Pemuda yang Menginspirasi dalam Sunyi

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda” (Tan Malaka)

Pemuda ada di masa puncak idealisme. Kematangan secara fisik yang belum disertai kesempurnaan kematangan emosional justru membuat para pemuda menjadi sosok pemberani yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Itulah yang dilakukan oleh Tamlikha, Maksalmina, Martunis, Nainunis, Sarbunis, Falyastatnunis dan Dzununis yang memilih mengasingkan diri dalam sebuah gua untuk mempertahankan akidahnya. Setelah ditidurkan selama tiga ratus (ditambah sembilan) tahun dan bertemu kembali dengan masyarakat yang sudah silih berganti generasi dan sudah beriman kepada Allah SWT, alih-alih menjadi saksi hidup sejarah masa lalu mereka justru memohon agar Allah SWT mencabut nyawa mereka tanpa sepengetahuan orang lain. Idealisme orientasinya adalah terwujudnya cita-cita, bukan ketenaran. Bahkan nama-nama mereka pun kurang familiar dibandingkan dengan inspirasi sejarah oleh para pemuda yang bergelar Ashabul Kahfi. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14).

Memperjuangkan sebuah idealisme tentu diwarnai berbagai tantangan yang menghadang. Pengorbanan adalah konsekuensi dari sebuah perjuangan. Dalam Al Qur’an Surah Al Buruj dikisahkan mengenai ashabul ukhdud,  kaum terlaknat yang menggali parit berisi api dan melempar semua orang yang beriman kepada Allah SWT ke dalam parit api tersebut. Kisah lengkap ashabul ukhdud dimuat dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim. Berkisah tentang seorang pemuda beriman yang dikaruniai keahlian pengobatan dan kemustajaban do’a. Kematiannya justru menancapkan iman yang mendalam kepada masyarakat yang menyaksikan pembunuhannya. Pun keimanan tersebut membuat mereka dilemparkan ke dalam parit api. Mereka menemui ajal dengan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hadits panjang tersebut, si pemuda hanya disebut ghulam yang berarti anak muda. Tidak dikenal namanya tidaklah mengurangi inspirasi mengenai keistiqomahan dan pengorbanan yang dicontohkan.

Semangat pemuda adalah semangat berjuang dan berkarya. Nothing to lose. Benar ataupun salah akan jadi pembelajaran hidup. Cenderung spontan dan agak kurang pikir panjang, tapi karenanya justru menjadi perjuangan yang penuh ketulusan dan keikhlashan. Jika di-list, akan panjang sekali daftar tokoh kunci pemuda inspiratif yang tak terlalu dikenal sejarah. Sebutlah Soegondo Djojopuspito, Ketua Panitia Kongres Pemuda II tahun 1928 yang menjadi titik tolak gerakan pemuda di Indonesia. Belum digelari pahlawan nasional, kalah tenar jika dibandingkan W.R. Supratman, misalnya. Padahal posisi sebagai Ketua Panitia saat itu sangatlah berisiko dan memberikan andil signifikan dalam keberlangsungan Kongres Pemuda. Atau sebut saja Wikana yang mendesak Soekarno memproklamasikan Indonesia, Frans Mendur yang mendokumentasikan detik-detik proklamasi, Shodanco Singgih yang ‘menculik’ Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok atau Kusno Wibowo yang merobek warna biru pada bendera bendara yang berkibar di Hotel Yamato. Karena ketercapaian cita-cita adalah yang utama dibandingkan dikenalnya nama, para pemuda idealis ini tidak ambil pusing bagaimana catatan sejarah akan menempatkan mereka. Ya, sejarah juga alpa mencatat siapa mahasiswa yang pertama kali menduduki gedung MPR/ DPR dalam artian yang sebenarnya pada tahun 1998. Karena bukan disitu esensi perjuangan mereka.

Namun roda zaman terus berputar, era pengetahuan dan informasi seakan menuntut semua pihak untuk menunjukkan eksistensi. Para pemuda yang tadinya asyik menginspirasi dalam sunyi kini tak ketinggalan menjadi garda terdepan unjuk eksistensi. Berbagai macam kanal kontribusi digagas, bisa berupa kegiatan, program, gerakan, atau bahkan aplikasi di dunia maya. Iklim kompetisi ditambah motivasi untuk unjuk gigi mewarnai dinamika kontribusi pemuda. Menjadi sulit menyamakan isu dan gerak langkah kontribusi pemuda. Yang memang tidak lagi didesain untuk disatukan. Belum lagi semakin banyak pemuda yang kehilangan jati diri sehingga eksistensi menjadi orientasi, tak lagi memperjuangkan cita dan visi bersama. Kontribusi harus dalam ramai agar bisa menginspirasi. Bagaimanapun harus ada keuntungan yang diperoleh dari setiap karya dan kontribusi. Lebih miris lagi mendapati semakin banyaknya pemuda apatis yang tak peduli. Tingginya kompetisi diyakininya sebagai sebuah tanda untuk hidup ‘mandiri’, hidup untuk diri sendiri, hidup dalam dunianya sendiri. Bagi mereka, karya tidak perlu dibagi, cukuplah untuk menginspirasi diri sendiri.

Akan tetapi, yang namanya roda akan kembali ke titik awal. Saat ini pun masih banyak pemuda yang terus berkarya dalam sepi, tetap menginspirasi dalam sunyi. Gemerlap publikasi tak menyilaukan matanya yang menatap masa depan dengan penuh optimisme kegemilangan. Mereka sudah selesai dengan dirinya, sehingga dengan atau tanpa dikenal manusia, karya tetap harus tercipta. Eksistensi dirinya tak ada nilainya jika dibandingkan dengan motivasi untuk terus berkontribusi dan banyaknya manfaat yang hendak dirawat. Ketika memperjuangkan cita mulia menjadi pilihan, inspirasi bisa dilakukan dalam ramai maupun sunyi. Bentuk perjuangan bisa berubah menyesuaikan zaman, namun cita perjuangan tetaplah sama. Belum tentu populer, tapi memang popularitas bukan tujuan. Semakin sunyi, semakin menginspirasi, sebab energi tidak perlu terkuras hanya untuk meladeni persepsi orang. Hingga akan tiba suatu masa dimana kontribusi dalam sunyi ini kan dibuka tabirnya, menginspirasi dunia, membuat perubahan nyata. Tinggal pastikan diri kita turut berperan di dalamnya.

April 1993, surat kabar Republika yang baru berusia 3 bulan melakukan promosi di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Ketika acara ramah tamah di Restoran Bambu Kuning, rombongan Republika bertemu sekelompok da’i muda yang tergabung dalam Corps Dakwah Pedesaan (CDP). Mereka adalah da’i sekaligus guru dan pemberdaya masyarakat yang berkiprah di daerah miskin Gunung Kidul yang saat itu tengah dilanda kekeringan dan kelaparan. Sebagai aktivis sosial, anggota CDP ini hanya digaji Rp. 6000.- per bulan. Gaji mereka berasal dari sumbangan para mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Singkat cerita, peristiwa tersebut menginspirasi lahirnya sebuah rubrik di Harian Umum Republika yang bertajuk Dompet Dhuafa pada 2 Juli 1993. Dompet Dhuafa kemudian terus berkembang menjadi salah satu Lembaga Amil Zakat tingkat nasional terbesar di Indonesia dengan puluhan kantor cabang dan perwakilan di dalam dan luar negeri. Sejarah kemudian mencatat nama Parni Hadi, Haidar Bagir, Sinansari Ecip, dan Erie Sudewo sebagai pendiri Yayasan Dompet Dhuafa Republika. Sejarah juga mencatat nama Ustadz Umar Sanusi dan (alm.) Ustadz Jalal Mukhsin sebagai pegiat Corps Dakwah Pedesaan. Namun sejarah luput mencatat, siapa saja mahasiswa yang telah menginspirasi rombongan Republika kala itu dengan menyisihkan uang saku mereka untuk menggaji anggota CDP. Ya, mereka adalah para pemuda yang menginspirasi dalam sunyi.

