Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo

Hanya namamu yang menjadi musuhku. Tetapi kau tetap dirimu sendiri di mataku, bukan Montague. Apa itu ‘Montague’? Ia bukan tangan, bukan kaki, bukan lengan, bukan wajah, atau apa pun dari tubuh seseorang. Jadilah nama yang lain! Apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, kalau pun mawar berganti dengan nama lain. Ia tetap bernilai sendiri, sempurna, dan harum tanpa harus bernama mawar. Romeo, tanggalkanlah namamu. Untuk mengganti nama yang bukan bagian dari dirimu itu, ambillah diriku seluruhnya” (Shakespeare dalam ‘Romeo & Juliet’)

Rangkaian kalimat di atas tertulis dalam teks drama yang dibuat William Shakespeare dalam roman Romeo & Juliet. Dikisahkan hubungan Romeo dari suku Montague dengan Juliet dari suku Capulet menemui jalan buntu karena kedua suku tersebut bermusuhan. Dalam keputusasaannya, Juliet mengangankan Romeo dapat mengganti namanya, apapun itu, sehingga dapat diterima oleh keluarga Juliet. Uniknya, hanya penggalan kalimat ‘Apalah arti sebuah nama?’ yang menjadi begitu terkenal, mengesankan penulisnya menjadi orang yang tidak mementingkan nama. Jika Shakespeare masih hidup, mungkin dia hanya akan geleng – geleng kepala, apalagi sebelumnya ia pernah mengingatkan, “Perhatikan arti di setiap kata, perhatikan makna di balik kalimatnya”.

Pentingnya nama seharusnya tidak perlu menjadi perdebatan. Kehidupan kita dipenuhi nama, baik mahkluk hidup maupun benda mati. Tak dapat dibayangkan betapa merepotkannya jika semua benda di dunia tidak memiliki nama, bagaimana kita akan menyebut suatu benda? Pentingnya nama ini sudah jelas tergambar dari bagaimana Allah SWT mengajarkan Adam untuk mengenal nama benda dan segala sesuatu setelah penciptaannya (QS. Al Baqarah : 31). Bahkan dalam beberapa ayat, Allah SWT mengecam nama – nama sesembahan kaum musyrikin, misalnya dalam QS. An Najm : 19  – 23. Dalam beberapa hadits juga disebutkan betapa Rasulullah SAW kerap mengganti nama – nama yang buruk –bukan hanya nama orang, tapi juga nama kelompok masyarakat, bahkan nama kota– dengan nama yang lebih baik (HR. Abu Daud, Turmidzi dan beberapa ahli hadits).

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa memberi nama yang baik merupakan salah satu kewajiban orang tua terhadap anaknya. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian” (HR. Abu Daud). Nama Abdullah dan Abdurrahman memang merupakan nama yang paling disukai dan nama yang paling sesuai adalah Harits dan Hammam (HR. Abu Daud, Nasa’i dan lainnya), namun bukan berarti keempat nama tersebutlah yang harus digunakan dan tidak melulu harus berbahasa Arab. Purwo Udiutomo, misalnya, tidak berbahasa Arab, namun maknanya baik. Purwo (bahasa Jawa) atau Purwa (bahasa Sunda) artinya pertama atau terdahulu. Udiutomo berasal dari kata ‘ngudi’ dan ‘utomo’ (bahasa Jawa) yang berarti mencari keutamaan. Sehingga Purwo Udiutomo berarti anak pertama yang mencari keutamaan. Sebuah do’a orang tua yang baik.

Perkenalkan, Rumaisha Alifiandra Udiutomo
Rumaisha dalam bahasa Arab dapat diartikan ‘yang mendamaikan’ atau ‘yang merukunkan’. Jika dipisahkan, Rumaisha terdiri dari dua kata, yaitu ‘Rum’ yang dalam bahasa Kawi berarti ‘daya tarik, keindahan dan kecantikan’ dan ‘Aisha’ yang dalam bahasa Persia berarti ‘kehidupan’. Namun dasar pemberian nama Rumaisha bukanlah hal tersebut di atas, melainkan menamai dengan nama muslimah shalihah. Rasulullah SAW bersabda, “Mereka dahulu suka memakai nama para nabi dan orang-orang shalih yang hidup sebelum mereka” (HR. Muslim). Rumaisha (binti Milhan) atau lebih dikenal sebagai Ummu Sulaim, adalah ibu kandung dari Anas bin Malik, pelayan Rasulullah SAW yang meriwayatkan lebih dari 2200 hadits. Rumaisha adalah wanita yang menawan, keibuan, cerdas dan yang paling dikenang oleh para shahabat adalah wanita dengan mahar termahal, yaitu keimanan Abu Thalhah yang kemudian menjadi salah seorang pahlawan generasi sahabat. Ummu Sulaiam adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, da’iyah yang bijaksana, pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama di antara ulama Islam. Ketulusan dan komitmen Rumaisha mengantarkannya menjadi salah satu shahabiyah yang dijamin masuk syurga. Profil lebih lengkap tentang Rumaisha insya Allah akan disampaikan pada tulisan selanjutnya.

