Bermimpi

“Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi – mimpinya”
(Eleanor Roosevelt)

“Jika engkau bisa memimpikannya, engkau akan bisa melakukannya. Sungguh sangat menyenangkan melakukan hal yang ‘tak mungkin’”
(Walt Disney)

* * *

Judul diatas mengingatkan penulis pada lagu Base Jam dengan judul serupa yang sempat menjadi hits di medio tahun 90-an. Sayangnya, menurut hemat penulis, lirik lagunya kurang membangun. Bermimpi diidentikan dengan sikap berpangku tangan yang dekat dengan kemalasan. Orang yang bemimpi dikesankan tidak punya konsep diri, tak tahu mau jadi apa di masa depan. Ya, para pemimpi dipandang sebagai mereka yang kurang produktif padahal membangun impian adalah titik awal produktivitas. Padahal mimpi adalah sesuatu yang akan menjadi kenyataan di kemudian hari. Dan mimpi merupakan harta berharga yang dimiliki setiap orang, sampai – sampai Andrea ‘Sang Pemimpi’ Hirata menyebutkan melalui salah satu tokoh dalam novelnya bahwa tanpa mimpi, kita akan mati.

Visualisasi Impian : Tulislah Mimpimu!!
Dalam sebuah acara pesantren kilat yang penulis kelola beberapa waktu yang lalu, ada video inspiratif yang diputarkan. Berkisah tentang Danang Ambar Prabowo ‘Sang Pembuat Jejak’ yang menuliskan 100 impiannya dan mendapatkan lebih dari apa yang diimpikan. Beberapa pekan kemudian, Aris Setyawan, seorang alumni penerima Beastudi Etos Bogor mengantarkan sebuah buku buah karyanya bersama Danang berjudul ‘Pemimpi Luar Bidahsyat’. Dalam buku itu dipaparkan lebih jauh bagaimana seorang Danang dapat mengikuti Pekan Ilmiah Nasional, MTQ Nasional, menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional, terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti lomba di Selandia Baru, menerima beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Negeri Sakura hingga mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Fuji. Dan kesemua capaian itu berawal dari dua lembar kertas yang berisikan 100 impiannya. Impian yang kemudian dapat diwujudkannya.

Banyak kesuksesan yang berawal dari mimpi, namun ternyata memulai bermimpi tidak semudah yang dibayangkan. Karena impian yang bukan sekedar bunga tidur, dibuat dalam keadaan sadar, menuntut konsekuensi untuk dapat direalisasikan. Karenanya butuh keberanian untuk dapat memulai sebuah impian. Untuk dapat menginternalisasi impian dan menimbulkan afirmasi positif, impian yang dimiliki seharusnya tidak sekedar diingat, tetapi harus dituliskan. Dalam hal ini, butuh keberanian ekstra untuk dapat memulainya. Cobalah memulai untuk menuliskan beberapa, puluhan, ratusan atau bahkan ribuan impian di atas kertas. Tidak akan sesederhana yang dibayangkan. Selain keberanian, butuh kreativitas memang. Biarkan impian itu muncul secara alami, termasuk hal – hal sederhana yang belum dapat diwujudkan. Pahami impian yang dituliskan, selami lebih dalam dan sadari pula langkah – langkah yang diperlukan untuk mewujudkan impian itu. Jika masih sulit, istirahat sejenak untuk kemudian kembali fokus menuliskan impian.

Jauh sebelum Jim Carrey terkenal, ia pernah menulis di atas sebuah kertas $ 10.000.000 (sepuluh juta US dollar, jika dirupiahkan lebih dari 93 Milyar rupiah). Dia yakin suatu saat akan memperoleh bayaran senilai itu dan kemudian terwujud ketika dia membintangi ’The Mask’. Di sebuah restoran kecil, terdapat tulisan ’suatu saat saya akan menjadi bintang film terkenal, dst’ bertanda tangan Bruce Lee. Beberapa tahun kemudian, tulisan itu diperbincangkan menyusul munculnya bintang film kung fu terkenal bernama Bruce Lee. Kate Winslet, penerima piala Oskar 2009 sebagai aktris wanita terbaik mengatakan bahwa sejak usia 8 tahun dia sudah sering berlatih mengucapkan terima kasih dengan memegang botol shampo sebagai ’piala Oskar’nya dan hal tersebut akhirnya terealisasi bertahun – tahun kemudian. Itulah contoh beberapa orang yang berani memvisualisasikan impiannya, memahami benar impiannya dan bagaimana cara menggapainya serta melakukan usaha yang tepat untuk dapat mewujudkan impiannya tersebut.