Bukan (Cuma) Surah Al Ma’idah 51 (2/2)

Padahal momentum ini adalah momentum persatuan kaum muslimin. Tanpa sekat harakah, fikrah, atau golongan Islam tertentu. Polarisasinya semakin kuat: hizbullah atau hizbusysyaithan. “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu
(QS. Al Ma’idah: 48).

Golongan kafir, munafik dan fasik ini memenuhi pikirannya bahwa aksi jutaan massa bukanlah aksi damai. Ada yang menyikapinya dengan menyebar isu terror, ada yang menggembosi dari dalam, ada pula yang melenggang tenang, toh tidak ada dampak langsung yang akan diterimanya. Padahal Islam jelas melarang umatnya melampaui batas dan berbuat kerusakan. “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (QS. Al Ma’idah: 32).

Golongan ini akan cepat merespon berita yang sesuai dengan nafsu dan pemikiran mereka, pun dari sumber yang tidak bisa dipercaya sekalipun (misalnya situs islamnkridotcom). Lebih aman tak usah menanggapi mereka yang cuma mau eksis. “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (QS. Al Ma’idah: 42).

Ada lagi kaum muslim yang taat ulil amri harga mati sehingga mengharamkan demonstrasi. Sikap yang (sok) bijak tanpa melihat situasi dan kondisi. Menasehati dalam diam memang baik, namun memberikan pencerahan kepada masyarakat luas dapat lebih menyebarluaskan kebaikan. Karena itulah mereka yang mengharamkan demonstrasi menyampaikan pandangannya lewat media massa, bukannya konsisten menasehati dalam diam. Sensitif terhadap persoalan metode atau cara, tapi kehilangan sensitifitas terhadap konten isu yang diperjuangkan. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Ma’idah: 87).

Sebenarnya yang diperjuangkan dalam aksi damai sangatlah beralasan dan sederhana. Bahwa hukum harus ditegakkan dengan jujur, adil dan tidak tebang pilih. Jangan sampai hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Tidak ada isu SARA ataupun kebencian terhadap golongan tertentu, karena kemuliaan manusia sejatinya ditentukan oleh kadar ketakwaannya. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ma’idah: 8).

Anehnya, mereka yang mengharamkan demonstrasi dengan dalih tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits, justru melempem, tidak lantang menghadapi orang-orang yang menghina Allah SWT dan Rasul-Nya. “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al Ma’idah:33).

Akhirnya, Aksi Damai yang dilatarbelakangi kasus Al Ma’idah 51 justru memberikan banyak hikmah, di antaranya adalah persatuan umat, kejelasan keberpihakan setiap muslim, hingga semakin banyaknya kajian tentang Al Qur’an. Al Ma’idah 51 hanyalah 1 dari 120 ayat di surah Al Ma’idah, hanyalah 1 dari 6326 ayat Al Qur’an. Surah Al Ma’idah disebut juga Al Uqud (perjanjian), semoga saja bisa menjadi pengingat bagi para pemimpin yang pernah berjanji ini dan itu kepada Allah SWT ataupun masyarakatnya, untuk segera menepati janji-janjinya. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu…” (QS. Al Ma’idah: 1).

Di antara dampak dari aksi damai adalah munculnya berbagai isu dan informasi yang simpang siur. Umat Islam harus pandai memilih dan memilah, serta bersikap, tidak sekadar meneruskan informasi tanpa tanggung jawab. Berita yang ramai dan marak belum tentu benar, namun hati nurani tentu mampu membedakannya. “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Ma’idah: 100).

Terakhir, kebenaran mutlak hanya ada di sisi Allah SWT. Tugas kita hanyalah terus mendekat kepada-Nya sehingga Allah senantiasa menganugerahkan hidayah dan keistiqomahan dalam setiap langkah kita. “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Ma’idah:105). Apapun pilihan jalan perjuangan kita, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Dan akhirnya hanya kepada Allah-lah segala sesuatu dikembalikan.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ma’idah 54)

Bukan (Cuma) Surah Al Ma’idah 51 (1/2)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ma’idah: 51)

Surah Al Ma’idah ayat 51 mendadak ‘terkenal’ akibat ulah petahana gubernur DKI yang mengutipnya sembarangan dalam lawatannya ke Kepulauan Seribu. Surah Al Ma’idah adalah surah ke-5 dalam Al Qur’an yang terdiri dari 120 ayat. Surah yang termasuk golongan surah Madaniyah ini dinamakan Al Ma’idah (hidangan) karena dalam ayat 112-115 memuat kisah pengikut Nabi Isa a.s. yang meminta beliau agar Allah SWT menurunkan hidangan dari langit. Dalam berbagai tempat di surah Al Ma’idah juga dijelaskan mengenai makanan halal, terutama hewan yang halal dimakan.

Bagi penulis, surah Al Ma’idah setidaknya mengingatkan akan dua hal. Pertama, di dalamnya memuat ayat Al Qur’an yang terakhir turun. “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al Ma’idah: 3). Pun ada riwayat lain yang menyampaikan bahwa ayat yang terakhir turun adalah Surah Al Baqarah ayat 278 – 282. Kedua, di dalamnya memuat rangkaian ayat yang kerap dibawakan para pendukung Negara Islam bahwa barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah mereka adalah orang kafir (ayat 44), zalim (ayat 45), dan fasik (ayat 47). “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al Ma’idah: 50).

Sebenarnya ada hal lain yang identik dengan surah Al Ma’idah, yaitu akan adanya generasi pengganti yang dicintai dan mencintai Allah SWT (QS. Al Ma’idah: 54), namun kehebohan surah Al Ma’idah ayat 51 yang disertai berbagai kajian akan ayat-ayat selanjutnya tentu juga akan mendapati ayat mengenai generasi pengganti tersebut. Jika dalam Al Ma’idah 51 memuat larangan tentang mengambil pemimpin dari kalangan non muslim, maka berkenaan dengan penistaan agama juga sudah diingatkan dalam QS. Al Ma’idah ayat 57: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan”.

Lalu bagaimana untuk wilayah dengan penduduk mayoritas non muslim? Tentu ada pertimbangan manfaat dan mudharat tanpa harus mengorbankan izzah sebagai seorang muslim. Pertimbangan yang sama juga berlaku jika ternyata tidak ada seorang pun muslim yang kompeten sebagai pemimpin. Namun default-nya tetap jelas untuk memilih pemimpin seakidah kecuali untuk kondisi darurat. Yang kemudian menjadi ironi adalah loyalitas segelintir umat Islam terhadap pemimpin nonmuslim, membelanya mati-matian bahkan bila harus menyerang saudara seiman sekalipun. Mereka tsiqoh terhadap pemimpin nonmuslim namun berprasangka buruk kepada muslim lainnya. Mereka bukan hanya membenarkan segala kemungkaran yang dilakukan pemimpin nonmuslim tersebut, namun juga menghujat segala bentuk upaya perbaikan yang dilakukan kaum muslimin. Gelap mata dan gelap hati.

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al Ma’idah 52).

