Mencari Bidadari

“Di dalam surga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? BIDADARI-BIDADARI yang JELITA, putih bersih dipingit dalam rumah. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman 70 – 73)

“Dirimu pembakar semangat perwira, rela berkorban demi agama, kau jadi taruhan berjuta pemuda yang bakal dinobat sebagai syuhada, itulah janji pencipta Yang Esa… engkaulah BIDADARI dalam syurga, bersemayam di mahligai bahgia, anggun gayamu wahai seorang puteri, indahnya wajah bermandi seri…” (‘Ainul Mardiah’, UNIC)

Siapa sih yang nggak mau dapat bidadari? Yang jadi masalah, mendapatkannya emang ga mudah. Berat banget malah kalo mengingat diri ini masih begitu parah. Tapi entahlah, jiwa ini masih bermimpi begitu indah, mendapat bidadari yang cantik lagi shalehah… Ahh… OK, melanjutkan tulisan sebelumnya (baca : ’ghazwul fikri itu bernama nikah’), sebelum berharap dapat bidadari di akhirat yang maharnya gak tanggung-tanggung, segala yang kita miliki untuk Allah, pengennya sih bisa dapat ’bidadari’ di dunia (baca : istri). Dalam benak penulis, ’bidadari dunia’ haruslah JELITA. Tapi eits, jangan pikir JELITA tuh cuma fisik aja, ’bidadari’ dunia idaman para perindu syurga tuh kayak gini…

J – Jilbab Luar Dalam

Maksudnya bukan kalo pake jilbab dirangkap dua (tapi itu juga bagus sih… J), namun lebih kepada sosok muslimah yang membungkus tubuhnya luar dalam de ngan (pakaian) taqwa. Jilbab luar penting untuk menutup aurat sebagaimana yang diperintahkan Allah dan Rasulullah, tapi ’jilbab’ dalam tidak kalah pentingnya. Ia akan membungkus pemakainya dengan pribadi terpuji, tutur kata yang bermakna, ucapan yang baik, perilaku yang luhur. Ya, shalehah luar dalam. Agama seorang muslimah akan terlihat dari pakaian yang dikenakannya dan akhlaq yang mencerminkan kualitas personalnya.

”Wanita dinikahi karena empat hal : harta, kecantikan, kehormatan dan agamanya. Pilihlah wanita yang beragama pasti engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari – Muslim)

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihah” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai)

“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta/ tahtanya mungkin saja harta/ tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shalehah, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)

E – Enak untuk Dipandang

Jangan buru-buru berkomentar ’Dasar cowok, tetap aja kriteria fisik yang diutamakan!’. Enak untuk dipandang tuh tidak sama dengan cantik karena cantik lebih identik dengan kulit putih, halus dan tubuh proporsional seperti model iklan atau artis-artis yang banyak dipertontonkan di media. Enak untuk dipandang tuh lebih esensi dari itu karena didalamnya termuat ketangguhan ruhiyah, kehalusan pribadi, keluhuran akhlak bahkan kecerdasan seorang muslimah. Makanya ada wanita cantik yang tidak enak untuk dipandang dan sebaliknya ada wanita yang tidak terlalu cantik tetapi begitu menyejukkan ketika dipandang. Dan karenanya pula Rasulullah menganjurkan kita untuk melihat wanita yang akan dipinang karena akan lebih mampu melanggengkan hubungan (HR Lima Imam Hadits, kecuali Abu Daud). Yah sebenarnya sih memilih wanita yang cantikpun tidak dilarang selama tidak mengabaikan agamanya.

”Setelah ketakwaan, tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi seorang laki-laki daripada istri shalehah. Jika dia melihat istrinya, istrinya itu menyenangkannya; jika dia menyuruh, istrinya itu mematuhinya; jika dia memberi istrinya itu berterima kasih; dan jika dia pergi, istrinya itu menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah)

