Menang Kompetisi dengan Kompetensi

 

“Bila seseorang bekerja sebagai penyapu jalan, semestinya ia tetap menyapu jalan meski Michelangelo sedang mengecat di sana, atau Beethoven sedang menggubah lagu, atau Shakespeare sedang menulis puisi. Ia harus tetap menyapu jalan sebaik mungkin sehingga seluruh penghuni surga dan bumi terpesona berkata, “Hai, ada penyapu jalan yang melakukan pekerjaannya dengan baik.” (Martin Luther King)

* * *

Siapa yang tidak mau memiliki penghasilan mencapai $181.850 (atau sekitar Rp. 1,6 milyar) per bulan? Penghasilan yang beberapa kali lipat lebih besar dari gaji presiden AS atau bahkan sekjen PBB itu adalah gaji tertinggi milik seorang ahli bedah. Pekerjaan sebagai dokter bedah memang menyangkut nyawa, namun ternyata penghasilan seorang ahli IT ataupun video game designer yang sepertinya tidak terlalu beresiko juga terbilang ‘wah’. Kompetensi, itulah kata kuncinya. Pekerjaan dengan penghasilan tertinggi di dunia selalu dimiliki oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan suatu peran atau tugas, mampu mengintegrasikan dan membangun pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai pribadi yang didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan. Atau sederhananya biasa disebut kompetensi.

Berbicara tentang kompetensi memang tidak dapat terlepas dari profesionalitas, namun bukan pula berarti melulu bicara tentang tingginya penghasilan. Definisi kompetensi yang dipahami selama ini adalah mencakup penguasaan terhadap 3 jenis kemampuan, yaitu pengetahuan (knowledge, science), keterampilan teknis (skill, technology) dan sikap perilaku (attitude). Kemampuan inilah yang kemudian dihargai tinggi. Permasalahan SDM bangsa ini pun tidak dapat dipisahkan dari kompetensi SDMnya yang masih kurang mampu bersaing. Kalau tidak lemah secara pengetahuan, lemah secara keterampilan atau kurang dari segi perilaku. Padahal tidak sedikit catatan emas sejarah dan prestasi anak bangsa di kancah internasional yang membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan keturunan ataupun potensi bangsa ini.

Adalah sebuah ironi dalam sistem pendidikan ketika kompetensi coba diperoleh dengan cara yang tidak elegan. Kelulusan mungkin bisa dipaksakan, namun kompetensi tidak serta merta menyertainya. Ijazah mungkin dapat diperdagangkan, namun kompetensi tidaklah bisa dibeli. Berbagai titel dan gelar demi gengsi bisa diraih dengan berbagai kecurangan, namun kompetensi di dunia nyata tidaklah bisa dikelabui. Padahal kompetensi akan mendatangkan penghargaan tanpa harus dicari. Padahal kompetensi selayaknya dimaknai dengan integritas pribadi yang memiliki pengetahuan dan keterampilan serta melandasinya dengan perilaku terpuji demi kebermanfaatan yang lebih luas.

Fokus pada kompetensi bukan berarti menyempitkan sudut pandang. Analoginya, jika kita menggali lubang di tanah, semakin dalam lubang yang kita gali, akan semakin luas pula tanah bagian atas yang tergali. Semakin dalam kompetensi (spesifik), semakin luas pula wawasan umum (kompetensi dasar) yang dimiliki. Fokus pada kompetensi tidak juga mengajarkan kita untuk egois karena muara kompetensi adalah kemaslahatan bersama. Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa suatu urusan yang dipercayakan pada orang yang tidak berkompeten (bukan ahlinya), maka tinggal menunggu kehancurannya. Karenanya perubahan ke arah kebaikan hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kompetensi. Dengan kompetensi, kita dapat mengukir lebih banyak prestasi, melakukan lebih banyak kontribusi dan berjuang lebih cerdas untuk membangun negeri. Mari terus kita kembangkan kompetensi diri!!

(tulisan ini dimuat dalam kolom ‘Gugah’, bulletin Etosmorphosa edisi perdana)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>