Dalam hal ini, konteksnya bukan lagi benarkah petahana telah menista agama, apalagi sekadar ribut urusan kata ‘pakai’, namun ada cacat yang lebih fundamental. Al Wala wal Bara yang merupakan kaidah prinsip dalam akidah Islam telah tertukar posisinya. “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan” (QS. Al Ma’idah: 79-80).

Munculnya loyalitas yang salah tempat ini tentu ada penyebabnya, mulai dari kesombongan, kedengkian, hingga kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Lebih jauh lagi, ketakutan pada nonmuslim ataupun takut kehilangan dunia dapat mendorong orang berilmu sekalipun untuk memutar balik ayat-ayat Allah SWT sekehendak nafsunya. “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit…” (QS. Al Ma’idah: 44). Itu yang berilmu, bisa dibayangkan betapa ‘buas’nya mereka yang tak berilmu.

Namun muslim golongan tersebut hanya sedikit kok, sayangnya mereka punya sumber daya sehingga terlihat banyak. Yang banyak adalah muslim yang ‘cari aman’, saya muslim tapi saya tidak perlu begini dan begitu. Muslim sok netral yang sebenarnya apatis. Ada yang diam-diam tak peduli, ada yang malah nyinyir. Mereka merasa pintar, bukan pintar merasa. Emangnya bukti cinta Islam harus lewat aksi? Emangnya demo ngaruh ke kebijakan? Bukannya kalau aksi njelek-jelekin Ah*k artinya sama aja gak bisa jaga mulut kayak Ah*k? Bukannya semakin banyak yang membicarakannya malah jadi kampanye gratis buat Ah*k? Bukannya Islam mengajarkan perdamaian dan mudah memaafkan? Emangnya yang di jalan pada teriak takbir tuh pasti shalat shubuhnya berjama’ah di masjid? Emangnya yang ikut aksi KTP-nya Jakarta? Dan berbagai pertanyaan nyinyir lainnya yang semakin gagal fokus. Mereka meman tidak menghalangi ataupun memusuhi, tapi tak jua turut berpartisipasi. Keterlibatan artinya keberpihakan, sementara mereka merasa ada di zona netral.

Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu” (QS. Al Ma’idah: 25 – 26).

(bersambung)

Belajar dari Abilitas Penyandang Disabilitas

“Dia yang Mau Menerima Saya Apa Adanya!”, judul tulisan dari salah seorang kawan tiba-tiba terlintas ketika ku menghadiri Grand Launching ThisAble Creative di Unpad Training Center. Tidak mengherankan, karena tulisan tersebut baru dikirim sehari sebelumnya. Tulisan mengenai berbagai penolakan dan pertanyaan sensitif yang mengiringi hidup seorang penyandang disabilitas. Sekaligus ungkapan kesyukuran atas hadirnya pendamping hidup dan keluarganya yang begitu tulus menerimanya. Tulisan dari seorang teman penyandang disabilitas yang begitu produktif menulis. Penulis novel ‘Sepotong Diam’ dan ‘Masih Ada’ sekaligus founder One Day One Post Community.

ThisAble Creative (TAC) merupakan sebuah gerakan sosial yang diinisiasi oleh penerima Beasiswa Aktivis Nusantara – Dompet Dhuafa, Regional Bandung. Gerakan ini bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat difabel dalam memunculkan potensinya sehingga lebih mandiri dan dapat menciptakan inklusifitas di tengah masyarakat. Dalam acara grand launching bertemakan “Commemorate the Extraordinary” ini dilakukan penyerahan kaki palsu yang dibuat handmade oleh difabel dan untuk difabel, sharing inspirasi oleh para penyandang disabilitas, serta launching tas TAC yang dibuat langsung oleh para difabel.

diskriminasi difabel

Di tengah hiruk pikuk isu diskriminasi SARA jelang Pilkada DKI yang sepertinya mencoba mengalihkan isu penistaan agama yang dilakukan oleh petahana, diskriminasi terhadap para difabel seolah luput dari hiruk pikuk. Padahal para penyandang disabilitas sangat rentan terhadap tindak diskriminatif, bahkan tindak kriminal. Pelecehan dan diskriminasi yang kadang dirasakan oleh jomblowan dan jomblowati jelas jauh lebih ringan dibandingkan apa yang menimpa para penyandang disabilitas. Lingkaran setan kemiskinan berputar di sebagian besar para difabel. Mencoba memperbaiki nasib, akses terhadap pekerjaan terbatas. Hendak memutus rantai kemiskinan, akses terhadap pendidikan juga terbatas. Belum lagi terbatasnya akses fasilitas dan sarana layanan publik, ditambah berbagai stigma negatif yang dilekatkan kepada para difabel, menambah panjang daftar tindak diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas.

Berbeda dengan isu SARA yang kental nuansa keyakinan dan budaya yang dogmatis, diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas semestinya tidak perlu terjadi karena disatukan oleh isu kemanusiaan yang universal. Kesetaraan, saling membutuhkan dan saling membantu. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Artinya ketidaksempurnaan fisik tidak seharusnya menjadi pembeda. Sayangnya keangkuhan acapkali menghijabi kesyukuran, rasa gengsi kerapkali menutupi rasa empati, alhasil diskriminasi terus terjadi. Padahal dari penuturan para penyandang disabilitas, mereka tidak ingin diistimewakan. Mereka hanya ingin dimanusiakan, bukan sebagai orang cacat yang layak dihujat, bukan epidemi yang harus dijauhi, bukan komunitas terzholimi yang minta dikasihani, juga bukan bangsawan yang segala sesuatunya harus disediakan. Mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia. Peduli dan dipedulikan, mencintai dan dicintai.

Dan hari ini aku belajar banyak akan arti kesempurnaan dari ketidaksempurnaan. Salah seorang penerima kaki palsu sudah hapal lebih dari 5 juz Al Qur’an, ada juga juara paralympic yang sudah mengharumkan nama bangsa. Sementara mereka yang (katanya) ‘sempurna’ justru belum menorehkan karya apa-apa. Sekali lagi aku diingatkan bahwa setiap manusia dikaruniai kelebihan dan kekurangan. Ya, kekurangan hakikatnya adalah karunia jua, bukan aib. The extraordinary people bukanlah mereka yang tidak punya kekurangan, tetapi merekayang memiliki kekurangan namun bukannya menjadi kelemahan, namun justru menjadi kekuatan. Dan ternyata para penyandang disabilitas ini memiliki potensi yang luar biasa, menjadikannya memiliki abilitas yang tidak kalah dari para ‘penyandang non-disabilitas’. Allah Maha Adil, Dia melengkapi segala kekurangan dengan sesuatu yang setimpal…

I firmly believe that the only disability in life is a bad attitude” (Scott Hamilton)

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (3/3)

Last but not least, karakter pemimpin teladan adalah encourage the heart. Senantiasa mendorong, membesarkan hati dan memberi semangat. Ada energi positif seorang pemimpin yang terus memancar sehingga mampu mengikat dan menginspirasi mereka yang dipimpin. Dalam buku Prophetic Leadership karya Achyar Zein yang mengungkapkan karakteristik dan ibroh kepemimpinan setiap Nabi, kepemimpinan Rasulullah dicirikan sebagai Rahmat bagi seluruh alam. Jika kita telaah sirah nabawiyah dan hadits-hadits tentang akhlak Rasulullah memang banyak sekali kita temui kisah menyentuh bagaimana Rasulullah penuh kasih sayang. Keluhuran akhlak Rasulullah kian menjadikan beliau sosok pemimpin teladan yang dekat dengan yang dipimpinnya. Leaders touch a heart before they ask for a hand, demikian kata John C. Maxwell.

