Mau Eksis? Yuk Menulis!

“Bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan”
(Pramoedya Ananta Toer)

Apa yang menjadi persamaan Soekarno, Tan Malaka, Adolf Hitler dan Sayyid Qutb? Mereka adalah beberapa dari tokoh besar yang menulis di dalam penjara. Mereka menulis tentunya bukan sekedar mengisi waktu luang selama di penjara. Dalam keterbatasan gerak, menulis menjadi pilihan jalan juang mereka untuk mengubah dunia. Hasilnya, tentu tulisan yang menginspirasi. Pledoi ‘Indonesia Menggugat’ Soekarno yang penuh semangat, buku ‘Dari Penjara ke Penjara’ Tan Malaka yang sarat makna, Adolf Hitler dengan Mein Kampf-nya yang mengguncang dunia hingga Sayyid Qutb dengan Tafsir Fi Zhilalil Qur’an yang menentramkan. Selain mereka tentunya masih banyak sederetan nama yang produktif menulis di penjara, sebutlah Ibnu Taimiyah, Ho Chi Minh, Buya Hamka dan Aidh Al Qarni. Memang dalam suatu kondisi ekstrem, tak jarang menulis menunjukkan pengharapan untuk dapat bertahan hidup. Raga mereka terpenjara, pikiran mereka bebas dan mencerahkan. Raga mereka bolehlah mati, namun pemikiran yang terejawantahkan dalam tulisan kan tetap abadi. Tidak berlebihan kiranya jika Pramoedya Ananta Toer (yang juga produktif menulis selama di penjara) mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Menulis memang dapat menunjukkan eksistensi diri, sebagaimana diakuinya eksistensi mereka yang dipenjara melalui karya tulisan mereka. Eksistensi ini pula yang ditunjukkan Helen Adams Keller, seorang penulis, aktivis politik dan dosen yang tuli dan bisu. Berada dalam kegelapan sejak usia 19 bulan, tidak menyurutkan langkahnya untuk mengukir sejarah. Selain menulis 12 buku yang diterbitkan dan berbagai artikel, Keller juga menjuarai Honorary University Degrees Women’s Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, The Lions Humanitarian Award, bahkan kisah hidupnya meraih 2 piala Oscar. Bukunya ‘The World I Live In’ dan ‘The Story of My Life’ (diketik dengan huruf biasa dan Braille) menjadi literatur klasik di Amerika dan telah diterjemahkan sedikitnya ke dalam 50 bahasa. Keterbatasan fisik ternyata tidak menjadi alasan baginya untuk menurunkan produktivitas menulis. Tulisannya pula yang mengantarkannya keliling dunia.

Semangat yang sama juga ditunjukkan Jhamak Kumari Ghimire, seorang juara puisi di Nepal dengan judul bukunya ‘Is life a thorn or a flower’ yang menceritakan perjalanan hidupnya yang kehilangan kemampuan bicara dan menggunakan kedua tangannya. Karena dianggap sebagai beban keluarga, pada usia tujuh tahun, tetangganya meminta ayahnya, Krisna Prasad Ghimire, untuk membunuhnya dengan menenggelamkannya di sungai. Perempuan penderita cerebral palsy ini mampu menulis dengan kakinya dan dengan bangga mengatakan bahwa dia dapat melafalnya dalam hati. Ketika mulut tak dapat terucap, tulisannyalah yang menunjukkan bahwa ia ada dan dapat melakukan sesuatu yang membanggakan dalam keterbatasan. Dunia pun mengenalnya dari karyanya.

Jika mereka yang memiliki keterbatasan saja dapat menghasilkan karya tulisan yang berkualitas, apalagi (seharusnya) kita yang normal. Menulis sebenarnya mudah, tinggal bagaimana memiliki kemauan, keberanian dan komitmen dalam menghadapi berbagai macam penyakit menulis. Kemauan untuk merangkai gagasan yang sebenarnya beserakan, keberanian untuk tidak malas dan suka menunda dan komitmen untuk mengatasi berbagai keterbatasan, mulai dari fisik, waktu hingga sarana prasarana. Perlu diingat bahwa menulis bukan sekedar mengikat ilmu, namun juga mengukir sejarah dengan tebaran kebermanfaatan yang berlipat. Tetap eksis pun putaran zaman terus berputar. Seperti yang dituliskan Mas Pram, “orang boleh pintar setinggi langit, tapi kalau tidak menulis ia akan hilang ditelan zaman”.

Jean-Dominique Bauby adalah seorang jurnalis Perancis terkenal dan pemimpin redaksi majalah fashion Elle. Pada saat dia terbaring sakit setelah mengalami serangan stroke hebat, dia hanya dapat berpikir tetapi tidak bisa berbicara. Dia ingin menulis tapi tidak mampu menggunakan tangannya. Menelan ludahpun ia tak sanggup. Satu – satunya anggota tubuh yang bisa digerakkannya hanya kelopak mata kiri yang dapat dikedipkannya. Asistennya menunjukkan padanya alfabet dan dia akan berkedip pada huruf yang dipilihnya. Setelah huruf menjadi kata, kemudian menjadi kalimat dan paragraf – paragraf, akhirnya hanya dengan berkedip, dia mampu ‘menulis’ sebuah buku memoar hidup 173 halaman berjudul ‘Le Scaphandre et le Papillon’ yang menjadi best seller dan akhirnya diangkat ke layar lebar. Bauby meninggal dua hari setelah bukunya terbit, mahakarya yang membuatnya tetap dikenang, seolah kematiannya menunggu terselesaikannya karyanya. Tidak salah nasihat Mas Pram, “bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan”.

Menulis sesuatu yang menginspirasi adalah aktivitas mulia, apalagi akan ada saatnya apa yang kita ucapkan akan dilupakan, apa yang kita sampaikan hilang ditelan zaman. Menulis sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain adalah kebaikan yang tahan lama, apalagi akan ada masanya tak ada amal yang dapat dilakukan, tak ada lagi kesempatan untuk melakukan kebaikan. Salah satu peluang menjaga eksistensi kebermanfaatan adalah dengan tulisan. Membangun eksistensi dengan tulisan bukan berarti arogan jika didedikasikan untuk memberikan sumbangsih pikiran yang dapat mencerahkan, jika diniatkan untuk menebar kebermanfaatan. Dan tentunya tak perlu menunggu keterbatasan tiba untuk memompa semangat berkarya. Baik di masa lapang maupun penuh kendala, produktivitas seyogyanya tetap terjaga. Mulailah dari karya kecil yang membantu memberikan solusi bagi permasalahan teman dekat, dan terus berkembang hingga menjadi kumpulan masterpiece yang menginspirasi dunia. Mau eksis yang gak narsis? Yuk menulis!

“Orang yang terpenjara ialah yang dipenjara syaitan, orang yang terkurung ialah orang yang dikurung syaitan. Dan dipenjara yang sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang memenjarakan saya ini tahu bahwa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.” (Ibnu Taimiyah)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>