L – Luas Wawasannya

Kalo ini sih banyak terkait dengan visi pribadi. Pernikahan kan bukan hanya untuk meredam syahwat, memenuhi kebutuhan biologis, menghasilkan keturunan dan sebatas pada – maaf – urusan tempat tidur saja. Pernikahan tidak hanya dirancang untuk satu malam, sepekan, sebulan ataupun setahun namun ada mimpi-mimpi panjang yang menyertai. Pernikahan juga bukan hanya menyatukan dua manusia, dua keluarga namun ada visi yang jauh lebih besar dari itu (kalo udah mau nikah baru dikasih tau J). Nah, untuk mencapai tujuan pernikahan tersebut, untuk memudahkan membangun sinergitas, saling melengkapi dan memahami, maka pengetahuan dan pendidikan adalah suatu keniscayaan. Jika ada syair yang mengatakan ’Bila rumahmu tidak diurus wanita yang cerdas, semua maslahatnya pasti kan hilang’, maka tak salah juga jika Imam Ahmad mengatakan ’Kewanitaan ada pada setiap wanita, tapi kecerdasan tidak terdapat pada setiap wanita

I – Inklusif dalam masyarakat

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa seorang da’i yang bersabar atas kondisi objek dakwahnya jauh lebih utama dibandingkan yang tidak bersabar atas mereka, dalam artian kemudian pergi menyendiri dan hanya mengupayakan kebaikan bagi dirinya. Atau dalam hadits lain diceritakan bahwa azab Allah kepada suatu kaum yang durhaka akan dimulai dari orang shalih yang ada pada kaum tersebut namun dia berdiam diri, tidak berupaya untuk merubahnya. Karenanya, sya’bi menjadi salah satu kiththah dakwah. Karenanya, untuk mewujudkan visi keumatan, bidadari haruslah dapat memasyarakat. Sebuah catatan besar jika seorang muslimah tidak dikenal di lingkungan sekitarnya, bagaimana bisa nashrul fikroh? Tentunya prinsip ’yakhtalituna walakin yatamayazun’ tetap dijaga. Berbaur namun tidak lebur.

T – Tangguh dan sabar

Berjuang pastinya tidak mudah, walau bersama-sama, berdua, apalagi sendirian. Butuh ketangguhan ruhiyah, aqliyah dan jasadiyah serta butuh kesabaran ekstra. Sang bidadari bukan hanya perlu memahami hal ini namun juga harus mencoba untuk dapat menjadi muslimah tangguh dan penyabar. Sedemikian pentingnya kesabaran sehingga sabar tercatat sebagai akhlaq yang paling banyak muncul di Al Qur’an, dalam berbagai bentuknya bahkan dalam beberapa ayat sabar sampai diulang beberapa kali. Nah, kebayang tuh kalo bidadarinya sebentar-sebentar ’butuh istirahat’, kapan nyampe tujuan? Apalagi kalo ga sabaran. Wah, bakal berantakan tuh rumah tangga.

A – Amanah dan qona’ah

Selanjutnya pribadi bidadari yang didamba adalah yang menggembirakan karena tanggung jawab dan kesederhanaannya. Jiwa tenteram ketika bersamanya dan tenang ketika ditinggalkan. Dapat dipercaya lagi puas dengan segala karunia yang telah diberikan Allah SWT…. Ahh…

* * *

Yap, dicukupkan mimpinya. Saatnya kembali ke alam nyata. Tidak ada manusia yang sempurna namun setiap manusia dapat berusaha lebih baik setiap saatnya menuju kesempurnaan. Dan memang hanya Allah-lah pemilik segala kesempurnaan. Dan seorang laki-laki hanya pantas mendapatkan ’bidadari’ yang sesuai dengan kapasitas pribadinya. Dan sungguh Allah Maha Adil lagi Tepat Perhitungan-Nya. Akhirnya, siapa yang memenuhi kriteria diatas tidak menjadi prioritas, yang terpenting adalah setiap dari kita dapat terus meningkatkan kualitas diri kita di hadapan Allah. Ya, menjadi laki-laki yang shalih luar dalam, menyejukkan ketika dilihat, cerdas, dekat dengan masyarakat, lebih tangguh dan lebih sabar, bertanggung jawab, tidak mudah mengeluh dan pandai bersyukur. Dan insya Allah bidadari itu akan menghampiri, tidak perlu lagi dicari. Bahkan jika harus mati sebelum berjumpa bidadari yang didamba, selama akhir hayat adalah husnul khatimah, Allah telah menjanjikan balasan yang tak kalah menariknya kelak di jannah-Nya. Dan Allah takkan pernah ingkar janji…

“Oh  Tuhan… Bisakah dicari di dunia ini, seorang wanita bak BIDADARI, menghulurkan cinta setulus kasih…” (‘Ainul Mardiah’, UNIC)

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya.”(HR. Thabrani)


Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>