Lihat saja ketika ada seorang Arab Badui kencing di masjid, alih-alih membentaknya, Rasulullah menunggunya menyelesaikan hajatnya, membersihkan kotorannya dan menasehatinya. Atau ketika mendapati orang yang selalu melemparinya kotoran jatuh sakit, beliau malah datang menjenguk. Rasulullah juga menyuapi yahudi buta yang senantiasa mencaci maki beliau. Mendo’akan penduduk Thaif yang membalas seruan dakwah beliau dengan lemparan batu. Atau lihat bagaimana kafir Quraisy yang ketakutan ketika Fathu Makkah justru dapat jaminan keselamatan dari beliau. Kepemimpinan teladan dalam kasih sayang inilah yang mampu menghimpun hati kaum Muhajirin dengan Anshar, atau bahkan suku Aus dengan Khazraj yang telah ratusan tahun berperang. Encourage the heart.

Kaum muslimin menderita kekalahan di Perang Uhud karena human factor yaitu indisipliner, bahkan Rasulullah pun terluka cukup parah. Namun tidak ada penyesalan apalagi menyalahkan ulah sekelompok orang. Pun pahit dirasakan, banyak hikmah di balik kekalahan, termasuk turunnya ayat, “Dan disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan dari sekelilingmu. Maka maafkanlah mereka, mohon ampunanlah bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.” (QS. Ali Imran: 159). Encourage the heart.

Kelima hal tersebut terhimpun dalam satu kesatuan sehingga sosok pemimpin mampu menjadi teladan. Menjadi pemimpin yang diikuti karena dipercaya dan dicintai, bukan karena paksaan ataupun ketakutan. Menjadi pemimpin yang mampu membangun super team bukan menjadikan dirinya layaknya superman. Tugas yang tak kalah penting dari pemimpin teladan adalah memastikan bahwa proses kaderisasi kepemimpinan terus berjalan. Keteladanan tidak terhenti sampai batas usia pemimpin. Keberhasilan Rasulullah dalam mengkader generasi terbaik inilah yang menyebabkan kita masih dapat mengambil banyak teladan dari para sahabat Rasulullah. Belajar tentang kesantunan, keberanian, kedermawanan, kecerdasan, kesederhanaan, amanah, pengorbanan, dan banyak nilai kehidupan lainnya.

Bagaimanapun, kepemimpinan sejatinya adalah keteladanan. Rasulullah adalah sosok teladan seorang pemimpin yang penuh keteladanan. Pemimpin yang mampu menjadi model, menginspirasi visi bersama, berani menghadapi tantangan, menggerakkan orang lain dan menguatkan hati mereka yang dipimpinnya. Namun tidak mudah menjadi pemimpin teladan, karenanya memimpin dan belajar saling terkait, tak bisa dipisahkan. Keteladanan seorang pemimpin bahkan lebih terlihat ketika ia belajar, bukan ketika ia mengajar. Dan jika ada tips dan trik terbaik dalam memimpin, hal itu tentulah keteladanan. Mari kita (belajar) menjadi pemimpin teladan!

The best example of leadership is leadership by example” (Jerry McClain)

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (2/3)

Karakteristik selanjutnya seorang pemimpin teladan adalah challenge the process. Berani menghadapi proses. Risalah dakwah adalah amanah yang berat sehingga semua Rasul pasti memiliki karakteristik ini. Ketika wahyu pertama kali turun di Gua Hira, Rasulullah bukan hanya terkejut akan datangnya Jibril yang tiba-tiba dan memerintahkan beliau untuk membaca. Momen pengangkatan kenabian tersebut membuat tubuh Rasulullah bergetar keras. Menggigil takut. Bahkan setibanya di rumah pun beliau langsung meminta Khadijah r.a. untuk menyelimutinya. Setelah kondisi Rasulullah membaik, Khadijah r.a. mengajak beliau bertemu Waraqah bin Naufal, sepupunya yang pendeta Nasrani. “Sungguh, ini sama seperti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Musa! Andai saja aku masih bugar dan muda pada masa itu! Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu!”, ujar Waraqah setelah mendengar cerita Nabi saw. “Benarkah mereka akan mengusirku?”, tanya Rasulullah saw penuh keheranan. “Ya, tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa melainkan mereka akan dimusuhi. Jika aku masih hidup pada saat itu, niscaya aku akan membantumu dengan sekuat tenaga.” Tidak berapa lama setelah peristiwa tadi, Waraqah meninggal (HR. Bukhâri dan Muslim).

Waraqah sudah menyampaikan konsekuensi yang akan dihadapi para Rasul Allah, namun pemimpin teladan adalah mereka yang berani menerima tantangan. Di awal masa kenabian, Abu Thalib yang khawatir akan situasi gawat yang akan dihadapi keponakannya Muhammad pernah meminta beliau menghentikan dakwahnya. Dengan tenang Rasulullah SAW menjawab, “Wahai paman! Demi Allah! Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku takkan meninggalkannya hingga Allah memenangkannya, atau aku binasa karenanya.” Challenge the process.

Dalam sejarah kenabian, Rasulullah tidak hanya berani menghadapi beban kepemimpinan ataupun berbagai ujian dalam berdakwah. Rasulullah juga berani bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah diambilnya. Dalam perang Uhud, Rasulullah menyetujui usul mayoritas sahabat dari golongan muda yang ingin menyambut tantangan musuh di luar Madinah, pun beliau sendiri lebih suka bertahan di Madinah. Para sahabat menyesali sikap mereka yang terkesan memaksa Rasulullah untuk keluar dari Madinah, mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak bermaksud menyelisihi pendapatmu, putuskanlah sekehendakmu! Jika engkau lebih suka bertahan di Madinah maka lakukanlah!”. Beliau menjawab, ”Tidak pantas bagi seorang nabi menanggalkan baju perang yang telah dipakainya sebelum Allah memberi keputusan antara dia dengan musuhnya.”. Challenge the process.

Hal keempat yang menjadi cirri dari seorang pemimpin teladan adalah enable other to act. Ya, kepemimpinan adalah seni memengaruhi dan menggerakkan orang lain. Dalam buku “The 100, a Ranking of the Most Influental Persons in History, karya Michael Hart, Nabi Muhammad saw menempati peringkat pertama, bahkan tetap menempatinya pun buku beberapa kali direvisi. Peneliti nonmuslim ini berargumen bahwa Muhammad adalah satu-satunya manusia yang meraih keberhasilan spektakuler, baik di bidang penyiaran agama maupun kehidupan dunia. Yesus hanya di peringkat ketiga di bawah Newton. Rasulullah adalah penyebar risalah salah satu agama terbesar sekaligus pemimpin politik dan panglima tentara yang brilian serta pemimpin agama yang hebat dan agung. Muhammad yang lahir dari keluarga sederhana di lingkungan yang terbelakang diakuinya sebagai politikus terbesar dan kepala pemerintahan terhebat dalam sejarah kemanusiaan universal. Pengaruhnya bukan saja masih terasa namun terus berkembang hingga saat ini.

Michael H. Hart bukan satu-satunya tokoh nonmuslim yang mengapresiasi kepemimpinan Muhammad, banyak nama-nama lain yang mengungkapkan hal serupa di antaranya Mahatma Gandhi, Karen Amstrong dan Sir George Bernard Shaw. Jika nonmuslim saja memuji, apalagi para sahabat yang langsung berinteraksi dengan beliau. Lihat saja bagaimana Rasulullah menggerakkan kaum muslimin dalam peristiwa baiatul aqabah, hijrah, berbagai ekspedisi dakwah hingga berbagai peperangan yang dialami. Banyak sekali kisah yang menggambarkan betapa Rasulullah mampu membuat para sahabat bergerak. Rela berkorban harta bahkan jiwa mereka demi pemimpinnya tercinta. Enable other to act.

