Bertetangga Sampai ke Surga (2/2)

Tetangga dalam KBBI didefinisikan sebagai orang yang tempat tinggal atau rumahnya berdekatan. Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan tetangga. Ada yang mengukurnya dari radius 40 rumah, ada yang membatasinya dari masih terdengarnya adzan, ada yang melihatnya dari pelaksanaan shalat berjama’ah, ada pula yang mendefinisikannya dengan batasan wilayah. Apapun pendekatannya, tetanggalah pihak di luar keluarga yang (seharusnya) paling mengenal keseharian kita. Bahkan dalam keadaan darurat, tetangga lah yang paling diharapkan untuk membantu, karena bisa jadi keluarga kita ada nun jauh di tempat lain. Tak hanya keselamatan diri, tetangga pun sangat berperan dalam memastikan keamanan rumah kita apalagi ketika kita tidak sedang berada di rumah. Dan peran penting ini tidak melihat SARA, karenanya kewajiban berbuat baik terhadap tetangga pun tidak dibatasi suku, agama, ras, dan antar golongan.

Saat ini, di berbagai tempat, sekat-sekat bertetangga semakin besar. Tembok dan pagar semakin tinggi, antar tetangga tidak saling mengenal dengan dalih tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Semakin menjauh dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Alhasil, ada beberapa peristiwa tragis kematian seseorang yang baru diketahui sekian lama oleh tetangganya dari bau busuk mayatnya. Ada kisah ironis perjuangan seorang ayah yang tak mampu mengubur mayat anaknya. Ada kejadian miris seseorang baru mengetahui rumah tetangganya adalah pabrik narkoba setelah digerebek aparat. Dan berbagai cerita lain yang muncul karena tetangga tidak saling mengenal. Bagaimana bisa saling membantu jika kenal saja tidak? Bagaimana bisa hak bertetangga ditunaikan? Belum lagi jika didaftar konflik antar warga yang sebagian besarnya bermula dari hal yang remeh-temeh.

Padahal tetangga adalah salah satu wasilah menuju jannahnya. Teladan kita, Rasulullah SAW dikenal memperlakukan tetangganya dengan sangat baik, termasuk tetangga yang non muslim. Akhlak ini kemudian diwariskan ke generasi sahabat dan salafusshalih. Selain kisah Ibnul Mubarak di atas, dalam berbagai literatur kita akan mendapati berbagai kisah perbuatan baik ulama terdahulu terhadap tetangganya, di antaranya ada kisah Hasan Al Bashri, Malik bin Dinar, Sahal al Tustari, Ibnu Jad’an dan sebagainya. Imam Bukhari meriwayatkan kisah Abdullah bin ‘Amr Al Ash yang menyembelih seekor kambing kemudian berkata kepada seorang pemuda, “Akan aku hadiahkan sebagian untuk tetangga kita yang orang Yahudi”. Pemuda tadi berkata, “Hah? Engkau hadiahkan kepada tetangga kita orang Yahudi?”. Abdullah bin ‘Amr berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris”.

Berbuat baik disini banyak bentuknya mulai dari tidak melakukan sesuatu yang dapat mengganggu tetangga hingga aktif menolong tetangga yang membutuhkan. Salah satu perbuatan baik yang dianjurkan adalah berbagi makanan. Rasulullah SAW bersabda, “Jika engkau memasak sayur, perbanyaklah kuahnya. Lalu lihatlah keluarga tetanggamu, berikanlah sebagiannya kepada mereka dengan cara yang baik” (HR. Muslim). Bahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Baihaqi disebutkan tidaklah dikatakan beriman seseorang yang kenyang perutnya sementara tetangganya kelaparan. Karenanya, dalam bertetangga semestinya dilandasi visi akhirat. Saling mengenal, saling memahami, saling melengkapi, dan saling menolong antar tetangga bukan hanya demi terciptanya harmoni hidup bermasyarakat. Rasa aman, tenang, dan nyaman buah dari menjaga hak dan kewajiban bertetangga semoga bisa terus terpelihara hingga dipertemukan kembali di Jannah-Nya. Tempat kembali bagi mereka yang saling mencintai karena Allah, saling mengingatkan dan saling menolong karena Allah. Bertetangga karena Allah, bertetangga sampai ke surga.

Jadilah engkau orang yang wara’, niscaya akan menjadi manusia yang paling ahli beribadah. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya akan menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya akan menjadi seorang mukmin. Dan bertetanggalah dengan baik terhadap tetanggamu, niscaya akan menjadi seorang muslim”.
(HR. Ibnu Majah)

Bertetangga Sampai ke Surga (1/2)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri
(QS. An Nisa: 36)

Dikisahkan, selepas melaksanakan rangkaian manasik haji, ‘Abdullah bin Al-Mubarak tertidur di Masjidil Haram. Dalam mimpinya, ia melihat dua malaikat turun dari langit. Salah seorang dari malaikat itu bertanya, “Berapa orangkah yang melaksanakan haji tahun ini?” Malaikat yang ditanya menjawab, “Enam ratus ribu orang.” Malaikat pertama bertanya lagi, “Berapa orang dari mereka yang ibadah hajinya diterima?” Malaikat kedua menjawab, “Tak seorang pun dari mereka”. Ibnul Mubarak terkejut dan bersedih, dalam hati berkata, “Orang-orang yang melaksanakan haji itu telah berkumpul berlelah-lelah, mereka berdatangan dari seluruh penjuru seraya membelah gurun, lantas mereka dianggap sia-sia di sisi Allah?!” Lalu ia mendengar Malaikat kedua berkata, “Namun, ada seorang lelaki tukang sol sepatu yang tinggal di Damaskus, namanya ‘Ali bin al-Muwaffaq. Dia tak ikut melaksanakan ibadah haji, tetapi Allah menuliskan baginya pahala ibadah haji secara sempurna, lalu dengan sebab keberkahan lelaki ini, Allah pun berkenan menerima ibadah haji orang-orang yang melaksanakan haji ini.”

Ibnul Mubarak terbangun dari tidurnya, bergegas pergi menuju Damaskus untuk menemui lelaki tukang sol sepatu bernama ‘Ali bin al Muwaffaq berbekal nama dan pekerjaannya. Singkat kisah, Ibnul Mubarak berhasil menemui lelaki tersebut dan berbicara dengannya. Ibnu Mubarak bertanya, “Beritahukanlah kepadaku tentang keadaanmu, sampai-sampai kau disebut dalam mimpiku”. Al-Muwaffaq pun bercerita bahwa sejak 30 tahun lalu ia bertekad untuk mengunjungi Ka’bah dan berhaji. Ia selalu menyisihkan sedikit uang hasil pekerjaannya hingga terkumpul sejumlah 350 dirham. Ia berharap bisa menggenapkannya menjadi 400 dirham sehingga bisa berangkat haji tahun ini. Saat itu, istrinya yang sedang hamil mencium bau masakan dari salah satu rumah tetangga. Istrinya sangat ingin untuk bisa mencicipi makanan itu. Al-Muwaffaq lantas mendatangi rumah tetangganya, meminta sedikit makanan tersebut seraya memberitahu tentang keinginan istrinya yang sedang hamil.

