Jari Tangan dan Kepemimpinan

Sang pemimpin menemukan impiannya baru pengikutnya. Pengikut menemukan pemimpinnya baru impiannya” (John C. Maxwell)

Ada sebuah tulisan yang menganalogikan perjalanan hidup manusia dengan jari tangan, mulai dari masa kecil (kelingking) hingga tumbuh dewasa (ibu jari). Menarik, namun saya tidak sepenuhnya sepakat karena menjelang akhir perjalanan hidupnya manusia akan kembali suka mencari perhatian, dan akan kembali lemah. Alur yang bolak – balik, tidak searah. Ada juga yang membuatan tulisan analogi dengan ibu jari sebagai pemimpin dan kelingking adalah rakyatnya. Lucu juga. Dan saya lebih tertarik untuk menganalogikan jari tangan dengan tipe pemimpin yang banyak ditemui.

Kelingking, menggambarkan pemimpin yang lemah dan tidak memiliki karakter. Rapuh dan tidak punya kekuatan. Pemimpin yang tidak dianjurkan untuk dipilih karena salah satu syarat pemimpin adalah quwwah. Hal ini terlihat dari jawaban Rasulullah kepada Abu Dzar yang menawarkan diri sebagai penguasa (amil), “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya” (HR. Muslim). Namun realitanya, pemimpin jenis ini kerap dipertahankan karena keberadaannya dapat mengakomodasi kepentingan golongan.

Jari manis, melambangkan pemimpin sebagai simbol, sebagai pemanis. Pemimpin yang belum matang. Kehadirannya ada karena orang di belakangnya atau asal jangan orang tertentu. Kepadanya bisa jadi disematkan banyak predikat dan kebanggaan, bahkan berjuta kehormatan. Namun ketidakmatangannya membuat pemimpin ini rapuh, tak punya pendirian. Karena kepemimpinannya adalah semu, bayang – bayangnyalah yang sejatinya memimpin. Para pesilat lidah banyak mengelilingnya dan mengajarkannya untuk lihai dalam menebar janji manis. Realitanya, pemimpin sepeti inipun kerap dipertahankan, karena pemimpin semu biasanya juga memiliki pengikut semu. Apalagi tidak sedikit orang yang masih mengedepankan simbol dan tampak luar dibandingkan esensi dan isi.

Jari tengah, mencirikan pemimpin yang tinggi dan kerap arogan. Pemimpin ini ada di menara gading dan kurang bersinggungan dengan dengan orang yang dipimpinnya. Pemimpin ini biasanya memiliki kualitas personal yang baik, punya beberapa kelebihan namun tidak cukup bijak dalam menentukan kebijakan. Utamanya karena ketidakpahamannya dengan realita yang terjadi di bawahnya. Gap inilah yang membuatnya banyak dipuja sekaligus banyak dihujat. Sulit diingatkan, cukup otoriter dan tidak mudah digulingkan. Pun ketika jatuh akan sangat terjerembab. Realitanya, pemimpin seperti ini kerap dianggap pemimpin ideal karena keunggulannya pun sebenarnya pemimpin seharusnya melayani bukan dilayani.

Telunjuk, menandakan pemimpin yang cakap mengatur. Geraknya relatif lincah dan cerdas dalam memberikan arah. Pemimpin yang lebih tepat disebut manajer ini biasanya aktif dan visioner. Paham kekuatan diri dan dapat memberdayakan yang dipimpinnya. Hanya saja pemimpin ini kurang baik dalam refleksi diri, ibarat tidak sadarnya telunjuk yang menuding sementara tiga jari lainnya menunjuk ke diri sendiri. Karenanya kebijakan yang diputuskan kerap dianggap semena-mena, perintah yang diberikan sering dipandang sebagai beban. Realitanya, pemimpin ini banyak diikuti, khususnya oleh mereka yang tidak memiliki mentalitas pemimpin dan mereka yang tidak tentu arah, mengikuti dengan atau tanpa kesertaan jiwa. Dibutuhkan dalam mengatasi kesemrawutan namun menjadi sangat berbahaya jika salah arah.

Ibu jari, mencerminkan pemimpin yang penuh keteladanan. Berjiwa besar, kokoh dan dapat diandalkan. Rendah hati walau sebenarnya dia ada di posisi teratas. Dapat menyentuh semua golongan dengan kekayaan hatinya, dengan keteladanannya. Ya, hanya ibu jari yang dapat menyentuh setiap ruas jari yang lain. Ibu jari pula yang berada paling luar dan melingkupi jari – jari lainnya ketika semua jari mengepal. Kepemimpinan ibu jari akan menaungi, akan melindungi semua. Ketika memberikan petunjuk, dia akan mengarahkan dengan santun. Dan yang diberikan petunjukpun tidak merasa terbebani (saya tekenang kejadian naik gunung malam – malam di tengah hujan pula, ketika bertemu warga dan menanyakan tempat yang memungkinkan untuk mendirikan tenda, beliau menunjuk dengan ibu jarinya dan mengatakan ‘ke atas sedikit lagi’, jadi semangat padahal ternyata masih jauh =p)

Ketika awal masuk kampus, saya diajarkan bahwa pemimpin itu adalah mereka yang challenging the process, inspiring a shared vision, enabling other to act, modelling the way dan encourging the heart. Dalam perjalanannya, ternyata tidak mudah memiliki karakteristik di atas. Berani memulai menjadi pemimpin memang tidak mudah tetapi menjadi visioner lebih tidak mudah. Menggerakkan orang lain ternyata tidak semudah sekedar memberikan arahan. Menjadi teladan ternyata tidak semudah sekedar meminta orang untuk berbuat. Dan menghimpun hati-hati untuk mencapai tujuan bersama juga tidak mudah.

Pemimpin yang baik banyak lahir dari kawah candradimuka perbuatan dan pengalaman, bukan dari setumpuk teori kepemimpinan. Jika masih menjadi ‘kelingking’, maka tingkatkanlah kapasitas diri. Jika masih menjadi ‘jari manis’, kembangkanlah integritas diri. Jika masih menjadi ‘jari tengah’, cobalah ‘turun ke bawah’. Jika masih menjadi ‘telunjuk’, cobalah lebih banyak berbuat. Jika sudah menjadi ‘ibu jari’, tingkatkanlah ketaqwaan. Karena pemimpin idaman bukan cuma kuat, berilmu, penuh belas kasih, jujur, visioner, cakap mengatur dan bisa jadi teladan saja, tetapi juga bertaqwa.

“Sebaik-baik pemimpin adalah yang kamu cintai dan mereka mencintaimu. Kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakanmu. Sejahat-jahat pemimpin adalah yang kamu benci dan mereka membencimu. Kamu kutuk mereka dan mereka mengutukmu” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam bishawwab

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>