Tak Alpa Bina Generasi Alfa

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
(QS. An Nisa: 9)

Hebat Isha saat main komputer tebak bentuk, namun saat menggunakan mouse masih perlu bantuan”, demikian salah satu komentar guru yang tertulis di buku penghubung TK putri sulungku. Wajar saja si sulung bingung, memang ia belum pernah belajar menggunakan mouse karena kebetulan laptop di rumah menggunakan layar sentuh (touchscreen). Tiba-tiba aku jadi merasa tua. Dulu aku pertama kali melihat langsung dan mengoperasikan komputer ketika kelas IV SD di rumah pamanku. Itupun tergolong cepat dibandingkan teman-temanku yang baru belajar MS-DOS, wordstar dan lotus 123 ketika SMP. Namun saat ini, bahkan dua balita di rumah sudah akrab dengan gadget.

Waktu berjalan begitu cepat, teknologi informasi berkembang begitu pesat. Generation gap pun semakin terasa. Orang tua muda saat ini didominasi oleh generasi Y (kelahiran 1981 – 1995) yang tumbuh besar di era teknologi informasi. Generasi Y juga dikenal sebagai echo boomers karena orang tua mereka umumnya masuk generasi baby boomers (kelahiran 1946 – 1965). Pun ada juga yang orang tuanya sudah masuk generasi X (kelahiran 1966 – 1980) atau bahkan ada yang orang tuanya dari generasi pre baby boomers (lahir sebelum tahun 1945). Yang jelas para generasi Y ini merasakan perubahan pola dan pendekatan pendidikan seiring dengan kemajuan zaman.

Sudah banyak penelitian, kajian, ataupun tulisan yang mengupas tentang perbedaan karakteristik antar generasi, terutama antara Gen X dengan Gen Y yang saat ini ada di usia produktif. Hanya saja jika kita mau merekayasa masa depan, semestinya fokus kajian ada pada bagaimana mempersiapkan generasi Z (kelahiran 1996 – 2010) atau bahkan generasi Alfa (lahir setelah tahun 2010) untuk produktif menghadapi tantangan hidup yang jauh berbeda dengan generasi orang tuanya. Kedua generasi ini adalah generasi cerdas yang tidak tahan banting dan salah mendidik mereka sama artinya dengan menghancurkan masa depan dunia.

Beberapa hari lalu ramai berita tentang guru di Makassar yang menegur seorang siswa kemudian malah dipukuli orang tua siswa tersebut. Beberapa bulan lalu ada berita tentang guru yang sempat dipenjara hanya karena mencubit siswa, bahkan ada guru yang dipidana karena mencukur rambut gondrong siswa. Mudah saja menyalahkan ‘kecengengan’ siswa dan memberikan dukungan ke guru karena barangkali kita pernah merasakan pendidikan yang lebih ‘keras’ daripada itu. Namun sejatinya masalah ada pada kegagalan pendidikan dalam membentuk karakter dan mentalitas mereka. Dalam hal ini, orang tua lah yang terlalu memanjakan mereka sehingga anak tidak mandiri dan tidak berani bertanggung jawab. Atau dalam perspektif yang lebih luas, berbagai kasus ini seharusnya menjadi perhatian bagi para pendidik untuk lebih tepat dalam membina peserta didiknya.

Generasi baby boomers dan generasi X melihat generasi Y sudah berkurang rasa hormatnya terhadap orang tua dan guru, maka generasi Z dan Alfa tentu berpotensi lebih ‘berani’ lagi. Ketegasan dalam mendidik memang masih diperlukan, namun tidak ada salahnya pendidik, dalam hal ini orang tua dan guru lebih menyesuaikan dirinya sebagai mitra dari anak-anak. Tidak bersikap superior namun tetap menjaga wibawa sehingga tetap disegani. Tak perlu mengelu-elukan euforia pendidikan masa lalu karena generasi ini cukup mengerti bahwa mereka tidak hidup di masa lalu. Sikap kritis mereka bahkan akan menemukan celah kolotnya pendidikan generasi sebelumnya yang malah menumbuhkan ego mereka. Cukup sampaikan hikmah dan pembelajaran di masa lalu yang dapat menginspirasi mereka tanpa harus mengajak mereka kembali ke masa lalu.

Generasi saat ini adalah generasi instan, bukan generasi militan. Sejak dini mereka perlu dididik untuk menghargai proses. Tidak perlu membuat mereka merasakan perjuangan yang sama dengan yang pernah pendidik rasakan karena realita dan kesulitan yang akan mereka hadapi juga berbeda, namun tetap menjadi penting bagi mereka untuk belajar berjuang dan menghargai perjuangan. Generasi ini juga kurang menghargai pemberian karenanya perlu diajarkan untuk senantiasa memberi dan berbagi. Tidak akan mudah karena mereka generasi pembosan. Pola pendidikan konvensional yang kaku dan monoton tidak mereka sukai. Mereka adalah generasi kreatif yang menghargai ide dan pembaruan, disinilah kreativitas pendidik memainkan peran.

Meniadakan televisi yang jarang menghadirkan tontonan bermutu mungkin baik untuk pembentukkan karakter anak. Membatasi penggunaan gadget pada anak juga barangkali bermanfaat dalam mendidik anak. Namun aksi boikot teknologi informasi sejatinya bukan solusi jangka panjang, karena mereka akan hidup di zaman itu. Salah-salah malah mereka akan mencarinya di luar dan kian sulit diawasi. Hal penting yang sangat perlu diperhatikan adalah keteladanan. Generasi Y adalah generasi awal teknologi yang punya potensi sama untuk kecanduan teknologi. Karenanya pendidik harus memberi contoh bagaimana memanfaatkan teknologi informasi dengan bijak. Lebih banyak melakukan aktivitas bersama tanpa disibukkan oleh gadget yang banyak melahirkan generasi asosial.

Didiklah anak sesuai zamannya”, sebuah ungkapan yang barangkali banyak benarnya. Lingkungan dan tantangan zaman berubah, sehingga proses pendidikan yang sama belum tentu menghasilkan output yang serupa. Butuh desain pendidikan yang jelas, bukan sekedar menitipkan mereka ke sekolah atau bahkan membiarkan teknologi terbaru mendidik mereka. Jika generasi Y memandang generasi baby boomers sebagai generasi kolot yang gagap teknologi, barangkali seperti itu juga persepsi generasi Alfa terhadap generasi Y. Tantangan mendidik generasi Alfa ini kian berat seiring lahirnya generasi selanjutnya di masa mendatang –sebutlah generasi Beta—tempat mereka nanti tumbuh dan berkembang. Gap generation kian membesar, membekali mereka dengan pendidikan yang sesuai dengan zaman mereka semakin krusial.

Saat ini banyak romantika generasi Y yang kembali diangkat, mulai dari permainan, tontonan, hingga jajanan. Pada saatnya nanti, romantika generasi Z lah yang akan kembali mencuat ke permukaan. Salah satunya adalah momentum reformasi. Titik balik perubahan ke arah yang lebih baik. Bisa jadi kebangkitan umat dan bangsa ada di tangan generasi Alfa. Karenanya kita tak boleh alpa membina mereka. Silih bergantinya generasi adalah keniscayaan, namun apa yang bisa kita wariskan untuk generasi masa depan adalah pilihan.

Teach the children so that it will not be necessary to teach the adults” (Abraham Lincoln)

The Power of Diremehkan

Ketika seseorang menghina kamu, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan kamu, bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka” (B.J. Habibie)

Rasanya tidak banyak yang tersisa dari gelaran Copa America Centenario dan Euro tahun 2016 ini. Gemanya kurang nyaring tertutup Ramadhan serta nyaris tidak ada pertandingan yang benar-benar merarik. Dan berbeda dengan Piala AFF dimana timnas Indonesia menjadi salah satu kontestannya, kepentingan Indonesia juga minim terhadap pesta sepakbola di benua Amerika dan Eropa. Kalaupun ada catatan tersisa, tampaknya tidak jauh dari bagaimana tim-tim unggulan seperti Brazil, Spanyol dan Inggris begitu cepat tersingkir. Juga bagaimana tim superior yang diunggulkan justru gagal menjadi juara setelah kalah di final.