Begitu mendengar permintaan Al-Muwaffaq, perempuan pemilik rumah tersebut lantas menangis dan berkata, “Aku mempunyai beberapa orang anak yang masih kecil. Mereka yatim tak lagi punya ayah. Sudah seminggu ini mereka tak makan. Tadi aku memasuki area puing reruntuhan, lalu kutemukan di sana bangkai keledai. Aku pun mengambil sepotong dagingnya. Daging itulah yang ada di dalam periuk itu, dan itu halal bagi kami tetapi haram bagi kalian.” Setelah mendengar kisah perempuan tersebut, Al-Muwaffaq merasa iba, bergegas kembali ke rumah dan mengambil uang simpanannya. Uang sebanyak 350 dirham tersebut dibawanya dan diberikan semuanya kepada perempuan itu untuk nafkah keluarganya. Dalam hatinya ia berniat, “Dermaku inilah yang akan menunaikan bagiku kewajiban haji dan kedudukannya dengan pertolongan Allah.” Mendengar penuturan Al Muwaffaq, berkatalah Ibnul Mubarak, “Kau benar. Malaikat yang berbicara dalam mimpiku pun benar, dan Yang Maha Kuasa berlaku adil dalam hukum dan keputusan. Sungguh Allah lebih mengetahui hakikat segala sesuatu.”

Berbuat baik kepada tetangga diganjar pahala haji mabrur, kenapa tidak? Perilaku seseorang terhadap tetangganya memang mencerminkan keimanan seseorang. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia muliakan tetangganya”. Atau dalam hadits lain disebutkan, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya”. Dan keimanan ini menjadi syarat menggapai surga. “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari – Muslim). Dan tidak ada istilah sedikit atau ringan dalam hal menyakiti tetangga (HR. Thabrani). Karenanya, menjaga hak bertetangga menjadi keharusan bagi mereka yang merindukan surga.

(bersambung)

Ramadhan Bulan Peningkatan (2/2)

Selanjutnya, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 184 yang menyampaikan tentang keringanan (rukhshah) bagi orang-orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan atau bagi orang-orang yang berat menjalankannya, diakhiri dengan kalimat “…wa an tashumu khairullakum in kuntum ta’lamun”. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Ayat-ayat rukhshah biasanya diiringi dengan penjelasan mengenai kemurahan Allah SWT. Misalnya dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 173, Al Maidah ayat 3, Al An’am ayat 145, dan An Nahl ayat 115 yang memberi rukhshah bagi mereka yang memakan bangkai, darah, daging babi, dan sembelihan dengan menyebut nama selain Allah SWT, karena terpaksa dan tidak melampaui batas, kesemua ayat tersebut diakhiri dengan Sifat Allah Yang Maha Pengampun (Al Ghafur) lagi Maha Penyayang (Ar Rahim). Atau dalam Al Qur’an Surah An Nisa terkait rukhshah berupa tayammum, juga ditutup dengan Sifat Allah Yang Maha Pema’af (Al Afuww) lagi Maha Pengampun (Al Ghafur).

Adapun dalam Al Qur’an Surah Al Maidah ayat 6 tentang rukhshah berupa tayammum diakhiri dengan kalimat: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. Kalimat yang mirip dengan rukhshah mengganti puasa bagi mereka yang sakit atau dalam perjalanan dalam Surah Al Baqarah ayat 185: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”. Hal ini menunjukkan kemurahan Allah SWT tetaplah ada, walaupun ada keutamaan jika tidak mengambil rukhshah. Ya, cara selanjutnya untuk meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan adalah menjalaninya dengan penuh kesungguhan, tidak mudah memberikan excuse ke diri sendiri. Target besar Ramadhan hanya dapat dicapai bahkan dilampaui dengan persistensi dan determinasi tinggi. Tidak mudah menyerah, mencari alasan ataupun berusaha seadanya dan sekadar melakukan yang mudah. Peningkatan kualitas diri itu justru terletak pada perjuangan dan pengorbanan yang mengiringinya.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186). Apa hubungan berdo’a dengan berpuasa? Apa pula hubungannya dengan peningkatan kualitas diri? Persamaan terbesar antara do’a dengan puasa adalah ibadah yang sifatnya langsung ke Allah SWT. Kuat pada aspek kesertaan Allah (ma’iyatullah) dan pengawasan Allah (muraqabatullah).

Pun demikian dengan peningkatan kualitas diri, tantangan terbesarnya justru pada diri sendiri. Target Ramadhan yang sudah dibuat bisa saja dengan mudah diturunkan standarnya jika tidak tercapai, toh yang mengevaluasi diri sendiri. Aktivitas peningkatan kualitas diri selama bulan Ramadhan gampang saya ditunda atau dialihkan dengan berbagai alasan toh yang merancangnya adalah diri sendiri. Tanpa ma’iyatullah dan muraqabatullah tidak sulit mentolerir berbagai kelalaian dalam upaya peningkatan kualitas diri. Toh masih ada hari lain, toh masih ada Ramadhan tahun depan. Disinilah ihsanul amal dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas diri. Terus berbuat baik dengan atau tanpa orang lain mengetahuinya. Cermat mengawasi diri sendiri, kalaupun lalai, tetap menyadari bahwa Allah SWT tak pernah lalai mengawasi. Nuansa Ramadhan memberi stimulan yang cukup untuk bisa belajar beramal dengan ihsan dan ikhlash. Imanan wahtisaban. Tak heran jika salah satu do’a yang tidak tertolak adalah adalah do’a orang yang berpuasa sampai ia berbuka.

Selanjutnya, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 187 ada analogi yang menarik tentang suami istri, “…hunna libasullakum wa antum libasullahunna…”. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Analogi pakaian (libas) menggambarkan suami istri yang saling melengkapi dan melindungi, menjadi perhiasan dan menutupi aib, memberikan kebahagiaan dan kenyamanan. Mengapa ada analogi seperti ini dalam rangkaian ayat tentang shaum Ramadhan? Apa pula kaitannya dengan peningkatan kualitas diri? Sehebat apapun pribadi seseorang, ia tetap membutuhkan orang lain untuk terus berkembang. Peningkatan kualitas diri amatlah berat untuk diusung sendirian, harus ada (sekumpulan) orang lain yang mendampingi. Jangan sendirian!

Jelas sudah, Ramadhan adalah bulan peningkatan. Momentum berharga untuk melakukan perbaikan diri yang terus-menerus (continuous self-improvement). Guna menjadi pribadi yang bertakwa, pribadi yang pandai bersyukur, pribadi yang diberi petunjuk. Untuk menghadirkan sekumpulan orang yang bertakwa, sebagaimana telah dijanjikan Allah SWT dalam Al Qur’an. Peningkatan kualitas diri akan hadir ketika ada tujuan yang jelas, upaya nyata penuh kesungguhan untuk mewujudkannya, kecermatan dalam menjalankannya, dan sekumpulan orang yang mendukungnya. Bagaimanapun, Ramadhan bukan hanya untuk pribadi kita, namun Ramadhan ada untuk kita semua.

Barangsiapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa shalat pada Lailatul Qadar imanan wa ihtisaban, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan Bulan Peningkatan (1/2)

Ada yang aneh dari judul di atas? Bukankah seharusnya Syawal yang berarti bulan peningkatan? Ibnul ‘Allan asy Syafii mengatakan, “Penamaan bulan Syawal itu diambil dari kalimat Sya-lat al Ibil yang maknanya onta itu mengangkat atau menegakkan ekornya. Syawal dimaknai demikian, karena dulu orang-orang Arab menggantungkan alat-alat perang mereka, disebabkan sudah dekat dengan bulan-bulan haram, yaitu bulan larangan untuk berperang.” Ada juga yang mengatakan, dinamakan bulan syawal dari kata syalat an-Naqah bi Dzanabiha, artinya onta betina menaikkan ekornya. Bulan syawal adalah masa di mana onta betina tidak mau dikawini para pejantan. Ketika didekati pejantan, onta betina mengangkat ekornya. Keadaan ini menyebabkan munculnya keyakinan sial di tengah masyarakat jahiliyah terhadap bulan syawal. Sehingga mereka menjadikan bulan syawal sebagai bulan pantangan untuk menikah. Ketika Islam datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru menikahi istri beliau di bulan syawal. Untuk membantah anggapan sial masyarakat jahiliyah. Akan tetapi, kurang tepat jika dikatakan bahwa sebab mengapa bulan ini dinamakan syawal adalah karena seusai ramadhan, manusia melakukan peningkatan dalam beramal dan berbuat baik. Karena nama bulan “syawal” sudah ada sejak zaman jahiliyah (sebelum datangnya islam), sementara masyarakat jahiliyah belum mengenal syariat puasa di bulan ramadhan. Dengan demikian, tidak terdapat hubungan antara makna bahasa tersebut dengan pemahaman bahwa syawal adalah bulan peningkatan dalam beramal.

Lalu, bagaimana Ramadhan dapat meningkatkan kualitas diri? Disini ada dua terminologi yang dapat dibahas: peningkatan (improvement) dan kualitas (quality). Pertama, Ramadhan secara alami sudah menjadi momentum improvement. Berbuat baik begitu mudah di bulan Ramadhan karenanya menjadikan Ramadhan sebagai momentum perbaikan diri tidaklah menjadi hal yang aneh. Datang ke masjid untuk shalat berjama’ah, tilawah Al Qur’an selepas shalat bukan hal yang aneh di bulan Ramadhan bahkan bagi yang jarang melakukannya sekalipun. Tidak sedikit juga muslimah yang memulai berhijab di bulan Ramadhan. Sekali lagi karena momen Ramadhan sangat tepat untuk melakukan perbaikan ke arah kebaikan, bahkan barangkali lebih efektif dari momentum hijrah 1 Muharram. Karena pergantian tahun baru biasa diisi dengan evaluasi diri bukan pembiasaan melakukan kebaikan. Kesadaraan sesaat tidak akan lama bertahan, berbeda dengan momentum Ramadhan, yang bahkan gema kebaikannya dapat dirasakan dari sebelum Ramadhan hingga selepas Ramadhan.

Ramadhan bahkan seperti Poka Yoke yang menghindari manusia dari melakukan kesalahan. Poka-Yoke didefinisikan sebagai suatu konsep manajemen mutu guna menghindari kesalahan akibat kelalaian dan kesalahan karena sifat manusiawi yaitu lupa, tidak tahu, dan tidak sengaja dengan cara memberikan batasan-batasan dalam pengoperasian suatu alat atau produk. Jadi, tujuan utama dari penerapan konsep Poka-Yoke ini adalah untuk mencapai keadaan bebas-cacat (zero-defects). Contoh paling sederhana penerapan Poka Yoke di bulan Ramadhan adalah waktu imsak yang menghindarkan umat muslim kebablasan makan hingga lewat waktu shubuh, pun makan di waktu imsak masih diperbolehkan. Dalam keseharian di bulan Ramadhan, barangkali kita kerap mendengar: puasa ga boleh bohong, jangan gosip di bulan ramadhan, atau orang puasa ga boleh marah. Disinilah status sedang berpuasa mampu menjadi kontrol untuk menghindarkan manusia dari berbuat kesalahan. Kesalahan yang sebenarnya juga mendatangkan dosa bila dilakukan di luar Ramadhan, tetapi di bulan Ramadhan bisa dihindari. Suasana Ramadhan yang sangat kondusif inilah yang memungkinkan self-improvement selama bulan Ramadhan dapat optimal, terutama improvement dalam aspek spiritual, emosional, dan sosial.

Selanjutnya, berbicara tentang kualitas, definisi yang banyak digunakan adalah menurut Juran, Crosby dan Deming. Pengertian kualitas menurut Juran adalah kesesuaian antara tujuan dan manfaatnya. Atau sejauh mana kecocokan penggunaan produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan (fitness for use). Menurut Crosby, kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan atau persyaratan (conformance to requirements) yang meliputi availability, delivery, reliability, maintainability dan cost effectiveness. Sedangkan menurut Deming, tujuan kualitas adalah untuk memenuhi kebutuhan pelanggan saat ini dan di masa depan. Kualitas bermakna pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terus menerus, sehingga kualitas berarti sesuatu yang kontinu, senantiasa ada perbaikan, dan tidak stagnan (continuous improvement). Adapun dalam KBBI, kualitas atau mutu identik dengan kadar, taraf, atau derajat (kepandaian, kecakapan, dan sebagainya). Kualitas menyoal tingkat baik buruknya sesuatu, sementara mutu menunjukkan ukuran baik buruknya sesuatu. Lantas, apa hubungannya Ramadhan dengan kualitas diri? Ada pertanyaan lebih penting yaitu “Bagaimana meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan?” Karenanya kedua pertanyaan tersebut sebaiknya dijawab secara simultan melalui tadabur ayat-ayat Al Qur’an tentang puasa.

Pertama, dalam Al Qur’an Surah Al Baqarah ayat 183, jelas termaktub tujuan dan manfaat berpuasa: la’allakum tattaqun. Karenanya kualitas diri yang diharapkan menjadi keluaran (output) dari ibadah di bulan Ramadhan adalah pribadi yang bertakwa. Kata la’alla dalam Al Qur’an memiliki beberapa makna, diantaranya ta’lil (alasan) dan tarajji ‘indal mukhathab (harapan dari sisi orang yang diajak bicara). Dengan makna ta’lil, dapat kita artikan bahwa alasan diwajibkannya puasa adalah agar orang yang berpuasa mencapai derajat taqwa. Dengan makna tarajji, dapat kita artikan bahwa orang yang berpuasa berharap dengan perantaraan puasanya ia dapat menjadi orang yang bertaqwa. Makna la’alla disini berbeda dari persangkaan (zhann) ataupun perkiraan (hisban). Maknanya lebih identik dengan kata semoga (‘asaa). Sedangkan ‘asaa dan la’alla jika berasal dari Allah SWT maka ia adalah jaminan kepastian (tahqiq), bukan sekadar harapan (tarajji).

