Pendidikan, Solusi Kompleksnya Masalah Pedesaan

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” (Nelson Mandela)

Potret Bangsa Indonesia belum jua terlepas dari kemiskinan, terutama di daerah pedesaan. Data BPS pada Maret 2010 menyebutkan bahwa dari 31.02 juta penduduk miskin di Indonesia sebanyak 64,23% tinggal di desa. Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan di pedesaanpun hampir dua kali lipat dari perkotaan. Jumlah ini realitanya bisa jadi lebih besar mengingat parameter kemiskinan BPS yang rendah. Jika melihat pembagian BLT dan Raskin saja yang mencapai lebih ke 17 juta keluarga miskin, sementara dalam satu keluarga miskin umumnya terdiri lebih dari empat orang, maka jumlah penduduk miskin di Indonesia seharusnya lebih dari 70 juta jiwa.

Selanjutnya jika data kemiskinan tersebut diperdalam, tampaklah ada korelasi negatif yang erat antara kemiskinan dengan pendidikan. Masyarakat miskin umumnya berpendidikan rendah dan masyarakat yang berpendidikan rendah lebih berpotensi menjadi masyarakat miskin. Sekitar 80% penduduk miskin tidak lulus SD atau hanya lulus SD, dan sebagian besar ada di pedesaan. Dalam pengalaman penulis mengunjungi berbagai desa, pendidikan memang tidak menjadi prioritas masyarakat miskin pedesaan, belum lagi akses pendidikan yang masih sangat terbatas. Daripada jalan kaki sejauh 5 kilometer untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah, masyarakat miskin pedesaan umumnya lebih memilih meminta anak – anak untuk bekerja membantu orang tua. Bisa membaca dan menghitung dianggap sudah cukup, lebih baik daripada orang tua mereka yang banyak buta huruf. Akhirnya, kondisi ekonomi tak jua membaik karena pola pikir dan mentalitas tidak berubah. Karenanya masalah pendidikan sebagai upaya pengentasan kemiskinanpun menjadi tantangan serius bagi masyarakat pedesaan.

Permasalahan masyarakat pedesaan memang kompleks, bukan sebatas minimnya infrastruktur dan rendahnya akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, informasi dan berbagai pelayanan publik. Berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebutpun bukannya tidak sama sekali dilakukan, baik yang top down maupun bottom up. Berbagai bentuk program pemberdayaan masyarakat yang diselenggarakan kerap terkendala –seperti yang disampaikan Goodwin Watson dalam ‘Planning of Change’— baik karena faktor personal (kenyamanan/ homeostatis, kebiasaan, pilihan utama, seleksi ingatan dan persepsi) maupun sistem sosial (norma, budaya, penolakan terhadap orang luar). Disinilah pendidikan memegang peran vital dalam mengarahkan individu dan sistem sebagai solusi permasalahan pedesaan secara utuh. Pendidikan adalah aspek penting dalam kehidupan manusia. Mengutip perkataan Nelson Mandela, pejuang Afrika melawan diskriminasi, pendidikan merupakan senjata yang sangat ampuh untuk dapat mengubah dunia. Demikian pentingnya peran pendidikan, sehingga dapat dijadikan tolok ukur kemajuan dan pembangunan suatu negara. Bantuan ekonomi dan infrastruktur an sich kerap menimbulkan potensi konflk dan ketergantungan, namun pendidikan dengan segala bentuknya akan melahirkan individu dan komunitas partisipatif, integratif dan mandiri yang dapat mengatasi permasalahan mereka sendiri.

Kompleksitas permasalahan masyarakat pedesaan hanya dapat diselesaikan melalui pendekatan yang menyeluruh, baik kultural maupun struktural, baik sistem maupun teknis dan melibatkan segenap stakeholder yang ada. Sebatas mengandalkan program pemerintah tidak akan menjadi solusi yang sustain, dibutuhkan serangkaian aktifitas yang bertahap dan kontinyu. Penyiapan SDM berkualitas yang tidak terkendala secara personal untuk terus berkembang mutlak diperlukan dalam upaya pembangunan (masyarakat) pedesaan. Pendidikan akan menjawab berbagai kebutuhan tersebut, baik secara formal, informal maupun nonformal. Dimulai dari pendidikan di keluarga, dilanjutkan dengan lingkup yang lebih besar. Ketika pendidikan formal akan memberikan legalitas, pendidikan informal dan non formal akan mengembangkan potensi individu masyarakat baik secara pengetahuan, ketrampilan, pengembangan sikap dan kepribadian. Dampaknya bukan sebatas menurunkan angka buta huruf atau meningkatkan angka partisipasi pendidikan, tetapi juga meningkatkan indeks pembangunan manusia.

Perbaikan (pendidikan) masyarakat pedesaan secara struktual dan sistemik memang dibutuhkan. Hal ini erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah terkait pendidikan dan pengelolaan masyarakat pedesaan. Norwegia, Negara dengan indeks pembangunan manusia tertinggi memiliki sistem pendidikan yang luar biasa. Kesamaan hak pendidikan bagi seluruh anggota masyarakat benar – benar diterapkan, kegiatan belajar mengajar disesuaikan dengan kemampuan dan keahlian setiap orang, bahkan wajib belajar 10 tahun diberikan bebas biaya. Jepang yang luluh lantak pasca Perang Dunia II kini menjadi ikon kebangkitan Asia setelah melakukan reformasi pendidikan dengan tetap bertumpu pada karakter bangsanya. Pendidikan jelas berdampak positif terhadap kemajuan dan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Dalam hal ini peran pemerintah sangat diperlukan untuk menjawab berbagai permasalahan masyarakat. Di luar itu, pendekatan kultural yang lebih menyentuh langsung ke masyarakat juga sangat dibutuhkan. Perbaikan secara kultural inilah yang akan mengasah nilai individu dan norma masyarakat menjadi entiti penting dalam upaya penanggulangan masalah masyarakat. Pendidikan individu dan masyarakat ini akan mengakselerasi pembangunan masyarakat, dan dapat dilakukan segera tanpa harus menunggu kebijakan pemerintah yang berpihak kepada masyarakat.

Permasalahan masyarakat pedesaan yang kian menghebat butuh penyikapan segera. Untuk itu dibutuhkan prioritas penanganan dan upaya – upaya perbaikan yang nyata. Perbaikan pendidikan menjadi penyikapan bijak untuk memperbaiki individu dan masyarakat secara bertahap, menyeluruh dan kontinyu. Perbaikan pola pikir, sikap dan mentalitas memang seyogyanya diatasi dengan pendidikan. Belum lagi peningkatan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan yang dapat menjadi senjata dalam menghadapi berbagai permasalahan, diperoleh dari pendidikan. Setiap komponen masyarakat, termasuk kita, dapat berkontribusi dengan apa yang dimiliki. Saya siap memulainya, bagaimana dengan Anda?

*dimuat di Harian Radar Bogor

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>