Dan Handphonepun Berbicara

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

Pada saat tulisan ini dibuat, lagu Everybody’s Change dari Marian Dacal tersebut masih kujadikan Nada Sambung Pribadi (NSP) untuk nomor CDMA-ku. Terdengar agak aneh mungkin, kenapa gak nasyid atau lagu-lagu religi saja. Jadi teringat betapa banyak yang bertanya-tanya ketika awalnya kujadikan lagu “Simpan Saja”nya Ecoutez sebagai NSP, “Simpan saja rasa di hatimu, sudah lupakan, hasratku sudah tak lagi saling cinta, sudah sampai di sini”. Halah!

Fenomena Handphone
Sewaktu SMA, kayaknya cuma dua orang teman OSIS-ku yang kutahu memiliki telepon genggam. Yang satu punya Bapaknya, yang satu lagi segede botol aqua 600 ml. Lumayan lah buat alat untuk komunikasi sekaligus jaga diri. Aku sendiri baru memiliki handphone (HP) pas jadi PO Baksos Peduli TKI NUnukan tahun 2002. HP tangguh Siemens C25 yang tetap berfungsi pun pernah terjun bebas ke tanah dari lantai 3 gedung C asrama UI. Di masa selanjutnya, HP mewabah dengan berbagai macam modelnya. Kalo dulu HP bisa jadi indikator wajar tidaknya seseorang mengajukan keringanan biaya kuliah, sekarang udah ga relevan.

Beragamnya aplikasi dan layanan semakin membuat HP dibutuhkan bukan sekedar untuk telepon dan SMS saja. Interaksi seseorang dengan HPnyapun semakin tinggi. Lihat saja Ketua BEM UI 0506 yang menjadikan HPnya seperti pacarnya (he3x, becanda Man:p). Akhirnya, banyak rahasia diri yang secara langsung ataupun tidak tersimpan dalam HP seseorang. Hal inilah mungkin yang membuat anak psikologi suka ‘maling inbox‘, he3x, yang ngrespon statement terakhir berarti merasa tersindir.

Cermin diri
Dari penampilan fisik, HP memang tidak selamanya menunjukkan strata sosial seseorang. Ada orang yang cukup mampu dengan model HP biasa-biasa saja bisa jadi menunjukkan kesederhanaannya dan ketertutupan diri. Sebaliknya orang biasa dengan HP yang relatif ‘wah’ atau ‘eye catching‘ menunjukkan sisi kebutuhan akan perhatian. HP juga tidak serta merta menunjukkan keaktifan atau mobilitas seseorang. Ada orang-orang yang mengedepankan fungsi primer HP dibandingkan berbagai fasilitas lainnya. Tapi umumnya, HP yang terawat dengan tidak terawat menunjukkan bagaimana penggunanya. Kartu atau operator yang digunakan juga kerap mencirikan seseorang, mulai dari kebiasaan telpon/ SMS, ke nomor apa hingga jaringan pertemanan yang dimiliki.

Yang lebih menarik adalah content di HP. Jika akhlak tercermin dari apa yang dipakai, dibaca, dilihat, didengar, diucapkan dan dilakukan, maka HP dapat mencerminkan akhlak seseorang. Iya, barangsiapa yang tasyabuh dengan suatu kaum, maka ia bagian dari kaum tersebut. Jadi tidak heran, NSP seperti yang kusebutkan diatas langsung menuai banyak tanya, “Lagi kenapa?“, “Lagi futur ya?“, dsb. Bahkan tidak sedikit yang memintaku untuk mengganti/ me non aktif kan NSP tersebut. Tidak selamanya memang, namun lagu-lagu, ring tone, foto atau video yang tersimpan dalam HP kita banyak menunjukkan siapa kita.

Coba perhatikan SMS yang masuk dan keluar. Nama yang paling banyak muncul adalah nama orang yang spesial buat kita. Jika ada pesan masuk yang sudah sekian lama tidak dihapus, biasanya bukan hanya karena isinya yang penting namun lebih karena kesan yang ditinggalkan oleh pengirimnya. Begitu pula halnya dengan penggilan masuk atau keluar. Durasi telepon kerap lebih mencerminkan seberapa penting lawan bicara bagi kita bukan seberapa penting pembicaraan yang terjadi.

Pesan pembuka dan wallpaper juga kerap mencerminkan siapa kita. Sesuatu atau yang seseorang yang spesial ada disana. Ada juga yang memberikan karakter tertentu bagi “orang – orang tertentu” atau memunculkan tampilan tertentu ketika “si dia” menelpon. Lalu bagaimana dengan ikhwan yang belum menikah dan menjadikan foto akhwat idamannya sebagai wallpaper? Nah lho! Dalam beberapa kasus akhirnya banyak hal yang tidak syar’i yang telah kita lakukan dengan alat kecil bernama handphone.

Malu dong!
Apa yang diungkapkan diatas mungkin memang tidak semuanya tepat, namun yang perlu dicermati adalah ternyata barang – barang milik kita ternyata bisa mencerminkan siapa kita. Dan yang namanya cermin, kita gunakan bukan hanya untuk berkaca tapi juga memperbaiki penampilan. Jika saat ini masih ada aib – aib kita pada barang – barang milik kita yang Allah tutupi, segera perbaiki. Bukan semata karena malu jika sampai orang lain tahu, tapi tidak pantas rasanya jika kita sudah bercermin namun masih membiarkan diri kita berantakan. Bukankah malu itu bagian dari iman dan dapat menghindari seseorang dari melakukan kemaksiatan? Dan jika kita sudah bercermin pada HP kita, sekarang coba bercermin pada flashdisk dan file – file yang tersimpan di komputer kita yang — lagi – lagi — akan memaparkan siapa diri kita…

Dan (juga) orang – orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa – dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S. Ali Imron: 135)

Wallahu a’lam bishawwab
Ps. OK, NSP saya non aktifkan…

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>