Dalam rangkaian ayat tentang shaum Ramadhan di Surah Al Baqarah, kata la’alla bahkan disebutkan 4 kali: la’allakum tattaqun (ayat 183), la’allakum tasykurun (ayat 185), la’allahum yarsyudun (ayat 186) dan la’allahum yattaqun (ayat 187). Hal ini menunjukkan betapa banyak jaminan kepastian terhadap kualitas output selama prosesnya dilalui dengan baik. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas diri melalui Ramadhan adalah dengan menetapkan target Ramadhan yang SMART (Specific, Measurable, Attainable, Relevant, Timely). Target ini tentunya bukan sekadar dibuat agar ada, namun juga diupayakan pencapaiannya secara sungguh-sungguh dan dievaluasi. Secara bertahap ditingkatkan levelnya sehingga terjadi continuous improvement dari Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya. Di titik inilah, peningkatan kualitas diri melalui Ramadhan dapat tercapai.

(bersambung)

Jangan Jumawa Menang Sementara

Juara adalah pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi” (Dennis de Young)

Gelaran babak 16 besar kompetisi sepakbola Benua Biru sudah selesai. Di Liga Eropa, Arsenal berhasil comeback dengan kemenangan tiga gol tanpa balas di Emirates Stadium setelah sebelumnya kalah 2-0 di kandang Rennes (14/3). Dua hari sebelumnya kisah serupa dicatatkan Juventus di Liga Champions yang mengandaskan perlawanan Atletico Madrid dengan skor serupa (12/3). Kemenangan besar Chelsea atas Dinamo Kyiv (14/3) dan Manchester City atas Schalke 04 (12/3) di kandang sehingga menyisakan selisih agregat 8 gol pun kalah ramai dibandingkan berbagai kemenangan dramatis yang terjadi. Pekan lalu, comeback luar biasa dicatatkan Manchester United (MU) yang menyingkirkan Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor 1-3 di kandang lawan setelah kalah 0-2 di Old Trafford (6/3). Sebelumnya, Ajax juga sukses membalikkan ketertinggalan 1-2 di kandang dengan kemenangan telak 1-4 atas juara bertahan Liga Champions tiga tahun terakhir di kandang Real Madrid, Santiago Bernabeu (5/3).

Beberapa pertandingan bahkan harus ditentukan di babak tambahan waktu (extra time). Comeback FC Porto mengunci kemenangan atas AS Roma baru diperoleh di menit ke-117 setelah agregat sama kuat 3-3 di waktu normal (6/3). Di Liga Eropa, Benfica baru memastikan tiket perempat final atas Dinamo Zagreb di menit ke-94 dan 105 setelah aggregat sama kuat 1-1 di waktu normal (14/3). Tim tersukses di Liga Eropa, Sevilla, harus tersingkir di menit-menit akhir setelah aggregat sama kuat 4-4 di waktu normal (14/3). Bahkan ketika extra time, Sevilla sempat unggul melalui Vazquez di menit ke-98 sebelum disamakan Van Buren di menit ke-102. Kemenangan Sevilla dengan aturan gol tandang pun buyar setelah Traore mencetak gol kemenangan Slavia Prague di menit ke-119.

Metafora ‘Bola itu Bundar’ yang menunjukkan ketidakpastian hitung-hitungan hasil akhir sudah lama dikenal di dunia sepakbola. Bahkan mungkin sebelum ‘Das Wunder von Bern’, Keajaiban Bern kala Jerman Barat berhasil mengalahkan tim unggulan Hongaria di Final Piala Dunia 1954 yang dianggap menjadi cikal bakal adanya metafora tersebut. Sayangnya, tidak sedikit orang yang melihatnya dari sudut pandang keberuntungan yang menjadi pangkal kemenangan, bukan mengantisipasi berbagai kelalaian yang mengakibatkan kekalahan yang tak terduga sebelumnya. Bagaimanapun, hasil akhir biasanya tidak akan mengingkari ikhtiar, termasuk usaha sebelum memulai pertandingan.

Faktor penentu utama adalah mentalitas pemenang. Hal ini yang menyebabkan klub dengan sejarah kuat selalu ada peluang mengejar ketertinggalan sebelum peluit akhir ditiup. Selain Keajaiban Bern, dikenal juga ‘The Istanbul Miracle’ dimana Liverpool berhasil menjadi juara Liga Champions 2005 lewat drama adu pinalti setelah sebelumnya tertinggal 3-0 dari AC Milan hingga menit ke-53. Atau final Liga Champions 1999, dimana dua gol kemenangan MU yang dicetak di menit 90+1 dan 90+3 oleh dua orang pemain pengganti membuyarkan kemenangan Bayern Munchen yang sudah di depan mata. Keberhasilan melakukan comeback hampir selalu dikaitkan dengan mentalitas kuat penuh keyakinan dan pantang menyerah, bukan sekadar kecermelangan strategi.

Di sisi sebaliknya, kekalahan setelah kemenangan sementara kerap dihubungkan dengan sikap sombong dan meremehkan. Lihat saja bagaimana Kapten Real Madrid, Sergio Ramos, sengaja mencari akumulasi kartu kuning kala menang 1-2 di kandang Ajax. Merasa di atas angin, Real Madrid malah tersingkir setelah kebobolan 4 gol di leg 2. Atau perhatikan bagaimana PSG merasa sudah pasti lolos ke babak 8 besar setelah menumbangkan MU di Old Trafford dua gol tanpa balas. Bagaimana mungkin MU bisa memberikan perlawanan di Parc des Princes dengan sebagian besar pemain utama tidak bisa bermain. PSG seakan lupa bahwa dua tahun sebelumnya Barcelona dapat membalikkan defisit 4 gol dari PSG dengan gol penentu kemenangan di menit 90+5. Sekali lagi, bola itu bundar, jangan lekas berpuas diri hingga merasa aman, apalagi sampai meremehkan lawan.

Hal penting berikutnya yang juga menentukan adalah kecermatan dalam memanfaatkan momen. Gol penentu kemenangan dari Porto, Juventus, dan MU lahir dari sepakan 12 pas di menit-menit krusial. Telles sukses mengeksekusi penalti buat Porto di menit 117, Ronaldo berhasil mencetak hattrick bagi Juventus dari titik putih di menit 86, sementara Rashford dari MU mencetak gol penalti di menit 90+3. Tidak perlu menyalahkan wasit atau siapapun, bagaimanapun hukuman penalti diberikan karena ada kelalaian dalam menjaga momentum dengan pelanggaran. Memanfaatkan momen juga bisa didapat dari ganjaran kartu, pergantian pemain, ataupun situasi set piece.