Sebuah sketsa indah terjadi menjelang perang badar. Rencana menghadang kafilah Abu Sufyan berbuntut perang besar melawan pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya berkali-kali lipat dengan persenjataan yang lengkap. Dalam musyawarah, Miqdad bin Amr dari kaum muhajirin mengatakan, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti apa yang diperlihatkan Allah kepada engkau, dan kami akan selalu bersama engkau. Demi Allah, kami takkan berkata sebagaimana kaum Bani Israel berkata kepada Nabi Musa: ‘Pergilah engkau sendiri bersama Rabb-mu dan berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan duduk menunggu di sini’. Tetapi kami semua akan berkata: Pergilah engkau bersama Rabb-mu berperang dan sesungguhnya kami akan berperang pula bersama engkau. Demi Dzat Yang Mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau membawa kami ke dasar sumur yang gelap, maka kami siap bertempur bersama engkau hingga mencapai tempat itu!”. Selanjutnya Sa’ad bin Mu’adz dari kaum Anshar berujar, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepada engkau dan kami telah  membenarkan engkau, kami juga telah memberikan sumpah janji untuk selalu patuh dan taat kepada engkau, maka majulah engkau untuk berperang sebagaimana engkau kehendaki. Demi Dzat Yang Mengutusmu dengan kebenaran, seandainya engkau bersama kami terhalang lautan, lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, maka kami semua akan terjun pula bersama engkau, tak seorangpun di antara kami yang akan mundur. Kami sangat gembira jika esok engkau menghadapi musuh, kami berada di sisimu bersama-sama menghadapinya. Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang yang sabar dan jujur di dalam pertempuran. Semoga Allah menunjukkan kepada engkau tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan limpahan barakah Allah!”. Enable other to act.

(bersambung)

Teladan Kepemimpinan Teladan Rasulullah (1/3)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Azhab: 21)

Salah satu hikmah diutusnya Rasul dari kalangan manusia –bukan dari kalangan malaikat—adalah agar dapat memberikan contoh atau keteladanan dalam kehidupan manusia. Dalam Al Qur’an, ada dua Rasul yang memperoleh gelar uswatun hasanah, yaitu Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhamad saw. Keteladanan yang dimaksud tentu dalam hal yang dapat diimplementasikan, bukan dalam konteks mukjizat. Bagaimana Nabi Ibrahim dapat selamat ketika dibakar hidup-hidup atau bagaimana Nabi Muhammad saw. dapat membelah bulan adalah dimensi mukjizat, bukan sisi manusiawi yang dapat diteladani. Terlalu mengelu-elukan Rasul pun menjadi kurang tepat jika kita hendak meneladani sosok beliau karena hanya akan memperbesar gap hingga realisasinya nyaris mustahil.

Sesungguhnya engkau memiliki budi perkerti yang agung”, demikian salah satu ‘pengakuan’ Allah SWT dalam Al Qur’an terhadap kemuliaan akhlak Rasulullah saw. Banyak literatur yang mengangkat tema tentang keteladanan Rasulullah saw. termasuk dalam aspek kepemimpinan, namun tidak banyak yang cukup lugas mengungkapkan prinsip dasar kepemimpinan Rasulullah saw. sehingga beliau mampu menjadi pemimpin teladan. Bahkan mampu mencetak generasi pemimpin teladan. Penulis teringat materi orientasi kampus 16 tahun lalu mengenai The Five Practice of Exemplary Leadership karya James M. Kouzes dan Barry Z. Posner yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Lima Praktek Kepemimpinan Teladan. Lalu bagaimana kepemimpinan teladan ala Rasulullah?

Hal pertama dan mendasar yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin teladan adalah Model the Way. A leader is one who knows the way, goes ythe way, and shows the way”, demikian ungkap John C. Maxwell. Qur’an Surah Al Azhab ayat 21 di atas turun ketika para sahabat mengeluh tentang kesulitan mereka dalam mempersiapkan perang Khandaq. Kala itu Madinah dikepung dan persediaan logistik menipis. Ketika para sahabat mengganjal perut mereka dengan sebuah batu untuk menahan lapar, Rasulullah saw. mengganjal perutnya dengan dua buah batu. Rasulullah saw. juga terlibat langsung menggali parit. Sejarah mencatat, Rasulullah saw. telah memimpin tidak kurang dari 9 perang besar dan mengatur sedikitnya 53 ekspedisi militer. Ali bin Abi Thalib r.a. bahkan mengatakan, “Kuperhatikan diri kami saat Perang Badar. Kami berlindung pada Rasulullah saw. Beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh dan orang yang paling banyak ditimpa kesulitan”. (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah)

Masyarakat butuh pemimpin yang mampu menjadi teladan dan pelopor dalam kebaikan. Gelar Al Amin yang diperoleh sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul sejatinya menunjukkan potensi keteladanan dan kepeloporan Rasulullah saw. Kepeloporan yang konsisten beliau tunjukkan. “Pernah di suatu malam, penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang sangat dahsyat. Orang-orang kemudian berangkat menuju ke arah suara tersebut. Rasulullah saw. bertemu mereka saat hendak kembali pulang. Ternyata beliau telah mendahului mereka menuju ke arah suara tersebut. Waktu itu beliau naik kuda milik Abu Thalhah, di lehernya terkalung sebuah pedang. Beliau bersabda, ‘Kalian tidak perlu takut, kalian tidak perlu takut’”. (HR. Muslim). Model the way ini menjadi fundamental karena sejarah mencatat salah satu penyebab runtuhnya berbagai peradaban dan ideologi adalah karena tidak adanya figur yang mampu model the way.

Hal kedua yang harus dipraktikkan seorang pemimpin teladan adalah Inspire a shared vision. Berbicara tentang visi Rasulullah saw., memang ada beberapa visi yang sifatnya mukjizat. Misalnya tentang kabar penaklukkan Persia, Romawi dan Yaman dalam penggalian parit perang Ahzab yang puluhan tahun kemudian baru terjadi. Atau tentang kabar kemenangan dalam perang Mu’tah di bawah panji yang dipegang ‘pedang Allah’ setelah bertutut-turut akan syahid para pemimpin pasukan: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Atau tentang kabar penaklukan Konstantinopel dan Roma. Namun tidak sedikit juga visi yang bisa dipahami sebagai strategi cerdas yang sifatnya manusiawi. Sebutlah peristiwa hijrah yang merupakan momentum visioner membangun peradaban Islam. Yastrib atau Madinah sudah lama dikondisikan, pengelolaan sumber daya untuk menyukseskan momentum tersebut juga sudah dipersiapkan. Membangun masjid, mempersaudarakan kaum muslimin hingga adanya piagam Madinah merupakan langkah-langkah strategis yang visioner. Pun demikian dengan Perjanjian Hudaibiyah yang sekilas banyak merugikan kaum muslimin, ternyata memiliki dampak kemenangan jangka panjang.

Keberadaan visi saja tidak cukup. Visi inspiratif harus disebar dan dipahami utuh oleh seluruh komponen. Itulah yang dilakukan Lee Kuan Yew dengan menyebarkan kartu pos bergambar Swiss kepada penduduk Singapura di masa awal kemerdekaannya. Semakin jelas visualisasi visi, semakin besar pula visi akan memotivasi segenap stakeholder. Apalagi jika visi tersebut mampu menginspirasi secara menyeluruh dan dinakhodai oleh sosok pemimpin yang bisa jadi teladan. Inspire a shared vision.