Ya, Copa America Centenario 2016 menjadi panggung bagi Chili setelah mengalahkan Argentina melalui babak adu pinalti, mengulang kesuksesan serupa pada Copa America 2015. Padahal di pertandingan pertama babak penyisihan, Argentina sukses mengalahkan Chili 2-1 dan selanjutnya terus menang hingga final dengan selisih minimal 3 gol. Sementara itu, Piala Eropa 2016 menjadi panggung bagi Portugal yang memupus asa juara tuan rumah Perancis lewat 1 gol di babak perpanjangan waktu. Portugal yang sepanjang kompetisi hanya menang sekali di babak normal menaklukkan Perancis yang tidak pernah kalah sepanjang kompetisi. Portugal meraih gelar pertamanya melawan tim unggulan sebagaimana Chili juga meraihnya tahun lalu.

Bola itu bundar, kejadian tim ‘kuda hitam’ jadi juara bukan hal baru. Yunani pernah melakukannya di Euro 2004 dan Denmark melakukannya pada Piala Eropa 1992. Hal ini juga terjadi di liga lokal, misalnya VFL Wolfsburg yang menjadi juara Bundesliga Jerman 2008/ 2009, Montpellier yang jadi juara Ligue 1 Perancis 2011/ 2012 atau yang teranyar Leicester City yang jadi juara Liga Inggris 2015/ 2016. Mengalahkan tradisi juara tim-tim unggulan. Status sebagai tim yang tidak diunggulkan menjadi salah satu kunci sukses mereka. Bertanding tanpa beban, tanpa angan-angan yang terlampau tinggi. Lihat saja betapa frustasi dan tersiksanya Argentina dan Perancis ketika dalam waktu normal tak mampu mengalahkan lawan yang di atas kertas berada di bawah mereka. Tanpa beban, Chili dan Portugal justru memberikan tekanan psikologis yang besar kepada lawan, baik ketika bertahan ataupun menyerang.

Menjadi mereka yang diremehkan itu menyenangkan. Apalagi ketika tidak disangka justru mampu memberikan kejutan. Betapa banyak tokoh dan public figure yang pernah mengalami masa-masa diremehkan, dicemooh ataupun mengalami berbagai penolakan. Thomas Alfa Edison dan Albert Einstein semasa kecil kerap dicap bodoh. Walt Disney dipecat dari kantornya karena dianggap kurang kreatif. Michael Jordan dikeluarkan dari tim basket SMA-nya. Steve Jobs dan Kolonel Sanders diolok-olok idenya. Steven King dan J. K. Rowling berkali-kali ditolak tulisannya. Bahkan tidak sedikit di antara mereka pernah mengalami depresi berat karenanya, tetapi ada kekuatan pembuktian yang menyertai tiap cemoohan dan penolakan.

Menjadi mereka yang tidak diunggulkan kadang dilematis. Antara besar kepala dengan rendah diri. Jika terlalu ambisius bisa salah arah, bahkan menghalalkan segala cara. Ketika berhasil pun rentan masuk jebakan kesombongan. Belum siap mental menjadi pemenang. Alhasil mereka malah balik meremehkan dan mengolok-olok orang lain. Sebaliknya, jika terlalu diterima sebagai sebuah kenyataan dapat menghadirkan rasa minder yang melemahkan. Tidak ada motivasi karena tak berani bermimpi. Mundur teratur. Terminologi ‘tidak diunggulkan’ berubah menjadi ‘pecundang’.

Menjadi mereka yang dipandang sebelah mata boleh jadi menantang. Memotivasi untuk bisa lebih baik, mengerahkan segenap upaya terbaik dan terus melakukan perbaikan. Memberi bukti indah kesuksesan tanpa maksud membalas dendam. Mereka yang pernah merasakan diremehkan semestinya akan lebih mudah tetap berpijak ke bumi ketika sukses, dibandingkan mereka yang setiap saat dielu-elukan. Tidak takut menghadapi tantangan masa depan, namun tidak pula menganggapnya ringan. Karena sikap meremehkan pada hakikatnya adalah suatu bentuk keangkuhan. Dan kesombongan hanya akan menggiring pada kehancuran.

Lalu mengapa tim ‘kuda hitam’ cepat redup cahayanya? Pertama, karena mereka tidak lagi diremehkan sehingga kekuatan mereka berkurang. Kedua, karena mereka gagal lepas dari beban pemenang tidak lagi tenang dan menghanyutkan. Ketiga, karena mereka gagal merawat momentum keberhasilan, tergesa-gesa dan aji mumpung. Padahal mempertahankan kesuksesan tidak lebih mudah daripada merebutnya. Butuh kerja ekstra ketika kita sudah menjadi pihak yang diperhitungkan. Solusinya tentu bukan merekayasa agar kembali diremehkan, namun terus memberikan bukti bahwa untuk menghebat tidak perlu dengan meremehkan orang lain. Fokus memperbaiki diri dan menginspirasi orang lain. Tak lupa untuk bersyukur atas segala karunia yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta.

I love when people underestimate me and then become pleasantly surprised.” (Kim Kardashian)

Pemimpin Gonta Ganti, Pengikut Bengong Bingung

Dunia politik memang asik nggak asik. Kadang asik kadang enggak, disitu yang asik (katanya). Seperti orang main catur, kalau nggak ngatur nggak asik. Pion bingung nggak bisa mundur, pion-pion nggak mungkin kabur. Menteri, luncur, kuda dan benteng, galaknya melebihi raja. Raja tenang gerak selangkah, sambil menyematkan hadiah…” (‘Asik Nggak Asik’, Iwan Fals)

Lantunan lagu dari Iwan Fals menemani perjalananku di Papua. Mengunjungi sebuah sekolah rujukan provinsi yang tampak tak terawat. Jika bukan karena unsur politis, rasanya tidak mungkin sekolah negeri yang dijuluki sekolah 89 karena siswa datang jam 8 dan pulang jam 9 ini bisa terpilih sebagai sekolah unggulan tingkat provinsi. Apalagi dalam 3 tahun terakhir, kepala sekolah berganti hingga 4 kali sesuai dengan kondisi politik sehingga praktis tidak ada keberlanjutan program di sekolah. Pergantian kepala dinas dan kepala sekolah karena unsur politis memang bukan hal baru dan banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, bukan hanya Papua. Pergantian yang sebenarnya mengganggu kesinambungan sistem pendidikan. Alih-alih melanjutkan perbaikan, pejabat terpilih akan lebih fokus mengamankan jabatan dan memanfaatkan kesempatan yang dimiliki.

Reshuffle kabinet berulang kali juga mencerminkan betapa mudahnya kepemimpinan berganti, bahkan untuk skala yang lebih besar. Padahal dalam setiap pergantian pemimpin biasanya ada ‘gerbong’ yang dibawanya. Efek domino pergantian pun terus bergulir ke level di bawahnya. Ada yang terpilih, ada yang tersingkir. Ada yang bersedih, ada yang nyengir. Kaderisasi adalah keniscayaan, pergiliran kepemimpinan pun bisa membawa segudang harapan. Hanya saja, dalih dan motif pergantian, serta ketercapaian tujuan bersama perlu diperhatikan. Betapa banyak pergantian jabatan yang hanya dilatari oleh pertimbangan like or dislike atau kedekatan dengan atasan. Betapa sering pertimbangan transaksional yang pragmatis lebih dikedepankan dalam pemilihan SDM dibandingkan faktor kinerja dan kompetensi.

Adalah wajar seorang pimpinan memilih orang-orang yang se-visi untuk menjadi timnya, namun tidak seharusnya abai terhadap kompetensinya. Apalagi jika akhirnya hanya memilih orang dekat yang nihil pengalaman dan kemampuan, sekadar menyingkirkan mereka yang kritis dan (dianggap) tidak bisa dikendalikan. Pimpinan pilih kasih hanya akan menyisakan dua tipe pengikut yang tak terorbitkan: pengikut yang cari aman, dan mereka yang bersiap melakukan perlawanan. Sementara yang terpilih mungkin akan kian loyal dan amankan kesempatan. Loyalitas pengikut memang penting dalam mencapai tujuan organisasi, namun loyalitas sebagai akibat kualitas pemimpin, bukan sebagai prasyarat pengikut. Loyalitas yang berkarakter bukan cuma ikut-ikutan.

