Belajar dari Daun Hijau

”Sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani)

Daun adalah organ tumbuhan yang sangat penting dan menjadi ciri khas dari makhluk hidup bernama tumbuhan. Daun memiliki bentuk yang beragam sesuai dengan fungsi dan sifatnya, mulai sebesar daun pisang hingga sekecil duri kaktus. Daun itu hijau, teduh, dan memiliki banyak pelajaran untuk optimalisasi hidup bagi mereka yang mau mengambil pelajaran.

Daun itu mandiri. Ia tidak menggantungkan diri pada yang lain. Karenanya ia dapat memproduksi makanan sendiri. Daun itu cerdas. Ia pandai menyesuaikan diri. Karenanya ia dapat hidup mulai dari di daerah segersang padang pasir hingga mengambang di atas air. Dan daun itu produktif. Ia tidak menunggu dewasa untuk memberikan kebermanfaatan. Karenanya ia sudah dapat melakukan fotosintesis bahkan sesaat setelah tunas itu tumbuh.

Daun itu tidak egois. Ia tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. Karenanya energi dan makanan hasil fotosintesis, dialirkan ke seluruh bagian tubuh tumbuhan, tanpa kecuali. Daun itu tahu balas budi. Ia menyadari bahwa ia ada berkat dukungan yang lain juga. Karenanya semakin rimbun daun, semakin kokoh pula akar yang menyerap air dan sari pati makanan, serta semakin kuat pula batang yang menyalurkannya. Daun itu santun. Ia mengubah keburukan menjadi kebaikan. Karenanya zat asam arang yang dapat menjadi racun melalui proses fotosintesis diubahnya menjadi oksigen dan energi yang bermanfaat.

Daun itu pemurah. Kebermanfaatannya dapat dirasakan luas, tidak hanya bagi tumbuhan yang ditinggalinya. Mulai dari hewan dan manusia yang menghirup oksigen hasil fotosintesis atau menjadikannya makanan yang menyehatkan, hingga kegunaannya sebagai bahan obat, pembungkus dan berbagai pemanfaatan lainnya. Daun itu indah, dengan beragam bentuk dan corak warna, menjadikan tumbuhan dan pepohonan tampak lebih hidup. Daun itu menyejukkan. Mengayomi dan menentramkan.

Daun itu tawazun (seimbang). Ia tidak berlebih – lebihan. Karenanya ia tidak layu karena kelebihan berproduksi atau pucat karena kekurangan makanan. Dan daun itu terus berkontribusi. Kontribusi yang terus terjaga kontinyuitasnya hingga mati. Kematiannyapun berprestasi. Dengan lebih dulu membentuk tunas baru. Bahkan ketika ia harus kering dan gugur, keberadaannya dapat menjadi pupuk yang menyuburkan tumbuhan yang pernah ditinggalinya…

Indahnya hidup jika filosofi daun tersebut dapat terinternalisasi dan terimplementasi dalam setiap diri kita. Kemandirian, produktifitas dan kebermanfaatan tentunya akan membuat hidup lebih bermakna. Namun hati – hati, ada pula daun yang berduri, membuat gatal, beracun ataupun menyebarkan bau busuk. Dan akhirnya pilihan itu ada di tangan kita.

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>