinya dapat dipahami bahwa akselerasi gerakan mahasiswa akan sangat ditentukan oleh berbagai aksi yang selaras dengan arah gerakan yang diharapkan. Tapi apakah berbanding terbalik dengan kuantitas massa mahasiswa? Atau barangkali gerbong gerakan mahasiswa saat ini terbebani dengan penuh sesaknya mahasiswa yang tak lagi menjadi ‘golongan elit cendekia pejuang masyarakat’?

Jika resultan gaya yang bekerja pada benda yang sama dengan nol, maka benda yang mula-mula diam akan tetap diam. Benda yang mula-mula bergerak lurus beraturan akan tetap lurus beraturan dengan kecepatan tetap“, demikian bunyi Hukum Newton I yang dikenal juga sebagai hukum inersia atau hukum kelembaman. Kelembaman adalah kelambanan dan kemalasan. Tak lagi tangkas. Apatisme mahasiswa bisa digerakkan, tapi gerakannya akan menuju pada apatisme yang lain. Sementara mahasiswa yang terus bergerak semakin langka. Barangkali demikian potret gerakan mahasiswa jaman now, bukan mati, hanya ‘lembam’. Kelembaman yang bukan tanpa alasan, sebab unsur ‘kaum terpelajar’ belumlah hilang disandang oleh para mahasiswa.

Generasi milenial adalah generasi kreatif yang pragmatis. Amanah yang diemban mahasiswa adalah Tri Dharma, bukan Tritura ataupun enam visi reformasi. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ada adalah Pendidikan dan Penelitian, bukan Organisasi dan Demonstrasi. Dan yang termasuk amanah adalah lulus tepat waktu. Amanah orang tua di tengah biaya kuliah yang semakin tinggi dan kurikulum yang semakin padat. Pun batas kuliah S1 maksimal ‘masih’ 6 atau 7 tahun, saat ini lulus kuliah 5 tahun dianggap sudah terlalu lama. Rata-rata lama kuliah di UGM yang katanya kampus kerakyatan saja sudah 4 tahun 8 bulan. UNY tetangganya malah hanya 4,5 tahun, bahkan rata-rata lama mahasiswa S1 kuliah di ITB hanya 4,2 tahun. Pendidikan dan penelitian dianggap lebih tepat untuk mengisi waktu kuliah yang relatif singkat. Toh syarat kelulusan adalah tugas akhir, bukan LPJ organisasi. Dan yang menjadi salah satu ukuran kualitas lulusan adalah nilai IPK, bukan banyaknya ikut aksi massa.

Lantas bagaimana dengan pengabdian masyarakat yang menjadi salah satu Tri Dharma? Sosial politik berbeda dengan sosial kemasyarakatan. Mahasiswa milenial pun masih tertarik mengikuti gerakan horizontal ke masyarakat. Kuliah Kerja Nyata, Bakti Sosial, ataupun program Community Development masih ramai peminat. Donasi kemanusiaan offline atau online juga tidak sepi. Aksi nyata membantu masyarakat dinilai sebagai bentuk kepedulian yang nyata. Apalagi jika dibandingkan gerakan vertikal dalam bentuk aksi massa yang jauh dari gaya kekinian. Gerakan mahasiswa pun mulai mengalami digitalisasi, di antaranya melalui media sosial, aplikasi Start Up, crowdfunding, ataupun petisi online. Peduli dan kontribusi tidak harus berupa demonstrasi turun ke jalan.