Alifiandra terdiri dari dua kata, yaitu ‘Alif’ dan ‘Andra’. ‘Alif dalam bahasa Arab memiliki arti ‘ramah dan bersahabat’, sekaligus mengandung makna ‘pertama’, ‘lurus’ dan ‘benar’. Sementara ‘Andra’ dalam bahasa Skotlandia (dan beberapa negara di Eropa) berarti gagah berani. Sifat ‘ramah dan bersahabat’ dilengkapi dengan ‘gagah berani’ sehingga diharapkan dapat menghasilkan sifat ‘tidak kaku’ dan ‘dekat’, namun tetap ‘memiliki sikap dan integritas’. Sifat ‘lurus dan benar’ dioptimalkan dengan ‘gagah berani’ sehingga keistiqomahan di jalan kebenaran yang lurus tidak hanya dipertahankan, namun juga diperjuangkan dan disebarkan. Udiutomo adalah nama ayah yang umum diberikan sebagai nama belakang anak, maknanya sudah disampaikan di atas. Dalam Islam, nama ayah kerap dinisbatkan di belakang nama anak karena seseorang tidak boleh menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya (QS. Al Ahzab : 5, HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dan ulama hadits lainnya). Jadi sebaiknya bukan nama suami yang dinisbatkan di belakang nama istri, tetapi nama ayah di belakang nama anak.

Nama yang baik = Awal pendidikan anak
Suatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ditemui seorang pria yang mengadukan kenakalan anaknya. Umar bin Khattab r.a. berkata, “Hai Fulan, tidak takutkah kamu kepada Allah karena berani melawan dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menimpali, “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”. Umar r.a. menjawab, “Ada tiga, yakni memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya; memilihkan nama yang baik; dan mendidik mereka dengan Al Qur’an”. Mendengar uraian tersebut, sang anak menjawab, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, dan dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku, bahkan satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya”. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu….”

Salah satu hak anak adalah mendapatkan nama yang baik, disamping berbagai hak lainnya mulai dari mendapatkan ibu yang baik hingga dinikahkan. Secara sederhana, hak anak adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan pemberian nama yang baik adalah awal pendidikan anak yang baik. Nama adalah do’a, memberi nama yang baik berarti mengharapkannya senantiasa dalam kebaikan. Dari Abu Hurairoh r.a, Rasulullah SAW bersabda, “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya” (HR. Bukhori – Muslim). Nama adalah motivasi yang akan mempengaruhi tindak tanduk penyandang nama. Ibnu Qoyyim berkata, “Barangsiapa yang memperhatikan sunnah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan seolah-olah nama-nama tersebut diambil dari makna-maknanya. Jarang kau dapati nama yang buruk kecuali melekat pada orang yang buruk pula. Dan Allah dengan hikmah yang terkandung dalam qadha dan qadarnya memberikan ilham kepada jiwa untuk menetapkan nama sesuai yang punya“.

Semoga pemberian nama Rumaisha Alifiandra Udiutomo menjadikan putri kami sebagai ‘anak perempuan pertama yang bersahabat dan mendamaikan serta gagah berani dalam mencari kebenaran dan keutamaan sebagaimana Rumaisha binti r.a’… Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin…

* * *

Rasulullah SAW bersabda, “Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya, “Siapa itu?” Mereka berkata, “Dia adalah Rumaisha binti Malhan, ibu dari Anas bin Malik”. (Al Hadits)

Wallahu a’lam bishawwab

  1. wah, lucuu sekali anaknya..semoga benar-benar menjadi anak perempuan pertama yang bersahabat dan mendamaikan serta gagah berani dalam mencari kebenaran dan keutamaan sebagaimana Rumaisha binti r.a..aamiin

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>