(Tidak) selalu ada perempuan hebat di belakang laki-laki hebat

“Perempuan – perempuan yang keji untuk laki – laki yang keji dan laki – laki yang keji untuk perempuan – perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan – perempuan yang baik untuk laki – laki yang baik dan laki – laki yang baik untuk perempuan – perempuan yang baik (pula)…”
(QS. An Nur : 26)

Ada cerita yang cukup menarik dari buku Chicken Soup for The Couple’s Soul. Dikisahkan Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company, dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antar negara bagian. Ketika menyadari bensin mobilnya hampir habis, Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu. Tak lama kemudian, ia  mendapati SPBU yang sudah bobrok dan hanya memiliki satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh petugas satu – satunya disana untuk mengisi bensin mobilnya dan memeriksa oli, ia pun berjalan-jalan memutari SPBU itu untuk melemaskan kaki. Ketika kembali ke mobil, ia melihat petugas itu tengah mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika ia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, ia melihat petugas itu melambaikan tangan sambil berkata, “Asyik sekali mengobrol denganmu.”

Setelah mereka meninggalkan SPBU itu, Wheeler bertanya pada istrinya apakah ia mengenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan dan bercerita bahwa mereka pernah satu sekolah di SMA dan sempat berpacaran kira-kira setahun. “Astaga, untung kau ketemu aku. Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas SPBU, bukan istri direktur utama”, kata Wheeler menyombong. Istrinya pun menjawab, “Sayangku, kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas SPBU.”

* * *

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak manusia yang sukses karena dukungan istrinya, dan sebaliknya, tidak sedikit juga kehidupan laki – laki yang hancur karena wanita yang dinikahinya. Lihatlah bagaimana Hajar mendukung perjuangan Nabi Ibrahim, suaminya. Hanya wanita tangguh yang siap ditinggal suaminya dalam waktu lama hanya bersama anaknya yang masih kecil di tengah gurun pasir pada musim kemarau. Hanya istri hebat yang merelakan anaknya disembelih ‘hanya’ karena mimpi suaminya. Tidak mengherankan ada ungkapan yang mengatakan “Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat”. Kebesaran Rasulullah SAW pun tak luput dari peran besar seorang Khadijah ra. Kekuatan iman, ketulusan cinta, kebesaran jiwa dan keteduhan sikap Khadijah dalam mengantarkan proses kenabian hingga melewati fase-fase dakwah tersulit, membuat posisi Khadijah tidak tergantikan di hati Rasulullah SAW. Kehebatan Khadijah juga tergambar dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra., “Setiap kali Rasulullah SAW menyebut Khadijah, beliau pasti memujinya. Suatu hari aku merasa cemburu. Maka kukatakan, “Engkau selalu mengenang perempuan tua yang ompong itu, padahal Allah telah memberimu pengganti yang lebih baik.” Rasulullah SAW menjawab, “Allah tak pernah memberiku pengganti yang lebih baik daripada Khadijah. Dia beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Dia mempercayaiku ketika semua orang mendustakanku. Dia memberiku harta ketika semua orang enggan memberi. Dan darinya Allah memberiku keturunan, sesuatu yang tidak Dia anugerahkan kepadaku dari istri-istriku yang lain.” (HR. Ahmad). Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat, benarkah?

Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat. Tidak sepenuhnya benar, karena perempuan tidaklah selalu ada di belakang bayang – bayang kaum adam. Lihatlah bagaimana Asiah menaikkan posisi tawarnya dan tetap dapat menjaga kehormatannya di hadapan tirani Fir’aun. Bagaimana Asiah menorehkan sejarah dengan menyelamatkan bayi bernama Musa dari kezhaliman suaminya. Atau perhatikanlah bagaimana Maisun menggerakkan kaum muslimin di Damaskus untuk maju ke medan jihad perang salib. Ternyata tidak selamanya perempuan hebat ada di belakang laki – laki hebat. Perempuan juga punya kuasa untuk ada di depan. Perempuan hebat juga tidak melemah di hadapan suami ataupun lingkungan yang kurang mendukung, bahkan ia dapat memperbaiki suami ataupun lingkungannya tersebut.

Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat. Tidak sepenuhnya tepat, karena tidak selamanya laki – laki menjadi pihak yang dependen, tergantung bagaimana perempuannya. Seorang suami berkewajiban membina istrinya, ia tidak boleh hebat sendirian. Disinilah peran kepemimpinan seorang suami dibutuhkan. “Kaum laki – laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki – laki) atas sebagian yang lain (wanita)…” (QS. An Nisa : 34). Lihatlah bagaimana Nabi Ayub as. Mendidik istrinya dengan berbagai ujian yang menimpa dirinya. Atau bagaimana Rasulullah SAW men-tarbiyah istri – istrinya yang menuntut pembagian rampasan perang Hunain. Atau bagaimana Yusuf as. menolak ajakan Zulaikha bahkan berhasil menyadarkannya. Ternyata tidak selamanya perempuan hebat ada di belakang laki – laki hebat. Bagaimanapun perempuan dibuat dari ‘tulang rusuk yang bengkok’ sehingga harus diluruskan. Laki – laki hebat tidak melemah karena perempuan, namun ia akan menguatkan, sehingga mereka dapat ‘tumbuh’ bersama.

Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat. Tidak salah, mungkin ungkapan tersebut sejatinya menegaskan signifikansi peran perempuan dalam kehidupan. Tidak perlu jauh – jauh ke luar negeri, lihat saja peran (almh.) Ibu Tien terhadap kedigjayaan Soeharto, atau besarnya kontribusi (almh.) Ibu Ainun terhadap kesuksesan Habibie, atau signifikansinya pengaruh Ibu Ani terhadap kepemimpinan SBY. Tidak berlebihan Hasan Al Banna mengatakan, “Perempuan itu separuh dari sebuah bangsa. Bahkan separuh yang paling mempengaruhi dan membei peran besar bagi hidupnya suatu bangsa”. Atau kata bijak yang mengungkapkan, “Perempuan adalah tiang negara, jika baik perempuan di sesuatu negara, maka baiklah negara itu, begitu pula sebaliknya”.

Selalu ada perempuan hebat di belakang laki – laki hebat. Tidak keliru, sejarah manusia memang tidak pernah lepas dari peran perempuan (dan juga peran laki – laki), mulai dari Hawa yang menemani Adam mendiami surga dan bersama – sama diturunkan ke bumi kemudian menghasilkan keturunan. Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana peran peran perempuan itu dapat memperbaiki, bukan merusak. Sebagaimana hancurnya kekuasaan penakluk dunia sekaliber Alexander The Great dan Napoleon Bonaparte di hadapan wanita. Yang perlu dicermati adalah bagaimana peran perempuan itu dapat memuliakan, bukan menghinakan. Sebagaimana kisah Auf bin Malik al Asyjai yang urung hijrah ke Madinah karena tidak tega meninggalkan istri dan anaknya yang belum beriman sehingga turunlah ayat, “Hai orang–orang beriman, sesungguhnya di antara istri – istrimu dan anak – anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati – hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At Taghabun : 14)

Selalu ada perempuan hebat yang membersamai laki – laki hebat dan selalu ada laki – laki hebat yang membersamai perempuan hebat, ungkapan itu mungkin lebih tepat. Membawa optimisme. Terus belajar untuk saling memberi, menerima, melupakan, mengingatkan dan melengkapi, itulah kuncinya untuk tumbuh berkembang menggapai kesuksesan bersama. Dan kesuksesan sejati lahir ketika kita berhasil membantu orang menggapai sukses. Kehebatan hakiki diperoleh ketika kita dapat mendidik orang menjadi hebat. Ya, hasil akhir hanyalah timbal balik dari proses. Perempuan hebat untuk laki – laki hebat, laki – laki hebat untuk perempuan hebat.  “Tidaklah memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakan wanita kecuali orang yang hina.” (HR. Ibnu Asakir)

* * *

“Seorang mukmin dikatakan telah memenuhi faktor – faktor kesuksesan adalah ketika keimanannya kuat kepada Allah, komitmennya kuat terhadap peraturan Allah, perilakunya yang ikhlash terhadap dakwahnya, keseriusannya membangun pondasi untuk pembangunan umat. Tidak hanya itu, tapi dia juga harus manusia yang sukses di rumahnya, di keluarganya, menyambung silaturahim di keluarganya dan keluarga pasangan hidupnya juga” (Hasan Al Banna)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>