Menikmati Kritik Gurih dan Renyah

“Orang-orang yang melontarkan kritik bagi kita pada hakikatnya adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran” (Corrie Ten Boom)

Senang dipuji dan tidak suka dikritik sudah menjadi salah satu tabiat manusia. Jangankan pejabat negara yang dengan kekuasaannya dapat ‘membungkam’ para pengritiknya, anak kecil pun akan menunjukkan ketidaknyamanan ketika ada yang mengungkapkan kesalahannya. Sebaliknya, pujian begitu mudah membuat orang tersenyum sumringah dengan mata berbinar – binar, bahkan tidak jarang membuat orang tersebut menuruti keinginan ataupun memberikan sesuatu kepada yang memujinya. Padahal pujian bisa melenakan bahkan menjatuhkan. Pujian kadang juga menunjukkan kemunafikan, membangun budaya bermuka dua. Dalam konteks keikhlasan, pujian juga menjadi ujian berat yang dapat merusak pahala.

Sama-sama dapat menjatuhkan, kritik lebih sulit untuk diterima. Padahal mengungkapkan kritikan lebih mudah daripada menyampaikan pujian. Nafsu memang tidak mudah untuk ditundukkan. Kekurangan seseorang dapat mudah kita komentari, sementara jika kita sendiri yang menjalani juga belum tentu bisa lebih baik. Dan mengritik jelas lebih mudah daripada menerima kritik. Ibarat melihat kuman di seberang lautan namun gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Butuh jiwa besar untuk dapat menerima kritik. Butuh sikap bijak untuk dapat menyikapi kritik dengan benar. Dan dalam berbagai kesempatan, kritik itu dapat membangun, mengingatkan kita akan kekurangan untuk diperbaiki dan kesalahan untuk tidak lagi diulangi.

Ada kisah teladan dari Khalifah Umar bin Khattab r.a tentang bagaimana menyikapi kritik. Pada suatu ketika Umar r.a sedang berpidato di depan umum, Salman Al Farisi r.a menyelanya seraya berujar, “Demi Allah, kami tidak akan mendengarkannya!”. “Kenapa wahai Salman?”, tanya Umar ra.a kepada salah seorang shahabat pahlawan perang Khandaq tersebut. “Karena Anda telah mengistimewakan diri Anda dari kami. Masing-masing kami hanya diberi sehelai baju, tetapi Anda mengambil dua helai untuk diri Anda!”. Umar r.a kemudian mencari anaknya di tengah kerumunan orang seraya bertanya kepada Ibnu Umar r.a, “Kain siapakah yang saya pakai sehelai lagi?”. “Kain bagian saya, hai amirul mu’minin!” jawab Abdullah bin Umar r.a di hadapan khalayak ramai. Umar r.a kemudian berkata, “Sebagaimana kalian ketahui, saya ini bertubuh tinggi, sedangkan kain bagian saya pendek. Abdullah pun memberikan kepada saya bagiannya, dan saya pakai untuk menyambung baju saya”. Dengan air mata berlinang disebabkan kebanggaan dan kepercayaannya, Salman r.a berkata, “Alhamdulillah, sekarang katakanlah wahai Amirul mu’minin, dan kami akan mendengar dan mentaatinya”.

Pada saat lain Umar r.a mengimbau kepada kaum muslimin untuk tidak memberikan mas kawin lebih dari 40 uqiyah (1240 gram) karena saat itu sedang terjadi resesi ekonomi akibat masa paceklik. Jika ada yang melebihkan, kelebihannya akan diserahkan ke baitul maal. Tiba-tiba ada seorang wanita yang memprotesnya, ”Apakah yang dihalalkan Allah akan diharamkan oleh Umar?” seraya membacakan QS. An Nisa ayat 20 (“…dan kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun…). Khalifah Umar r.a langsung bekata, ”Astaghfirullah, wanita itu benar dan Umar salah. Dengan ini saya cabut kebijakan yang baru saja saya keluarkan!

Kritik adalah bukti cinta, karenanya Umar r.a menerimanya dengan lapang. Kritik adalah tanda kepedulian sekaligus sebagai kontrol diri yang layak disyukuri. Tidak sedikit teori tentang pengaruh positif kritik terhadap perbaikan diri kita, namun realitanya tetap saja tidak mudah menerima kritik. Apalagi kritik yang disampaikan oleh mereka yang kita nilai tidak lebih baik dari kita, atau kritik yang disampaikan dengan cara yang tidak baik. Menurut penulis yang menyukai kripik, menikmati kritik tidak berbeda dengan menikmati kripik, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, ada langkah-langkah yang harus dilakukan.

