Mentalitas Perubahan itu Bernama Jiddiyah

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah duperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka…”
(QS. At Taubah : 41 – 42)

* * *

Hari terus berjalan, siang dan malam silih berganti, pekan dan bulanpun terus bergulir. Detik-detik pergantian tahun berlalu, banyak air mata yang menetes, menyesal atas berbagai kekhilafan yang telah dilakukan dan kesia-siaan waktu yang telah terlewat. Tahun lalu, air mata itupun menetes, atas kekhilafan yang sama. Ya, waktu silih berganti namun kesalahan yang sudah disadari tak kunjung diperbaiki. Berbagai pembenaran coba diungkapkan namun tidak juga mampu meyakinkan bahwa perubahan yang diharapkan sudah dilakukan. Ada pula fragmen kehidupan yang berisi suka maupun duka yang kadang mengingatkan akan perbaikan yang ternyata hanya ada dalam tataran kesadaran saja tanpa pernah ada realisasinya. Dimanakah salahnya? Mengapa perubahan itu sedemikian sulit? Apakah ada kesalahan dalam analisa kondisi? Ataukah kita terjebak dalam lamanya perencanaan? Ataukah….?

Suatu perubahan ke arah yang lebih baik tidak seharusnya berhenti dalam tataran kesadaran atau perencanaan saja. Namun seharusnya terus dilaksanakan dengan kesungguhan. Ya, kesungguhan (jiddiyah) menjadi hal penting yang harus ada setelah adanya niat dan tekad berubah. Kesungguhan dalam merencanakan agenda perbaikan, kesungguhan dalam mengimplementasikan perencanaan aktivitas perbaikan, kesungguhan dalam menjaga kontinuitas upaya perbaikan dan kesungguhan untuk mengontrol capaian perubahan ke arah yang lebih baik yang sudah dilakukan.

* * *

Jiddiyah secara istilah didefinisikan sebagai pelaksanaan perintah syari’ah dan dakwah secara langsung disertai dengan ketekunan dan kegigihan, mengeluarkan segala kemampuan maksimal untuk menyukseskannya dan mengatasi segala hambatan dan rintangan yang menghadangnya.

Kecepatan melaksanakan tugas sebagai bentuk jiddiyah tergambar dalam peristiwa peralihan kiblat (QS Al Baqarah : 142 – 144). Tatkala ayat pemindahan kiblat turun, para shahabat di Madinah yang sedang melakukan shalat Zhuhur menghadap ke Masjid Al-Aqsha di Palestina (utara) segera berpindah arah 180 derajat ke Ka`bah di Mekkah (selatan). Kecepatan melaksanakan tugas sebagai wujud jiddiyah juga diperlihatkan oleh wanita anshor ketika turun ayat tentang kerudung (QS An Nur : 31). Sesaat setelah turunnya ayat, para shahabat segera pulang dan membacakan ayat tersebut kepada para wanitanya. Para wanita Anshor segera mengambil kain dan dijadikan kerudung hingga dikisahkan keadaan di atas kepala mereka itu seolah-olah burung gagak karena kain kerudung-kerudung mereka. Sikap wanita Anshor yang sangat sigap membenarkan dan beriman kepada apa yang telah diturunkan Allah dalam Al Qur’an ini sangat dipuji A’isyah r.a. (HR. Abu Daud).

Kesigapan sebagai bentuk kesungguhan juga ditunjukkan para shahabat ketika turun ayat tentang pelarangan khamar (QS. Al Maidah : 90 – 93). Kekuatan dan keteguhan sebagai bentuk jiddiyah tergambar dalam peristiwa hijrahnya Umar bin Khatab yang secara terang-terangan mendeklarasikan kepergian hijrahnya sekaligus ‘menantang’ kaum Quraisy di Mekkah saat itu.

Kegigihan sebagai wujud jiddiyah juga tercermin dalam kisah syahidnya Ja’far bin Abi Thalib dalam perang Mu’tah. Kala tangan kanannya yang memegang panji putus, panji dipegang dengan tangan kiri. Ketika akhirnya tangan kiri itupun putus, dia tidak menyerah dan terus mempertahankan panji itu dengan membawanya dengan kedua lengannya. Ketahanan dan kegigihan inipun tercermin dari kata-kata Rasulullah kepada Abu Thalib, pamannya – yang juga kasihan melihat kondisi keponakannya yang terus dizhalimi– ketika meneruskan tawaran para pembesar Quraisy berupa wanita, perhiasan emas, permata, bahkan kekuasaan untuk meninggalkan dakwah : ”Demi Allah, jika engkau letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, maka tidak akan aku tinggalkan dakwah ini hingga Allah memperlihatkan (kemenangan) Nya atau membinasakan selainNya”

Mencurahkan segenap kemampuan sebagai bentuk jiddiyah tercermin dalam kisah Mush’ab bin Umair yang meninggalkan seluruh kehidupan mewahnya demi Islam yang bahkan dalam akhir hidupnya sebagai syuhada tidak meninggalkan kafan kecuali selembar kain yang bila ditutupkan ke wajahnya maka kakinya akan kelihatan dan jika ditutupkan ke kakinya maka wajahnya akan terlihat. Mencurahkan segenap kemampuan ini juga tergambar dari kisah hijrahnya Abu Bakar yang datang dengan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan untuk keluarganya : Allah dan RasulNya.