Pergantian pemimpin bisa membawa angin segar perubahan, namun gonta-ganti pimpinan dapat membuat kegaduhan, kegalauan plus kebingungan. Potensi reorientasi dan readaptasi tentu mendatangkan harap-harap cemas. Belum lagi masa depan yang tidak jelas. Karenanya tidak sedikit yang memilih cari aman, istilah yang lebih halus dibandingkan cari muka ke atasan. Jika naturalnya organisasi akan melewati fase forming, storming, norming dan performing, kebiasaan bongkar pasang struktur dan SDM berpotensi membuat organisasi hanya berkutat di fase forming dan storming, tanpa pernah menemukan pola kerja yang tepat, apalagi menghasilkan performa terbaik.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah gonta-ganti pimpinan karena buaian kepentingan semu yang dapat menyesatkan arah dan tujuan organisasi. Ketercapaian visi kian menjauh. Kepentingan semu ini kemudian membentuk sistem yang semu. Tujuan, strategi, hingga aksinya semu. Dan dilakukan oleh kerumunan orang yang fokus memperjuangkan kepentingan fananya. Aji mumpung, raup keuntungan dan cari selamat, selama mungkin. Organisasi akan kehilangan orientasi dan bertahan sebatas interval waktu kepentingan. Gagal lulus ujian perubahan dan pergantian kepemimpinan.

Memang perubahan struktur dan SDM dapat menyegarkan organisasi, membuatnya lebih lincah dan fleksibel menghadapi tantangan masa depan. Namun hati-hati dalam bagi-bagi kursi. Jika visi, karakter, kompetensi dan komposisi SDM diabaikan, organisasi bisa kehilangan jati diri bahkan kehilangan eksistensi. Perlu pertimbangan matang yang bervisi jangka panjang untuk mengawal pergiliran kepemimpinan. Jangan sampai pimpinannya malah bimbang, pengikutnya pun gamang. Pimpinannya bingung, pengikutnya pun bengong. Bagaimanapun, pergantian pemimpin adalah keniscayaan dalam kehidupan berorganisasi. Memilih pemimpin baru yang tepat merupakan investasi kebaikan jangka panjang. Membina SDM pejuang. Membangun organisasi pemenang.

Satu satu daun berguguran, jatuh ke bumi dimakan usia. Tak terdengar tangis tak terdengar tawa, redalah reda. Satu satu tunas muda bersemi, mengisi hidup gantikan yang tua. Tak terdengar tangis tak terdengar tawa, redalah reda. Waktu terus bergulir, semuanya mesti terjadi. Daun daun berguguran, tunas tunas muda bersemi. Satu satu daun jatuh ke bumi. Satu satu tunas muda bersemi. Tak guna menangis tak guna tertawa, redalah reda…” (‘Satu Satu’, Iwan Fals)

Brebes Berebes Mili, Brebes Beberes

Lebaran kemarin mudik kah?”, tanya beberapa orang yang baru bertemu denganku paska libur hari raya Idul Fitri. “Yup, ke Brebes, kampung istri…”, jawabku. “Wah, Brebes? Kena macet ga?” Begitulah kira- kira komentar mereka ketika mendengar kata ‘Brebes’. Jika biasanya mudik ke Brebes identik dengan oleh-oleh telor asin atau bawang, sekarang pasti ditanya tentang macet. Kemacetan di ruas tol Brebes tahun ini memang fenomenal, bukan hanya karena panjangnya kemacetan dan lamanya waktu tempuh, kisah meninggalnya belasan pemudik juga kian mencoreng wajah Brebes. Daily Mail, sebuah media massa di Inggris bahkan mengulas peristiwa ini dengan judul yang sensasional: Is this the world’s worst traffic jam? Fifteen motorists die in three days after getting caught in gridlock at Indonesian junction… named BREXIT.

Tulisan ini tidak akan membahas panjang lebar tentang Brebes, toh penulis juga bukan orang Brebes, apalagi menceritakan kembali pengalaman berebes milinya para pemudik yang tertahan hingga belasan jam. Tulisan ini juga tidak hendak memaparkan fakta bahwa macet di Brebes bukanlah yang terparah di dunia. Hanya saja sebagai orang yang pernah belajar tentang rekayasa sistem penulis agak geregetan aja karena seharusnya banyak hal yang bisa diantisipasi sehingga kemacetan parah yang bahkan menelan korban jiwa tidak perlu terjadi.

Sebenarnya ketika mudik kemarin, kami sekeluarga bisa dibilang tidak kena macet. Alih-alih tinggal lurus keluar tol Brebes, kami malah keluar tol Kanci untuk kemudian putar balik masuk tol dan keluar di gerbang tol Kuningan. Agak memutar memang, belum lagi lebih banyak tikungan dan jalan naik turun, namun lancar. Keputusan putar balik ke Kuningan dilakukan setelah melihat aplikasi GPS navigasi Waze yang menunjukkan bahwa baik ruas tol Brebes maupun jalur pantura macet parah. Memang tak semua pengguna jalan menggunakan aplikasi navigasi yang juga tidak pasti selalu benar. Hanya saja optimalisasi teknologi untuk dapat mengurai kemacetan yang mengiringi mudik perlu mendapat perhatian.

Penulis jadi teringat laporan kerja praktek semasa kuliah dulu yang berisi analisa kelayakan operasional penggunaan kartu layanan tol (yang mungkin sekarang mirip dengan E-Toll) menggunakan teori antrian (queueing theory). Ruas tol Cipali dan Brebes yang belum ada tentu tidak dianalisa saat itu. Analisanya terlalu panjang untuk dirangkum, lebih cepatnya layanan dengan kartu dibandingkan dengan manual juga tidak perlu dibahas disini. Yang jelas, dengan teori antrian, bisa dilakukan forecasting berapa banyak penumpukan kendaraan di gerbang tol dan panjang kemacetan yang terjadi untuk setiap jumlah kedatangan kendaraan tertentu. Tidak hanya itu, teori antrian juga mampu memperlhatkan kebutuhan penambahan gerbang untuk mengatasi kemacetan pada jumlah kedatangan kendaraan tertentu.

Jika laporan kerja praktek saja bisa memberikan simulasi mengenai penumpukan kendaraan yang akan terjadi dengan tingkat kedatangan kendaraan tertentu, bagaimana dengan berbagai kajian dan karya ilmiah dari banyak pakar multi disiplin ilmu yang ada di Indonesia? Bukankah Indonesia tidak kekurangan orang pandai, mengapa belum ada yang berhasil merekayasa sistem lalu lintas yang lebih nyaman bagi para pemudik? Suatu ilmu aplikatif yang tidak diaplikasikan sunguh sangat disayangkan. Lebih jauh lagi, jika dua belas tahun lalu penulis hanya bisa melakukan forecasting, dengan teknologi terkini data yang masuk bisa lebih real time. Tinggal bagaimana melakukan respon cepat dari data yang diterima. Merekayasa traffic, bukan malah terjebak traffic.

Konon, salah satu upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kemacetan mudik tahun ini adalah dengan menerapkan traffic engineering system di wilayah Brebes memanfaatkan teknologi Google. Namun permasalahan sistem bukan hanya bicara tentang perencanaan dan rancangan, implementasi dan optimalisasi sistem lebih kompleks termasuk kesiapan infrastruktur, ketersediaan sumber daya, hingga human error yang mengkin terjadi. Sosialisasi dan komunikasi berbagai tools, produk dan layanan yang penting bagi para pemudik juga tidak kalah penting, tetapi hal ini seolah malah terlupakan. Pengguna jalan seakan kebingungan tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan siapa yang harus dihubungi jika ada kondisi darurat yang tidak diinginkan. Kemandegan informasi akan berbanding lurus dengan kelambanan respon. Alhasil, rencana silaturahim berujung tragedi.

Tidak perlu saling menyalahkan dan tidak perlu juga malu untuk meminta maaf. Bagaimanapun, pembuat kebijakanlah yang punya andil besar untuk mengurai permasalahan ini. Kabarnya, untuk mencegah kemacetan serupa terulang di tahun depan, pemerintah tengah menyiapkan ruas tol Pemalang – Batang dan Batang – Semarang yang akan diselesaikan sebelum Ramadhan tahun depan. Solusi high cost yang tidak salah karena adanya jalan keluar lain tentu akan mengurangi penumpukan di gerbang tol Brebes. Namun jika solusinya hanyalah terus membangun jalan tol, bukan tidak mungkin yang terjadi cuma memindahkan titik kemacetan, seperti pindahnya kemacetan dari Cikampek ke Brebes. Solusi yang jatuhnya tidak efisien, baik secara waktu maupun anggaran. Tak jua efektif.