Setiap aksi akan menimbulkan reaksi, jika suatu benda memberikan gaya pada benda yang lain maka benda yang terkena gaya akan memberikan gaya yang besarnya sama dengan gaya yang diterima dari benda pertama, tetapi arahnya berlawanan”, demikian bunyi Hukum Newton III. Konon kesuksesan gerakan mahasiswa dapat dilihat dari apresiasi (respon positif) dari stake holder, penyebaran luas isu melalui berbagai media, dan besarnya keterlibatan massa. Sayangnya, hukum aksi reaksi menunjukkan bahwa respon positif akan ‘diseimbangkan’ dengan respon negatif. Lihat saja kasus ‘kartu kuning untuk Jokowi’ oleh Zaadit Taqwa, Ketua BEM UI. Banyak pihak yang mengapresiasi bahwa ‘mahasiswa masih ada’, namun banyak juga yang mencibir Zaadit dengan dalih etika dan sebagainya. Atau kasus ditangkapnya belasan mahasiswa paska aksi evaluasi 3 tahun pemerintahan Jokowi – JK akhir Oktober 2017 lalu. Sementara berbagai pihak mendukung dan bantu mengadvokasi para aktivis mahasiswa tersebut, tidak sedikit pihak yang justru menyayangkan, mempermasalahkan dan menyalahkan mereka.

Ketika hukum kelembaman dan aksi – reaksi tampaknya membawa gerakan mahasiswa kembali ke titik nol, masih ada Hukum Newton II. Perbesar upaya konstruktif sambil meningkatkan kualitas mahasiswa penggerak (yang tidak harus banyak) untuk mengakselerasi gerakan mahasiswa. Lebih jauh lagi, gerakan mahasiswa mungkin perlu melupakan hukum klasik Newton yang tidak memperhitungkan perubahan bentuk dalam analisisnya. Hukum Newton juga tidak dapat menjelaskan berbagai fenomena dalam fisika modern, termasuk yang berkaitan dengan teori relativitas ataupun fisika kuantum. Dalam hal ini, hukum kekekalan momentum dan energi yang baru muncul dua abad kemudian bisa jadi lebih relevan. Potensi dan signifikansi gerakan pemuda dan mahasiswa tidaklah lekang oleh zaman, yang berubah barangkali bentuk dan platform gerakannya.

Saatnya gerakan mahasiswa bertransformasi di era kuantum yang menembus ruang dan waktu. Gerakan mahasiswa Newtonian masih sangat memperhatikan jumlah massa yang terlibat dalam aksi nyata, sementara gerakan mahasiswa kuantum sudah mengoptimalkan sumber daya dan massa yang ‘tidak nyata’ di dunia maya. Perjuangan gerakan mahasiswa di era digital tidaklah lagi sama dengan jaman old. Realita ini harus ditangkap sebagai peluang, bukan sebagai ancaman atas gerakan mahasiswa mainstream. Riset dan kajian dikuatkan. Kemampuan menulis dan berkomunikasi ditingkatkan. Sociopreneur dan pemberdayaan masyarakat disebarluaskan. Teknologi informasi dikuasai, isu dimainkan. Pendidikan karakter, value dan sense of crisis ditanamkan. Selanjutnya tinggal menciptakan dan menjaga momentum gerakan mahasiswa yang lebih kekinian. Sisanya biarkan energi vibrasi ala fisika kuantum yang akan terus memperbaiki dan menggerakkan.

Peran mahasiswa sebagai creator of change tidaklah berubah, karenanya gerakan mahasiswa seharusnya adaptif dengan perubahan. Peran sebagai social control pun tetap harus berjalan dengan tidak disempitkan maknanya sebatas demonstran. Peran sebagai moral force hanya akan efektif selama mahasiswa tidak abai terhadap moral dan integritasnya. Adapun peran sebagai iron stock adalah keniscayaan, karenanya dunia paska kampus menjadi penting untuk dipersiapkan. Karena aktivis adalah value bukan sekadar jabatan, peran mahasiswa ini akan terus melekat paska kampus, hanya berubah bentuk dan lingkup perjuangannya. Transformasi gerakan mahasiswa kuantum ini tidaklah mengubah peran, hanya mengoptimalisasinya di era globalisasi dan revolusi industri 4.0. Revolusi industri saja sudah masuk versi keempat, masak gerakan mahasiswa masih gitu-gitu aja? Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka” (Soe Hok Gie)

Ayo (Berhenti) Rapikan Meja Kerja Anda!