Mengatasi rintangan sebagai wujud jiddiyah dapat terlihat dari kisah Amru bin Jamuh r.a yang tetap bersikeras untuk pergi ke perang Badar walau dilarang anaknya karena kakinya mengalami cacat berat. Bahkan Rasulullahpun sudah menyampaikan keringanan baginya untuk tetap tinggal di Madinah. Namun Amru bin Jamuh tetap meminta diizinkan Rasulullah untuk pergi ke medan jihad : “Ya Rasulullah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersamamu. Demi Allab, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga…!”. Mengatasi hambatan juga terlukis dari kisah para sahabat yang memenuhi panggilan beliau di pagi hari setelah perang Uhud menuju Hamra’ul Asad. Tak lama beristirahat dari perang sebelumnya, tanpa kehabisan energi, mereka mengatakan : “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS 3:173).

* * *

Dapat dibayangkan sulitnya upaya perubahan dilakukan tanpa kesungguhan, tanpa kesigapan dalam melaksanakan agenda perbaikan, tanpa keteguhan dan kegigihan, tanpa mengerahkan segenap kemampuan , tanpa upaya mengatasi segala hambatan dan rintangan yang menghadangnya dalam melakukan perbaikan. Kesigapan memang bukan hal yang mudah — setidaknya sikap menunda pastinya lebih mudah — namun disitulah ujian awal sebuah komitmen perubahan dimulai. Segalanya memang berproses, namun tetap harus ada awalan yang menjadi titik keberangkatan perubahan ke arah yang lebih baik. Dan titik awal itu bukanlah hanya pada aktivitas perencanaan tetapi lebih kepada momen memulai suatu implementasi aktivitas perbaikan.

Keteguhan dan kegigihan tentunya juga tidak mudah – apalagi jika dibandingkan mengerjakan sesuatu seadanya – namun disitulah kelurusan niat dan kebulatan tekad akan dibuktikan. Perubahan tanpa keteguhan dan kegigihan hanyalah omong kosong, takkan kuat menghadapi tribulasi dalam mencapai cita. Mengerahkan segenap kemampuanpun bukan perkara yang mudah karena mengandung nilai perjuangan yang disertai pengorbanan dan perhatian lebih. Tentunya lebih mudah berkorban seadanya namun efektivitas suatu gagasan perubahan takkan terwujud tanpa optimalisasi potensi dan sumber daya yang ada.

Dan menghadapi hambatan dan rintanganpun tak mudah, apalagi bila dibandingkan dengan mundur menyerah kalah ataupun putus asa. Didalamnya terdapat inti kesabaran dan kesungguhan yang akan sulit dicapai oleh mereka yang ‘lembek’. Didalamnya pula banyak terdapat bimbingan dan pertolongan Allah bagi mereka yang ikhlash dan bersungguh-sungguh. Bila hari-hari yang terlewati masih belum menunjukkan suatu perbaikan yang signifikan dari yang seharusnya padahal sudah ada kesadaran akan perbaikan yang mestinya dilakukan, patut kita renungi sudahkah ada kesungguhan yang kita tunjukkan.

Jika hingga saat ini nampaknya perubahan seperti yang diharapkan belum juga nampak hasilnya, perlu kita bercermin sudahkah ada kesigapan, keteguhan dan kegigihan kita dalam mengusung agenda perubahan. Kalau aktivitas perbaikan yang ada hanya sampai tahap kesadaran dan perencanaan tanpa implementasi, pantas kita pikirkan, sudahkah potensi kita tercurah, sudahkah segenap kemampuan terkerahkan. Dan apabila bimbingan dan pertolongan Allah nampak jauh dari upaya perbaikan yang dilakukan, layak kita perhatikan sudahkah segala sesuatunya kita jalani dengan benar, ikhlash dan pantang menyerah.

Kesungguhan sangatlah utama karena tugas dan kewajiban ataupun sebuah rencana perbaikan dapat diselesaikan dengannya, sehingga halangan dan rintangan dapat diatasi serta cita dapat tercapai dengan memuaskan. Tanpa kesungguhan, usaha akan sia-sia belaka, perencanaan akan runtuh, pelaksanaan akan kehilangan ruh dan cahaya bahkan amanah yang diemban dapat hilang. Dan kesungguhan dapat terlihat dengan memanfaatkan waktu dalam ketaatan kepada Allah, menjauhi senda gurau, mengambil hukum dasar (azimah) bukan keringanan (rukhshah), sigap dengan tugas, tidak menunda, instropeksi diri dan tidak melemah dengan kesulitan

* * *

Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah yang bertekad mengembalikan Masjidil Aqsha yang tertawan ketika ditanya kenapa tidak nampak gembira, tersenyum dan tertawa berkata : “Sesungguhnya saya malu jika Allah melihatku tertawa sementara Baitul Maqdis berada di tangan orang-orang salib, bagaimana saya bisa gembira, tersenyum dan tertawa sementara tanah Palestina berada di tangan musuh Allah, Masjid al Aqsha terampas dari tangan umat Islam.”

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami Tunjukkan kepada mereka Jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS Al Ankabut : 69)

Wallahu a’lam Januari 2005 Ps : Ikhwahfillah, detik-detik pergantian tahun sudah kita lewati, saat-saat evaluasi telah kita lalui, sekarang adalah saatnya melakukan perbaikan dengan kesungguhan

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>