Beberes lalu lintas mudik perlu solusi yang lebih variatif namun terintegrasi. Desain utuh perencanaan hingga pengendalian sistem perlu dipahami dan melibatkan seluruh stakeholders, mulai dari Kementerian dan Dinas Perhubungan, Kepolisian dan Pemerintah Daerah terkait, Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT), operator jalan tol, operator semua moda transportasi, Pertamina dan pengelola SPBU, hingga operator telekomunikasi dan pengguna jalan. Dalam rancangan pengelolaan arus mudik, perlu dilakukan pemetaan jalur transportasi, traffic flow dan bottleneck analysis, termasuk prediksi volume kendaraan pada setiap jalur transportasi, baik pada jalur utama maupun jalur alternatif. Supply Chain Management (SCM) perlu diterapkan dengan baik sehingga arus keberangkatan dan kepulangan dapat lebih mudah dikelola, kebutuhan akan bahan bakar dan rest area juga dapat dipenuhi. Layak, bukan sekadar tersedia.

Kapasitas jalan perlu diperhatikan dan volume kendaraan sebisa mungkin dikendalikan. Jika ada kendala atau hambatan dalam perjalanan, misalnya kecelakaan atau kendaraan mogok yang menghalangi jalan, perlu disiapkan unit cepat tanggap untuk mengatasi hal tersebut. Dalam kasus ini juga dibutuhkan pengelolaan teknologi informasi yang baik sehingga hambatan sekecil apapun dapat diketahui sehingga bisa direspon cepat. Dalam kondisi lalu lintas padat, hambatan kecil bisa berdampak antrian panjang ke belakang. Rekayasa lalu lintas alternatif seperti one way atau contra flow juga perlu dipersiapkan dan diperhitungkan dengan baik sehingga tidak cuma memindahkan kemacetan. Mengatasi kemacetan dengan kemacetan lain yang lebih macet. Petugas lapangan juga perlu disiapkan dengan baik agar tahu benar apa yang seharusnya dilakukan, termasuk untuk menghadapi kondisi yang tak diinginkan.

Rangkaian upaya tersebut bahkan perlu dikombinasikan denganberbagai solusi lain misalnya dengan perbaikan pengelolaan gerbang tol dan rest area sebagai titik-titik kemacetan. Revitalisasi jalan utama dan jalur alternatif non-tol juga perlu dilakukan sehingga rekayasa lalu lintas dapat lebih optimal dilakukan. Revitalisasi ini juga perlu disertai rekayasa potensi kemacetan akibat persimpangan jalan, pasar, jalur perlintasan kereta api, dan sebagainya. Termasuk di antaranya kemacetan akibat perbaikan jalan yang seharusnya dapat diselesaikan sebelum rentang waktu mudik.

Selain itu, fly over juga bisa dibangun untuk mengatasi bottle neck dan hal yang tidak boleh dilupakan adalah membenahi transportasi umum dan mengembangkannya sehingga multimoda bisa terintegrasi. Misalnya dengan mengintegrasikan sistem transportasi kereta api dengan angkutan pedesaan tentu akan mendorong pemudik untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Sistem informasi mudik juga perlu dikembangkan sehingga pemudik dan petugas memahami benar apa yang harus dilakukan dan alternatif apa yang sebaiknya dipilih. Jadi rekayasa lalu lintas bukan cuma pengalihan dan kemudian pemudik malah bingung harus lewat mana, tetapi memang diberikan arahan alternative terbaik. Selanjutnya, setelah sistem selesai di-develop yang tidak boleh dilupakan adalah sosialisasi secara utuh dan menyeluruh kepada seluruh pihak terkait.

Pulang kampung memang tidak harus menunggu momen Idul Fitri, tradisi mudik lebaran mungkin hanya ada di beberapa Negara termasuk Indonesia. Namun pada hakikatnya upaya untuk menyambung tali silaturahim merupakan suatu kebaikan yang akan mendatangkan kebaikan yang lain. Alangkah indahnya jika momentum silaturahmi tidak dirusak dengan emosi karena macet atau bahkan berita duka akibat pengelolaan mudik yang masih semrawut. Beberes manajemen mudik berarti beberes kesakralan silaturahim di hari raya. Berebes mili karena kesedihan akan berganti berebes mili penuh keharuan dalam momen saling memaafkan bersama keluarga tercinta. Semoga.

Flat Earth, Rotasi Bumi dan Egosentris (2/2)

Bagaimana dengan pesawat? Dalam kondisi duduk kita tidak merasakan pesawat bergerak dengan cepat. Tapi jika kita coba bergerak dalam kabin pesawat misalnya, akan terasa bahwa ketika kita berjalan berlawanan arah dengan arah pesawat langkah kaki akan lebih ringan, sebaliknya langkah akan lebih berat ketika kita berjalan searah dengan arah pesawat. Dalam dunia pelayaran, hal tersebut dikenal dengan efek eotvos yang menjadi salah satu bukti adanya putaran bumi. Tapi mengapa efek eotvos tidak terasa di kendaraan darat? Tidak hanya itu, kita juga tidak merasakan bedanya menendang bola ke arah timur dan barat, ataupun perbedaan waktu yang signifikan ketika melakukan perjalanan ke timur dan barat. Padahal bumi berputar dari barat ke timur dengan kecepatan yang sangat tinggi. Lalu, dengan kecepatan seperti itu, mengapa angin tidak hanya berhembus berlawanan arah dengan arah rotasi bumi sebagaimana kita merasakannya ketika naik kendaraan dengan kecepatan yang jauh lebih lambat? Gerakan awan pun bisa ke segala arah. Berarti kecepatan angin dan awan yang searah dengan arah rotasi bumi luar biasa, mencapai ribuan km/ jam? Dalam menembak sasaran juga yang lebih menentukan adalah arah angin yang hanya beberapa km/ jam, bukan rotasi bumi yang kecepatannya lebih dari 1600 km/ jam. Sebagai catatan, badai dahsyat pun kecepatannya hanya puluhan hingga ratusan km/ jam.

Semua pertanyaan kritis tersebut sebenarnya bisa dijawab jika ternyata bumi memang berputar, namun kecepatannya jauh lebih kecil sehingga kita tidak merasakannya. Bandul Foucault yang selama ini dianggap sebagai pembuktian adanya rotasi bumi hanya menggambarkan adanya gerakan bumi, tidak menggambarkan kecepatannya. Secara validitas, percobaan tersebut malah tidak sekuat percobaan yang dilakukan Michelson-Morley untuk membuktikan keberadaan eter yang justru hasilnya malah menguatkan bahwa bumi tidak bergerak. Percobaan menarik dilakukan Berzenberg dan Reich yang menjatuhkan peluru logam dari menara setinggi 110 meter dan ternyata jatuhnya peluru tidak tepat tegak lurus tapi agak melenceng ke arah timur. Kecepatan lebih dari 1600 km/ jam artinya setara dengan kecepatan lebih dari 400 meter/ detik. Sementara dalam gerak jatuh bebas dari ketinggian 110 meter, dibutuhkan waktu puluhan detik sebuah benda mencapai tanah. Seharusnya hasilnya bukannya agak melenceng, tapi jauh melenceng hingga puluhan kilometer. Bumi mungkin tidak benar-benar diam, tetap bergerak untuk menjaga keseimbagannya, namun tidak harus secepat itu. Semakin cepat rotasi, permukaan bumi seharusnya lebih rata tidak ada gunung yang menjulang sangat tinggi karena terkikis. Semakin cepat rotasi, air laut pun akan bergejolak sangat tinggi karena adanya gaya sentripetal. Semakin cepat rotasi, satelit harus bergerak dengan kecepatan yang amat sangat tinggi sehingga komponennya akan mudah rusak dan terbakar. Apa benar bumi berotasi? Secepat itu?

