Mengambil Hikmah dari Perjalanan Hidup

”Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Al Baqarah : 269)

* * *

 

Perjalanan beberapa pekan lalu ke Balikpapan begitu memberi kesan menyenangkan. Entah bagaimana mekanismenya, aku diberikan kesempatan untuk duduk di depan, di kelas bisnis, padahal tiket yang dipesan – seperti biasa – adalah kelas ekonomi. Sebelum pesawat lepas landas, secangkir jeruk hangat sudah menemani. Perjalanan dua jam tak terasa dengan berbagai jamuan yang disediakan, mulai dari roti yang masih hangat, buah, bolu bakar hingga cappucino hangat. Belum lagi tempat duduk plus bantal yang begitu nyaman. Penumpang di sebelah saya –di sisi pesawat yang lain- nampaknya merasakan hal yang sama. Penumpang laki – laki yang bergaya alay tersebut sepertinya bingung mengapa temannya duduk terpisah di kelas ekonomi padahal mereka check in bersama. Dia sering menengok bahkan beranjak ke kabin bagian belakang, dan nampaknya untuk sekedar menikmati hidanganpun dia ragu, mungkin khawatir diminta bon ketika turun dari pesawat nanti ^_^

Dalam perjalanan hidup, banyak sekali hal – hal baru yang kita temui. Hal – hal baru yang dapat memperluas wawasan, menambah pengalaman dan menjadi pembelajaran, walaupun mungkin sempat membuat kita terkejut. Aku jadi teringat pengalaman pertama kali naik pesawat sekitar 4,5 tahun lalu. Tidak pernah memimpikan sebelumnya dan ternyata aku tidak sendirian. Ada semburat kebahagiaan dan harap – harap cemas ketika pertama kali menjalaninya. Demikian pula halnya ketika pertama kali menaiki kapal feri atau ketika menikmati kereta api kelas bisnis. Selalu ada kekhawatiran ketika mencoba sesuatu yang baru, kekhawatiran yang nantinya dapat diceritakan kembali dalam bentuk pengalaman baru.

Beda lagi pengalaman menginap di salah satu hotel di Banjarmasin dua tahun lalu, pertama kalinya aku menjejakkan kali di Kalimantan. Hotel yang sangat nyaman, untuk membuka pintunyapun harus menggesek kartu yang rupanya merupakan kunci kamar. Dalam hal ini aku sudah terbiasa karena gedung departemen tempatku kuliah juga menerapkan mekanisme yang sama. Dan karenanya mungkin aku jarang masuk ke gedung departemenku ^_^ Kembali ke Banjarmasin, aku yang tiba menjelang maghrib heran ketika masuk ke kamar yang terbilang gelap, tidak ada lampu yang menyala, tidak ada saklar dan stop kontak yang berfungsi, tidak ada aliran listrik. Aku yang lelah dalam perjalanan memilih untuk segera mandi dalam temaram. Selesai mandi, kondisinya semakin gelap. Aku cek sekeliling, di dalam kamar tidak ada sesuatu yang seperti sekring, di luarpun lampu menyala. Ada apa ini? Mau nanya ke resepsionis, cukup jauh dan agak malu juga. Masak sarjana teknik lulusan UI dibodohi oleh listrik.

