Hukum Newton dan Gerakan Mahasiswa Jaman Now

Jika ada resultan gaya yang bekerja pada sebuah benda, maka akan dihasilkan suatu percepatan dalam arah yang sama dengan resultan gaya. Besarnya percepatan tersebut berbanding lurus terhadap resultan gaya dan berbanding terbalik terhadap massa bendanya” (Hukum Newton II)

Menyoal gerakan atau pergerakan, tentu ada korelasinya dengan hukum gerak. Dalam fisika klasik, hukum gerak Newton menjadi acuan. Dalam kehidupan sehari-hari, hukum kelembaman (Newton I) atau pun hukum aksi reaksi (Newton III) masih terbilang relevan. Bagaimana dengan gerakan mahasiswa? Jika mengacu kepada Hukum Newton II di atas sepertinya dapat dipahami bahwa akselerasi gerakan mahasiswa akan sangat ditentukan oleh berbagai aksi yang selaras dengan arah gerakan yang diharapkan. Tapi apakah berbanding terbalik dengan kuantitas massa mahasiswa? Atau barangkali gerbong gerakan mahasiswa saat ini terbebani dengan penuh sesaknya mahasiswa yang tak lagi menjadi ‘golongan elit cendekia pejuang masyarakat’?

Jika resultan gaya yang bekerja pada benda yang sama dengan nol, maka benda yang mula-mula diam akan tetap diam. Benda yang mula-mula bergerak lurus beraturan akan tetap lurus beraturan dengan kecepatan tetap“, demikian bunyi Hukum Newton I yang dikenal juga sebagai hukum inersia atau hukum kelembaman. Kelembaman adalah kelambanan dan kemalasan. Tak lagi tangkas. Apatisme mahasiswa bisa digerakkan, tapi gerakannya akan menuju pada apatisme yang lain. Sementara mahasiswa yang terus bergerak semakin langka. Barangkali demikian potret gerakan mahasiswa jaman now, bukan mati, hanya ‘lembam’. Kelembaman yang bukan tanpa alasan, sebab unsur ‘kaum terpelajar’ belumlah hilang disandang oleh para mahasiswa.

Generasi milenial adalah generasi kreatif yang pragmatis. Amanah yang diemban mahasiswa adalah Tri Dharma, bukan Tritura ataupun enam visi reformasi. Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ada adalah Pendidikan dan Penelitian, bukan Organisasi dan Demonstrasi. Dan yang termasuk amanah adalah lulus tepat waktu. Amanah orang tua di tengah biaya kuliah yang semakin tinggi dan kurikulum yang semakin padat. Pun batas kuliah S1 maksimal ‘masih’ 6 atau 7 tahun, saat ini lulus kuliah 5 tahun dianggap sudah terlalu lama. Rata-rata lama kuliah di UGM yang katanya kampus kerakyatan saja sudah 4 tahun 8 bulan. UNY tetangganya malah hanya 4,5 tahun, bahkan rata-rata lama mahasiswa S1 kuliah di ITB hanya 4,2 tahun. Pendidikan dan penelitian dianggap lebih tepat untuk mengisi waktu kuliah yang relatif singkat. Toh syarat kelulusan adalah tugas akhir, bukan LPJ organisasi. Dan yang menjadi salah satu ukuran kualitas lulusan adalah nilai IPK, bukan banyaknya ikut aksi massa.

Lantas bagaimana dengan pengabdian masyarakat yang menjadi salah satu Tri Dharma? Sosial politik berbeda dengan sosial kemasyarakatan. Mahasiswa milenial pun masih tertarik mengikuti gerakan horizontal ke masyarakat. Kuliah Kerja Nyata, Bakti Sosial, ataupun program Community Development masih ramai peminat. Donasi kemanusiaan offline atau online juga tidak sepi. Aksi nyata membantu masyarakat dinilai sebagai bentuk kepedulian yang nyata. Apalagi jika dibandingkan gerakan vertikal dalam bentuk aksi massa yang jauh dari gaya kekinian. Gerakan mahasiswa pun mulai mengalami digitalisasi, di antaranya melalui media sosial, aplikasi Start Up, crowdfunding, ataupun petisi online. Peduli dan kontribusi tidak harus berupa demonstrasi turun ke jalan.

Setiap aksi akan menimbulkan reaksi, jika suatu benda memberikan gaya pada benda yang lain maka benda yang terkena gaya akan memberikan gaya yang besarnya sama dengan gaya yang diterima dari benda pertama, tetapi arahnya berlawanan”, demikian bunyi Hukum Newton III. Konon kesuksesan gerakan mahasiswa dapat dilihat dari apresiasi (respon positif) dari stake holder, penyebaran luas isu melalui berbagai media, dan besarnya keterlibatan massa. Sayangnya, hukum aksi reaksi menunjukkan bahwa respon positif akan ‘diseimbangkan’ dengan respon negatif. Lihat saja kasus ‘kartu kuning untuk Jokowi’ oleh Zaadit Taqwa, Ketua BEM UI. Banyak pihak yang mengapresiasi bahwa ‘mahasiswa masih ada’, namun banyak juga yang mencibir Zaadit dengan dalih etika dan sebagainya. Atau kasus ditangkapnya belasan mahasiswa paska aksi evaluasi 3 tahun pemerintahan Jokowi – JK akhir Oktober 2017 lalu. Sementara berbagai pihak mendukung dan bantu mengadvokasi para aktivis mahasiswa tersebut, tidak sedikit pihak yang justru menyayangkan, mempermasalahkan dan menyalahkan mereka.

Ketika hukum kelembaman dan aksi – reaksi tampaknya membawa gerakan mahasiswa kembali ke titik nol, masih ada Hukum Newton II. Perbesar upaya konstruktif sambil meningkatkan kualitas mahasiswa penggerak (yang tidak harus banyak) untuk mengakselerasi gerakan mahasiswa. Lebih jauh lagi, gerakan mahasiswa mungkin perlu melupakan hukum klasik Newton yang tidak memperhitungkan perubahan bentuk dalam analisisnya. Hukum Newton juga tidak dapat menjelaskan berbagai fenomena dalam fisika modern, termasuk yang berkaitan dengan teori relativitas ataupun fisika kuantum. Dalam hal ini, hukum kekekalan momentum dan energi yang baru muncul dua abad kemudian bisa jadi lebih relevan. Potensi dan signifikansi gerakan pemuda dan mahasiswa tidaklah lekang oleh zaman, yang berubah barangkali bentuk dan platform gerakannya.

Saatnya gerakan mahasiswa bertransformasi di era kuantum yang menembus ruang dan waktu. Gerakan mahasiswa Newtonian masih sangat memperhatikan jumlah massa yang terlibat dalam aksi nyata, sementara gerakan mahasiswa kuantum sudah mengoptimalkan sumber daya dan massa yang ‘tidak nyata’ di dunia maya. Perjuangan gerakan mahasiswa di era digital tidaklah lagi sama dengan jaman old. Realita ini harus ditangkap sebagai peluang, bukan sebagai ancaman atas gerakan mahasiswa mainstream. Riset dan kajian dikuatkan. Kemampuan menulis dan berkomunikasi ditingkatkan. Sociopreneur dan pemberdayaan masyarakat disebarluaskan. Teknologi informasi dikuasai, isu dimainkan. Pendidikan karakter, value dan sense of crisis ditanamkan. Selanjutnya tinggal menciptakan dan menjaga momentum gerakan mahasiswa yang lebih kekinian. Sisanya biarkan energi vibrasi ala fisika kuantum yang akan terus memperbaiki dan menggerakkan.

Peran mahasiswa sebagai creator of change tidaklah berubah, karenanya gerakan mahasiswa seharusnya adaptif dengan perubahan. Peran sebagai social control pun tetap harus berjalan dengan tidak disempitkan maknanya sebatas demonstran. Peran sebagai moral force hanya akan efektif selama mahasiswa tidak abai terhadap moral dan integritasnya. Adapun peran sebagai iron stock adalah keniscayaan, karenanya dunia paska kampus menjadi penting untuk dipersiapkan. Karena aktivis adalah value bukan sekadar jabatan, peran mahasiswa ini akan terus melekat paska kampus, hanya berubah bentuk dan lingkup perjuangannya. Transformasi gerakan mahasiswa kuantum ini tidaklah mengubah peran, hanya mengoptimalisasinya di era globalisasi dan revolusi industri 4.0. Revolusi industri saja sudah masuk versi keempat, masak gerakan mahasiswa masih gitu-gitu aja? Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka” (Soe Hok Gie)

Ayo (Berhenti) Rapikan Meja Kerja Anda!