Lho, bukannya jika bumi berotasi lebih lambat maka lama waktu siang dan malam akan semakin panjang? Betul, tapi itu jika mataharinya hanya diam, tidak ikut bergerak mengelilingi bumi. Jika matahari turut bergerak mengelilingi bumi dengan arah yang berlawanan dengan arah rotasi bumi, lama waktu siang dan malam dapat signifikan dipangkas. Berarti saya penganut geosentris? Bisa iya, bisa tidak. Jika dipaksa memilih, yah antara geosentris dan heliosentris, mungkin mirip dengan tychonic system dengan beberapa perubahan. Bukti adanya revolusi bumi selama ini yang kerap jadi acuan adalah aberasi dan paralaks bintang. Namun bagaimana jika bukan hanya bumi, tetapi bintang sebenarnya juga bergerak? Dan matahari yang juga merupakan sebuah bintang juga turut bergerak? Penemuan terbaru mengungkapkan bahwa benda langit dan alam semesta ini memang bergerak. Sebuah benda yang bergerak akan menghasilkan gerakan semu terhadap benda lainnya. Jika kedua benda bergerak, maka yang terjadi adalah gerak relatif tergantung titik acuannya. Jika matahari dijadikan titik acuan ya bumi yang bergerak mengelilingi matahari, sebaliknya jika titik acuannya bumi maka matahari yang mengelilingi bumi. Hal itu terjadi karena tidak ada benda langit yang benar-benar diam statis. Tetap bergerak untuk menjaga keseimbangan kehidupan.

Terakhir, tulisan ini hanya opini pribadi, tidak perlu dianggap terlalu serius dan diyakini sebagai sebuah kebenaran. Karena hanya Sang Pemelihara Alam Semesta-lah Yang Maha Mengetahui fakta sebenarnya di balik penciptaan lagit dan bumi. Tidak sedikit juga manusia yang seakan mendahului Allah SWT dalam memastikan sistem alam semesta. Bukan lagi geosentris atau heliosentris, tapi sudah berubah menjadi egosentris. Merasa paling benar dan pendapatnya adalah satu-satunya kebenaran. Buat saya pribadi, tulisan ini merupakan sebuah tafakur sekaligus tadzakur, betapa kecilnya diri kita, betapa terbatasnya indera kita, dan betapa sedikitnya ilmu kita.

Wallahu a’lam

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka” (QS. Ali Imron: 190 – 191)

Flat Earth, Rotasi Bumi dan Egosentris (1/2)

Entah mengapa tiba-tiba belakangan ini marak diskusi tentang bumi bulat vs bumi datar. Saya yang tidak tahu apa-apa mendadak dimintai pendapatnya. Flat Earth Theory yang diisi dengan bumbu konspirasi tentu menjadi daya tarik tersendiri untuk dibahas. Tidak sedikit orang melakukan debat kusir mempertahankan pendapatnya. Tidak jarang dengan kata-kata yang kurang pantas. Ada juga yang ikutan sok tahu kayak saya ^_^. Tidak sedikit juga orang yang tidak mau ambil pusing untuk membahasnya. Lebih baik berbekal untuk kehidupan akhirat dengan iman, ilmu dan amal shalih. Memang benar sih, debat tentang bentuk bumi cenderung tidak produktif, namun sesekali bolehlah saya ikut meramaikan pendapat yang belum tentu teruji kebenarannya. Ya, karena yang benar tentu datangnya dari Allah SWT.

Kontroversi teori bumi datar memang bukan hal baru, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu juga sudah menjadi perdebatan tak berujung. Diskusinya mungkin bisa saja langsung selesai jika pihak pendukung flat earth bisa memberikan pembuktian nyata, bukan sekedar pembuktian terbalik. Misalnya foto bumi datar dilihat dari luar angkasa bukan sekadar kritik terhadap foto buatan komputer atau Computer Generated Imaginary (CGI) yang diterbitkan NASA. Atau foto dinding es di antartika ketimbang sibuk menganalisa kebenaran tentang peluncuran satelit atau pendaratan di bulan. Jika dilihat dari berbagai video dan penjelasan yang banyak tersebar di dunia maya, argumentasi pendukung flat earth memang seakan-akan ilmiah, penuh asumsi dan cocokologi yang seolah merupakan suatu kebenaran.

Ya, saya pribadi cenderung mengambil pendapat bahwa bumi ellipsoid, bulat dengan sedikit pemampatan di kedua kutubnya, sampai ada pembuktian nyata yang benar-benar memperlihatkan bentuk lain dari bumi. Adapun berbagai peta bumi datar yang salah satu di antaranya ada dalam bendera PBB adalah untuk memudahkan gambaran keseluruhan negara. Gambar globe dua dimensi tidak akan memperlihatkan gambar di sisi sebaliknya, masak iya bendera gambarnya harus dibuat bolak-balik agar tidak ada negara yang merasa dianaktirikan. Tapi bukankah dalam Al Qur’an banyak disebutkan bahwa bumi dihamparkan? Ayolah, hamparan itu bukan berarti datar tetapi luas membentang. Tersedia, siap untuk diapa-apain. Lagipula penjelasan lebih lengkap bisa dilihat dalam tafsirnya, tanpa harus cocokologi. Setahu saya sih tidak ada ayat dalam Al Qur’an yang secara eksplisit menyebutkan bentuk bumi bulat atau datar. CMIIW.

Saya bukan pakar astronomi, apalagi ahli astrologi ^_^. Sebagai orang awam, saya beranggapan bahwa satu kebohongan akan mendatangkan kebohongan yang lain. Bisa dibayangkan betapa banyaknya kebohongan yang harus ditutupi jika ternyata bumi benar-benar datar. Bukan hanya membohongi tentara yang menjaga antartika dan keluarganya, juga harus membohongi semua ilmuwan, pekerja yang bergerak di bidang teknologi satelit dan keantariksaan, dan banyak lagi kebohongan yang harus dibuat dan disembunyikan rapat. Lebih jauh lagi, saya malah melihat teori bumi datar ini masih memiliki banyak celah. Misalnya, rasi bintang pari/ layang-layang yang selalu terlihat di selatan. Jika bumi datar dan bintang ada dalam kubah bumi, rasi bintang selatan di Indonesia seharusnya terlihat di barat atau timur dari wilayah yang berbeda 90 derajat dari Indonesia, atau bahkan terlihat di ujung utara dari wilayah yang berseberangan dengan Indonesia. Itu baru bicara tentang rasi bintang, belum lagi penjelasan tentang aurora dan efek Coriolis yang sulit dijelaskan dengan teori bumi datar.

Selanjutnya mengenai perbedaan waktu. Semakin jauh dari kutub utara bumi datar, perbedaan waktunya akan semakin kecil untuk jarak yang sama, namun kenyataannya tidaklah demikian. Teori bumi datar juga akan kesulitan untuk menjelaskan mengenai tahun syamsiyah dan tahun qomariyah sebab kecepatan revolusi matahari sama dengan revolusi bulan. Fenomena gerhana dalam teori bumi datar cuma bisa dijelaskan sebatas asumsi adanya antimoon, padahal gerhana sudah ada sejak zaman dahulu, jauh sebelum freemason –apalagi NASA—yang dituding sebagai konspirator didirikan. Selain itu jika matahari tetap ada di atas mengapa es di kutub utara tidak mencair? Atau mungkin ada konspirasi berupa freezer raksasa di kutub utara? :D

Pun demikian, teori bumi datar sukses membuat saya kembali mempertanyakan tentang kebenaran akan rotasi bumi. Jika memang bumi bergerak mengitari matahari (heliosentris) ataupun sebaliknya (geosentris), tanpa rotasi bumi pun sudah akan terjadi siang dan malam, hanya lamanya siang dan malam saja yang mungkin berubah. Tapi waktu itu pun relatif, karena sebenarnya lamanya waktu satu harilah yang dipakai untuk menentukan kala rotasi, bukan sebaliknya. Sulit membayangkan bumi bergerak dengan kecepatan lebih dari 1600 km/jam tapi kita sama sekali tidak merasakannya. Penjelasan yang ada hanyalah bahwa kita berada dalam sistem yang bergerak dengan percepatan nol sehingga tidak merasakan putaran yang begitu cepat. Lalu mengapa jika kita naik mobil atau kereta dengan kecepatan konstan (percepatan nol), kita tetap merasa bergerak? Karena kita terpengaruh dengan gerak semu di sekeliling kita, konon jika kita naik komedi putar dalam kotak tertutup raksasa, kita pun tidak akan merasakan putaran komedi putar. Benarkah?

