Roda Kehidupan

“…Roda kehidupan dunia berputar, mewarnai nasib manusia, suka dan terkadang duka. Dalam kehidupan dunia, tiada insan yang bebas dari cobaan. Baik bagi si miskin ataupun yang kaya, baik bagi jelata atau yang berjaya. Lain orang lain ujian, itulah keadilan Tuhan” (‘Roda Kehidupan’, Rhoma Irama)

* * *

Kehidupan bagaikan roda, beribu zaman terus berputar…”, begitu penggalan lirik nasyid ‘Untukmu Syuhada’nya Izzatul Islam. Kita tentu mafhum, suka dan duka, tangis dan tawa silih berganti mewarnai kehidupan. Periodenya tentu saja tidak sesaklak putaran roda. Ada kalanya kebahagian cukup lama dirasakan, atau ada juga yang hidupnya banyak dihabiskan dalam kesengsaraan. Analogi roda –kadang ada di atas, kadang ada di bawah– nampaknya cukup menarik untuk dikaji, apalagi setiap hari yang namanya roda begitu mudah kita jumpai.

Roda dipercaya sebagai salah satu penemuan terbesar manusia yang sangat bermanfaat untuk memudahkan pekerjaan. Desain roda terus berkembang sejak zaman Mesopotamia pada tahun 3000 SM hingga saat ini. Ada beberapa bagian penting dari roda, diantaranya velg yang menjaga bentuk roda, menghubungkannya dengan poros tempatnya bisa berputar sekaligus memperindah roda. Untuk roda berisi udara, ada karet untuk mengurangi guncangan dan ada pula bagian bernama pentil yang berfungsi menjaga agar dalam keadaan normal roda hanya bisa dilalui udara dengan satu arah, yaitu masuk ke dalam roda, tidak keluar. Tulisan ini tidak akan detail membahas bagian roda, namun lebih mendalam mengupas hikmah di balik idiom ‘roda kehidupan’.

Jika kita cermati fungsi roda untuk memudahkan pergerakan, maka kita akan mendapati posisi roda akan selalu ada di bagian bawah kendaraan. Artinya, ketika roda sedang berada di atas pun, masih ada posisi yang lebih tinggi, atap kendaraan bahkan badan kendaraan itu sendiri. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk tidak sombong. Ketika posisi kita sedang di atas, kita harus menyadari bahwa masih ada yang lebih atas lagi sehingga kita tidak layak merendahkan yang ada di bawah. “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Isra’ : 37)

Di sisi lain, roda berputar di atas jalan, ada alas berupa tanah, aspal dan sebagainya yang dipijaknya. Artinya, ketika roda sedang berada di bawah pun, masih ada posisi yang lebih rendah, yang bahkan tergilas dan terlindas oleh roda tersebut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk bersyukur. Ketika posisi kita sedang di bawah sekalipun, kita harus menyadari bahwa masih ada yang tidak seberuntung kita. Banyak hal yang lebih layak untuk disyukuri, bukan dikeluhkan. Rasa syukur itu yang akan membawa kita pada posisi yang lebih tinggi tanpa harus tinggi hati. “Lihatlah orang yang lebih bawah daripada kamu, jangan melihat orang yang tinggi daripada kamu, karena dengan demikian kamu tidak akan lupa segala nikmat Allah kepadamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam realitanya, ada orang yang terus diliputi kebahagiaan, berlimpah harta beberapa generasi dan sebaliknya, ada juga yang terus menderita, miskin turun temurun. Bagaimana ‘roda kehidupan’ mampu menjelaskan hal ini? Perhatikan putaran roda pesawat ketika di darat dan di udara. Ketika di darat, setinggi – tingginya putaran roda pesawat, tidak akan lebih tinggi dari roda mobil yang ada di pegunungan, apalagi bandara biasanya ada di dataran rendah dekat pantai. Sebaliknya, serendah – rendahnya roda pesawat di udara, tidak akan lebih rendah dari roda motor yang ada di darat. Artinya, wilayah beroperasinya roda akan menentukan tinggi – rendahnya posisi roda di atas permukaan laut. Di sinilah ‘roda kehidupan’ mengajarkan kita untuk berikhtiar. Jika kita tidak berusaha membawa ‘kendaraan’ kita ke tempat yang lebih tinggi, putaran roda kehidupan setinggi apapun tidak akan mengangkat kita dari tempat yang rendah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS. Ar Ra’du : 11)

Kehidupan bagaikan roda pedati, sesekali di atas, kadang – kadang di bawah. Naik turun dalam menjalani kehidupan sudah menjadi keniscayaan, tinggal bagaimana kita bijak menyikapinya. Tidak sombong ketika ada di atas, tetap bersyukur ketika ada di bawah dan terus berupaya memperbaiki kehidupan sehingga putaran roda kita semakin tinggi. Membawa roda ke tempat lebih tinggi memang tidak mudah dan butuh energi lebih, apalagi dibandingkan membawanya turun, namun pemandangan di atas sana lebih indah, banyak hikmah selama perjalanan dan roda kehidupan kitapun akan semakin kuat.

* * *

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” (Pramoedya Ananta Noer)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>