Jika meja yang berantakan adalah tanda pikiran yang berantakan, maka sebuah meja kosong merupakan tanda dari apa?” (Albert Einstein)

Kata-kata tersebut kerap menjadi pembenaran bagi mereka yang meja kerjanya tidak rapi. Seraya menambahkan bahwa meja kerja orang sekaliber Albert Einstein, Thomas Alfa Edison ataupun Steve Jobs pun jauh dari kata rapi. Argumen ini diperkuat dengan berbagai penelitian terkait. Misalnya peneliti di University of Minnesota (USA) menguji seberapa baik responden dapat mengemukakan gagasan baru saat bekerja di lingkungan yang rapi dan berantakan. Hasilnya, gagasan yang jauh lebih menarik dan kreatif muncul dari responden di meja kerja yang berantakan. Sementara responden di meja kerja yang rapi cenderung mengikuti peraturan dan enggan mencoba hal baru. Penelitian lain dari University of Northwestern (USA) juga menemukan bahwa orang dengan meja kerja berantakan lebih dapat menyimpulkan inspirasi kreatif dan mampu memecahkan masalah lebih cepat ketimbang orang yang meja kerjanya rapi.

Tapi bukankah berantakan tanda malas membereskan? Dan lingkungan kerja yang sehat adalah lingkungan kerja yang bersih dan rapi? Ada benarnya, namun tidak sepenuhnya. Sebelumnya perlu kita pahami perbedaan antara lingkungan kerja, tempat kerja, dan meja kerja. Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja pada saat bekerja, baik berbentuk fisik atau nonfisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat memengaruhi diri dan pekerjaannya saat bekerja. Lingkungan kerja yang baik tentu akan berdampak positif terhadap pekerjaan. Dan lingkungan kerja ini juga mencakup aspek nonfisik, misalnya hubungan kerja dengan atasan, rekan atau bawahan.

Adapun definisi tempat kerja menurut OHSAS 18001 (standar internasional untuk penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah lokasi manapun yang berkaitan dengan aktivitas kerja di bawah kendali organisasi (perusahaan). Tempat kerja ini perlu dikelola untuk menghilangkan pemborosan (waste) sehingga sumber daya bisa optimal. Salah satu metodologi penataan dan pemeliharaan tempat kerja yang banyak dikenal adalah 5S, yang merupakan gerakan untuk mengadakan pemilahan (seiri), penataan (seiton), pembersihan (seiso), penjagaan kondisi yang mantap (seiketsu), dan penyadaran diri akan kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik (shitsuke). Di Indonesia, metode 5S ini diadopsi menjadi 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) yang merupakan suatu program terstruktur yang secara sistematis menciptakan ruang kerja (workplace) yang bersih, teratur dan terawat dengan baik. 5R juga bertujuan meningkatkan moral, kebanggaan dalam pekerjaan serta rasa kepemilikan dan tanggung jawab pekerja. 5R digunakan juga dalam konsep Lean Management lainnya, seperti: Single Minute Exchange of Dies (SMED), Total Productive Maintenance (TPM), dan Just In Time (JIT).

Tempat kerja adalah bagian dari lingkungan kerja, tempat kerja yang baik akan meningkatkan produktivitas kerja. Pekerjaan bisa terhambat karena kesulitan menemukan alat kerja, mobilitas pun terganggu jika penataan ruang kerja tidak efektif dan efisien. Lalu bagaimana dengan meja kerja yang tentunya juga merupakan bagian dari lingkungan kerja? Meja kerja bisa menjadi bagian dari tempat kerja (workplace) yang harus memenuhi standar tertentu, misalnya untuk meja perakitan (assembly table) dan meja pengemasan (packing table). Namun meja kerja bisa jadi merupakan area pribadi yang lebih menggambarkan tentang karakter personal dibandingkan dengan kualitas pekerjaan. Dalam buku “Snoop: What Your Stuff Says About You”, Sam Gosling, profesor psikologi University of Texas (USA) menuliskan bahwa salah satu alasan ruang fisik, termasuk meja kerja seseorang, dapat mengungkapkan sesuatu adalah karena hal-hal itu pada dasarnya merupakan perwujudan dari sejumlah tingkah laku sepanjang waktu. Lebih jauh lagi, Lily Bernheimer, peneliti di University of Surrey (UK) dan Direktur Space Works Consulting, telah mengembangkan lima jenis kepribadian meja untuk sebuah perusahaan Inggris, Headspace Group. Dari hasil kajian Gosling dan psikolog kepribadian maupun lingkungan, meja kerja dapat menunjukkan lima potret dasar kepribadian: ekstrover, penyetuju, berhati-hati, cemas, dan terbuka untuk pengalaman.

Sebagai area pribadi, meja kerja tidak harus rapi. Karena ‘rapi’ disini sifatnya menjadi relatif, tidak perlu distandardisasi. Craig Knight, seorang psikolog dan pendiri Haddington Knight (sebuah perusahaan di Inggris yang menggunakan sains untuk meningkatkan kinerja usaha) telah melakukan penelitian mendalam dalam personalisasi ruang kerja. Knight menemukan bahwa para pekerja yang meletakkan sedikitnya satu foto atau tanaman di meja mereka akan 15% lebih produktif . Para pekerja yang bisa menghias meja kerja seperti yang mereka inginkan akan 25% lebih produktif dibandingkan mereka yang bekerja di meja yang lebih kosong. Tiga peneliti lain yang menulis di Jurnal Psikologi Lingkungan juga mendapati bahwa dengan membuat tempat kerja lebih personal  akan memberikan kontrol lebih dan rasa kepemilikan di lingkungan kerja. “Menciptakan sebuah tempat milik pribadi di sebuah lingkungan kerja milik publik akan berkontribusi dalam kognitif positif dan kondisi afektif seseorang, yang kemudian menghasilkan sumber daya mental yang meningkat, dan dapat mengatasi dengan lebih baik gangguan yang berpotensi melemahkan karena rendahnya privasi.” tulis mereka.

It’s pointless to have a nice clean desk, because it means you’re not doing anything”, demikian ungkap Michio Kaku, seorang Profesor Fisika, yang rasa-rasanya senada dengan apa yang dikatakan Albert Einstein di awal. Ketika sebagian orang nyaman dengan meja kerja yang tertata rapi, sebagian yang lain justru menemukan gairah beraktivitas dalam meja kerja yang ‘ramai’. Seperti halnya pilihan cara belajar, kondisi meja kerja kerapkali hanya merupakan pilihan cara bekerja. Tidak harus sama antara pekerja yang satu dengan yang lainnya. Pernyataan bahwa meja kerja boleh saja berantakan ketika dipakai namun harus kembali bersih ketika ditinggalkan terdengar bijak namun sebenarnya tidaklah tepat. Tidak sedikit orang yang sengaja tidak merapikan mejanya untuk mengingatkannya bahwa ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Merapikan mejanya justru membuatnya lupa akan pekerjaannya. Bukankah untuk mengingat lebih mudah (dan rapi) cukup dengan membuat note kecil di tempat yang mudah terlihat? Kembali ke pilihan cara bekerja. Tidak semua orang sama. Bruce Mau, seorang desainer Kanada pun berkata, “Don’t clean your desk. You might find something in the morning that you can’t see tonight.”. Sekali lagi, tidak rapi tidak sama dengan tidak produktif.

If your company has a clean-desk policy, the company is nuts and you’re nuts to stay there”, demikian ungkap Tom Peters, seorang penulis tentang praktik manajemen bisnis. Terdengar ekstrim. Namun dapat dimaklumi jika kita melihat meja kerja sebagai tempat aktualisasi yang punya privacy. Karenanya tak mengherankan banyak perusahaan menyediakan tempat khusus untuk bertemu dengan pihak internal atau eksternal, tidak membawanya ke meja kerja kecuali untuk alasan khusus. Meja kerja harus nyaman untuk mendukung produktivitas, namun parameter kenyamanan ini tentu beragam. Tidak harus semua orang mejanya serapi Bill Gates (Microsoft) atau seberantakan Steve Jobs (Apple), sesuaikan saja dengan karakteristik masing-masing orang untuk optimalisasi kerja. Namun perlu diingat, tidak rapi berbeda dengan kotor dan jorok. Sampah yang berserakan atau kotoran dimana-mana bukan kebiasaan produktif. Alih-alih menjadi kreatif dan kian produktif, yang ada malah menambah tingkat stress dan jadi sumber penyakit. Pun ada irisan, malas tidaklah sama dengan kreatif. Jadi, ayo (berhenti) rapikan meja kerja kita!

Then there’s the joy of getting your desk clean, and knowing that all your letters are answered, and you can see the wood on it again” (Lady Bird Johnson)

Kemampuan Superpower Terkuat? Memimpin!