–bersambung–

Wada’an Ya Syahru Ramadhan

Wada’an Ya Syahru Ramadhan…

Idul Fitri tinggal menghitung hari, cepat sekali, dinanti sekaligus ditangisi
Lebaran telah di hadapan, membahagiakan sekaligus mengharukan
Amal shalih kembali penuh tantangan, tak lagi begitu ringan dilakukan
Lapar dan dahaga tak lagi warnai keseharian, setan pun lepas ikatan

Lidah tak lagi mudah dijaga, seolah dusta, amarah dan ghibbah hanya dosa di bulan puasa
Ibadah tak lagi jadi fenomena biasa, masjid kembali hampa, jama’ah entah kemana
Qur’an kembali disimpan, hanya terdengar di pengajian, tahlilan dan event tahunan
Orang-orang kembali sibuk dengan dunianya, melupakan tempat kembalinya

Wada’an Ya Syahru Shiyam…

Sedih berbalut sesal dan harapan mengiringi kepergian bulan Ramadhan
Entah diterimakah semua amalan dan diampunikah segala dosa kesalahan
Entah masihkah diperkenankan tuk bersua kembali di tahun depan

Yang tersisa hanya kekecewaan, sebab waktu tak bisa kembali ataupun dihentikan
Oh, rindu ini belum terpuaskan, ingin rasanya menambah lama masa kebersamaan
Ulangi kembali masa yang berlalu tanpa kebaikan agar tak berbuah penyesalan

Wada’an Ya Syahru Maghfirah…

Malu rasanya menangis memohon ampunan atas kelalaian mengisi tiap detik Ramadhan
Air mata tumpah sebanyak apapun takkan mengubah kesia-siaan menjadi keberkahan
Takut akan tak diterimanya amal jauh lebih besar dari kebahagiaan menyambut Syawal
Akhirnya, hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah lah do’a dan harapan ini kutitipkan

Nuansa indah Ramadhan takkan kubiarkan berlalu begitu saja di bulan selanjutnya
Efek keberkahan Ramadhan kan terus kujaga, terima kasih telah singgah memberi warna

Wada’an Ya Syahru Mubarak… Ilal liqo…

Puasa: Metamorfosis Kupu-kupu atau Lebah?

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibangun manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An-Nahl: 68 – 69)

Ibadah puasa kerap dianalogikan sebagai proses metamofosis yang dilakukan ulat untuk berubah menjadi kupu‑kupu, yaitu perubahan dari sesuatu yang menjijikkan dan menakutkan (ulat) menjadi sesuatu yang indah dan menarik serta memberi banyak manfaat bagi makhluk lain (kupu-­kupu). Analogi menarik, dan lebih menarik dibandingkan jika mengambil analogi metamorfosis yang dilakukan binatang lain, seperti capung, jangkrik, belalang, lalat, ataupun nyamuk. Apalagi jika dibandingkan metamorfosis katak atau kecoa. Puasanya ulat juga lebih menarik untuk diambil hikmahnya dibandingkan dengan puasanya hewan lain seperti unta, kukang, ular, biawak, ataupun ayam betina.

Namun ada binatang yang juga melakukan metamorfosis sempurna –melewati fase telur, larva (ulat), pupa (kepompong), imago (dewasa)– yang seakan dilupakan. Salah satu dari tiga serangga yang menjadi nama surah dalam Al Qur’an, yaitu lebah. Jika kata An Nahl (lebah) dijadikan nama surah ke-16 Al Qur’an dan disebutkan dalam ayat ke-68 di surah tersebut, kata Al Farasya (kupu-kupu) justru disebutkan dalam surah Al Qari’ah yang menggambarkan kondisi manusia ketika datang hari kiamat. “Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran” (QS. Al Qari’ah: 4). Lalu bagaimana perbandingan analogi metamorfosis pada kupu-kupu dan lebah dengan puasa Ramadhan?

Fase telur kupu-kupu dan lebah relatif sama. Bedanya kupu-kupu bertelur di outdoor sementara lebah bertelur dalam sarangnya. Lebih aman, dijaga lebah dewasa pula. Selanjutnya telur menetas menjadi larva (ulat). Larva kupu-kupu (ulat) sangat menjijikkan bentuknya, kadang bahkan tubuhnya diselimuti duri yang beracun. Tidak sampai mematikan manusia sih, tapi cukup membuat bengkak dan gatal-gatal. Tidak hanya itu, ulat ini sangat aktif makan (jika tidak bisa dibilang serakah) sehingga merusak tumbuhan yang ditinggalinya. Sementara larva lebah tetap tinggal di sarangnya, makanannya pun disediakan oleh lebah yang merawatnya. Secara fisik memang agak menggelikan –istilah yang sepertinya lebih tepat dibandingkan menjijikkan—namun larva lebah tidak merusak. Bahkan dengan komposisi yang dikandungnya, larva lebah dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Menganalogikan manusia sebelum Ramadhan dengan ulat berarti memandang calon kontestan Ramadhan sebagai pribadi menakutkan yang berbuat kerusakan. Analogi yang lebih cocok untuk menggambarkan orang kafir sebelum memperoleh hidayah. Padahal sebelum Ramadhan, umat muslim seharusnya sudah mulai membiasakan amal shalih yang nantinya akan diperkuat di bulan Ramadhan. Bekal Ramadhan bukanlah dengan makan sebanyak mungkin atau berbuat kerusakan sebesar mungkin. Dalam konteks muhasabah (introspeksi) mungkin boleh, tetapi terlalu hina memandang diri sendiri juga bisa membuat manusia berputus asa dari Rahmat Allah. Yang lebih tepat adalah menyadari kekurangan diri, memperbanyak bekal persiapan, tidak berbuat kerusakan dan terus mencoba memberikan manfaat. Bisa saja Allah tidak menyampaikan pada bulan Ramadhan. Ya, seperti larva lebah.

Selanjutnya, larva kupu-kupu dan lebah akan menjadi pupa selama beberapa hari, pekan atau bulan (tergantung spesiesnya) dan berkembang ke bentuk yang lebih baik mengandalkan cadangan makanan yang diperolehnya ketika menjadi larva. Proses di dalam pupa kupu-kupu lebih radikal karena terjadi histolisis atau penghancuran dari dalam jaringan atau tubuh sendiri menggunakan cairan yang sebelumnya digunakan untuk mencerna makanan. Lalu histoblast pada larva akan menyusun ulang tubuh tersebut sehingga mampu menghasilkan bentuk yang (jauh) berbeda dengan fase larvanya. Kondisi pupa ini tidak boleh bocor atau mendapat gangguan berarti karena dapat menggangu jalannya histogenesis atau proses penyusunan ulang. Lebah lebih beruntung karena selama fase pupa dijaga oleh lebah dewasa, selain itu cadangan makanan yang ada di sarang (luar tubuh) membuat histolisisnya tidak terlalu radikal.

Seberapa revolusioner puasa mampu mengubah seseorang memang dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah hidayah dan persiapan menjelang Ramadhan. Persiapan Ramadhan yang cukup tidak akan mendatangkan lonjakan semangat tinggi sesaat ketika Ramadhan yang kemudian lenyap setelah Ramadhan berlalu. Namun memang ada manusia yang memperoleh pencerahan sebagai titik baliknya di bulan Ramadhan. Ia akan berubah secara signifikan keluar dari Ramadhan. Apalagi di dalam Ramadhan ada malam Lailatur Qadar yang juga menjanjikan hal tersebut. Namun ada juga yang berubah secara inkremental atau continuous improvement. Perubahan yang biasanya lebih terjaga.

Kemudian, dari pupa tersebut keluarlah kupu-kupu dan lebah dewasa. Kupu-kupu harus berjuang hidup dalam kemandirian, sementara lebah hidup dalam koloni. Bukan sekedar berjama’ah, lebah juga itqon (profesional). Koloni lebah memiliki pembagian tugas yang jelas, teratur, tertib, disiplin, dan penuh semangat bergotong-royong. Sementara kupu-kupu lebih individualis. Lebah juga gesit dan pekerja keras. Sayapnya berkepak hingga ratusan kali per detik. Dalam sehari, lebah pekerja mampu mengumpulkan nektar dari 250 ribu tangkai bunga dan butuh jarak tempuh lebih dari 1 juta kilometer untuk menghasilkan 1 kg madu. Lebah juga berani dan rela berkorban, menyengat musuh akan membawanya pada kematian. Sementara kupu-kupu lebih indah dipandang. Ya, hanya itu. Pun lebah juga arsitek pembuat sarang indah sih. Kupu-kupu dan lebah sama-sama berperan sebagai polinator yang membantu proses penyerbukan, dan sama-sama makan yang baik tanpa merusaknya. Bedanya, lebah akan menghasilkan madu, lilin lebah, tepung sari (pollen), propolis, susu lebah (royal jelly), hingga sengat lebah yang semuanya bermanfaat. Sedangkan kupu-kupu menghasilkan telur yang akan menjadi larva (ulat) yang menjijikkan dan merusak.