Jika meja yang berantakan adalah tanda pikiran yang berantakan, maka sebuah meja kosong merupakan tanda dari apa?” (Albert Einstein)

Kata-kata tersebut kerap menjadi pembenaran bagi mereka yang meja kerjanya tidak rapi. Seraya menambahkan bahwa meja kerja orang sekaliber Albert Einstein, Thomas Alfa Edison ataupun Steve Jobs pun jauh dari kata rapi. Argumen ini diperkuat dengan berbagai penelitian terkait. Misalnya peneliti di University of Minnesota (USA) menguji seberapa baik responden dapat mengemukakan gagasan baru saat bekerja di lingkungan yang rapi dan berantakan. Hasilnya, gagasan yang jauh lebih menarik dan kreatif muncul dari responden di meja kerja yang berantakan. Sementara responden di meja kerja yang rapi cenderung mengikuti peraturan dan enggan mencoba hal baru. Penelitian lain dari University of Northwestern (USA) juga menemukan bahwa orang dengan meja kerja berantakan lebih dapat menyimpulkan inspirasi kreatif dan mampu memecahkan masalah lebih cepat ketimbang orang yang meja kerjanya rapi.

Tapi bukankah berantakan tanda malas membereskan? Dan lingkungan kerja yang sehat adalah lingkungan kerja yang bersih dan rapi? Ada benarnya, namun tidak sepenuhnya. Sebelumnya perlu kita pahami perbedaan antara lingkungan kerja, tempat kerja, dan meja kerja. Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja pada saat bekerja, baik berbentuk fisik atau nonfisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat memengaruhi diri dan pekerjaannya saat bekerja. Lingkungan kerja yang baik tentu akan berdampak positif terhadap pekerjaan. Dan lingkungan kerja ini juga mencakup aspek nonfisik, misalnya hubungan kerja dengan atasan, rekan atau bawahan.

Adapun definisi tempat kerja menurut OHSAS 18001 (standar internasional untuk penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah lokasi manapun yang berkaitan dengan aktivitas kerja di bawah kendali organisasi (perusahaan). Tempat kerja ini perlu dikelola untuk menghilangkan pemborosan (waste) sehingga sumber daya bisa optimal. Salah satu metodologi penataan dan pemeliharaan tempat kerja yang banyak dikenal adalah 5S, yang merupakan gerakan untuk mengadakan pemilahan (seiri), penataan (seiton), pembersihan (seiso), penjagaan kondisi yang mantap (seiketsu), dan penyadaran diri akan kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik (shitsuke). Di Indonesia, metode 5S ini diadopsi menjadi 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) yang merupakan suatu program terstruktur yang secara sistematis menciptakan ruang kerja (workplace) yang bersih, teratur dan terawat dengan baik. 5R juga bertujuan meningkatkan moral, kebanggaan dalam pekerjaan serta rasa kepemilikan dan tanggung jawab pekerja. 5R digunakan juga dalam konsep Lean Management lainnya, seperti: Single Minute Exchange of Dies (SMED), Total Productive Maintenance (TPM), dan Just In Time (JIT).