“Whenever you find the whole world against you, just turn around and lead the world” (Anonymous)

“Kemampuan superpower apa yang Anda ingin miliki agar dapat menguasai dunia?”, demikian pertanyaan dalam salah satu sesi Workshop Design Thinking For Innovation yang penulis ikuti beberapa waktu lalu. Hasil polling tersebut tidak mengejutkan dimana kemampuan melihat masa depan (future vision : 45%) dan mengendalikan orang lain (mind control : 42%) menjadi jawaban yang paling banyak dipilih peserta. Sisanya, kemampuan berpindah dalam sekejap (teleportation) dan bergerak secepat cahaya (flash) masing-masing hanya memperoleh 6%. Sementara itu, tak ada peserta yang memilih kemampuan membuat bola api (fireball), kekuatan super (super strength), dapat tidak terlihat (invisibility),bisa terbang (jetfly), dan kemampuan menyembuhkan diri (self heal).

Pertanyaan dan hasil polling tersebut mengingatkan penulis pada salah satu anime mind blowing berjudul Code Geass. Dikisahkan Lelouch Lamperouge, seorang bangsawan Britania yang dibuang ayahnya hendak menciptakan dunia yang damai untuk Nunally, adiknya. Ia memperoleh kekuatan misterius bernama “Geass Power of the King” yang membuatnya mampu membuat orang melakukan apapun yang diperintahkannya. Dalam perjalanannya, ada batasan dari kekuatan tersebut, misalnya hanya bisa digunakan satu kali untuk setiap orang. Bahkan ada kondisi yang membuatnya tak mampu menggunakan kekuatannya. Namun kecerdasannya dalam memprediksi masa depan, membuatnya tak tertandingi. Dan di akhir cerita, Lelouch mampu menguasai dunia dengan menghancurkan dunia yang sekarang dan menciptakan dunia yang baru. Mind control yang dipadu dengan future vision menjadi kombinasi ampuh untuk menguasai dunia.

Code Geass jelas kisah fiksi, hasil polling pun juga barangkali tidak cukup representatif dan tidak cukup memenuhi kaidah ilmiah. Namun dapat dipahami bahwa kemampuan mengendalikan orang lain lebih powerful dibandingkan kekuatan yang hanya untuk dirinya, seperti teleportation, flash, fireball, super strength, invisibility, jetfly, ataupun self heal. Sebagaimana Profesor X memimpin para X-Men. Bagaimana pun menguasai dunia tidak mungkin dapat dilakukan sendirian. Kemampuan melihat masa depan pun hanya akan bermanfaat untuk dirinya jika tidak ada yang percaya. Dan kemampuan menggerakkan (enable others to act) ini merupakan salah satu karakteristik penting seorang pemimpin, demikian pula halnya dengan kemampuan untuk memprediksi masa depan (visioner). Sehingga, kekuatan untuk menguasai dunia sejatinya terhimpun dalam diri seorang pemimpin.

Perhatikan daftar Top 5 ‘Manusia Paling Berkuasa’ versi Forbes tahun 2016, secara berurut adalah: Vladimir Putin (Presiden Rusia), Donald Trump (Presiden USA), Angela Merkel (Kanselir Jerman), Xi Jinping (Presiden RRC) dan Paus Francis (Pemimpin Katolik). Sementara itu, salah satu majalah global terkemuka The Economist edisi 14 – 20 Oktober 2017 memajang wajah Xi Jinping dilengkapi teks bombastis “The World’s Most Powerful Man” di cover terdepan. Hasil lebih beragam diperlihatkan TIME dalam ‘The 100 Most Influential People of 2017’ yang membagi dalam lima kategori: Pioneer, Artist, Leaders, Titans, dan Icons. Pun demikian, Leaders tetap mendominasi, dimana 24 dari 100 nama masuk kategori Leaders. Atau jika kita coba menelaah buku ‘The 100’ karya Michael H. Hart yang memuat daftar 100 manusia paling berpengaruh sepanjang zaman. Akan didapati, selain Rasulullah Muhammad SAW di peringkat pertama, hampir separuh nama dalam daftar tersebut adalah pemimpin, baik pemimpin agama, kerajaan, ataupun Negara. Selebihnya ada ilmuwan, penemu, filsuf, penjelajah, seniman, penulis, hingga pahlawan nasional.

Dalam daftar Top 10 ‘Manusia Paling Berkuasa’ versi Forbes tahun 2016 juga terdapat nama-nama seperti Bill Gates (Microsoft – peringkat 7), Larry Page (Google – peringkat 8 ) dan Mark Zuckerberg (Facebook – peringkat 10). Mereka memang bukan pemimpin suatu Negara atau wilayah, namun tetap saja mereka memimpin perusahaan besar, leading dalam dunia teknologi informasi dengan jutaan bahkan milyaran ‘rakyat’nya. Membangun masa depan di zamannya. Jadi tetap saja, kemampuan terkuat untuk mengubah dan menguasai dunia adalah memimpin. Tak heran kepemimpinan banyak diperebutkan. Jangankan statement kontroversial, ‘berdehem’nya seorang pemimpin di kancah internasional saja bisa membuat gaduh dunia global. “With great power comes great responsibility”, demikian ungkap Uncle Ben dalam film Spiderman. Disinilah seorang pemimpin ada di antara surga dan neraka. Ganjaran atas kebijakannya akan terus mengalir, menjadi kebaikan kah, atau malah dosa yang tak berujung. Konsekuensi ini harus dipahami bagi siapapun yang ingin memperoleh kekuatan besar dengan menjadi seorang pemimpin.

Lalu bukankah ‘kuota’ untuk menjadi pemimpin terbatas? Ya, jika pemimpin dimaknai sebatas jabatan. Pernah mendengar kisah seseorang yang punya mimpi mengubah dunia namun akhirnya gagal dan di akhir kisah ia sadar bahwa seharusnya ia terlebih dulu mengubah dirinya? Benar, mengubah dunia harus dimulai dari mengubah diri sendiri, menguasai dunia mesti diawali dengan menguasai diri sendiri. Kemudian barulah diri ini didorong tidak hanya puas menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri karena semakin besar lingkup kepemimpinan, akan semakin besar potensi kebermanfaatannya. Tidak perlu berambisi terlalu tinggi, sentuhan kepemimpinan bisa diawali dari lingkup yang lebih kecil. Membangun keluarga pemimpin, misalnya. Atau penulis cukup terinspirasi dengan kata-kata seorang guru, “Jika kamu memimpin kelas dengan baik hari ini, siswamu akan memimpin dunia dengan baik di masa depan”. Mari kita menjadi pemimpin, untuk memperbaiki diri, keluarga, masyarakat, dan dunia!

If the king doesn’t move, then his subjects won’t follow” (Lelouch – Code Geass)

Karena Beasiswa Adalah Amanah

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.” (Bung Hatta)

Angka partisipasi pendidikan tinggi mengalami peningkatan cukup signifikan dalam tujuh tahun terakhir. Data BPS mengungkapkan bahwa selama tahun 1994 – 2009, Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 19 – 24 tahun relatif stagnan di kisaran 12%. Namun capaian ini terus meningkat sejak tahun 2010 dan tahun 2017 ini angkanya telah mencapai 24,67%, hampir dua kali lipat dari capaian tahun 2009. Program pemerintah yang paling mungkin memengaruhi capaian ini adalah Bidik Misi yang dimulai pada 2010 lalu untuk 20.000 mahasiswa. Dampaknya, terjadi peningkatan angka partisipasi pendidikan tinggi yang signifikan pada tahun 2013, tepat empat tahun setelah program digulirkan. Kuota maupun sebaran kampus Bidik Misi pun terus bertambah, termasuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pada tahun 2018 nanti, direncanakan kuota Bidik Misi akan menjangkau 90.000 mahasiswa.

Tidak hanya Bidik Misi, program beasiswa untuk mahasiswa memang kian marak dalam satu dasawarsa terakhir. Pemerintah pusat dan daerah, berbagai perusahaan, LSM, yayasan, para alumni hingga donasi individu seakan berlomba memberikan beasiswa. Bentuknya pun semakin beragam bukan hanya pembiayaan pendidikan, ada fasilitas tempat tinggal hingga pembinaan mahasiswa dengan tema tertentu, misalnya menghapal Al Qur’an, entrepreneur, atau kepemimpinan. Bahkan beasiswa untuk paska sarjana juga semakin banyak, di antaranya melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan RI. Zaman seolah berubah, jika dulu mahasiswa berebut mencari beasiswa, sekarang beasiswa lah yang sibuk mencari calon penerimanya. Mahasiswa penerima beasiswa tidak lagi eksklusif, mudah ditemukan dimanapun.