Keberkahan ibadah Ramadhan seseorang dapat dilihat selepas Ramadhan, bukan hanya secara fisik, namun juga dari kekuatan ruhiyah dan apa yang ditinggalkan. Ramadhan bukanlah bulan untuk menguruskan badan sehingga lebih enak untuk dilihat. Bukan pula bertujuan menghasilkan lulusan madrasah Ramadhan yang seakan berbeda dengan sebelum Ramadhan. Ramadhan mengharapkan ada jejak perbaikan jelas yang ditinggalkan, kontribusi nyata yang diberikan, dan kebaikan yang diwariskan. Menghadirkan banyak kebaikan secara berjama’ah dan terorganisir. Tidak hilang kebaikannya seiring berlalunya Ramadhan. Tidak kembali membuat kerusakan dan terlalaikan oleh tipu daya dunia. Ya, menjadi seperti lebah, bukan belalang kupu-kupu yang inkonsisten.

Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku” (HR. Muslim)

Dikira Enak Jadi Guru? (2/2)

Selepas istirahat, waktunya pelajaran matematika yang paling jadi momok menakutkan buat siswa. Bu Guru menyadari bahwa ia harus membuat kelasnya seaktif dan semenyenangkan mungkin. Bu Guru memulai kelas dengan bertanya kepada Sandi, “Sandi, apa yang sudah kita pelajari di pekan lalu?”. “Plis lah Bu, yang udah lalu ga usah diingat-ingat lagi, saya mau move on nih…”, jawab Sandi seraya menunjukkan mimik aneh diiringi tawa murid yang lain. “Sudah! Tenang! Hari ini kita lanjutkan materi tentang sudut segitiga…”, ujar Bu Guru sambil membawa kapur dan penghapus menuju papan tulis. Bu Guru menghapus tulisan dari pelajaran sebelumnya kemudian menggambar sebuah segitiga sama sisi.

“Baik anak-anak, ini adalah segitiga ABC. Segitiga sama sisi yang panjang ketiga sisinya sama”, jelas Bu Guru menunjuk segitiga yang digambarnya. “Besar sudut A adalah 60 dera…?”, tanya Bu Guru. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak. “Besar sudut B adalah 60 dera…?”, tanyanya lagi. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak. “Dan besar sudut C juga 60 dera…?”, tanyanya lagi. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak. “Jadi, ketiga sudut segitiga sama sisi sama be…”, tanyanya lagi. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak sambil tertawa. “Haduh, yang benar ketiga sudutnya sama besar!!”, teriak Bu Guru sambil memukulkan penghapus di papan tulis agar para murid terdiam. “Kalian ini kelas berapa sih? Kok pada ga bisa serius. Ibu kasih soal yang mudah biar tahu kalian fokus atau tidak”, lanjutnya. Para murid pun (seolah-olah) menatapnya serius. “Pertanyaannya, jika tante kalian memberi 5 permen kepada kalian, kemudian di tambah lagi dengan 7 permen, ditambah lagi 12 permen, ditambah lagi 19 permen maka jawabannya adalah…?”, tanya Bu Guru berharap muridnya mau sedikit berpikir. “Terima kasih, Tanteee!!”, jawab murid-murid serentak sambil tergelak. Bu Guru hanya menepuk jidatnya, tak sadar masih memegang penghapus, sehingga jidatnya jadi putih. Tawa para siswa pun kian membahana.

Pelajaran Matematika pun berjalan dengan tidak kondusif, mungkin para siswa kekenyangan jajan pas jam istirahat tadi. Laper galak, kenyang bego. Melihat murid-murid malah asyik ngobrol atau sibuk sendiri, Bu Guru pun marah,“Kalian ini pada ngobrol aja! Apa kalian tidak ada yang mau mendengarkan pelajaran?”. ”Tidak, Buuu…”, jawab serentak murid-murid menambah kesal. “Dasar nakal! Kalau begitu kenapa kalian datang ke sekolah?”, tanya Bu Guru. “Biar pintar, Buuu…”, jawab para murid serentak. “Baik, kalau begitu siapa yang masih merasa bodoh silakan berdiri, nanti biar Ibu ajari!”, tegas Bu Guru. Murid-murid terdiam, tidak ada yang bersuara, tidak ada yang berdiri. “Hmm, jadi sudah merasa pintar semua ya? Jadi ga ada yang mau belajar?”, sindir Bu Guru. Tiba-tiba Lutfi berdiri. “Bagus Lutfi, kamu masih merasa bodoh dan perlu belajar ya? Cuma kamu sendiri?”, tanya Bu Guru. “Tidak, Bu. Saya cuma kasihan..”, jawab Lutfi. “Hah? Kasihan kenapa?”, tanya Bu Guru. “Kasihan lihat Ibu berdiri sendirian”, jawab Lutfi sambil kembali duduk. Tampak para murid cekikikan menahan tawa sementara Bu Guru sudah tidak bisa berkata-kata. Untungnya jam penanda pergantian pelajaran tiba-tiba berbunyi.

Jam pelajaran terakhir adalah IPS. Cukup membosankan karena belajar sejarah banyak hapalannya, apalagi ini waktu-waktu kritis menjelang pulang. “Anak-anak, kemerdekaan RI diperoleh dengan perjuangan keras para pahlawan yang rela berkorban jiwa dan raga. Namun saat ini kita harus mengupayakan perdamaian dan menghindari peperangan. Kenapa kira-kira?”, pancing Bu Guru agar para muridnya berpartisipasi aktif. “Saya, Bu!”, Galih mengacungkan tangannya. “Agar tidak bertambah daftar para pahlawan yang harus kami hapal, Bu!”, lanjutnya. Seisi kelas pun memberikan koor setuju. Bu Guru hanya geleng-geleng kepala seraya mengulek-ulek kapur yang dipegangnya.

Pelajaran pun dilanjutkan. “Siapa saja para pahlawan revolusi?”, tanya Bu Guru di kesempatan lain. “Parah nih Ibu, pahlawan revolusi siapa aja ga tau…”, jawab Alan. “Dengar ya, Bu. Kami tuh datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk ditanya-tanyain kayak gini. Bikin pusing saja…”, timpal Lutfi. “Bu, kalau banyak nanya, mendingan Ibu jadi polisi aja…”, tambah Galih. Aarrrgghh… teriak Bu Guru sambil mencoret-coret buku presensi kehadiran siswa. Bu Guru merasa menyerah, jam pelajaran juga akan berakhir. “Baik, jika kalian sudah ingin pulang. Bagi yang bisa menjawab boleh pulang lebih dulu…”, ucapnya lemah. “Pertanyaannya, dimana Jendral Soedirman dimakamkan?”, tanya Bu Guru. “Saya, Bu!”, beberapa siswa mengacungkan tangannya dengan penuh semangat. “Ya, kamu Heri”, ucap Bu Guru kepada Heri yang cukup pendiam dan tidak terlihat nakal. “Di kuburan, Bu”, jawab Heri polos. Anak-anak tertawa, Bu Guru semakin lemas. “Lho, benar kan? Dimakamkan di kuburan? Emangnya dimana?”, ucap Heri tampak kebingungan. Tiba-tiba Asep mengangkat tangannya dan berkata, “Bu Guru, saya boleh tanya?”. “Silakan…”, jawab Bu Guru singkat. “Bicara dimana dimakamkan, semua manusia pasti mati kan, Bu?”, tanyanya. “Betul”, jawabnya singkat dan serius. “Pertanyaannya, kalau Bu Guru rencananya kapan?”, tanyanya lagi disertai gelak tawa seisi kelas. Bu Guru yang gregetan guma bisa gigit-gigit kalender di mejanya.