Tempat kerja adalah bagian dari lingkungan kerja, tempat kerja yang baik akan meningkatkan produktivitas kerja. Pekerjaan bisa terhambat karena kesulitan menemukan alat kerja, mobilitas pun terganggu jika penataan ruang kerja tidak efektif dan efisien. Lalu bagaimana dengan meja kerja yang tentunya juga merupakan bagian dari lingkungan kerja? Meja kerja bisa menjadi bagian dari tempat kerja (workplace) yang harus memenuhi standar tertentu, misalnya untuk meja perakitan (assembly table) dan meja pengemasan (packing table). Namun meja kerja bisa jadi merupakan area pribadi yang lebih menggambarkan tentang karakter personal dibandingkan dengan kualitas pekerjaan. Dalam buku “Snoop: What Your Stuff Says About You”, Sam Gosling, profesor psikologi University of Texas (USA) menuliskan bahwa salah satu alasan ruang fisik, termasuk meja kerja seseorang, dapat mengungkapkan sesuatu adalah karena hal-hal itu pada dasarnya merupakan perwujudan dari sejumlah tingkah laku sepanjang waktu. Lebih jauh lagi, Lily Bernheimer, peneliti di University of Surrey (UK) dan Direktur Space Works Consulting, telah mengembangkan lima jenis kepribadian meja untuk sebuah perusahaan Inggris, Headspace Group. Dari hasil kajian Gosling dan psikolog kepribadian maupun lingkungan, meja kerja dapat menunjukkan lima potret dasar kepribadian: ekstrover, penyetuju, berhati-hati, cemas, dan terbuka untuk pengalaman.

Sebagai area pribadi, meja kerja tidak harus rapi. Karena ‘rapi’ disini sifatnya menjadi relatif, tidak perlu distandardisasi. Craig Knight, seorang psikolog dan pendiri Haddington Knight (sebuah perusahaan di Inggris yang menggunakan sains untuk meningkatkan kinerja usaha) telah melakukan penelitian mendalam dalam personalisasi ruang kerja. Knight menemukan bahwa para pekerja yang meletakkan sedikitnya satu foto atau tanaman di meja mereka akan 15% lebih produktif . Para pekerja yang bisa menghias meja kerja seperti yang mereka inginkan akan 25% lebih produktif dibandingkan mereka yang bekerja di meja yang lebih kosong. Tiga peneliti lain yang menulis di Jurnal Psikologi Lingkungan juga mendapati bahwa dengan membuat tempat kerja lebih personal  akan memberikan kontrol lebih dan rasa kepemilikan di lingkungan kerja. “Menciptakan sebuah tempat milik pribadi di sebuah lingkungan kerja milik publik akan berkontribusi dalam kognitif positif dan kondisi afektif seseorang, yang kemudian menghasilkan sumber daya mental yang meningkat, dan dapat mengatasi dengan lebih baik gangguan yang berpotensi melemahkan karena rendahnya privasi.” tulis mereka.

It’s pointless to have a nice clean desk, because it means you’re not doing anything”, demikian ungkap Michio Kaku, seorang Profesor Fisika, yang rasa-rasanya senada dengan apa yang dikatakan Albert Einstein di awal. Ketika sebagian orang nyaman dengan meja kerja yang tertata rapi, sebagian yang lain justru menemukan gairah beraktivitas dalam meja kerja yang ‘ramai’. Seperti halnya pilihan cara belajar, kondisi meja kerja kerapkali hanya merupakan pilihan cara bekerja. Tidak harus sama antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. Pernyataan bahwa meja kerja boleh saja berantakan ketika dipakai namun harus kembali bersih ketika ditinggalkan terdengar bijak namun sebenarnya tidaklah tepat. Tidak sedikit orang yang sengaja tidak merapikan mejanya untuk mengingatkannya bahwa ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Merapikan mejanya justru membuatnya lupa akan pekerjaannya. Bukankah untuk mengingat lebih mudah (dan rapi) cukup dengan membuat note kecil di tempat yang mudah terlihat? Kembali ke pilihan cara bekerja. Tidak semua orang sama. Bruce Mau, seorang desainer Kanada pun berkata, “Don’t clean your desk. You might find something in the morning that you can’t see tonight.”. Sekali lagi, tidak rapi tidak sama dengan tidak produktif.