Kemudahan memperoleh beasiswa ini turut memengaruhi karakter para penerima beasiswa. Apalagi banyak program beasiswa yang hanya menjadikan indeks prestasi akademik sebagai indikator keberhasilan, abai dengan penguatan karakter penerima beasiswa. Padahal banyaknya beasiswa membuat calon penerimanya semakin pragmatis, memilih yang mudah diperoleh, dapat banyak fasilitas, dan tidak membebani dengan kewajiban apapun. Secara akademik mungkin mereka tidak bermasalah, namun belum tentu secara karakter. Mulai dari lemah komitmen, segera beralih ke beasiswa lain yang menjanjikan fasilitas lebih. Tak peduli fakta bahwa ketika mereka sudah menerima beasiswa sebenarnya ada kuota yang sudah mereka isi, artinya ada hak orang lain yang sudah mereka ambil. Toh ini kompetisi. Mudah menuntut haknya untuk memperoleh berbagai fasilitas yang dijanjikan. Mudah mengeluh, kurang mandiri, dan kurang berempati. Jangankan berpikir bahwa sejatinya beasiswa yang diperolehnya adalah donasi dari masyarakat yang di dalamnya tersimpan amanah dan harapan masyarakat, bahkan ada penerima beasiswa yang ‘memalsukan kemiskinannya’ hanya untuk memperoleh beasiswa. Tidak jujur dalam menyiasati beasiswa. Tak mengherankan tersedia layanan untuk melaporkan mahasiswa yang tidak layak untuk memperoleh beasiswa dalam website Bidik Misi.

Mekanisme pencairan beasiswa yang dirapel juga rentan penyelewengan, baik oleh penerima maupun pengelola beasiswa. Uang dalam jumlah besar yang ‘tiba-tiba’ diterima memungkinkan para penerima beasiswa tidak bijak dalam menggunakannya. Alih-alih untuk biaya pendidikan, beasiswa justru digunakan untuk beli gadget terbaru atau pelesiran. Jika sebagian uang beasiswa dikirimkan untuk membantu orang tuanya tentu masih dapat dimaklumi, namun jika digunakan sekadar untuk gaya-gayaan rasanya kok kejam sekali. Sementara masih banyak anak dari masyarakat marjinal yang tidak mampu melanjutkan pendidikan karena faktor ekonomi. Pengelola juga bisa jadi tidak berlaku amanah jika memang sengaja menunda pencairan misalnya, apalagi jika menjadi ‘broker’ beasiswa sehingga kuota justru diambil oleh mereka yang tak layak memperoleh beasiswa.

Tak hanya itu, amanah para pengelola beasiswa tidaklah kalah besarnya. Mulai dari menyebarkan informasi beasiswa seluas-luasnya dan sebenar-benarnya, hingga menyempurnakan ikhtiar dalam seleksi sehingga yang terpilih adalah mereka yang benar-benar layak. Ada sisi kemanusiaan yang perlu dihadirkan, tidak hanya bersandar pada rumus dan hitungan matematis. Banyak mahasiswa nyaris miskin yang selama ini kurang diperhatikan. Di sisi lain, ada upaya sekadar memenuhi kuota penerima beasiswa di beberapa kampus yang akhirnya menurunkan standar kelayakan calon penerima beasiswa. Amanah lain yang kerap terlupakan adalah mendidik para penerima beasiswa secara paripurna, bukan sebatas menggugurkan kewajiban untuk menyalurkan. Amanah dalam mengelola beasiswa juga mencakup makna memastikan bahwa beasiswa yang diberikan dapat efektif dalam menghasilkan SDM unggul pemimpin masa depan bangsa, yang tentu bukan hanya berkompeten, tetapi juga berkarakter.

Beasiswa adalah amanah, dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya. Para penerima beasiswa akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana cara mereka memperoleh beasiswa, digunakan untuk apa, dan apa hasil atau kebermanfaatan dari beasiswa tersebut. Para pengelola beasiswa akan dimintai pertanggungjawaban bagaimana mereka mengelola beasiswa dan para penerima beasiswa. Beasiswa sejatinya bersumber dari donasi masyarakat, termasuk pajak dan ZIS (Zakat, Infak, Sedekah). Beasiswa alumni atau donasi individu pun bagian dari masyarakat. Bahkan perusahaan pun memperoleh pendapatan dari masyarakat dan mengalokasikan dana CSRnya untuk program di masyarakat. Karenanya, program beasiswa seharusnya mampu memberi kontribusi kepada masyarakat. Tidak harus dengan kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun sikap amanah dalam menyalurkan dan menerima beasiswa akan membawa kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Tumbuhnya kepercayaan donatur akan meningkatkan kedermawanan sosial. Ditambah lagi keberkahan dari hadirnya SDM berkualitas dari program beasiswa yang akan terus menebar kebermanfaatan bagi masyarakat. Dan manfaat pun terus berlipat dimulai dari satu kata sederhana: amanah.

Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. Tirmidzi dan Thabrani)

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas (2/2)

Tahun 2018 adalah tahun disruption. Era digital memberi perubahan terhadap peta kompetisi dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan. Pengembangan teknologi informasi memberi ‘gangguan’ terhadap gaya ‘jaman old yang sudah tak lagi relevan. Kemenristek Dikti dan kampus harus segera bebenah, meningkatkan agility untuk menghadapi perubahan zaman. Pendidikan tinggi berbasis e-learning misalnya, harus segera direalisasikan, tidak melulu ada dalam tataran wacana dan rencana. Riset dan inovasi harus terus dilakukan. Secara kuantitas memang masih harus digenjot pertumbuhannya karena saat ini Indonesia jauh tertinggal dalam hal riset dan inovasi. Namun secara kualitas juga mesti dibudayakan implementasi riset dan teknologi yang tepat guna. Keluhan tentang minimnya anggaran riset seharusnya tak jadi penghalang di era disruption ini. Betapa banyak inovasi sederhana yang dapat memberi manfaat tanpa harus berbiaya besar. Kurikulum pendidikan juga harus adaptif dengan perkembangan zaman. Ada paradigma, kebutuhan dan kompetensi yang jelas berbeda antara mendidik generasi yang ingin menjadi PNS atau karyawan, dengan generasi yang hendak menjadi digitalpreneur atau membangun aplikasi startup. Disruption ini harus diterima sebagai kenyataan sehingga menjadi tantangan untuk bisa berpikir dan bersikap sesuai dengan zamannya.

Tahun 2018 adalah tahun transformasi gerakan mahasiswa. Atau hibernasi lebih tepatnya. Secara pragmatis, para mahasiswa kian menyadari bahwa yang diperjuangkannya adalah Tri Dharma, bukan Tritura. Dalam Tri Dharma ada pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Bukan organisasi, demonstrasi, dan lulus lama. Lulus tepat waktu dimaknai sebagai amanah, fokus ke pendidikan dan penelitian adalah caranya. Mahasiswa abadi sudah bukan masanya. Jika tahun lalu rata-rata lama kuliah mahasiswa UGM adalah 5 tahun 3 bulan, tahun ini rata-rata mahasiswa UGM menyelesaikan studi dalam 4 tahun 8 bulan. Rata-rata mahasiswa UNY berkuliah hanya 4,5 tahun, bahkan di ITB rata-ratanya hanya 4,2 tahun. Rata-rata indeks prestasi akademik juga semakin tinggi. Sementara itu, dharma pengabdian masyarakat tidak dimaknai sempit sebagai aksi turun ke jalan. Banyak aktivitas sosial kemasyarakatan yang dapat dilakukan manusia tanpa harus terjebak ke isu sosial politik. Kontribusi nyata mahasiswa ke masyarakat dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata atau aksi penggalangan dana bencana dianggap lebih jelas menggambarkan bentuk pengabdian masyarakat, dibandingkan orasi dan demonstrasi. Kajian dan audiensi dianggap lebih mencerminkan intelektualitas dibandingkan aksi massa. Demonstrasi mahasiswa turun ke jalan dianggap sudah lewat masanya, tergantikan dengan digitalisasi gerakan mahasiswa. Aksi massa akan ada dan harus tetap ada, hanya saja aktivitas kekinian yang lebih diminati. Bulan lalu misalnya, lihat saja bagaimana respon dunia maya saat mahasiswa ditangkap, bandingkan dengan ‘perlawanan’ dari cyber army saat pembuat meme Setya Novanto ditangkap. Diakui atau tidak, ada pergeseran pola perjuangan. Kain penuh tanda tangan sebagai pernyataan sikap digantikan oleh petisi online. Penggalangan dana untuk membantu masyarakat mulai beralih ke pola crowdfunding. Manajemen isu lewat selebaran akan tak berarti apa-apa dibandingkan hiruk-pikuk perang isu di media sosial. Berbagai aplikasi bernuansa advokasi pun mulai bermunculan. Media dan kanal gerakan mahasiswa kian variatif, dan aksi massa semakin dianggap tidak kekinian.