Meraih kemenangan memang tidak mudah, namun mempertahankan kemenangan juga tidak lebih mudah. Kemenangan sementara yang berujung pada sikap jumawa tentu mudah dikalahkan dengan kekalahan sementara yang melahirkan usaha ekstra. Keberhasilan semu disertai sikap belagu akan menemui karmanya ditundukkan oleh kegagalan semu yang dibarengi mentalitas kuat untuk terus maju. Betapa banyak petahana yang gagal melanjutkan kemenangan karena kelalaian menjaga momentum dan malah bersikap merendahkan. Tidak sedikit pula mereka yang mampu membalikkan keadaan, meraih kesuksesan setelah menempuh keterpurukan. Hanya Allah SWT yang mengetahui ketentuan masa depan, tugas kita hanya terus berjuang sampai akhir. Karena bagaimanapun, bola itu bundar.

Tanpa impian kita tidak akan meraih apapun, tanpa cinta kita tidak akan merasakan apapun, tanpa Allah kita bukan siapa siapa” (Mesut Ozil)

Socio-Technopreneur Leaders untuk Indonesia Emas 2045

We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them.”
(Albert Einstein)

Revolusi industri 4.0 menghasilkan perubahan yang sangat cepat, disruptif sekaligus eksponensial. Perkembangan teknologi digital akan menggeser dan menggusur industri tradisional. Tidak hanya industri tradisional, berbagai pekerjaan yang repetitif seperti kasir, admin, ataupun pekerja industri manufaktur kecil dan mikro akan tergantikan dengan mesin atau robot otomasi. Bahkan profesi dan pekerjaan analitis seperti konsultan pajak, akuntan atau penerjemah akan dikerjakan oleh sistem digital yang akan mengolah data input secara lebih cepat, akurat tanpa human error, dan presisi sesuai standar. Perusahaan konsultan McKinsey menyebut akan ada sekitar lima persen pekerjaan yang akan hilang pada era ekonomi digital. Di Indonesia sendiri akan hilang sekitar 20 juta pekerjaan. Namun akan ada sekitar 46 juta pekerjaan yang akan datang pada era tersebut. Sementara itu, Lembaga Think Tank Swiss memprediksi robot akan menghilangkan 75 juta pekerjaan secara global pada tahun 2022.

Beberapa pekerjaan seperti penulis, atlet, pemuka agama, koki, guru, psikolog, pengusaha, atau seniman barangkali sulit tergantikan oleh robot. Namun yang jelas berbagai pekerjaan terkait dunia digital semakin banyak dibutuhkan. Survei LinkedIn tahun 2018 menyebutkan bahwa pekerjaan yang paling banyak dicari adalah Data Scientist, Cyber Security Specialist, UX Designer, Head of Digital, dan Content Specialist. Hal ini barangkali yang disadari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sehingga bulan lalu Balitbang SDM Kemenkominfo menggelar program beasiswa pendidikan non-gelar bertajuk “Digital Talent Scholarship”. Program beasiswa berupa pelatihan intensif selama 8 pekan ini bekerja sama dengan lima PTN di Indonesia untuk lokasi dan tenaga pengajar. Program ini juga didukung Microsoft Indonesia selaku penerbit sertifikat keahlian untuk lima tema pelatihan yang disediakan, yaitu Artificial Intelligence (AI), Big Data, Cyber Security, Cloud Computing, dan Digital Business.

Salah satu profesi yang diyakini terus berkembang dan akan terus eksis adalah entrepreneur. Walaupun masih di bawah rasio negara maju, wirausahawan di Indonesia meningkat cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Akhir tahun lalu, rasio wirausahawan Indonesia sebesar 3,1%, atau meningkat dua kali lipat dari rasio 3 tahun sebelumnya yang hanya 1,55%. Bahkan Menteri Koperasi dan UKM, AAN Puspayoga mengatakanbahwa rasio wirausaha di Indonesia terbaru sudah meningkat menjadi 7% lebih dari total penduduk Indonesia. Peningkatan ini sebagian besar didukung oleh semakin banyaknya bentuk wirausaha berbasis teknologi. Karenanya, di sektor manapun, kemampuan teknologi informasi dan jaringan ini penting dimiliki untuk terus tumbuh dan berkembang di era Revolusi Industri 4.0.

Banyaknya permasalahan di Indonesia menghadirkan bukan hanya para entrepreneur melainkan para social entrepreneur, yaitu mereka yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change). Tidak sedikit wirausahawan baru yang bergerak dengan pola ini dimana keberhasilan bisnisnya juga diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat. Perkembangan social entrepreneur ini berkolaborasi dengan kemajuan teknologi menghasilkan beberapa platform, diantaranya platform crowdfunding (misalnya KitaBisa), crowdlending (misalnya GandengTangan), atau platform lain semisal iGrow yang merupakan platform agrikultur yang bisa dimanfaatkan untuk menghubungkan sponsor/investor, petani, pemilik lahan, dan pembeli hasil pertanian secara bersamaan. Wirausaha sosial berbasis teknologi ini sukses bukan hanya mengelola anggaran dalam jumlah besar, namun juga melibatkan partisipasi masyarakat di lingkup yang luas.

Para wirausahawan sosial berbasis teknologi –atau lebih mudahnya kita istilahkan dengan Socio-Technopreneur—ini berpotensi untuk terus berkembang di masa depan sekaligus terus menebar kebermanfaatan. Tantangan terbesarnya justru terletak pada stakeholder pengelola dan values yang hendak diusung. Socio-technopreneur ini gagasannya didominasi oleh anak muda yang barangkali memiliki generation gap dengan para pengambil kebijakan eksisting, baik di sektor publik, sektor privat, ataupun sektor ketiga. Bentuk dukungan, arahan, ataupun penyikapan tidak bisa dilihat dari perspektif masa lalu di tengah zaman yang telah berubah. Kecuali untuk hal-hal fundamental yang tidak boleh berubah. Disinilah tantangan values bermain. Berbagai kasus kenakalan remaja dan efek negatif perubahan zaman lainnya sejatinya tidak bisa mengkambinghitamkan perubahan yang terjadi ataupun pihak lain yang menggagas perubahan. Zaman boleh berubah namun jati diri dan karakter bangsa harus tetap kokoh. Disinilah urgensi dari kepemimpinan sehingga peran yang muncul adalah pelopor perubahan dan penentu arah perubahan, bukan mereka yang ikut-ikutan terseret arus dan terombang-ambing dalam badai perubahan.