* * *

Alhamdulillah, selesai juga pembelajaran untuk hari ini. Lelah fisik ini tidak seberapa dibandingkan lelah hati dan pikiran. Aku tidak boleh mengeluh, masih banyak guru-guru yang bernasib lebih buruk dari pada aku. Masih mending murid-muridku masih aktif menanggapi pertanyaanku, se-ngaco apapun jawabannya, itu tandanya mereka masih memperhatikanku. Dengan atau tanpa mereka sadari. Ada temanku sesama guru yang benar-benar diacuhkan sepanjang pelajaran layaknya berbicara dengan tembok. Ada juga rekanku yang lain yang lelah diintervensi oleh kepala sekolah dan para wali murid dalam men-treatment peserta didiknya. Temanku di salah satu sekolah elit malah dibentak muridnya yang berkata, “Ibu kan ngajar disini kami yang bayar!”. Sedih. Bahkan ada salah seorang rekanku yang dilecehkan secara fisik dan verbal oleh muridnya. Entah apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kewibawaan pendidik dan pendidikan. Yang pasti kesabaran dan keikhlashan ini harus terus dirawat. Karena pengabdian butuh keikhlashan. Karena mendidik memang butuh kesabaran.

*humor dikompilasi dari berbagai sumber

Jadi, Siapa Menghormati Siapa?

Suatu hari di bulan Ramadhan di dunia paralel*

Dini hari yang riuh seperti biasanya, ramai anak-anak membangunkan orang untuk makan sahur dengan berbagai kebisingan. Berisik sekali. Tapi disini toleransi begitu besar, warga tak boleh memprotes kegaduhan yang terjadi. Bahkan orang tua harus mengondisikan bayinya untuk tidak menangis demi menghormati mereka yang bersemangat membangunkan sahur. Aku, istriku, dan anak bungsuku segera bersiap makan sahur. Sementara si sulung masih lelap dalam mimpinya. Ia sedang tak ingin berpuasa. Dan kami disini diajarkan untuk menghormati orang yang tidak berpuasa.

Tak terasa waktu shubuh telah masuk. Bergegas aku pergi ke masjid. Untuk menghormati mereka yang masih beristirahat, suara adzan shubuh dan isya melalui speaker masjid memang tidak diperdengarkan disini. Hanya adzan maghrib penanda berbuka yang masih bisa didengar dari kejauhan, konon demi menghormati orang yang berpuasa. Di sepanjang jalan menuju masjid, tidak sedikit kumpulan anak muda yang masih saja asyik berjudi dan mabuk-mabukan, padahal ini bulan Ramadhan. Berjudi dan mabuk-mabukan adalah hak mereka yang layak dihormati.

Selepas wudhu, shalat shubuh pun dilaksanakan. Sementara anak-anak di luar sana sibuk main kembang api dan perang petasan. Jama’ah yang shalat harus tetap fokus untuk khusyuk, tak terganggu oleh suara-suara mengagetkan. Tidak boleh melarang juga, toh orang yang shalat harus menghormati mereka yang sedang main petasan. Selepas shalat, aku kebingungan mencari sendalku. Di tempat aku menaruhnya saat ini hanya ada sandal jepit kumal. Ah tampaknya untuk kesekian kalinya aku harus bersabar dan menghargai mereka yang ingin menukar sandal di masjid.

Sabtu ini aku berangkat lebih awal ke tempatku mengajar dengan naik angkutan umum. Motorku masuk bengkel setelah kemarin tertabrak sebuah mobil pribadi yang pindah jalur seenaknya. Parahnya lagi, alasan apapun tidak berguna menghadapi mobil selaku penguasa jalan. Bus yang kunaiki penuh. Kulihat beberapa manula dan ibu hamil terpaksa berdiri karena hak tempat duduk dimiliki mereka yang lebih dulu naik. Toleransi yang tidak berempati. Di sepanjang jalan, resto dan warung makan buka seperti biasa untuk menghormati mereka yang tidak berpuasa. Para pejalan kaki tampak berjalan hati-hati karena harus mendahulukan sepeda motor sebagai penguasa trotoar. Sial, terjadi kesemrawutan di perempatan jalan sehingga macet parah. Sepertinya (lagi-lagi) karena ada pengendara mobil yang tidak mendahulukan mobil lain yang sedang terburu-buru. Mentang-mentang lampu hijau main jalan saja.

Akhirnya aku tiba di sekolah. Agak terlambat memang, tapi tak apalah. Sebagai guru aku kan punya hak telat. Apalagi macet tadi bukan alasan yang mengada-ada. Kepala sekolah tidak mungkin menghukumku sebagaimana aku tidak bisa menghukum murid-muridku yang datang terlambat ke kelas. Jangankan menghukum, sekadar memarahi mereka yang mengganggu kegiatan belajar mengajar saja bisa panjang urusannya. Menghormati hak peserta didik merupakan salah satu etika guru yang harus dijunjung tinggi.

Salah satu hak peserta didik adalah datang ke sekolah dengan pakaian bebas, tidak ditentukan pihak sekolah. Hal ini mendorong siswa untuk berpakaian sebagus mungkin tanpa memandang status sosial. Memang ada sih siswa yang bajunya itu-itu saja, ada juga yang berbusana nyentrik untuk menarik perhatian. Tapi syukurlah aku belum menemukan siswa yang datang ke sekolah dengan tidak berpakaian. Karena sebagaimana kecenderungan seksual (homoseksual, heteroseksual atau biseksual), menjadi nudis juga merupakan pilihan yang harus dihormati disini.

Kelas berjalan dengan lancar. Bebas dan menyenangkan. Setiap siswa diberikan keleluasaan untuk belajar dan melakukan apa yang diinginkannya, termasuk berkeliaran ataupun mengganggu guru dan temannya. Mencontek juga bukan hal yang tabu. Ujian pun ditiadakan karena dianggap berpotensi membebani peserta didik. Guru adalah partner belajar yang egaliter, tidak boleh memerintah muridnya, termasuk memberinya pekerjaan rumah. Termasuk tidak diperkenankan menyuruh muridnya untuk rajin belajar atau rajin beribadah. Kesadaran dan inisiatif murid dibangun untuk menemukenali potensinya masing-masing. Terdengar hebat, bukan?

Selepas zhuhur, aku merebahkan badan di tempat ibadah. Lelah juga mengajar sambil berpuasa, mana tidak sedikit murid yang dengan santainya makan minum di dalam kelas. Sambil memejamkan mata, pikiranku menjelajah memasuki dunia paralel. Menuju ke sebuah tempat dimana penghormatan diberikan selayaknya. Orang muda yang menghormati orang tua sehingga orang tua bisa menyayangi mereka. Kelompok minoritas yang menghormati kelompok mayoritas sehingga kelompok mayoritas dapat menjaga mereka sebagaimana yang besar mengayomi yang kecil, dan yang kuat melindungi yang lemah. Mereka yang tidak beribadah menghormati orang-orang yang beribadah sehingga kecipratan berkahnya. Mereka yang belum baik menghormati orang-orang yang berbuat baik sehingga kebaikan akan semakin bernilai. Tempat dimana setiap orang bukan sekadar menyadari haknya, tetapi memahami bahwa ada hak orang lain di setiap haknya. Tempat dimana toleransi bukan berarti bebas berbuat semaunya, bukan pula pembatasan berstandar ganda.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tepukan halus di bahuku. Ternyata petugas tempat ibadah ini membangunkanku. Terlihat ia membawa alat pembersih dan sebuah salib besar. Aku segera bangkit, baru ingat bahwa nanti malam tempat ini akan digunakan untuk ibadah hari sabat sehingga harus dibersihkan. Aku keluar membawa banyak pertanyaan dan kegelisahan. Sepertinya ada yang keliru, tapi jika semua orang menganggapnya benar tentunya bukan sebuah kekeliruan. Ah, jadi bingung. Kutinggalkan tempat ibadah multi agama yang kian sedikit dan sepi saja. Manusia semakin banyak yang menuntut haknya sebagai hamba sekaligus mempertanyakan Hak Tuhan. Sembah menyembah dianggap diskriminatif. Entahlah, segala masalah penghormatan ini cuma bikin pusing, dan semua perkara toleransi ini hanya bikin hilang akal. Yang terpenting aku masih berbuat baik dan tidak berbuat jahat pada orang lain. Tapi, benarkah?

 

*dunia paralel adalah sebuah dunia yang berjalan sejajar dengan dunia realita. Keberadaannya masih merupakan misteri. Namun istilah dunia paralel dalam berbagai karya fiksi dan meme kerap diidentikkan dengan dunia berkebalikan (flip world).