DDR = Dikit – Dikit Rubah

The foolish cling to what they have and fear change; their lives are going nowhere. The clever learn to accept uncertainty and ride through changes, capable of starting a new any where. The wise realize the value of uncertainty, accepting all changes without changing; for them, having is the same as not having” (Charles Akara)

* * *

Kehidupan selalu dilingkupi dengan perubahan sampai ada idiom yang menyatakan bahwa tidak ada yang abadi (tidak berubah) kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan kadang terjadi begitu cepat, tanpa disangka sehingga menciptakan keterkejutan. Hal inilah yang aku (dan rekan – rekan di kantor) rasakan, berkenaan dengan kebijakan mutasi yang terkesan dadakan. Informasi perubahan pun disampaikan terlalu cepat, hari yang sama ketika aku kembali masuk kantor setelah istirahat lebih sepekan. Ya, untuk kepentingan lembaga dan pengembangan diriku, aku mendapat amanah baru sebagai peneliti pendidikan independen dengan target kerja yang tidak sedikit.

Perubahan adalah kepastian dan memang perlu ada untuk mengatasi stagnasi menuju performa yang lebih tinggi. Dalam rencana hidupku pun, menjadi peneliti dan pengembang program pendidikan sebenarnya memang menjadi salah satu target di tahun depan. Pun demikian, transisi yang terlalu cepat tetap saja menimbulkan kegamangan karena mengganggu kenyamanan. Apalagi tidak sedikit agenda yang masih dikawal dan keluarga besar departemen pemuda dan komunitas yang harus diinformasikan perihal perubahan tersebut. Ke depan, tim kerjaku sebelumnya akan dikelola oleh seseorang yang kupercaya mumpuni, tinggal bagaimana aku menyikapi masa transisi dengan melakukan lompatan besar sehingga tidak tertinggal.

Perubahan adalah keniscayaan dan tidak ada istilah mundur. “See change as an opportunity, not a threat!”, kata Jack Welch, CEO General Electric tersukses yang baru saja pensiun. Perubahan memberikan banyak kesempatan untuk membuat kita menjadi ‘a climber‘ yang terus memperbaiki kualias diri, berinovasi dan terus berupaya menjadi yang terbaik. Orang – orang yang mempelopori pembaharuan hampir dapat dipastikan adalah mereka yang menyukai perubahan dan melihat adanya tantangan untuk maju dalam setiap perubahan. Bahkan Bruce Barton, seorang penulis, politisi dan pengusaha periklanan tersukses di zamannya mengungkapkan, “Saat Anda menolak untuk berubah, riwayat Anda sudah tamat!”

Perubahan pasti terjadi, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Charles Akara membagi manusia dalam menyikapi perubahan ke dalam tiga kategori : ‘Si Bodoh’ yang mendekap erat apa yang ia miliki dan mengkhawatirkan perubahan, hidup mereka tidak akan mencapai apa-apa; ‘Si Pandai’ yang belajar menerima ketidakpastian dan menyesuaikan diri dengan perubahan, mereka siap untuk menjadi baru setiap saat; dan ‘Si Arif’ yang menghargai nilai ketidakpastian, menerima ketidakpastian tanpa berubah, baginya, memiliki sama saja dengan tidak memiliki. Berpuas dengan status quo dan takut terhadap perubahan hanya akan membuat kita berjalan di tempat bahkan tertinggal. Mereka yang cerdas akan beradaptasi dengan perubahan sehingga mereka dapat terus meningkatkan performanya. Sedangkan orang yang bijak tidak terpengaruh dengan perubahan yang merupakan keniscayaan, perubahan hanyalah tangga naik yang pasti dan harus dijalani manusia.

Perubahan adalah tantangan untuk maju, karenanya harus dihadapi. Kembali menciptakan impian – impian di masa depan, menata orientasi dan kerja ke depan serta melanjutkan menebar kebermanfaatan tanpa terusik oleh transisi, tanpa terganggu oleh perubahan. Semoga perubahan berbuah banyak kebaikan.

* * *

Tuhan, berikan saya kemampuan untuk mengubah apa yang dapat saya ubah, kepasrahan untuk menerima apa yang tidak dapat saya ubah, dan kearifan untuk dapat membedakan antara keduanya”

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>