Tahun 2018 adalah tahun berulangnya masalah pendidikan. Banyak persoalan klasik yang tak kunjung terselesaikan. Misalnya masalah rasio dosen dan guru besar yang masih butuh waktu panjang untuk menyelesaikannya, demikian pula terkait kualitas mereka. Masalah akses pendidikan serta biaya pendidikan yang mahal juga masih akan ada. Minimnya anggaran riset atau kurangnya sarana dan prasarana pendidikan masih terus jadi keluhan. Link and match antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia paska kampus masih jauh panggang dari api, apalagi pemerataan kualitas pendidikan tinggi. Belum lagi persoalan akreditasi, efektivitas pendidikan, ataupun kualitas lulusan, masih menjadi PR pendidikan tinggi yang belum akan segera terselesaikan. Butuh kerja ekstra memang untuk menyelesaikan semua problematika tersebut, namun setidaknya hanya butuh satu kebijakan revolusioner, out of the box dan anti-mainstream untuk mempercepat penyelesaiannya. Karena berbagai masalah yang ada sudah terlanjur ada dalam zona nyaman sehingga akan tetap stagnan jika upaya yang dilakukan hanya biasa-biasa saja.

Dan tahun 2018 adalah tahun cemas dan harap. Bukan hanya bagi para calon kepala daerah, tapi bagi pendidikan Indonesia. Beberapa tahun terakhir, perubahan terjadi begitu cepat. Tak terbendung. Dinamika begitu tinggi sementara polarisasi semakin terasa. Kebijaksanaan pendidikan lah yang diharapkan mampu mengantisipasi dan menengahinya, bukan lagi kebijakan politik yang sarat syahwat kepentingan. Di satu sisi ada kecemasan akan hancurnya peradaban dalam hitungan waktu yang cepat ketika pendidikan gagal menjadi solusi. Di sisi lain ada harapan besar lahirnya generasi emas yang penuh kesadaran berjuang membangun Bangsa yang mulai tua ini. Yang pasti, tahun 2018 berisi momentum dua dasawarsa reformasi Indonesia. Ada semangat pembaruan yang menyertai. Tahun 2018 juga berisi momentum 11 dasawarsa kebangkitan nasional. Sebuah kebangkitan yang identik dengan tapak tilas peran pemuda dan pendidikan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ya, tahun 2018 adalah tahun reformasi kebangkitan pendidikan Indonesia. Semoga.

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas (1/2)

Pendidikan Tinggi, Antara Kualitas dan Kuantitas
(Outlook Pendidikan Tinggi 2018)

“Hitungan kuantitatif kerapkali hanya jadi make up yang mengelabui dan tidak bisa dibanggakan. Perkembangan pendidikan bukan berarti tidak perlu diukur, tetapi fokus pada aspek tangible dan jumlah tidak jarang justru menjauhkan dari hal-hal yang lebih esensial. Bahkan, target kuantitatif bisa menjadi beban. Padahal, keberhasilan tidak melulu berbicara angka.” (Purwo Udiutomo dalam ‘Bagai Pungguk Merindukan Pendidikan Gratis’)

‘Mencerdaskan kehidupan bangsa’ merupakan salah satu cita-cita mulia Bangsa Indonesia. Karenanya, fokus terhadap pembangunan pendidikan sudah semestinya menjadi agenda utama di masa lalu, kini, dan masa yang akan datang. Adanya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan anggaran pendidikan minimal sebesar 20% dari APBN/ APBD membawa angin segar perbaikan pendidikan di Indonesia. Dalam APBN 2018 yang telah ditetapkan akhir Oktober 2017 lalu, anggaran pendidikan dialokasikan sebesar 444,1 triliun (20% dari APBN), dimana 33,7% dialokasikan untuk pusat dan 62,9% ditransfer ke daerah. Sisanya sebesar 15 triliun dialokasikan untuk pembiayaan dana abadi pendidikan. Anggaran tersebut diantaranya akan digunakan untuk Program Indonesia Pintar (19,7 juta jiwa), Bantuan Operasional Sekolah (56 juta jiwa), Beasiswa Bidik Misi (401,5 ribu mahasiswa), pembangunan/rehab sekolah atau ruang sekolah (62,2 ribu), dan tunjangan profesi guru (1,9 juta guru). Berbagai program tersebut diharapkan berkontribusi untuk mencapai target 2018 di antaranya tingkat pengangguran 5 – 5,3%, tingkat kemiskinan 9,5-10%, indeks Gini 0,38, dan Indeks Pembangunan Manusia 71,5.

Tahun 2018 adalah tahun berlimpahnya beasiswa. Selain Bidik Misi, penerima beasiswa LPDP juga mengalami peningkatan menjadi 5000 mahasiswa. Belum lagi 2018 adalah tahun politik, selain Pilkada serentak di 17 provinsi dan 154 kabupaten/ kota, tahun depan adalah tahun pemanasan terakhir jelang Pemilu 2019. Program bantuan pendidikan semisal beasiswa akan lebih ramai di tengah masyarakat, untuk memenuhi janji sekaligus meningkatkan elektabilitas. Program bantuan pendidikan ini menjadi media kampanye yang lebih smooth dibandingkan money politics terang-terangan. Banyaknya beasiswa akan membantu peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan. Secara kuantitas, namun belum tentu secara kualitas. Ketika program beasiswa yang mencari calon penerimanya, bukan sebaliknya, kualitas input cenderung diabaikan. Dampaknya, perhatian terhadap kualitas keluaran para penerima beasiswa pun cenderung terlupakan. Bahkan, kualitas pengelolaan program beasiswa bisa jadi kurang diperhatikan. Mulai dari sosialisasi yang seadanya, proses seleksi yang kejar target tercapainya kuota, hingga pencairan beasiswa yang terus tertunda. Kalaupun ada program pembinaan untuk para penerima beasiswa, dilakukan ala kadarnya. Berpuas diri dengan data Indeks Prestasi akademik para penerima beasiswa yang tiga koma, padahal hampir semua mahasiswa jaman now IP-nya di atas tiga.

Tahun 2018 adalah tahun pembangunan infrastruktur, termasuk infrastruktur pendidikan. Berbagai pembangunan gedung yang mangkrak di sejumlah perguruan tinggi akan dikejar selesai di tahun 2018, atau paling lambat awal tahun 2019. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur di banyak kampus dengan berbagai sumber pendanaan misalnya dari IDB atau dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga akan segera diselesaikan. Anggaran infrastruktur untuk tahun 2018 mencapai 410,7 triliun. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat diberikan alokasi anggaran APBN sebesar 107,4 triliun, jauh di atas Kemenristek Dikti (41,3 triliun) ataupun Kemendikbud (40,1 triliun). Jika dikelola dengan benar, pembangunan infrastruktur ini akan mengatasi kesenjangan sekaligus menjadi investasi jangka panjang. Pun di sisi lain membuka ruang penyalahgunaan wewenang dan penyelewengan anggaran. Sayangnya, fokus pada infrastruktur (konteks) akan mengalihkan dari fokus pada isi (konten). Fisik yang megah takkan ada artinya jika jiwanya rapuh. Membangun kampus berbeda dengan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, memberikan tunjangan guru tidaklah sama dengan meningkatkan kualitas guru. Fisik memang jelas terlihat dan terukur, namun pembangunan pendidikan sejatinya adalah menyoal pembangunan manusia, bukan sekadar infrastruktur pendidikan. Karenanya standar sarana prasarana hanyalah salah satu dari delapan Standar Nasional Pendidikan.

(bersambung)

Apa Misi Visi Anda?

Ada yang terasa janggal dari judul di atas? Ya, mungkin karena kata ‘visi’ biasanya diletakkan sebelum kata ‘misi’. Sesuai dengan urutannya, karena misi merupakan penerjemahan dari visi. Tapi tentu penulisan judul tersebut bukan tanpa alasan. Tulisan ini tidak hendak menggugat bahwa misi layak disebut lebih dulu daripada visi, namun setidaknya akan coba dipahamkan bahwa misi memiliki makna yang lebih fundamental dibandingkan visi.

Misi didefinisikan sebagai ‘reason for being’ atau ‘why do we exist?’ Pertanyaan mengenai alasan keberadaan ini sangat mendasar dan perlu dijawab sebelum panjang lebar merencanakan masa depan. Sementara visi adalah ‘what do we want to become?’ Sebuah mimpi, cita dan harapan. Pendapat yang mengatakan bahwa misi berorientasi ke belakang sementara visi berorientasi ke depan, tidak sepenuhnya benar. Karena bagaimanapun, menyadari hakikat keberadaan (organisasi) kita sejatinya menyoal masa lalu, hari ini dan masa depan.