Keajaiban Impian
Keberanian itu bernama impian. Impian untuk merdeka dari penjajahan lah yang melahirkan keberanian para pahlawan untuk menghadapi persenjataan canggih penjajah hanya dengan bambu runcing. Kekuatan itu bernama impian. Impian untuk menghapuskan diskriminasi ras (apartheid) di Afrika Selatan lah yang memberikan kekuatan bagi Nelson Mandela untuk menghadapi berbagai tantangan demi kemerdekaan bangsanya. Keajaiban itu bernama impian. Impian untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsanya lah yang mendatangkan keajaiban bagi seorang pesenam Jepang yang meraih medali emas Olimpiade sambil menahan sakit dalam kondisi tumit yang retak dan mengakibatkan ia cacat seumur hidup.

Terlalu banyak nampaknya jika diceritakan betapa impian mampu mendatangkan keajaiban. Mereka yang mempunyai mimpi, biasanya akan gigih berjuang untuk mewujudkan impiannya. Tak banyak keajaiban yang dapat tercipta tanpa impian. Karenanya, impian tidak seharusnya dibenturkan dengan realita, impian tidak perlu disesuaikan dengan kemampuan. Biarlah kemampuan yang akan menyesuaikan impian, dan disitulah letak keajaiban impian. Tidak ada hal yang sulit dilakukan selagi masih ada kemauan. Hal yang perlu dilakukan untuk mendatangkan keajaiban impian hanyalah mengalahkan berbagai keraguan, kerja keras dan konsistensi dalam menggapai impian. Semakin tinggi impian, ujiannya akan semakin besar dan konsistensi akan semakin dibutuhkan. Sisanya, biarkan Allah yang akan menetapkan hasil.

Bukan Sekedar Mimpi, Berjuanglah!!
Sekedar bermimpi tanpa mencoba mewujudkannya memang takkan berarti apapun, namun tanpa mimpi, jelas tidak ada yang dapat diwujudkan. Sejak zaman dahulu, banyak manusia bermimpi dapat terbang seperti burung, namun tidak banyak yang berupaya mewujudkannya. Adalah hal yang mustahil bagi manusia untuk dapat melawan gravitasi. Wright bersaudara yang mencoba melawan arus persepsi manusia kebanyakan itu justru dicap sebagai orang yang tidak waras. Impiannya untuk dapat membuat mesin yang dapat menerbangkan manusia hanya dianggap bualan belaka. Dan ketika Wright bersaudara berhasil terbang dengan pesawat sederhana bermesin ganda, barulah semua mata terbelalak tersadarkan bahwa terbang bukanlah hal yang tidak mungkin. Memang tidak mudah, berbagai kegagalan pun sempat menyapanya, namun akhirnya impianpun dapat terealisasi. Dan Wright bersaudara tidak sendiri, banyak sekali orang sukses yang memulai kesuksesannya dengan bermimpi yang mendorongnya untuk bekerja keras mewujudkannya.

Impian harus terarah dan terorganisir sehingga impian dapat memotivasi, memberikan arah sekaligus menata kerja. Setelah itu, untuk mewujudkan impian, sebaiknya dimulai dengan konsep diri yang positif, bagaimana memulai hari dengan optimisme dan menyadari bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membuat kita jatuh kecuali kita yang mengizinkannya. Konsep diri yang positif ini kemudian dilanjutkan dengan mentalitas pantang menyerah dan kerja keras penuh semangat. Berjuang untuk meraih mimpi memang tidak mudah, butuh keyakinan, konsistensi, keuletan dan sikap mental positif. Namun perlu disadari juga bahwa mimpi sejatinya dianugerahkan kepada kita agar kita dapat berpikir besar. Hanya dengan berpikir besar lah kita dapat menjadi besar, dan semua itu diawali dengan impian yang besar. Mari kita berjuang untuk terus membangun impian dan berupaya merealisasikannya!!

* * *

“Setiap pria dan wanita yang sukses adalah pemimpi – pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan mereka, berbuat sebaik mungkin dalam setiap hal, dan bekerja setiap hari menuju visi jauh ke depan yang menjadi tujuan mereka” (Brian Tracy)

Wallahu a’lam bishawwab

Ps. Terinspirasi dari buku ‘Pemimpi Luar Bidahsyat’, Danang A P & Aris S

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>