(bersambung)

Ulang Tahun, Ajang Umbar Kebodohan

Tawa teman-teman Sandy mendadak hilang mendapati temannya kejang-kejang setelah diikat dan disiram air di sebuah tiang lampu sebuah tempat futsal di kawasan Serpong, Tangerang. Lewat tengah malam selepas futsal (26/9/16), Sandi yang berulang tahun dikejutkan oleh temannya yang mengikatnya di sebuah tiang lampu yang ternyata berarus listrik karena adanya kabel yang terkelupas. Petugas keamanan langsung menurunkan panel listrik untuk mematikan setrum dan Sandy pun dilarikan ke rumah sakit. Sandy yang rencana menikah bulan depan menghembuskan nafas terakhirnya di ruang perawatan UGD RS. Eka Hospital tepat di hari ulang tahunnya. Ironis.

Kasus ulang tahun berdarah ini bukan kali pertama. Tahun lalu, 5 siswi SD tewas tenggelam saat merayakan ulang tahun di bendungan Tiyuh, Tulang Bawang Barat – Lampung (22/5/15). Sepulang sekolah, Vita bersama 7 merayakan ulang tahun di bendungan. Vita yang diceploki telur ayam kemudian membalas melumuri teman-temannya hingga sama-sama kotor. Gustian, salah seorang temannya yang hendak membersihkan diri, malah terpeleset jatuh ke bagian air yang dalam. Femi, Yulianti, Nurtika dan Vita yang mencoba membantu malah tenggelam. Ketiga temannya yang tidak bisa berenang hanya bisa berteriak histeris dan memanggil bantuan warga. Warga yang datang mengevakuasi sudah terlambat, kelima siswi kelas V SDN 2 Agung Jaya sudah tewas. Setahun sebelumnya, kasus serupa terjadi di Pantai Slamaran, Pekalongan (22/3/14). Kali ini Endang yang membersihkan diri di pantai setelah berlumuran telur dan tepung justru terseret ombak. Teman-temannya dari SMPN 1 Doro yang masih berseragam pramuka langsung menolongnya, dibantu seorang pemancing yang kebetulan ada di lokasi. Endang yang berulang tahun berhasil diselamatkan, namun Arief –salah seorang temannya—dan Fatikhurohman si pemancing justru terseret arus dan jenazah mereka baru ditemukan keesokan harinya.

Tak kalah ironis apa yang menimpa Maizatul Farhanah, siswi kelas VII SMPN 3 Batam yang tewas sia-sia dijahili teman sekelasnya dengan sepengetahuan wali kelasnya. Saat teman-tamannya mengajak Farhanah ke kantin, teman-teman yang lainnya memasukkan uang 300 ribu dan handphone temannya ke dalam tas Farhanah. Wali kelas datang menyampaikan laporan kehilangan dan memerintahkan dilakukan penggeledahan. Barang-barang tersebut ditemukan dalam tas Farhanah kemudian ia diminta berdiri dan diinterogerasi disertai teriakan ‘maling’ dari teman-temannya. Farhanah pingsan seketika. Depresi parah dan menolak makan. Pada 16 Desember 2010, tepat 20 hari setelah ulang tahunnya, gadis berusia 13 tahun yang sebelumnya dikenal ceria tersebut meninggal akibat infeksi jaringan otak dan pendarahan lambung.

Jika dirinci, kasus serupa tentunya banyak, apalagi ditambah yang luput di media. Semua berawal dari kebodohan di hari ulang tahun. Daftar ironi ajang unjuk kebodohan akan semakin banyak jika ditambah berbagai kasus terkait. Misalnya Zsa Zsa Jesica Shienjaya, mahasiswi UK Petra yang tewas gantung diri dengan tali raffia di kamar kosnya hanya karena pacarnya membatalkan perayaan ulang tahun bersamanya (18/6/12). Atau bagaimana Desy, siswi SMA Negeri 3 Tanjungbalai yang dicekoki narkoba dan diperkosa hingga tewas setelah menghadiri pesta uang tahun temannya (6/8/16). Bulan lalu, netizen juga dibuat geram dengan postingan tertanggal 14 Agustus 2016 di laman FB Mim Medan. Foto-foto yang viral di sosial media ini memuat sekelompok siswi berseragam pramuka yang mengikat temannya yang berulang tahun di sebuah tiang, melempari telur ke muka dan mulut sehingga temannya ini menangis dan terlihat sangat tersiksa, sementara mereka tampak bahagia dan berbangga. Jika ditelusuri, ini bukan kali pertama mereka melakukannya dan tampaknya juga bukan kali terakhir.

Tak perlu dalil-dalil agama bahwa tiup lilin adalah prosesi persembahan untuk dewa bulan atau bahwa perayaan ulang tahun merupakan bentuk menyerupai (tasyabuh) orang kafir, akal dan hati nurani sehat pun cukup untuk menolak perayaan ulang tahun sebagai ajang unjuk kebodohan. Apa manfaat yang ingin dicapai? Apakah caranya sudah tepat untuk memperoleh manfaat tersebut? Teman-teman Sandy bukan hanya akan berurusan dengan pihak polisi, tetapi juga merasakan tanggung jawab moral yang berat kepada keluarga Sandy dan akan dihantui penyesalan seumur hidup. Demikian pula dengan teman-teman dan guru Farhanah. Sepadankah dengan tawa dan kegembiraan sesaat? Apakah kebodohan tersebut menjadi satu-satunya cara untuk meraih manfaat?

Enam belas tahun lalu, penulis pernah ‘menceramahi’ teman-teman yang menceburkan penulis yang saat itu berulang tahun ke kolam di sekolah. Bagaimana jika orang yang dilempar ke kolam kepalanya terbentur batu besar yang tidak terlihat dari permukaan? Bagaimana jika ia punya penyakit sehingga langsung kejang-kejang dan tenggelam? Bagaimana basah kuyup akan menampakkan auratnya ketika keluar dari kolam? Siapa yang akan bertanggung jawab? Siapkah? Apakah kejahiliyahan tersembunyi yang mendatangkan tawa sesaat tersebut sebanding dengan keburukan yang menyertainya? Belum lagi jika diingat bahwa Allah mengabulkan do’a mereka yang teraniaya. Alih-alih mempererat persahabatan, umbar kebodohan malah berbuah do’a buruk dari mereka yang teraniaya kepada teman-temannya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Segala musibah memang bisa dilihat dari kacamata takdir. Hanya saja ada hukum kausalitas yang perlu diperhatikan. Tak ada asap kalau tak ada api. Potensi musibah ulang tahun dapat diminimalisir bila tidak disertai aksi umbar kebodohan. Jika kebodohan tidak mungkin dihindari, lebih baik jangan rayakan ulang tahun. Logis. Toh sejatinya setiap harinya usia kita berkurang. Lalu apakah berarti ulang tahun harus dirayakan dengan serius, dengan refleksi diri atau muhasabah misalnya? Mungkin saja, tapi bukan di situ poinnya. Jangan umbar kebodohan dalam menyikapi berulangnya tanggal lahir! Bagi yang ada di level kesadaran akan hakikat waktu dan kefanaan dunia rasanya tidak perlu lagi merayakan ulang tahun. Namun bagi orang awam yang masih sehat akalnya, setidaknya bisa berpikir tentang resiko dan manfaat dari cara yang digunakan dalam merayakan ulang tahun. Bagi orang awam yang masih punya hati nurani, setidaknya bisa berempati maukah dirinya menerima perlakuan yang sama.