Pemahaman yang benar tentang siapa kita dan untuk apa kita diciptakan menjadi lebih fundamental dibandingkan pemahaman mengenai cita-cita hidup kita. Jati diri manusia sebagai hamba dan khalifah yang menyebarkan Rahmat Allah SWT tidaklah lekang oleh waktu, sementara cita-cita hidup kita bisa saja berubah. Bahkan jika cita-cita yang dimaksud berorientasi akhirat, misalnya mati syahid atau masuk syurga, tetap saja pemahaman terhadap misi, tugas dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan lebih penting. Ketika terjadi disorientasi, jawaban atas pertanyaan ‘siapa kita’ dan ‘mengapa kita ada’ akan lebih dalam maknanya dibandingkan sekadar ‘mau kemana kita’.

Tidak sedikit organisasi yang sibuk merancang impiannya di masa mendatang, namun melupakan hal mendasar: mengapa organisasi tersebut ada. Seorang pengikut mungkin saja tidak punya visi, karena sekadar mengikuti visi pemimpinnya. Pun demikian pengikut tersebut tetap punya misi, karena tanpa misi tak ada arti penting keberadaannya. Seorang pemimpin bisa saja hadir tanpa membawa visi, misalnya karena mengikuti visi kepemimpinan sebelumnya. Bahkan visi organisasi ini dapat dibuat bersama-sama, dengan atau tanpa melibatkan pemimpin. Namun tidak ada pemimpin tanpa misi. Misi kepemimpinan adalah memimpin, menggerakkan dan menjadi teladan. Seseorang yang tidak memimpin, tidak menggerakkan dan tidak pula menjadi teladan bukanlah seorang pemimpin.

Memang benar ada pula pengertian misi sebagai ‘our business’ ataupun ‘the chosen track’ yang bisa jadi dibuat setelah adanya visi. Di beberapa literatur ada yang membedakan antara purpose (misi sebagai alasan keberadaan) dengan mission (misi sebagai turunan visi). Tapi apapun pendekatannya, memahami jati diri organisasi tetaplah lebih utama. Pendapat yang mendefinisikan misi sebagai cara untuk mencapai visi (sehingga ada setelah visi) tidaklah tepat. Definisi tersebut justru membuat tumpang tindih antara misi dengan strategi yang didefinisikan sebagai cara (method), pola (pattern), atau taktik (ploy) untuk mencapai visi. Kesalahan lainnya dalam penyusunan misi adalah dibuat terlalu panjang seperti layaknya profil organisasi. Bukan hanya sulit untuk dihapal dan dipahami, posisi sebagai ‘the chosen track’ juga bisa kehilangan makna akibat misi yang terlalu rumit.

Suatu organisasi tanpa visi memang akan terombang-ambing karena ketidakpastian arah yang dituju, namun organisasi tanpa misi lebih buruk lagi. Sekadar visi tanpa memahami hakikat keberadaannya akan membuat organisasi berambisi untuk menggapai impian, dengan cara apapun yang dapat dilakukan. Fondasi berpijaknya organisasi rapuh dan rentan lupa diri. Eksistensi organisasi yang gagal memahami ‘why do we exist?’ hanyalah ditopang oleh faktor sumber daya (SDM, keuangan, waktu, dsb) dan keberuntungan. Bisa jadi organisasi cukup beruntung tidak runtuh bahkan berhasil mencapai visi. Namun seketika bingung apa yang harus dilakukan karena alpa akan hakikat dirinya. Atau tiba-tiba tersadar bahwa apa yang telah dicapai ternyata bukanlah sesuatu yang benar-benar diimpikannya. Dapat dibayangkan betapa besarnya sumber daya yang terkuras untuk sebuah kekosongan.

Satu visi dalam sebuah organisasi merupakan keharusan karena kita akan berjuang dalam cita yang sama, tinggal menjalankan peran masing-masing. Namun menyadari hakikat misi bersama tak kalah pentingnya. Sehingga kita menginsyafi bersama mengapa organisasi ini harus ada, untuk apa dan untuk siapa. Agar kita kian paham akan segenap tugas dan tanggung jawab yang menyertai. Dan semakin yakin akan kebenaran jalan yang ditempuh. Agar kita tetap sadar diri dalam menggapai mimpi. Dan tetap punya harga diri dalam memperjuangkan visi.

Jadi, apa misi dan visi (organisasi) Anda?

Without a mission statement, you may get to the top of the ladder and then realize it was leaning against the wrong building” (Dave Ramsey)

Antara Teknik Industri dan Non-Governmental Organization

Industrial and systems engineering is concerned with the design, improvement and installation of integrated systems of people, materials, information, equipment and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physical, and social sciences together with the principles and methods of engineering analysis and design, to specify, predict, and evaluate the results to be obtained from such systems. (IISE Official Definition)

Lulusan Teknik Industri kok malah kerja di Dompet Dhuafa?”, begitu pertanyaan yang kerap diterima penulis setelah menyampaikan terkait latar belakang pendidikan. Sebagai manajer program mudah saja menjawab bahwa dalam mengelola program dibutuhkan berbagai keterampilan manajemen, mulai dari manajemen strategis, SDM, produk, keuangan, hingga manajemen pemasaran, dan kesemuanya itu relevan dengan pelajaran pada bangku kuliah. Belum lagi berbagai sistem manajemen yang diterapkan lembaga, mulai dari ISO 9001, Malcolm Baldrige, hingga Knowledge Management sangatlah sesuai dengan keilmuan Teknik Industri. Tapi kok rasanya ada yang kurang lengkap dari jawaban tersebut, setidaknya lulusan Manajemen juga bisa saja menjawab hal serupa. Lalu, apa bedanya dengan lulusan Teknik Industri?

Setelah cukup lama tidak mengkaji lebih dalam mengenai kompetensi keilmuan Teknik Industri, akhir pekan lalu penulis berkesempatan menghadiri Workshop Alumni untuk mengevaluasi kurikulum S1 Teknik Industri UI. Diskusi alumni lintas generasi (dari angkatan 1975 hingga 2016) ini dilakukan untuk melengkapi persyaratan akreditasi internasional ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology, Inc.), sesudah akreditasi nasional dan regional ASEAN telah diperoleh. Untuk memperkaya gagasan, peserta pun dipilih lintas industri, dan –seperti perkiraan—hanya penulis yang berasal dari Non-Governmental Organization (NGO) mewakili sektor ketiga.

Ada hal yang cukup ‘menenangkan’ dari hasil diskusi, ternyata hanya sekitar 5 – 10% keilmuan Teknik Industri yang diajarkan di bangku kuliah yang langsung terpakai di dunia kerja. Memang ada bagian spesifik di industri yang bisa meningkatkan kesesuaian ini hingga 50%, misalnya bagian Supply Chain Management (SCM). Pun demikian, kebutuhan akan lulusan Teknik Industri sangatlah tinggi. Bahkan beberapa perusahaan manufaktur lebih mencari HRD yang berlatar belakang Teknik Industri dibandingkan Psikologi, atau beberapa industri keuangan yang justru memilih lulusan Teknik Industri dibandingkan Manajemen. Added value lulusan Teknik Industri terletak pada kemampuan untuk memodelkan permasalahan secara unik dalam kerangka sistem atau sederhananya “kemampuan berpikir sistem”.

Tidak mengherankan Institute of Industrial Engineering (IIE) yang merupakan acuan perekayasa industri resmi berganti nama menjadi Institute of Industrial and Systems Engineering (IISE) sejak April 2016. Teknik Industri pun berkembang menjadi Teknik Sistem dan Industri. Rekayasa sistem mulai dari Man, Material, Machine, Method, Money dan Environment pun menjadi relevan diajarkan secara menyeluruh. Menyoal sistem memang luas, pun tidak dalam. Karenanya di Teknik Industri diajarkan multi disiplin ilmu, termasuk berbagai tantangan masa depan seperti persaingan, inovasi, hingga teknologi digital. Keilmuan yang generalis (tidak spesialis) ini memang merupakan kekurangan yang justru menjadi keunggulan kompetitif lulusan Teknik Industri. Bagaimanapun, lulusan S1 memang harus melalui proses untuk mampu bekerja. Kemampuan melihat lingkup kerja sebagai suatu sistem yang komprehensif dan integral tentu akan mempercepat proses tersebut.

Lalu apa kaitannya Teknik Industri dengan NGO? Sektor ketiga saat ini masih menjadi sektor yang termarjinalkan dibandingkan sektor privat ataupun sektor publik. Beberapa pihak masih memandang sebelah mata tentang penerapan sistem manajemen dalam suatu lembaga non profit yang terkesan kental dengan budaya kekeluargaan, yang seakan berlawanan dengan kultur profesional. Padahal hal mendasar yang membedakan sektor ketiga dengan sektor publik hanya terletak pada sumber dana dan status pengelolanya. Tata kelola yang profesional, transparan dan akuntabel tetap menjadi keharusan. Penguatan sistem manajemen pun perlu dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan dan terus melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Bisnis proses mulai dari supplier, input, proses, output hingga sampai ke customer pun sama dengan industri jasa ataupun manufaktur. Tahapan pengelolaan program mulai dari perencanaan hingga evaluasi pun sama dengan pengelolaan produk barang ataupun jasa. Singkatnya, NGO pun bergerak dalam kerangka sistem, dan dimana ada sistem, ada peran perekayasa industri yang menyertainya.