Untuk Indonesia Emas 2045, bangsa ini membutuhkan sekumpulan pemimpin yang cakap teknologi dan memiliki jiwa entrepreneurship untuk membantu menyelesaikan permasalahan bangsa. Untuk membentuk generasi socio-technopreneur leaders ini harus ada sinergi antar stakeholder untuk bersama mengambil peran yang saling menguatkan. Kurikulum boleh adaptif dengan perubahan, namun values yang diusung tidak boleh terlalu labil. Jati diri dan harkat diri harus terjaga. Hasilnya adalah generasi emas yang bukan hanya cendekia dan berkompeten, namun memiliki integritas dan mampu memberi transformasi positif di tengah masyarakat. Dan elemen kunci dari itu semua ada pada diri pendidiknya. Pendidik emas yang memang layak mengemban tugas mulia menghasilkan generasi emas. Dan pendidik ini bukan orang lain. Kita semualah para pendidik itu. Lantas, sudah pantaskah kita?

Technology is just a tool. In terms of getting the kids working together and motivating them, the teacher is the most important.” (Bill Gates)

*ditulis sebagai pengantar Ngobrol Pendidikan Indonesia (NGOPI) bertajuk “Revolusi Industri 4.0, Sarjana: Lahirnya Kaum Intelektual atau Hanya Menambah Pasar Manusia Terdidik?”

Sekilas tentang Community Development

Community Development Programs adalah program pengembangan masyarakat yang bertujuan membangun kemandirian, mengembangkan kapasitas dan mengintegrasikan masyarakat untuk membangun sendiri lingkungannya. Kegiatan ini umumnya berorientasi kepada proses dimana dikembangkan perluasan dan pemeliharaan sistem yang bertujuan untuk memapankan relasi kerjasama antar kelompok dalam suatu komunitas, menciptakan struktur pemecahan masalah komunitas yang terpelihara secara baik dalam atau oleh komunitas tersebut, menstimulasi masyarakat agar mempunyai minat & partisipasi luas terhadap isu-isu komunitas, mengembangkan sikap & perilaku suka bekerjasama & meningkatkan peranan kepemimpinan yang berasal dari komunitasnya.

Komunitas yang digarap biasanya masih berbentuk tradisional statis, dimana terjadi kemurungan dalam masyarakat & ketertutupan dari masyarakat luas. Kondisi di komunitas tersebut umumnya terjadi kesenjangan antara harapan dengan kenyataan relasi & kapasitas dalam memecahkan masalah secara demokratis. Stategi dasar yang dapat diterapkan adalah pelibatan sebanyak mungkin (kelompok) masyarakat dalam menentukan & memecahkan masalah mereka sendiri (self help) dan kooperatif berdasarkan kemauan dan kemampuan. Teknik perubahannya dengan konsensus, diskusi kelompok dan komunikasi antar kelompok & komunitas.

Adapun peran dari community worker (CW) adalah sebagai pemercepat perubahan (enabler-katalis) yang akan mengartikulasikan kebutuhan, mengidentifikasi masalah dan mengembangkan kapasitas masyarakat agar dapat menghadapi masalah dengan lebih efektif. Fungsinya adalah untuk membantu masyarakat menyadari dan melihat kondisi mereka, mengembangkan dan membangkitkan organisasi dalam masyarakat, mengembangkan relasi interpersonal yang baik dan memfasilitasi perencanaan yang efektif. Selain itu, community worker juga berperan sebagai perantara (broker) untuk menghubungkan individu / kelompok dalam masyarakat yang membutuhkan bantuan dengan pihak/ yayasan yang mengadakan layanan masyarakat. Selain itu, CW juga berperan sebagai koordinator dan edukator/ pendidik.

Karena peran berat yang harus dijalankan itulah seharusnya setiap CW dibekali dengan kemampuan khusus, setidaknya kemampuan komunikasi, problem solving & decision making, riset, dinamika kelompok, manajemen, administratif, dan lain sebagainya. Pendekatan yang dilakukan untuk pencapaian tujuan disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Umumnya, dilakukan upaya pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat guna memperoleh kepercayaan, dilanjutkan dengan kegiatan yang keuntungannya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat, barulah memberikan pemahaman-pemahaman lebih yang pada akhirnya dapat menyadarkan masyarakat bahwa merekalah yang dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Pendekatan direktif dapat dilakukan pada masyarakat yang pasif dengan CW yang sudah cukup tahu kebutuhan masyarakat. Namun pendekatan ini potensial menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap CW, sehingga pendekatan yang banyak digunakan adalah pendekatan partisipatif dimana masyarakat turut dilibatkan dalam menentukan treatment yang sesuai bagi mereka. Pendekatan terakhir banyak memberikan keuntungan namun tetap harus dijaga ritmenya sehingga masyarakat tidak merasa terpaksa dan kontrolpun harus tetap dijalankan. Adapun tahapan intervensi komunitas dimulai dari persiapan, assessment, perencanaan alternatif program, pemformulasian rencana aksi, implementasi, evaluasi & pengawasan dan terakhir terminasi/ pemutusan. Masyarakat dapat dilibatkan tidak hanya dalam pelaksanaan tetapi juga dalam perencanaan.

Untuk optimalisasi pencapaian tujuan dibutuhkan ketersediaan kader, yaitu orang-orang yang berasal dari masyarakat yang dengan sukarela (ada kesadaran diri) bersedia ikut serta dalam pelaksanaan. Kader bertugas menjadi pelopor dalam melaksanakan kegiatan, pelaksana dan pemelihara kegiatan, menjaga keberlangsungan kegiatan dan membantu menghubungkan antara warga masyarakat dengan lembaga-lembaga yang terkait. Adapun kendala yang biasa dihadapi dalam proses pengambangan masyarakat dapat berasal dari kepribadian individu (homeostatis, kebiasaan, primacy, seleksi persepsi, ketergantungan, superego, minder, dsb) maupun dari sistem sosial (norma, kultur tertentu, kelompok kepentingan, keyakinan, penolakan intervensi, dsb).

*tulisan kala masih mengelola YDBI 13 tahun lalu

Tulisan 8 Bulan Kemudian

Tulisan ini dibuat di Hotel Grasia – Semarang, di malam pertama kegiatan Future Leaders Camp (FLC) Beasiswa Aktivis Nusantara, tanggal 28 Maret 2019. Ya, 8 bulan berselang dari waktu posting tulisan ini. Semacam tulisan dari masa depan.

Tentu bukan tanpa sebab, tulisan ini dimunculkan. Website ini sempat hiatus selama 8 bulan terhitung sejak akhir Juli 2018 hingga akhir Maret 2019. Hingga tidak sedikit pihak yang bertanya-tanya mengapa tidak ada update tulisan lagi. Kesibukan merupakan alasan klasik. Nyatanya banyak orang yang lebih sibuk masih bisa rutin menyampaikan gagasannya lewat tulisan. Dan faktanya, gagasan itu banyak berseliweran, sehingga dalih tidak ada ide untuk ditulis jelas tidak relevan.

Lantas mengapa bisa berbulan-bulan vakum membuat tulisan? Pertama adalah faktor kesungguhan yang kurang. Kedua adalah cara berpikir yang terlalu rumit, tidak sederhana. Faktor pertama sudah melanggar kiat produktif menulis: teruslah menulis. Sementara faktor kedua menabrak kaidah menulis, bahwa menulis itu mudah, dan menulis bukanlah beban.

