Di Persimpangan

“Masa depan harus dipikirkan baik-baik, direncanakan serta dipersiapkan sebaik mungkin. Tetapi tidak boleh disertai dengan kekhawatiran. Jangan khawatir akan hari esok” (Dale Carnigie)

Lagi-lagi, selalu ada keraguan untuk melangkah di setiap persimpangan. Bimbang ketika harus memilih jalan yang harus ditempuh tuk meraih cita. Ada mimpi dan obsesi pribadi yang memotivasi, ada pula harapan dan pinta orang-orang yang dicintai yang turut mewarnai. Akhirnya diri ini terhenti. Pilihan mundur tidaklah mungkin dan hanya akan semakin mempersulit diri. Jalan di depan begitu terbentang, kesempatan yang tersedia tidaklah sedikit. Namun mungkin karenanya jiwa ini menjadi jiwa peragu. Ya, berhati-hati dalam mengambil kesempatan karena kesempatan adalah waktu yang hanya datang satu kali. Dan kesempatan adalah peluang yang dapat diambil atau diabaikan. Satu pilihan pada suatu kesempatan akan menentukan nasib yang tidak dapat dikembalikan.

Kulihat rekan-rekan seperjalananku telah mulai menjajaki jalan-jalan di depanku. Ada yang masih terlihat takut penuh coba-coba, ada yang terlihat mantap namun keringat dingin nyata sekali membasahi sekujur tubuhnya, ada juga yang sudah melangkah dengan pasti. Bahkan ada diantaranya yang memasuki jalan-jalan panjang tersebut dengan berlari, entah karena yakin atau memang ada yang mengejar. Dan aku masih terpaku. Beberapa orang mengajakku segera mengikuti jalan yang mereka pilih. Tapi mereka terlalu banyak, pilihan jalan terlalu banyak. Jiwa petualangku ingin mencoba semua jalan, tapi itu tak mungkin, seberapapun supernya diri ini. Semakin banyak mimpi, tawaran, masukan dan kesempatan semakin menambah kemelut dalam jiwaku.

Ah, kulihat temanku ada yang kembali ke persimpangan. Dia tidak tahan dengan jalan yang telah dilaluinya yang ternyata hanya mengorbankan idealismenya. Demi sesuap nasi? Tidak! Tidak semurah itu harga sebuah idealisme. Akupun jadi bergidik menatap jalan itu. Suatu saat aku harus mencobanya. Selanjutnya, aku menolak halus tawaran temanku yang mengajakku terbang jauh menggapai cita. Masih sulit bagiku melakukannya sementara kewajibanku disini masih banyak, ada target terkait pribadi dan orang lain yang harus kupenuhi. Dan kini pikiranku beralih pada jalan yang terlihat begitu nyaman, jalan yang nampaknya tidak terlalu asing bagiku, namun keraguan kembali menyergapku. Tak lama, ada lagi teman yang mengajakku membuat jalan sendiri yang pasti akan bermanfaat bagi orang lain. Ah, semua jalan begitu menarik dan menantang. Ingin rasanya kupejamkan mata dan biarkanlah angin yang memilihkan untukku jalan yang terbaik untuk kutempuh.

Namun akhirnya aku harus memilih jalan mana dulu yang harus kutempuh. Mulai kuperhitungkan diriku, kemampuanku, kebutuhanku dan mimpiku. Kubuat target diri hingga 40 tahun ke depan. Kupilih jalan yang tidak memutuskanku dengan jalan yang sebelumnya telah kulalui. Jalan yang banyak memberikan kebermanfaatan bagi orang lain sebagai penghibur yang sangat efektif dalam menghapus segala lelah payah dalam menghadapi jauhnya perjalanan. Namun jalan kali ini terasa berbeda, ada fitnah materi dan ujian idealisme di dalamnya. Jalan yang akan kutempuh akan banyak mengasah keahlian dan kompetensiku. Bahkan mungkin jalan ini akan menentukan siapa teman perjalananku untuk menghadapi samudera kehidupan di masa mendatang…

Jalan itu kini sudah jelas, tinggal menggugah keberanianku untuk menapakinya. Ya, selama aku terdiam di persimpangan ini aku banyak melakukan aktivitas yang begitu menyenangkan bagiku. Larut dalam kontribusi yang sudah seharusnya dilakukan oleh orang-orang di belakangku. Aku harus keluar dari zona nyaman ini untuk kemudian bergerak maju. Mulai berjalan, bahkan mungkin berlari mengejar ketertinggalanku. Apapun jalan yang kupilih akan kubuat menjadi jalan untuk mencapai citaku. Tidak ada lagi kekhawatiran karena Allah pasti bersamaku. Dia akan membukakan dan memilihkan jalan itu dan semoga senantiasa membimbing langkahku selama menapaki jalan yang pasti akan lebih berat dari jalan yang pernah kutempuh…

Get up and face the fight!!! Bismillah…

“Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan, tapi lihatlah di sekitarmu dengan penuh kesadaran” (James Thurber)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>