Lantas mana yang paling utama dari ketiga sektor tadi? Tidak ada. Semuanya bersinergi untuk saling membangun. Dan semua sektor tersebut butuh pengelolaan sistem yang handal. Ketika pengelolaan sistem ini sudah menjadi keniscayaan di sektor publik, apalagi di sektor privat, maka keberadaan perekayasa sistem di sektor ketiga menjadi sangat penting untuk menghadirkan keseimbangan. Sebab seluruh komponen kemajuan pembangunan di seluruh sektor kehidupan sejatinya terhimpun dalam sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan, pun ditopang oleh berbagai (sub) sistem lainnya. Dan di setiap (sub) sistem itulah perekayasa sistem dapat mengambil peran untuk menghadirkan perbaikan, termasuk di NGO. Untuk masa depan yang lebih baik. There is no best, but better.

Engineers make things, industrial engineers make the things better

Perkenalkan, Dihya ElBarra Udiutomo

Sesungguhnya mereka (umat-umat terdahulu) menamakan (anak-anak mereka) dengan nama para nabi mereka dan orang-orang shalih sebelum mereka” (HR. Muslim)

Salah satu pertanyaan umum paska kelahiran anak setelah ucapan selamat dan do’a adalah ‘namanya siapa?’, apalagi kali ini istriku melahirkan seorang putra, tidak lagi putri seperti kedua kakaknya. Dan ketika disampaikan namanya adalah Dihya ElBarra Udiutomo lantas muncul pertanyaan berikutnya, “Dihya artinya apa?”. Sebagaimana kakak-kakaknya: Rumaisha Alifiandra Udiutomo dan Muthiah Rheviani Udiutomo, sepertinya memang perlu dituliskan kisah dibalik nama untuk mempermudah penjelasan. Termasuk penjelasan untuk anak-anakku kelak.

Dihya, Yusuf dari Madinah
Kata ‘Dihya’ dalam bahasa Arab berarti sinaran, biasa digunakan untuk nama anak laki-laki. Sementara untuk anak perempuan dengan makna serupa biasa digunakan nama ‘Dhiya’ (sinar/ cahaya). Pengucapannya mirip, mengapa ‘Dihya’ digunakan sebagai nama laki-laki? Sejatinya, pemilihan nama ‘Dihya’ merujuk pada nama seorang sahabat Rasulullah SAW: Dihyah Al Kalbi r.a. Huruf ‘h’ di belakang sengaja dihilangkan agar tidak rancu pengucapannya dengan nama perempuan ‘Diah’ atau ‘Diyah’ yang berarti cantik/ ayu. Lantas siapakah Dihyah Al Kalbi r.a. ini?

Dari Jabir r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku para nabi, maka aku melihat Musa adalah seorang laki-laki yang kuat, seakan-akan dia adalah lelaki dari kaum Syanu’ah. Dan aku melihat Isa bin Maryam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat, adalah Urwah bin Mas’ud. Dan aku melihat Ibrahim, dan yang paling mirip denganya di antara yang pernah aku lihat ialah sahabat kalian –yaitu diri beliau sendiri— dan aku pun melihat Jibril, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat adalah Dihyah.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain, Imam An-Nasa’i meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Yahya bin Ya’mur dari Ibnu Umar r.a., “Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW dalam rupa Dihyah Al-Kalbi”.

Dihyah bin Khalifah bin Farwah Al-Kalbi al-Qaddhai r.a. merupakan shahabat anshar yang memiliki penampilan yang sangat menawan. Dihyah r.a. masuk Islam pada tahun pertama hijriyah, namun belum ikut dalam perang Badar di tahun kedua hijriyah. Dihyah r.a. baru mulai bergabung dalam pasukan kaum muslimin di Perang Uhud dan tak pernah absen dalam peperangan hingga Perang Yarmuk di zaman khalifah Umar bin Khattab r.a. Setelah itu, Dihyah menetap di Damaskus – Syam hingga wafat di masa kekhalifahan Muawiyah r.a.

Kisah tentang Dihyah r.a. tidak pernah terlepas dari ketampanannya sehingga Malaikat Jibril pun kerap turun ke bumi menyerupai wajahnya. Dalam Perang Ahzab misalnya, setelah kaum musyrikin berhasil dikalahkan dan meninggalkan Madinah, Malaikat Jibril turun membawa perintah dari langit untuk menghukum kaum Yahudi Bani Quraidzah. Para sahabat bahkan ummul mukminin mengira Rasulullah SAW tengah berbicara dengan Dihyah Al Kalbi r.a. sampai Rasulullah SAW menjelaskan bahwa yang tadi datang adalah Malaikat Jibril. Kisah masyhur lain tentang Dihyah r.a. adalah perannya sebagai duta untuk menyampaikan surat dakwah dari Rasulullah SAW kepada Heraklius, Kaisar Byzantium – Romawi. Dalam beberapa kitab diantaranya Al Bidayah Wal Nihayah – Ibnu Katsir, dikisahkan bahwa Heraklius menyampaikan pesan kepada Rasulullah SAW melalui Dihyah Al Kalbi r.a. bahwa dirinya membenarkan risalah kenabian namun ‘tersandera’ oleh tahta dan nyawanya sehingga tidak dapat berbuat banyak. Sementara sahabat Heraklius, Ibnu Nathur, seorang Uskup Agung di Syam akhirnya memilih untuk bersyahadat dan masuk islam, pun akhirnya dibunuh. Di Madinah, Dihyah r.a. menyampaikan pesan dari Heraklius dan Ibnu Nathur, dan Rasulullah SAW pun mendo’akan keduanya.

Elbarra, Allah dan Surga
Kata ‘Barra’ dalam bahasa Arab berarti bersih, biasa digunakan untuk nama anak laki-laki. Berbeda dengan Bara’ (dengan satu huruf ‘ra’ dan hamzah di akhir kata) yang berarti berlepas diri, Al Barra justru mempunyai susunan huruf yang sama dengan Al Birru yang berarti kebaikan. Menggunakan awalan ‘el’ dan bukan ‘al’ hanya variasi saja, toh alif lam disana hanya menunjukkan kata benda (isim). Adapun pemilihan nama ‘Elbarra’ merujuk pada nama seorang sahabat Rasulullah SAW: Al Barra bin Malik Al Anshari r.a. Jika Rumaisha adalah ibunya Anas bin Malik r.a, maka Al Barra ini adalah saudaranya. Lantas apakah keistimewaan Al Barra bin Malik r.a. ini?

Tak ada yang istimewa dari fisik Al Barra bin Malik r.a. Tubuhnya kurus dan tidak terurus. Tak ada yang menyangka orang ini telah membunuh lebih dari 100 orang kafir dalam duel satu lawan satu. Belum jika ditambah banyaknya musuh Allah SWT yang dibunuhnya dalam berbagai peperangan yang diikutinya. Kisah tentang Al Barra bin Malik r.a. tak pernah lepas dari keberanian dan kepahlawanan. Bahkan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab r.a. pernah mengirimkan surat kepada gubernur di seluruh wilayah Islam yang isinya, “Jangan kalian jadikan Al-Barra sebagai komandan pasukan karena dikhawatirkan akan membahayakan pasukannya. Dikarenakan dia seseorang yang selalu berada di ujung tombak pasukan.”. Di antara kisah kepahlawanan Al Barra r.a. adalah dalam perang Yamamah menghadapi puluhan ribu pasukan nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab. Setelah pasukan Ikrimah bin Abu Jahal r.a. dipukul mundur, Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq mengirim pasukan di bawah komando Khalid bin Walid r.a. Namun pasukan Musailamah masih terlalu kuat, menyisakan berbagai kisah heroik syahidnya para sahabat di Yamamah, seperti Tsabit bin Qais, Zaid bin Al Khaththab, ataupun Salim (radhiallahu anhum). Al Barra bin Malik r.a. dan kaum anshar pun terjun berjuang dan berhasil memporak-porandakan pasukan Musailamah. “Wahai penduduk Madinah! Tak ada Madinah bagi kalian sekarang. Yang ada hanya Allah dan surga!”, demikian kata-kata semangat Al Barra r.a. kepada kaum Anshar yang membuatnya dikenal dengan dua kata: Allah dan Surga.