Karenanya dengan adanya tulisan 8 bulan kemudian ini, semoga muncul motivasi baru dalam menulis, setidaknya agar tulisan ini tidak terbaca karena tertutup oleh tulisan-tulisan yang lebih anyar. Dalam rentang 8 bulan hiatus ataupun setelahnya. Ya, tulisan 8 bulan setelah ini kemungkinan besar tidak ditulis pada waktu yang benar, melainkan (lagi-lagi) merupakan ‘tulisan dari masa depan’.

Jika dalam sepekan bisa diselesaikan sebuah tulisan, maka dalam 8 bulan setidaknya sudah ada 32 tulisan yang akan menutup tulisan ini. Jika dalam sepekan bisa ada lebih dari 1 tulisan, tentu lebih banyak lagi tulisan yang akan menutup tulisan ini. Barangkali secara kualitas tulisan tidak sepanjang dan semendalam sebelumnya, namun tulisan ini semoga menjadi salah satu ikhtiar untuk kembali menggiatkan menulis, pun hanya beberapa paragraf atau kalimat.

Jika semuanya berjalan sesuai dengan perencanaan, barangkali butuh beberapa waktu sebelum tulisan ini ‘tenggelam’ oleh tulisan lain yang lebih baru. Dan semoga saja semua berjalan sesuai rencana. Atau harus ada cara lain untuk revitalisasi aktivitas menulis yang berbulan-bulan lamanya kurang diprioritaskan. Semoga hanya mereka yang ‘setia’ dengan website ini yang sempat membaca tulisan ini. Artinya, tidak butuh waktu lama untuk ‘menenggelamkan’ tulisan ini dengan tulisan-tulisan yang lebih baru.

Bismillah… Memulai lembaran baru untuk kembali produktif menulis… Semoga bisa terus menebar kebermanfaatan…

Bekerjalah Dengan Passion, Tak Harus Sesuai Passion

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(QS. Al Baqarah: 216)

Saya tidak suka sepak bola, ini hanya pekerjaan saya”, begitu ungkap Gabriel Batistuta dalam sebuah wawancara. Pun beberapa waktu lalu legenda sepak bola Fiorentina ini mencoba mengklarifikasinya, pernyataan mengejutkan ini ternyata dikuatkan kesaksian Alessandro Rialti, co-writer Batistuta dalam proses penulisan otobiografinya. “Ia adalah seorang profesional yang sangat baik namun tidak benar-benar menyukai sepak bola. Begitu ia meninggalkan stadion, ia tidak ingin sepak bola merecoki kehidupannya. Ia seorang pria yang sensitif dan cerdas. Ketika kami menulis buku ini, ia datang ke kantor saya dan selama lima hari penuh berbicara mengenai keluarga dan kehidupannya di Argentina. Namun ketika membicarakan sepak bola dan karirnya, ia menjadi tidak bersemangat. ‘Catatan tentang karirku ada di sana,’ ia berkata, ‘kau bisa lihat sendiri’.”batistuta

Profesionalisme striker yang dijuluki Batigol ini tergambar dalam prestasinya bersama Timnas Argentina, yang jauh di atas Lionel Messi. Selain berhasil menjuarai Copa Amerika 1991 dan 1993, serta Piala Konfiderasi 1992, Batigol tercatat pernah membuat hattrick di dua gelaran Piala Dunia secara beruntun (dari tiga gelaran Piala Dunia yang diikutinya), sebuah catatan yang belum bisa disamai siapapun. Dan tentu butuh passion kuat untuk meraihnya. Beberapa pesepakbola lain juga ada yang menyatakan kekurangtertarikannya terhadap sepak bola. Di antaranya Christian Vieri, striker produktif Italia yang lebih menyukai kriket, bahkan menjadikan Allan Border, seorang pemain kriket Australia sebagai inspirasinya di bidang olah raga.

Secara bahasa, kata ‘passion’ bersinonim dengan antusiasme, gairah, dan semangat. Secara lebih spesifik, maknanya identik dengan preferensi atau minat besar terhadap sesuatu. Padahal gairah dengan minat ini merupakan terminologi yang berbeda, sehingga ‘bekerja dengan passion’ dan ‘bekerja sesuai passion’ memiliki makna yang berbeda. “Without passion you don’t have energy, without energy you have nothing”, demikian disampaikan Presiden AS, Donald Trump. Ketiadaan passion ini memang berbahaya, bahkan sama saja dengan ketiadaan hidup. Dan ‘without’ adalah lawan kata dari ‘with’ (dengan). Artinya, aktivitas kehidupan kita harus disertai dengan passion, agar kita benar-benar hidup. Perkara sesuai tidak dengan passion, masih bisa diperdebatkan. Bahkan kadangkala ketidaksesuaian dengan passion bukanlah pilihan. Lantas, apakah ini menjadi masalah?

Follow your passion adalah saran terburuk”, begitu kata Mike Rowe dalam sebuah sesi talkshow TedX. Dalam acara yang dipandunya, setelah bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang pekerjaan, Rowe menyimpulkan bahwa mengikuti passion tidak serta merta membuat seseorang bahagia. “Aku bertemu peternak babi yang bekerja di tengah kandang yang sangat bau. Tapi dia menghasilkan banyak uang, dan bahagia. Dia bisa bahagia bukan karena mengikuti passion-nya terhadap babi. Siapa sih yang cinta sama babi? Dia bahagia karena pekerjaannya memberinya cukup uang, memberinya otonomi yang besar dan merasa kalau dia berkontribusi terhadap masyarakat”, demikian ungkap Rowe. Hal ini bukan berarti passion tidak penting, hanya saja bukan syarat utama untuk berbahagia.

Coba kita ingat-ingat apa minat kita sewaktu kecil, barangkali ada berbagai jawaban. Apakah jawabannya masih sama sekarang? Jika tidak, hal itu cukup menunjukkan bahwa passion bisa berubah. Apakah minat tersebut bisa menghasilkan uang? Jawabannya akan menggambarkan bahwa ada keterbatasan ketersediaan pekerjaan dibandingkan dengan passion yang ada. Kalau passionnya berdagang atau menulis mungkin bisa relevan, namun bagaimana dengan passion bermain catur atau memancing? Apalagi jika passionnya adalah makan dan tidur. Passion yang dimaknai sebagai preferensi atau minat seharusnya dibedakan dengan hobi. Tidak semua hal yang disukai dan menyenangkan lantas bisa diklaim sebagai passion. Malah ada yang mengatasnamakan tidak sesuai passion hanya sebagai dalih kemalasan, atau keengganan bekerja lebih keras. Hal ini biasanya dapat dikenali dari kebingungannya ketika ditanya apa passionnya. Daripada menyerah hanya karena rasa-rasanya tidak passion, lebih baik dijalani dengan sebuah kemungkinan justru akan menemukan passion.great passion

Passion adalah buah dari proses, menjadi sempit jika dimaknai sebagai sesuatu yang sifatnya given. Ada yang mendefinisikan passion sebagai panggilan jiwa, tidak salah, namun perlu diingat bahwa ada proses yang menyertai. Tidak sedikit orang yang awalnya mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan passionnya, selang berapa waktu kemudian justru bisa menikmatinya. Bekerja sesuai passion akan mempertajam kompetensi sekaligus menggiringnya ke zona nyaman. Di fase transisi, banyak orang memilih aman untuk melihat passionnya sesuai dengan pengalaman masa lalu, bukan proyeksi masa depan. Padahal passion bisa berkembang. Seseorang yang punya passion wirausaha misalnya, bisa menambah modal, pengalaman, dan jaringannya dengan aktivitasnya sebagai karyawan. Atau seseorang dengan passion mengajar misalnya, bisa melatih kemampuan komunikasinya sebagai marketer. Ada sisi kreativitas dan konsistensi yang justru akan lebih teruji dengan bekerja di luar passion.