Kebodohan dapat dilawan dengan akal sehat dan hati jernih. Dan perlawanan tersebut akan semakin kuat dengan edukasi, aksi dan regulasi yang mendukung. Musibah buah dari umbar kebodohan di hari ulang tahun sebenarnya bisa diantisipasi sebagaimana penyikapan atas berbagai aksi bodoh lainnya, seperti tawuran pelajar, tidak tertib lalu lintas dan coret-coret baju sekolah setelah kelulusan, ataupun perploncoan di masa awal masuk sekolah atau kampus. Namun karena ulang tahun sifatnya personal, perbaikan individu menjadi faktor kunci menjadikan ulang tahun sebagai momentum cerdas dan mencerdaskan. Tak lagi jadi ajang umbar kebodohan, melainkan mengantarkan pada perbaikan dan kebaikan.

Dua hal yang tak terbatas: alam semesta dan kebodohan manusia; tapi saya tidak yakin tentang alam semesta.” (Albert Einstein)

Ketika Negara Mengais Recehan Uang Umat

“Bappenas Incar Zakat untuk Danai Pengentasan Kemiskinan”, begitu salah satu judul berita yang dimuat di CNN Indonesia (14/9). Eramuslim.com (15/9) bahkan memberi judul lebih provokatif: “Bangkrut, Jokowi Lirik Uang di Baznas Buat Dipakai”. Inti beritanya sih Menteri Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas, Bambang P.S. Brodjonegoro, menyatakan bahwa dana yang terhimpun di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dapat digunakan untuk memperkuat program pengentasan kemiskinan yang telah dibuat pemerintah. Masih sebatas rencana. Namun di tengah momentum ‘penghematan’ yang sedang dilakukan pemerintah di semua lini ditambah kebijakan tax amnesty yang dinilai belum optimal, wacana ini seakan bermakna pemerintah meminta dana zakat digunakan untuk membiayai program pengentasan kemiskinan pemerintah. Keliru kah?

Zakat memang bukan sekadar untuk membersihkan harta dan menyucikan jiwa, ada fungsi ekonomi dan sosial kemasyarakatan yang menyertainya, termasuk peran zakat dalam pengentasan kemiskinan. Sejalan dengan salah satu tujuan Negara: memajukan kesejahteraan umum. Tantangannya adalah pengelolaan zakat yang belum terpusat membuat sinergi dengan program pemerintah bertujuan serupa tidak mudah terwujud. Wacana pengelolaan zakat satu pintu bukan hal baru, apalagi setelah lahirnya UU Pengelolaan Zakat nomor 23 tahun 2011. Benturan pendapat pun terjadi antara pihak yang menjadikan zakat sebagai model kebijakan fiskal –yang menghendaki pemerintah sebagai operator dengan alasan utama optimalisasi potensi zakat—dengan model partisipatif yang menghendaki pemerintah cukup sebagai regulator, motivator dan pengayom lembaga zakat yang dibentuk masyarakat dengan pertimbangan utama pada aspek kepercayaan dan partisipasi masyarakat.

Faktor Trust dan Logika Terbalik
Apakah upaya pengentasan kemiskinan akan lebih efektif jika zakat yang terhimpun digunakan untuk membiayai program eksisting pemerintah? Jawabannya mungkin akan ada kesamaan dengan pertanyaan: apakah penghimpunan zakat akan lebih optimal jika dikelola oleh pemerintah? Pemerintah mungkin bisa membuat kebijakan yang mengikat dan memaksa, namun ada faktor trust yang turut menentukan keberhasilan implementasinya. Faktor trust ini yang menjelaskan mengapa sampai ada petisi tolak tax amnesty dan tagar #TolakBayarPajak pun sosialisasi tax amnesty banyak dilakukan. Ada yang tidak melakukan sesuatu karena tidak tahu, sebagian lagi karena tidak mampu, namun tidak sedikit karena tidak mau. Negara sejatinya adalah sebuah organisasi nonprofit super besar, dimana faktor trust menjadi hal penting dalam penyelenggaraannya.

Sekarang bagaimana jika pertanyaannya dibalik, apakah upaya pengentasan kemiskinan akan lebih efektif jika anggaran yang ada di pemerintah digunakan untuk membiayai program eksisting lembaga zakat? Menariknya, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa program pengentasan kemiskinan yang diinisiasi lembaga zakat lebih efektif dibandingkan program yang diinisiasi perusahaan ataupun pemerintah. Persentase masyarakat miskin yang terentaskan dari total penerima manfaat program lebih besar. Memang sampelnya lembaga zakat yang sudah establish seperti Dompet Dhuafa, PKPU atau Rumah Zakat. Dan memang secara total penerima manfaat tidak sebesar pemerintah yang support anggarannya juga jauh lebih besar. Namun hal ini memberi sinyal kuat bahwa lembaga zakat sudah nyata berkontribusi dalam mengentaskan kemiskinan, dan sudah selayaknya memperoleh dukungan pemerintah. Bukan malah sebaliknya. Dengan logika serupa, bukan tidak mungkin penghimpunan zakat justru akan lebih optimal jika dilakukan oleh masyarakat dengan memperoleh dukungan regulasi dan pengawasan dari pemerintah.

Sebenarnya, pengelolaan ZISWAF terpusat sebagaimana pengelolaan baitul maal pada masa kekhalifahan adalah lebih ideal. Namun Indonesia tidaklah dalam kondisi ideal. Ada banyak Pe-eR dan pembuktian yang terlebih dahulu perlu diselesaikan. Masih ingat kasus korupsi pengadaan Al Qur’an? Atau kasus korupsi dana haji? Sebelum zakat menjadi instrumen kebijakan keuangan negara, penyelenggara negara perlu memantapkan performanya sebagai clean government dengan menuntaskan berbagai kasus keuangan negara. Jangan sampai pengelolaan zakat justru terjerat birokrasi, budaya ABS, atau bahkan kepentingan politis. Membangun trust merupakan syarat harmonisasi saling menguntungkan.

Negara juga perlu memahami hakikatnya sebagai organisasi nonprofit. Bukan malah mendorong lembaga zakat berubah dari lembaga sosial keagamaan menjadi lembaga keuangan keagamaan. Tidak semua potensi perlu dikapitalisasi. Lihat saja bagaimana penolakan publik atas wacana pengelolaan umroh oleh pemerintah. Adalah paradoks mendapati organisasi nonprofit yang berorientasi bisnis. Sebagaimana amil zakat mengelola amanah muzakki, kepercayaan masyarakat akan terbangun dengan kerja yang amanah dan profesional. Bukan aji mumpung atau sekadar rebutan proyek. Jika pemerintah hanya berpikir profit, bisa-bisa ke depan kotak amal masjid juga wajib setor ke pemerintah. Sinergi itu bukan mengakuisisi. Berbagai program sektor ketiga yang menunjang ketercapaian cita-cita Negara adalah sinergi. Kebijakan pemerintah yang mendukung partisipasi masyarakat dalam mengatasi permasalahan bangsa juga merupakan sinergi. Sinergi adalah saling memperkuat, bukan memanfaatkan salah satu pihak. Dan problematika kemiskinan sebagai simpul terlemah bangsa ini takkan terurai tanpa peran serta aktif dan produktif dari setiap elemen bangsa. Zakat mungkin recehan, namun jika dikelola dengan baik, akan mencapai satu titik dimana amil akan kesulitan mencari mustahik. Karena masyarakat sudah sejahtera. Semoga saja akan terjadi di negeri ini, di masa mendatang…