Pasukan Musailamah mundur dan berlindung dalam ‘kebun kematian’ yang memiliki dinding menjulang tinggi. Tubuh kecil Al Barra r.a. membuatnya ringan diangkat di atas tombak dengan berpijak pada tameng. Ia pun melompat melewati tembok tinggi benteng musuh. Melawan pasukan musuh sendirian untuk bisa membuka pintu ‘kebun kematian’ dari dalam. Satu per satu nyawa pasukan Musailamah meregang. Dengan lebih dari 80 luka akibat panah dan sayatan pedang, Al Barra r.a. berhasil membuka gerbang ‘kebun kematian’. Kaum muslimin pun menyerbu masuk. Kemenangan berhasil diraih dengan tewasnya Musailamah Al Kadzdzab beserta puluhan ribu pasukannya. Dirawat selama sebulan langsung oleh Komandan Khalid bin Walid r.a, ternyata Al Barra r.a. belum ditakdirkan syahid seperti cita-citanya. Perang Tustar menaklukkan Persia lah yang mengakhiri kisah kepahlawanannya. Dalam perang ini, tangan Al Barra r.a. sempat melepuh saat menyelamatkan saudaranya, Anas bin Malik r.a. yang terkena kaitan cakar besi panas yang dilemparkan pasukan Persia dari atas benteng. Namun ia belum juga syahid, sementara benteng Persia tampak kian sulit ditaklukkan.

Dari Anas bin Malik r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ada beberapa orang yang berpenampilan kusut dan jelek dengan baju yang sudah lusuh jika dia bersumpah maka niscaya Allah akan menakdirkan sumpahnya tersebut terealisasi. Dan jika mereka berdoa niscaya doanya tidak akan ditolak oleh Allah, salah seorang di antara golongan ini adalah Barra bin Malik.” (HR. Tirmidzi). Para sahabat yang menjadi saksi sabda Rasulullah SAW kala baiat aqabah tersebut segera meminta Al Barra r.a. untuk berdo’a. Akhirnya Barra bin Malik r.a. memanjatkan dua do’a: pertolongan Allah SWT untuk kemenangan kaum muslimin, dan kesyahidan yang mengantarkannya bertemu dengan Rasulullah SAW. Perang kembali berkecamuk, Al Barra r.a. berhasil mengalahkan salah seorang pembesar Persia, Marzaban az Zarih. Dan tidak menunggu lama, kedua permohonannya dikabulkan Allah SWT.

Tarhib Ramadhan Anti-Mainstream

Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa mereka yang kumpulkan (dari harta benda).” (QS. Yunus: 58)

Tak terasa, dalam hitungan hari Ramadhan akan kembali menyapa. Bulan yang penuh berkah dan Rahmat dari Allah SWT. Kaum muslimin pun ramai menyambutnya. Salah satu perwujudannya adalah dengan mengadakan kegiatan Tarhib Ramadhan. Dalam Kamus Al Munawir, kata tarhib berasal dari fi’ilrahiba, yarhabu, rahbun”yang berarti luas, lapang dan lebar. Dan selanjutnya menjadi fi’ilrahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. Menurut Kamus Al-Munjid, kata tarhib merupakan masdar dari akar kata rahaba (menyambut) yang mengandung makna penyambutan. Istilah Tarhib Ramadhan kian populer, bahkan sudah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Akhir pekan lalu saja penulis dapat empat undangan Tarhib Ramadhan yang waktunya bersamaan. Belum ditambah pekan sebelumnya dan pekan ini. Sayangnya, popularitas ini terasa berbanding terbalik dengan esensi dari tarhib itu sendiri. Ya, belakangan ini tarhib semakin terasa hanya sebagai kegiatan rutin menjelang Ramadhan, kehilangan jati dirinya sebagai salah satu check point Ramadhan.

Eksklusifitas mungkin memang membuat sesuatu lebih terasa spesial dan berkesan. Tapi formalitas Tarhib Ramadhan juga dipengaruhi oleh konten yang kurang variatif. Bisa dibilang hanya pawai Ramadhan yang kreatif dan saling memaafkan yang esensial, selebihnya –terutama kajian dan ceramahnya—nyaris tak ada perubahan dari waktu ke waktu. Ceramahnya tidak jauh-jauh dari dimulai dengan Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, dilanjutkan dengan keutamaan puasa, misalnya dengan hadits “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari – Muslim), kemudian diakhiri dengan bekal yang harus disiapkan mulai dari ruhiyah, fikriyah, jasadiyah hingga maaliyah.

Pengingatan akan bekal Ramadhan bukannya tidak penting. Mempersiapkan bekal bahkan sangat penting. Hanya saja ukuran keberhasilan suatu kegiatan tidaklah diukur hanya dari terselenggaranya kegiatan, atau bahkan banyaknya peserta yang datang. Ada efektifitas kegiatan yang perlu jadi perhatian. Dalam hal ini pengulangan informasi tentang bekal Ramadhan akan kehilangan makna karena pengetahuan akan hal tersebut sudah cukup. Ibarat air dalam wadah yang justru luber karena kebanyakan air. Tidak efektif dan tidak efisien. Butuh kreativitas agar wadahnya semakin membesar. Sehingga dalam konteks efektifitas, memastikan peserta memiliki bekal yang cukup lebih penting dibandingkan menginformasikan bekal yang harus dimiliki, berulang-ulang.

Contoh lebih teknis. Jika fokus Tarhib Ramadhan memastikan peserta memiliki bekal ilmu tentang Ramadhan yang mumpuni, alih-alih menggunakan metode ceramah, metode permainan bisa jadi lebih efektif dan menarik. Sekadar diberikan buku panduan Ramadhan kemungkinan tidak akan dibaca, tapi jika dilombakan maka akan lain ceritanya. Misalnya dengan lomba cerdas cermat setelah sebelumnya peserta diberikan kisi-kisi pertanyaan. Peserta akan aktif mencari informasi akan pengetahuan Ramadhan dibandingkan pasif mendengarkan ceramah. Peserta yang ‘tak ingin menang’ sekalipun akan berusaha untuk ‘tidak memalukan’. Selepas kegiatan, akan lebih banyak bekal ilmu yang diperoleh peserta. Dengan kegiatan yang lebih menyenangkan pula.

Jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal fisik peserta. Sekadar pengetahuan akan pentingnya bekal fisik belum tentu linier dengan bekal fisik yang dimiliki. Akan lebih efektif jika konten tarhibnya berupa pemeriksaan kesehatan. Sambil menunggu jadwal konsultasi kesehatan, ada berbagai media visualisasi tentang berbagai tips sehat selama menjalani ibadah Ramadhan. Misalnya menu sehat sahur dan buka puasa, pengaturan waktu istirahat yang ideal, mengatasi penyakit musiman di bulan Ramadhan, dan sebagainya. Akan lebih baik lagi jika sebelumnya ada penugasan bagi peserta terkait persiapan fisik, sehingga paska kegiatan bekal fisik peserta lebih dapat dipastikan terpenuhi.

Pun demikian jika fokus tarhib Ramadhan memastikan bekal ruhiyah atau maaliyah peserta, kontennya bisa menyesuaikan dengan tujuan kegiatan, tidak melulu harus ceramah. Untuk penguatan ruhiyah misalnya, mungkin perlu ada agenda muta’baah dan muhasabah dengan nuansa ruhiyah yang benar-benar dimunculkan. Jauh dari kegaduhan dan mencerahkan. Tarhib Ramadhan juga bisa dikuatkan dengan tips trik yang aplikatif. Misalnya tarhib Ramadhan yang fokus pada tema ‘Ramadhan bersama keluarga’. Kontennya bisa jadi terkait puasa dan pendidikan keluarga, bagaimana mempersiapkan anak untuk berpuasa, silaturahim produktif dan sebagainya. Semakin fokus, semakin efektif. Intinya, selepas tarhib Ramadhan ada nilai tambah yang diperoleh peserta, tidak sekadar menggugurkan kewajiban.

Tarhib Ramadhan sejatinya alur yang tidak terpisah dari pembinaan selama bulan Ramadhan, kecuali jika dilakukan sebatas formalitas. Sebagaimana dalam gerakan senam, perlu ada pemanasan sebelum masuk ke bagian inti (dan pendinginan). Tanpa pemanasan, pesenam akan rentan cidera. Tapi pemanasan yang asal-asalan tidak ada manfaatnya, malah bisa mengganggu keseimbangan tubuh. Ibarat tulisan, pengantar atau pendahuluan ini menjadi penting sebab jika langsung masuk ke bagian isi akan terasa ada sesuatu yang terputus. Tapi pengantar atau pendahuluan yang cuma basa-basi tidaklah sepenting itu. Semoga bekal kita cukup untuk mengarungi samudera Ramadhan. Sehingga kita dapat tiba di tujuan dengan kondisi yang lebih baik. Marhaban Ya Ramadhan.

“Telah datang kepada kamu syahrul mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam tersebut, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)