Pertama, untuk menikmati kripik kita harus menyukai makan kripik. Berdasarkan penelitian, makan kripik bisa meringankan dan memperbaiki suasana hati, membuat kita lebih tenang dan lebih ceria dalam menjalani kegiatan. Jadi, untuk dapat menikmati kritik, kita harus menyukai kritik. Bersyukur ada yang memperhatikan kita dan mengharapkan kita bisa lebih baik setiap saatnya. Sadarilah bahwa hidup tanpa kritik akan hambar, walaupun hidup penuh dengan kritik akan menggelisahkan.

Kedua, untuk menikmati kripik pastikan bahwa kita punya gigi yang cukup kuat untuk dapat mengunyahnya. Kalau tidak, yang terasa hanya sakit dan ketidaknyamanan. Untuk dapat menikmati kritik, kita harus punya keberanian yang dibungkus dalam kematangan diri. Sikap anti kritik seringkali timbul karena kita takut mengakui bahwa kita punya kekurangan atau kita takut menerima bahwa kita telah melakukan kesalahan. Keberanian untuk menerima kritik menjadi kunci penting untuk dapat menikmatinya. Bagaimanapun, untuk dapat menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita, butuh persiapan hati dan jiwa. Keberanian kita untuk mengoreksi dan memperbaiki diri akan mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan yang mungkin timbul.

Selanjutnya, untuk menikmati kripik, kita harus memilih rasa yang kita sukai, atau jika diperlukan kita tambahkan ‘sesuatu’ agar lebih enak. Tidak semua kripik harus dimakan dan tidak semua kripik dapat dimakan. Untuk dapat menikmati kritik, kita harus memilih, karena memang tidak semua kritik itu benar, tidak semua kritik dapat membangun. Memilih kritik berbeda dengan sikap anti kritik karena memprioritaskan kritik yang membangun jelas berbeda dengan tidak mau dikritik. Perlu diperhatikan, dalam memilih kritik yang perlu didahulukan adalah konten/ isi kritik, bukan siapa yang mengritik. Jika apa yang disampaikan memang baik, namun caranya kurang baik atau orang yang menyampaikan kurang kita sukai, kita perlu menambahkan ‘bumbu’ agar kritik lebih gurih dan renyah. Penuhi pikiran dan jiwa kita dengan hal positif, lakukan perbaikan juga dengan positif.

Terakhir, kripik lebih enak dinikmati sebagai cemilan di waktu santai, sambil membaca buku atau menonton TV misalnya. Makan kripik bukanlah aktivitas utama. Menyikapi kritik juga jangan sampai menjadi tugas utama yang dilakukan, akan sangat melelahkan padahal kita tidak akan dapat memenuhi harapan dari semua orang. Nikmatilah kritik di waktu tenang, jangan sikapi secara emosional. Kritik adalah bumbu penyedap hidangan kehidupan, bukan hidangan utamanya, karenanya harus dinikmati dengan santai, tidak perlu menghabiskan energi untuk menyikapi seluruh kritik yang diterima.

Kritik adalah cermin diri untuk kita berbenah, karena bisa jadi ada kesalahan atau kekurangan yang luput dari perhatian kita, namun tidak luput di mata orang lain. Ada noda di tubuh kita yang hanya dapat kita lihat melalui cermin. Dan orang lain, mulai dari sahabat sampai ‘musuh’ kita, tidak jarang lebih jujur dalam menilai kita daripada diri kita sendiri. Sudut pandang yang berbeda dan akan memperkaya inilah salah satu hal yang menyebabkan kritik tetap dibutuhkan. Dan sudah sewajarnya segala sesuatu yang kita butuhkan dapat kita nikmati. Kritik kerap dipersepsikan negatif sehingga tidak mudah untuk dinikmati. Padahal, kritik ibarat kripik yang gurih dan renyah. Menikmatinya dapat meningkatkan stamina, dapat menambah keceriaan, dapat lebih menentramkan. Menikmati kritik akan membuat kritik lebih bermakna dan bermanfaat. Selamat menikmati kripik, eh, maksudnya menikmati kritik. Yuk, mari…

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>