Mencintai pekerjaan adalah penting, itu namanya bekerja dengan passion. Semangat, gairah, dan kerja keras yang hadir adalah perwujudan dari amanah, tanggung jawab, dan profesionalisme. Bekerja dengan passion adalah wujud nyata dari rasa syukur. Jika ternyata pekerjaan sesuai dengan passion, itu adalah bonus, tapi bukanlah penentu produktivitas kerja. Dan bukan alasan keengganan beranjak dari zona nyaman. Kesesuaian passion dapat dibangun dan terus dikembangkan. Tidak sedikit orang yang justru kian menghebat dengan passionnya setelah melewati masa-masa penting yang tidak sesuai dengan passionnya. Syaratnya, jalani pekerjaan dengan passion, sesuai atau tidaknya dengan minat dan preferensi. Bisa jadi ada kebaikan yang banyak di dalamnya. Dalam hal ini suka tidak suka menjadi kurang penting dibandingkan amanah tidak amanah. Karena bukankah sesuatu yang kita sukai belum tentu baik bagi kita, demikian pula sebaliknya? Karenanya, mari bekerja dengan penuh passion.

We believe people WITH passion can change the world for the better” (Steve Jobs)

Asal, Ganti, Jangan!

Bagi generasi muda, perubahan itu terlalu lambat. Bagi kaum tradisionalis tua, perubahan itu menghujat” (Dan Brown)

Ganti, Jangan, Ganti, Jangan? Pergantian memiliki makna yang sama dengan pertukaran, peralihan, ataupun perubahan. Ada yang muncul dan menggantikan, ada yang hilang dan digantikan. Pergantian juga mengandung unsur ketidakpastian. Berganti atau tidak, keduanya punya peluang untuk lebih baik atau semakin buruk. Pergantian membawa angin segar perubahan yang penuh tantangan, sekaligus mengusik kenyamanan status quo. Menggantikan tidak selamanya mudah, ada tanggung jawab yang menyertainya. Digantikan pun tak selamanya tercela, ada belenggu amanah yang akhirnya lepas sudah. Semuanya ada masanya. Selalu ada pelajaran dari pergantian masa kejayaan dan kehancuran.

Asal Jangan Ganti! Sebagian orang menolak untuk berganti dan diganti disebabkan potensi kehilangan yang akan dirasakan. Kehilangan materiil ataupun immaterial. Ada kerja panjang yang berpotensi terbengkalai, tidak dilanjutkan. Apalagi pergantian bisa berefek domino sehingga potensi kehilangannya akan semakin besar. Akibatnya, ada saja orang yang keras hati dan keras kepala, antipati dengan pergantian. Biaya pergantian dipandangnya terlalu besar, tidak sebanding dengan ketidakpastian keuntungan yang akan diperoleh. Berbagai argumentasi dan toleransi bisa dimunculkan demi memastikan tak ada pergantian atau dirinya tak tergantikan. Pokoknya, jangan janti!

Asal Ganti! Sebagian orang lainnya begitu memuja pergantian yang menjanjikan dinamika perubahan. Motifnya beragam mulai dari sekadar menyukai tantangan baru sampai potensi memperoleh keuntungan dari pergantian. Pergantianlah yang diyakini bisa mengubah masa depan, baik ataupun buruk. Pergantian dianggap satu-satunya solusi perbaikan atas berbagai kekurangan yang tentunya pasti ada. Akibatnya, ada saja orang yang ngotot harus ganti, anti dengan status quo. Pergantian dipercaya membawa asa dan harapan perbaikan, yang pasti tidak akan berubah –atau bahkan semakin buruk—jika dilanjutkan tanpa pergantian. Berganti atau mati. Bagaimana setelah berganti, itu perkara nanti!

Jangan Asal Ganti! Sebagian orang lainnya memilih untuk rasional. Menimbang manfaat dan mudharat. Bisa jadi tidak atau belum perlu diganti, bisa jadi sebaiknya atau bahkan harus diganti. Hal ini didasari bahwa pergantian perlu dilakukan di saat yang tepat, dengan cara yang tepat. Dan semua ada landasan argumentasinya. Ada ruang diskusi dan dialektika. Tidak perlu fanatik dengan pro atau kontra status quo. Dan tentu tidak anti pergantian. Jika tidak berganti, lakukan dengan penuh pertanggungjawaban. Jika harus berganti, lakukan dengan tidak asal-asalan. Mempersiapkan opsi terbaik, apapun keputusan yang akan diambil. Semua opsi dipandang mungkin, asalkan tidak asal.

Ganti, Jangan Asal! Jika dihadapkan pada dua pilihan ekstrim, ganti atau tidak ganti, jawaban ‘tidak ganti’ mungkin lebih aman, namun jawaban ‘ganti’ barangkali lebih tepat. Pergantian memang tidak lantas menjamin terselesaikannya masalah, namun masalah lebih berpotensi tidak terselesaikan tanpa pergantian. Sebab mereka yang nyaman di status quo akan cenderung menyepelekan masalah. Butuh keberanian dan cara baru untuk menyelesaikan masalah, dan hal itu lebih mungkin diraih dengan pergantian. Boleh berganti, tapi jangan asal. Perlu diperkuat alasan mengapa harus berganti, manfaat apa yang akan didapat dari pergantian, kemana arah pergantian dan bagaimana pergantian akan dilakukan. Semakin jelas dan detail, berarti semakin serius dan tidak asal. Sementara pihak pro status quo tidak harus memberi banyak alasan, cukup dengan melemahkan gerakan dan argumentasi, pergantian dapat dihindarkan. Sebab, kebanyakan orang cenderung cari aman dan sekadar ikut kemana angin berhembus. Bagaimanapun, perubahan adalah keniscayaan, pergantian adalah kepastian. Tinggal momentumnya yang perlu diupayakan. Siap berganti? Boleh, tapi jangan asal.

Beberapa orang melihat hal-hal dan mereka berkata, “Mengapa?”. Saya memimpikan hal-hal yang tidak pernah ada dan berkata, “Mengapa tidak?” (George Bernard Shaw)