Ketidakpedulian yang Menghancurkan

Barang siapa yang tidur dan tidak mengambil beban urusan orang-orang Islam maka dia bukan termasuk golongan mereka.” (HR al-Baihaqi)

Beberapa hari yang lalu, saya membaca salah satu surat kabar yang headlinenya memuat berita tentang sepasang siswa – siswi yang kepergok sedang berbuat mesum di kamar mandi dekat mushalla salah satu SMA di kawasan Kebon Jeruk. Jika sebelumnya Gorontalo (siswa SMP lho), Pekanbaru, Kendal, Tegal, Indramayu, Cianjur, Bandung, Banten, Bogor, dan lain – lain, sekarang giliran Jakarta. Hmm, berita bobroknya moral pelajar bahkan hingga level SD nampaknya bukan berita baru dan mungkin sudah kerap didengar. Tawuran pelajar, narkoba hingga seks bebas nampak tak asing lagi tapi disitulah anehnya. Ketika kita kerap mengetahui hal tersebut lalu lewat begitu saja tanpa ada keprihatinan, tanpa kekhawatiran dan tanpa upaya untuk menghadapinya, disitulah letak keanehannya. Yah, walaupun kejadian tersebut bukan di Depok, saya tidak berani menjamin bahwa Depok terbebas dari hal – hal tersebut.

Beberapa saat sebelumnya, SMA 35 Jakarta sempat dihebohkan karena anak – anak ROHIS dan alumninya terlibat penculikan Raisyah. Terlepas dari muatan politis dalam kasus tersebut, kejadian itu bisa menjadi ancaman bagi dakwah sekolah. Tapi mungkin kita masih tenang – tenang aja toh hal tersebut tidak terjadi di Depok. Atau belum.

Dalam silaturahim saya ke LDK ROHIS 5 Depok (yang saya nilai semangat pesertanya melebihi peserta LDK ROHIS 1 Depok, bagus!) beberapa saat lalu, selepas Maghrib, Bang Taufik sempat berkisah tentang ‘kisah si tikus’ dengan versinya. Berikut adalah “versi asli”nya …

* * *

Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya saat membuka sebuah bungkusan. ‘Ada makanan’, pikirnya. Tapi tikus itu terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus. Lari kembali ke ladang pertanian, tikus itu menjerit memberi peringatan, “Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah!”. Sang ayam dengan tenang berkokok, sambil tetap menggaruki tanah, ia mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya, maafkan aku Pak Tikus. Aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalah. Jadi jangan buat aku sakit kepala-lah.”

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing. Katanya, “Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!”. “Wah, aku menyesal dengan kabar ini”, si kambing menghibur dengan penuh simpati. “Tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu senantiasa ada dalam doa – doaku!”. Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. “Oh? sebuah perangkat tikus? Jadi saya dalam bahaya besar ya?”, kata lembu itu sambil ketawa, berleleran liur.

Akhirnya tikus tersebut kembali ke rumah dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh – sungguh sendiri. Malam tiba dan terdengar suara bergema di seluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berhasil menangkap mangsa. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap.

Di dalam kegelapan malam, dia tak dapat melihat bahwa yang terjebak adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani. Si isteri kembali ke rumah dengan tubuh menggigil, demam. Dan sudah menjadi kebiasaan, setiap orang sakit demam, obat pertama adalah memberikan sup ayam segar yang hangat. Petani itu pun mengasah pisaunya dan pergi ke kandang, mencari ayam untuk bahan supnya.

Tapi bisa ular itu sungguh jahat, si isteri tak langsung sembuh. Banyak tetangga yang datang membesuk dan tamu pun tumpah ruah ke rumahnya. Petani pun harus menyiapkan makanan dan terpaksa kambing di kandang dia jadikan gulai. Tapi itu tak cukup, bisa ular itu tak jua dapat ditaklukkan, si isteri meninggal dan berpuluh orang datang untuk mengurus pemakaman, juga selamatan. Tak ada cara lain, lembu di kandang pun dijadikan panganan untuk puluhan pelayat dan peserta selamatan.

* * *

KEPEDULIAN! Itulah kata kuncinya. Kita tak pernah tahu apa yang akan menimpa kita dan lingkungan terdekat kita. Hanya saja dapat kita pahami bahwa sebagaimana kebaikan, kemaksiatanpun sifatnya menyebar. Kemaksiatan dan musibah yang menimpa saudara kita di tempat lain bukan tidak mungkin akan kita atau lingkungan terdekat kita alami, apalagi kalau kita tidak peduli. Jika saat ini kita masih ‘beruntung’ tidak ada jaminan akan demikian selamanya, apalagi jika kita berhenti belajar dari yang lain dan tidak berupaya keras untuk mencegah hal – hal yang tidak diinginkan terjadi.

Saat ini kemaksiatan terus berupaya menyergap siapa saja dengan berbagai sarananya. Butuh kepedulian dan kesungguhan untuk menghadapinya. Sikap santai dan berdiam tentu bukan solusi, bahkan berjalan pun takkan cukup untuk menghalau potensi kebobrokan yang tengah berlari. Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil, kepedulian dan kesungguhan orang lain kerap dapat membantu seseorang keluar dari kesulitan hidupnya. Coba perhatikan teman – teman kita yang berguguran di jalan ini, sudahkah kita memberi perhatian yang tulus kepada mereka? Bukankah tidak mungkin kepedulian kita yang tulus sebenarnya dapat menyelamatkan mereka? Jadi, jika ternyata ada berbagai masalah pada ‘adik – adik’ kita, sekolah kita atau lingkungan kita, bisa jadi hanya karena kita yang tidak peduli. Lalu, masihkah kita acuh?

Kadang – kadang anda dapat mengatasi sebuah situasi sulit hanya dengan bersedia memahami orang lain. Sering yang paling dibutuhkan seseorang adalah mengetahui bahwa ada seseorang lain yang peduli tentang bagaimana perasaannya dan berusaha memahami posisi mereka” (Brian Tracy)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>