Setelah belasan menit grasak – grusuk dan tidak mendapatkan solusi, aku terduduk lemas di ranjang empuk. Adzan maghrib yang sayup – sayup kudengar mulai hilang, tiba – tiba pandanganku tertuju pada kotak bertanda panah ke bawah di dekat pintu. Kudekati dan kupastikan ada lubang di kotak itu yang seukuran dengan kunci kamar yang berupa kartu. Kumasukkan kartu tersebut hingga mencapai dasar dan semua lampupun menyala, juga televisi dan AC. Bukan ’Alhamdulillah…’ yang pertama kali terucap melainkan ’inna lillahi…’ karena diri ini merasa sangat bodoh sehingga perasaan syukur dan senangpun tertutupi. Tak ingin larut dalam kebodohan, akupun ingin beranjak shalat, tapi bingung arah kiblat itu kemana. Beberapa orang mengatakan kemampuan spatialku bagus, namun di negeri antah berantah ini aku masih buta arah. Tak ada tanda – tanda masjid terdekat, akupun turun menanyakan ke resepsionis letak mushalla dan arah kiblat. Selain menunjukkan letak mushalla, resepsionis juga memberitahu bahwa di langit – langit tiap kamar ada tanda panah yang menunjukkan arah kiblat. Lagi – lagi diri ini merasa bodoh. Apalagi sorot mata resepsionis seolah mengatakan ’ini orang Jakarta kok norak amat sih’. Ya, bukan hanya pengalaman baru, perjalanan hidup juga kerap mengajarkan kita untuk tidak angkuh. Masih banyak sisi dunia yang belum kita jejaki, masih banyak ilmu yang belum kita ketahui, masih terlalu kerdil bagi diri kita untuk merasa lebih.

Perjalanan hidup bukanlah sebatas rutinitas, banyak pelajaran menarik yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup kita. Pengalamanku ketika memasuki gedung MPR DPR sepertinya bisa jadi cerita sendiri. Atau kisahku ketika pertama kali mengenal internet atau komputer juga bisa jadi memuat hikmah, tidak sebatas nostalgia. Itu baru hikmah dari pengalaman hidup kita, belum lagi pengalaman hidup yang kita dapatkan dari orang lain. Mulai dari diskusi – diskusi serius, ngobrol – ngobrol penuh canda hingga – sengaja atau tidak sengaja – menguping pembicaraan orang lain dapat menambah ide dan wawasan serta mendatangkan berbagai pembelajaran. Berbagai nasihat dan perenunganpun tidak jarang kita dapati dari aktivitas keseharian dalam menjalani hidup, bukan hanya lewat ceramah.

Tidak hanya pengalaman diri atau orang lain, dalam kehidupan ini banyak sekali hikmah yang terhampar. Apa yang kita lihat, kita dengar atau kita rasakan kerap kali menyimpan banyak pelajaran. Jika dunia diibaratkan sekolah, maka gurunya bisa siapa atau apa saja yang kita jumpai. Kita bisa belajar dari daun, dari pohon pisang, dari air, dari anak kecil dan dari apa pun. Mengambil hikmah dari jenak perjalanan hidup kita akan membuka mata kita bawa memang tidak ada yang diciptakan sia – sia. ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran : 190 – 191)

Tidak semua orang dapat mengambil hikmah dan pelajaran. Tidak setiap manusia dapat memadukan kemampuan intelektual dan spiritualnya, mengharmonisasikan dzikir dan pikirnya. Musuh utama kebijaksanaan dalam mengambil hikmah adalah kesombongan yang menutupi hati dari cahaya kebenaran. ”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al Hajj : 46). Di ayat lain Allah telah mengingatkan, ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Isra’ : 37)

Kehidupan adalah rangkaian gerbong perjalanan waktu yang akan ada akhirnya. Berbagai pelajaran hidup akan meningkatkan kualitas hidup kita jika kita sikapi dengan baik. Hikmah yang kita dapat selama menjalani perjalanan tersebut akan membantu kita untuk lebih siap ketika kita (harus) tiba di stasiun akhir kehidupan. Dan tidak ada ’kereta balik’ dalam kereta kehidupan, karenanya sangat disayangkan jika momen untuk mengambil hikmah dibiarkan lewat begitu saja. Rugi sekali rasanya jika jenak waktu terlewat tanpa ada pelajaran hidup yang dapat kita petik. Semakin luas sudut pandang kita dalam menilai sesuatu, semakin banyak pula pelajaran yang dapat diambil. Mari kita petik sebanyak – banyaknya hikmah dalam tiap jenak perjalanan hidup kita…

* * *

“Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”
(QS. Az Zumar : 21)

  1. artikelnya bagus-bagus mas. izin copas ya mas, buat buku suvenir walimah mas :wink:
    sumbernya saya pake nama webnya mas “purwoudiutomo.com”

  2. Silakan… Semoga bermanfaat… :smile:

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>