If your company has a clean-desk policy, the company is nuts and you’re nuts to stay there”, demikian ungkap Tom Peters, seorang penulis tentang praktik manajemen bisnis. Terdengar ekstrim. Namun dapat dimaklumi jika kita melihat meja kerja sebagai tempat aktualisasi yang punya privacy. Karenanya tak mengherankan banyak perusahaan menyediakan tempat khusus untuk bertemu dengan pihak internal atau eksternal, tidak membawanya ke meja kerja kecuali untuk alasan khusus. Meja kerja harus nyaman untuk mendukung produktivitas, namun parameter kenyamanan ini tentu beragam. Tidak harus semua orang mejanya serapi Bill Gates (Microsoft) atau seberantakan Steve Jobs (Apple), sesuaikan saja dengan karakteristik masing-masing orang untuk optimalisasi kerja. Namun perlu diingat, tidak rapi berbeda dengan kotor dan jorok. Sampah yang berserakan atau kotoran dimana-mana bukan kebiasaan produktif. Alih-alih menjadi kreatif dan kian produktif, yang ada malah menambah tingkat stress dan jadi sumber penyakit. Pun ada irisan, malas tidaklah sama dengan kreatif. Jadi, ayo (berhenti) rapikan meja kerja kita!

Then there’s the joy of getting your desk clean, and knowing that all your letters are answered, and you can see the wood on it again” (Lady Bird Johnson)

Kemampuan Superpower Terkuat? Memimpin!

“Whenever you find the whole world against you, just turn around and lead the world” (Anonymous)

“Kemampuan superpower apa yang Anda ingin miliki agar dapat menguasai dunia?”, demikian pertanyaan dalam salah satu sesi Workshop Design Thinking For Innovation yang penulis ikuti beberapa waktu lalu. Hasil polling tersebut tidak mengejutkan dimana kemampuan melihat masa depan (future vision : 45%) dan mengendalikan orang lain (mind control : 42%) menjadi jawaban yang paling banyak dipilih peserta. Sisanya, kemampuan berpindah dalam sekejap (teleportation) dan bergerak secepat cahaya (flash) masing-masing hanya memperoleh 6%. Sementara itu, tak ada peserta yang memilih kemampuan membuat bola api (fireball), kekuatan super (super strength), dapat tidak terlihat (invisibility),bisa terbang (jetfly), dan kemampuan menyembuhkan diri (self heal).

Pertanyaan dan hasil polling tersebut mengingatkan penulis pada salah satu anime mind blowing berjudul Code Geass. Dikisahkan Lelouch Lamperouge, seorang bangsawan Britania yang dibuang ayahnya hendak menciptakan dunia yang damai untuk Nunally, adiknya. Ia memperoleh kekuatan misterius bernama “Geass Power of the King” yang membuatnya mampu membuat orang melakukan apapun yang diperintahkannya. Dalam perjalanannya, ada batasan dari kekuatan tersebut, misalnya hanya bisa digunakan satu kali untuk setiap orang. Bahkan ada kondisi yang membuatnya tak mampu menggunakan kekuatannya. Namun kecerdasannya dalam memprediksi masa depan, membuatnya tak tertandingi. Dan di akhir cerita, Lelouch mampu menguasai dunia dengan menghancurkan dunia yang sekarang dan menciptakan dunia yang baru. Mind control yang dipadu dengan future vision menjadi kombinasi ampuh untuk menguasai dunia.

Code Geass jelas kisah fiksi, hasil polling pun juga barangkali tidak cukup representatif dan tidak cukup memenuhi kaidah ilmiah. Namun dapat dipahami bahwa kemampuan mengendalikan orang lain lebih powerful dibandingkan kekuatan yang hanya untuk dirinya, seperti teleportation, flash, fireball, super strength, invisibility, jetfly, ataupun self heal. Sebagaimana Profesor X memimpin para X-Men. Bagaimana pun menguasai dunia tidak mungkin dapat dilakukan sendirian. Kemampuan melihat masa depan pun hanya akan bermanfaat untuk dirinya jika tidak ada yang percaya. Dan kemampuan menggerakkan (enable others to act) ini merupakan salah satu karakteristik penting seorang pemimpin, demikian pula halnya dengan kemampuan untuk memprediksi masa depan (visioner). Sehingga, kekuatan untuk menguasai dunia sejatinya terhimpun dalam diri seorang pemimpin.