Permainan Zin Obelisk

Beberapa waktu lalu, aku mengikuti pelatihan tentang Knowledge Management Awareness. Knowledge Management bukanlah hal yang baru kukenal karena satu dasawarsa lalu skripsiku pun mengangkat tema tersebut. Namun ada satu sesi dalam pelatihan tersebut yang sangat membekas yaitu tentang permainan Zin Obelisk. Bahan permainannya tidak diberikan sehingga aku harus mencari referensi awal berbahasa Inggris untuk melakukan simulasi ulang. Aku penasaran kenapa jawaban timku bisa salah sedangkan dari beberapa kali perhitungan hasilnya tetap sama. Dari referensi yang kuperoleh, permainan ini awalnya adalah untuk team problem solving bukan terkait knowledge management. Hanya saja nominalnya diganti sehingga hasilnya pun pasti akan berbeda. Tugas kelompoknya pun dikembangkan yang semula hanya menebak hari menjadi menghitung berapa lama dan pada hari apa Zin Obelisk selesai dibangun. Berikut adalah informasi yang diberikan:

1. Pengukuran dasar waktu di Atlantis adalah hari.
2. Hari orang-orang Atlantis dibagi menjadi schlibs dan ponks.
3. Panjang zin adalah 54 kaki.
4. Ketinggian zin adalah 30 kaki.
5. Lebar zin adalah 45 kaki.
6. Zin ini dibangun dari blok batu.
7. Setiap blok berukuran 1 kaki kubik.
8. Hari 1 dalam sepekan di Atlantis disebut Aguaday.
9. Hari 2 dalam sepekan di Atlantis disebut Neptiminus.
10. Hari 3 dalam sepekan di Atlantis disebut Sharkday.
11. Hari 4 dalam sepekan di Atlantis disebut Mermaidday.
12. Hari 5 dalam sepekan di Atlantis disebut Daydoldrum.
13. Ada lima hari dalam sepekan di Atlantis.
14. Satu hari kerja memiliki 9 schlibs.
15. Setiap pekerja membutuhkan waktu istirahat selama hari kerja sebesar 18 ponks.
16. Ada 8 ponks dalam satu schlib.
17. Setiap pekerja mampu meletakkan 2 blok per ponk.
18. Pada setiap saat ketika pekerjaan sedang berlangsung ada sekelompok 10 orang di tempat kerja.
19. Salah satu anggota dari setiap kelompok memiliki tugas keagamaan dan tidak menaruh blok.
20. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan pada Daydoldrum.
21. Apakah itu Cubitt?
22. Cubitt adalah sebuah kubus yang ukuran semua sisinya 1 yard megalitik.
23. Adalah 3 ½ kaki dalam satu yard megalitik.
24. Apakah pekerjaan dilakukan pada hari Minggu?
25. Apakah itu Zin?
26. Dengan cara apa Zin didirikan?
27. Zin terdiri dari blok berwarna hijau.
28. Hijau memiliki makna keagamaan khusus pada Mermaidday.
29. Setiap kelompok memiliki dua orang wanita.
30. Pekerjaan dimulai saat fajar pada Aquaday.
31. Hanya satu kelompok yang mengerjakan konstruksi pembangunan zin tersebut.
32. Ada delapan timbangan emas dalam satu fin emas.
33. Setiap blok biayanya 2 fin emas.

Detail informasi tersebut dimodifikasi dari sumber berbahasa Inggris sehingga mungkin tidak benar-benar identik dengan informasi yang diberikan ketika pelatihan. Misalnya dalam pelatihan kemarin informasi no. 11 tidak dicantumkan tetapi ada tambahan informasi pengecoh tentang VOZ. Yang jelas, informasinya sudah cukup untuk dapat menjawab pertanyaan. Setiap informasi diberikan dalam bentuk kartu secara acak pada masing-masing orang di kelompok. Sebagiannya bukan informasi, sebagian lainnya informasi yang tidak berguna. Jadi setiap orang dan kelompok harus memilah informasi yang diterimanya. Karena kartu tersebut tidak boleh ditunjukkan kepada anggota kelompok lain, maka harus ada sharing knowledge di setiap kelompok. Disinilah distorsi informasi mungkin terjadi. Salah perhitungan di timku terjadi pada informasi no.15 dimana waktu istirahat 18 ponk dihitung setiap pekan, bukan setiap hari kerja. Dalam beberapa hal, mengerjakan sendiri memang lebih mudah daripada mengerjakan bersama-sama, apalagi dari 6 kartu yang kuperoleh hanya 1 yang berisi informasi bermanfaat. Namun disitulah menariknya permainan tim. Lalu, berapa hari dan pada hari apa Zin Obelisk selesai dibangun? Sebelum membaca penjelasan mengenai langkah-langkah menjawabnya, barangkali pembaca bisa mencoba menjawabnya sendiri terlebih dahulu. ^_^

Baiklah, ini jawabannya…

Pertama, hitung volume Zin dengan rumus balok = panjang x lebar x tinggi. Dari informasi no. 3, 4, dan 5, diperoleh volume Zin sebesar 54 kaki x 45 kaki x 30 kaki = 72900 kaki kubik. Karena setiap blok berukuran 1 kaki kubik (informasi no.7), berarti Zin tersusun oleh 72900 blok batu. Kedua, perlu dihitung waktu efektif bekerja setiap pekerja. Dari informasi no.14 dan 16 diperoleh bahwa satu hari kerja terdiri dari 9 schlibs x 8 ponks/ schlibs = 72 ponk. Karena setiap pekerja butuh istirahat 18 ponk (informasi no.15), maka waktu efektif bekerja setiap pekerja adalah 72 – 18 ponks = 54 ponks. Ketiga, hitung produktivitas kerja. Dari informasi no. 17 diperoleh bahwa setiap pekerja mampu meletakkan 2 blok per ponk. Artinya dalam waktu efektif bekerja, setiap pekerja mampu meletakkan 54 ponks x 2 blok/ ponks = 108 blok batu. Selanjutnya dari informasi no. 18 dan 19 (serta no. 31), didapatkan informasi bahwa jumlah pekerja adalah sebanyak 10 dikurangi 1 orang (tugas keagamaan) = 9 orang. Artinya, setiap hari kerja, ada sebanyak 9 orang x 108 blok batu/ orang = 972 blok batu yang dipindahkan. Terakhir, hitung lama waktu pengerjaan dengan membagi volume Zin dengan produktivitas kerja. 72900 blok batu dibagi 972 blok batu/ hari kerja = 75 hari kerja. Jadi, Zin Obelisk selesai pembangunannya dalam 75 hari kerja.

Hal yang perlu diperhatikan, 75 hari kerja bukan berarti 75 hari, karena setiap pekannya tidak dilakukan pekerjaan pada hari ke-5 (informasi no. 12 dan 20). Artinya, dalam sepekan hanya ada 4 hari kerja, yaitu Aquaday, Neptiminus, Sharkday dan Mermaidday (informasi no. 8 – 11). Pembangunan diselesaikan dalam 75 hari dibagi 4 hari kerja/ pekan = 13 pekan plus 3 hari. Karena pekerjaan dimulai pada hari ke-1 atau Aguaday (informasi no.30), berarti peletakan batu terakhir dilakukan pada hari ke-3 atau Sharkday. Jadi, Zin Obelisk diselesaikan pembangunannya dalam 75 hari, dimana hari ke-75 jatuh pada Sharkday.