Belajar dari Boneka Daruma

“Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh” (Confusius)

Ahad pagi lalu, aku menonton film Doraemon, film yang sudah kutonton sejak belasan tahun lalu. Hitung-hitung refreshing sebelum berangkat ke rapat panitia walimahan teman. Dalam sebuah segmen, dikisahkan Nobita putus asa terhadap dirinya. Enggan untuk menatap masa depan sementara saat ini saja dirinya begitu bodoh dan lemah sehingga terus teraniaya. Ia mengenang kembali saat indah ketika masa kecil dulu, begitu disayang dan tanpa masalah. Sejurus kemudian, kenangannya tiba pada saat ia terjatuh dan menangis, namun neneknya bukan membantunya berdiri namun hanya memberinya boneka Daruma, yang kemudian jatuh menggelinding lalu kembali dapat berdiri tegak. Nobitapun bangkit dan mendapatkan pencerahan dari neneknya tentang Boneka Daruma, yang tetap dapat berdiri tegak, tanpa dibantu, walau berkali-kali menggelinding dan jatuh. Nobitapun bangkit dari bayang-bayang masa lalu, kemudian melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukannya : belajar!

Hmm, sayapun tertarik mencari informasi tentang boneka sekaligus  mainan asal Jepang tersebut. Model dari benda berbentuk hampir bulat, dengan bagian dalam kosong serta tidak memiliki kaki, tangan dan mata ini adalah Bodhidharma, pendiri dari Zen. Legenda boneka tersebut terinspirasi dari meditasi ekstrim Bodhidharma di sebuah vihara shaolin yang mengubah dirinya menjadi postur meditasi zazen, kakinya dilipat di bawah tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, kakinya mengalami atrophia dan lepas dari tubuhnya, lalu diikuti oleh tangannya. ‘Hebat’nya lagi, sebelum tungkai dan lengannya terlepas, Bodhidharma memperoleh suatu cara untuk mengatasi kelelahan tubuhnya dengan memotong kelopak matanya dan melemparkannya ke tanah yang konon menjadi sebuah pohon teh. Sehingga dipercaya meminum teh dapat membuat terjaga di malam hari seperti Bodhidharma yang terus terjaga selama sembilan tahun. Yah, terlepas dari kepercayaan bahwa boneka ini lambang harapan yang belum tercapai, penolak bala dan pemberi keberuntungan, ada pelajaran berharga yang dapat diambil dari boneka berbusana merah berwajah putih ini.

Pertama, dedikasi dalam menjalankan tugas guna mencapai tujuan. Walau harus menjalani hari-hari yang panjang dan sulit, bahkan harus kehilangan anggota tubuhnya, sosok Daruma digambarkan tetap teguh penuh dedikasi dalam menjalani meditasinya. Bandingkan dengan seseorang yang memiliki tujuan yang lebih tinggi dan mulia, namun cengeng, banyak mengeluh dan enggan berkorban. Tidak tahan dengan kelelahan dan maunya banyak istirahat dan makan. Nah, dedikasi dan kesungguhan dalam berjuang ini yang kerap – disadari atau tidak – hilang dalam keseharian kita dalam mengemban amanah. Akibatnya, yang terlihat hanya jalan yang semakin berat dan tujuan yang semakin jauh…

Kedua, senantiasa bangkit dari kegagalan. Daruma biasanya dibuat dengan alas berat berbentuk lingkaran sehingga walau jatuh terguling seperti apapun ia akan kembali berdiri tegak. Di Indonesia, dengan teknik yang sama, tokohnya banyak diubah. Waktu kecil, aku punya boneka doraemon yang tetap berdiri tegak walau dipukul bahkan dibanting berkali-kali. Kalo sekarang, mungkin sudah ada boneka Dora atau Spongebob yang menerapkan teknik yang sama. Yah, pelajaran penting bahwa ‘pukulan’ dan ‘bantingan’ dalam perjalanan hidup yang mungkin sempat membuat kita jatuh terguling tidak selayaknya membuat kita ‘takut’ untuk kembali berdiri tegak.

Ketiga, tetap memiliki impian dan berupaya mewujudkan impian itu. Di Jepang, orang biasanya melukis sebelah mata Daruma ketika memohon sesuatu dan melukis matanya yang sebelah lagi ketika permohonannya telah terkabul. Bisa dibayangkan motivasi yang akan timbul ketika melihat mata Daruma yang cuma sebelah, orang akan teringat akan impian-impiannya, orang akan tersadar bahwa ada target dan pekerjaan yang harus dituntaskan. Daruma seolah mengingatkan bahwa impian takkan terwujud tanpa motivasi dan upaya nyata untuk mewujudkannya. Sudahkah kita memilikinya?

Akhirnya, Daruma hanyalah sebuah boneka yang takkan memberi manfaat ataupun mudharat, namun dapat kita ambil hikmah darinya. Dan mengambil hikmah bukan sekedar menyadari hikmah namun ada perbaikan nyata terkait hikmah yang telah didapat. Semoga kita memiliki kesungguhan, ketangguhan dan amal nyata dalam menggapai tujuan hidup kita. Semoga Allah senantiasa memberi pertolongan dan meneguhkan langkah kita tetap di Jalan-Nya…

”Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah” (Thomas Alfa Edison)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>