Perhatikan daftar Top 5 ‘Manusia Paling Berkuasa’ versi Forbes tahun 2016, secara berurut adalah: Vladimir Putin (Presiden Rusia), Donald Trump (Presiden USA), Angela Merkel (Kanselir Jerman), Xi Jinping (Presiden RRC) dan Paus Francis (Pemimpin Katolik). Sementara itu, salah satu majalah global terkemuka The Economist edisi 14 – 20 Oktober 2017 memajang wajah Xi Jinping dilengkapi teks bombastis “The World’s Most Powerful Man” di cover terdepan. Hasil lebih beragam diperlihatkan TIME dalam ‘The 100 Most Influential People of 2017’ yang membagi dalam lima kategori: Pioneer, Artist, Leaders, Titans, dan Icons. Pun demikian, Leaders tetap mendominasi, dimana 24 dari 100 nama masuk kategori Leaders. Atau jika kita coba menelaah buku ‘The 100’ karya Michael H. Hart yang memuat daftar 100 manusia paling berpengaruh sepanjang zaman. Akan didapati, selain Rasulullah Muhammad SAW di peringkat pertama, hampir separuh nama dalam daftar tersebut adalah pemimpin, baik pemimpin agama, kerajaan, ataupun Negara. Selebihnya ada ilmuwan, penemu, filsuf, penjelajah, seniman, penulis, hingga pahlawan nasional.

Dalam daftar Top 10 ‘Manusia Paling Berkuasa’ versi Forbes tahun 2016 juga terdapat nama-nama seperti Bill Gates (Microsoft – peringkat 7), Larry Page (Google – peringkat 8 ) dan Mark Zuckerberg (Facebook – peringkat 10). Mereka memang bukan pemimpin suatu Negara atau wilayah, namun tetap saja mereka memimpin perusahaan besar, leading dalam dunia teknologi informasi dengan jutaan bahkan milyaran ‘rakyat’nya. Membangun masa depan di zamannya. Jadi tetap saja, kemampuan terkuat untuk mengubah dan menguasai dunia adalah memimpin. Tak heran kepemimpinan banyak diperebutkan. Jangankan statement kontroversial, ‘berdehem’nya seorang pemimpin di kancah internasional saja bisa membuat gaduh dunia global. “With great power comes great responsibility”, demikian ungkap Uncle Ben dalam film Spiderman. Disinilah seorang pemimpin ada di antara surga dan neraka. Ganjaran atas kebijakannya akan terus mengalir, menjadi kebaikan kah, atau malah dosa yang tak berujung. Konsekuensi ini harus dipahami bagi siapapun yang ingin memperoleh kekuatan besar dengan menjadi seorang pemimpin.

Lalu bukankah ‘kuota’ untuk menjadi pemimpin terbatas? Ya, jika pemimpin dimaknai sebatas jabatan. Pernah mendengar kisah seseorang yang punya mimpi mengubah dunia namun akhirnya gagal dan di akhir kisah ia sadar bahwa seharusnya ia terlebih dulu mengubah dirinya? Benar, mengubah dunia harus dimulai dari mengubah diri sendiri, menguasai dunia mesti diawali dengan menguasai diri sendiri. Kemudian barulah diri ini didorong tidak hanya puas menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri karena semakin besar lingkup kepemimpinan, akan semakin besar potensi kebermanfaatannya. Tidak perlu berambisi terlalu tinggi, sentuhan kepemimpinan bisa diawali dari lingkup yang lebih kecil. Membangun keluarga pemimpin, misalnya. Atau penulis cukup terinspirasi dengan kata-kata seorang guru, “Jika kamu memimpin kelas dengan baik hari ini, siswamu akan memimpin dunia dengan baik di masa depan”. Mari kita menjadi pemimpin, untuk memperbaiki diri, keluarga, masyarakat, dan dunia!

If the king doesn’t move, then his subjects won’t follow” (Lelouch – Code Geass)