Ramadhan, Lari Sprint atau Maraton?

”Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar dalam kenikmatan yang besar (surga). Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan.Mereka diberi minim dari khamar murni yang dilak (tempatnya). Laknya adalah kesturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS Al Muthaffifin : 22 – 26)

Dalam suatu perlombaan lari, kemampuan sang pelari mengatur penggunaan energi merupakan salah satu kunci penting sukses menggapai kemenangan. Pemanasan harus terlebih dahulu dilakukan, start harus baik dan energi harus terjaga hingga akhir jarak yang ditempuh, pendek maupun panjang.

Fenomena Maraton yang Memprihatinkan…
Kebanyakan pelari Ramadhan memulai start dengan sangat baik. Shaum, tarawih, tilawah, shadaqoh dan amal ibadah lainnya dapat terjaga. Hanya saja banyak orang tidak memperhitungkan jarak tempuh yang tidak pendek. Di samping pemanasan yang kurang, penggunaan energi yang tidak terjaga membuat para pelari Ramadhan sudah terengah-engah di pertengahan jalan. Tidak sedikit pula yang justru lebih disibukkan dengan bagaimana dia akan merayakan kemenangannya dan membayangkan hadiah yang akan diterimanya padahal garis finish masih sepertiga jarak lagi. Dan sesungguhnya sepertiga jarak terakhir inilah yang benar-benar menentukan. Pada jarak inilah terdapat hadiah yang bernilai seribu tahun beribadah. Akhirnya, tanpa sadar, mereka roboh, hanya angan mereka saja yang menyampai finish. Kemudian mereka bermimpi indah merayakan kemenangan bergelimang hadiah yang mereka sukai bersama orang-orang yang mereka cintai…

Fenomena Sprint yang Melelahkan…
Lain lagi dengan banyak pelari tarawih. Perlombaan jalan santai, sesuai dengan namanya, berubah menjadi lari cepat. Satu Surat Al Fatihah dianalogikan sebagai satu langkah yang kurang afdhal kalau diselesaikan lebih dari satu nafas. Dan –maaf—senam ba’da Isya pun akhirnya menjadi rutinitas. Hasilnya, bukan tetes air mata yang mengalir tapi tetes peluh yang tertumpah…

Sudah menjadi keharusan bagi pelari yang hendak memperoleh hasil terbaik untuk benar-benar melakukan persiapan yang matang sebelum berlari. Dia harus betul-betul memahami medan tempuh, fokus pada tujuan akhir dan terus menjaga semangat dan staminanya bukan hanya di awal tapi hingga akhir. Ya, kini kita sedang sama-sama berlari. Perhatikan di depan, banyak orang yang lebih cepat dari kita dan kita harus mengejar mereka. Persiapkan segala sesuatunya, jangan sampai kita terseok-seok, terpeleset atau jatuh terjerembab ketika yang lain justru lagi cepat-cepatnya berlari. Mumpung garis finish Ar Royyan masih cukup jauh, bolehlah kita kembali mengatur nafas, mengumpulkan energi sambil terus berlari. Kita akan jauh tertinggal jika coba-coba hanya berjalan. Dan teruslah berlari, raih prestasi terbaik, karena bisa jadi inilah perlombaan lari terakhir yang kita ikuti…

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>