Sibuk? Tak Punya Waktu? Masuk Sini, Gan!!

Waktu sering kali dianiaya dengan menuduhnya ‘tak ada’ padahal sebenarnya ia hadir, hanya saja kita tidak mau menemuinya” (M. Quraish Shihab)

Berbicara tentang waktu, ada kutipan menarik yang penulis ingat, “Ambillah waktu untuk berpikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan. Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan. Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan. Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa berarti. Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan. Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Kata-kata yang indah, bukan? Masalahnya adalah apakah waktu kita cukup untuk berpikir, bermain, berdo’a, belajar, mencintai dan dicintai, bersahabat, tertawa, memberi,bekerja dan beramal? Belum lagi waktu untuk makan dan minum, beribadah, mandi, dalam perjalanan, berolah raga, istirahat dan tidur. Sepertinya waktu 24 jam dalam sehari tidaklah cukup untuk melakukan semua hal yang ingin dan harus kita kerjakan. Membuat agenda dan menyusun jadwal untuk manajemen waktu juga butuh waktu. Dan implementasinya seringkali tidak sesederhana yang tersusun rapih dalam perencanaan. Ada kesibukan dadakan lah, ada target yang belum tercapai lah, ada aktivitas yang harus diulang lah, ada kerjaan yang terhambat di luar kemampuan kita memprediksinya lah, dan berbagai kendala lain yang kerap ditemui dalam upaya mengelola waktu. Lalu harus bagaimana?

Arti pentingnya waktu tidak bisa disangkal tanpa perlu banyak dalil untuk menegaskannya. Kehidupan kita yang serba dibatasi oleh waktu sudah cukup menggambarkan betapa berharganya waktu. Umar bin Abdul Aziz pernah merasa sangat lelah di masa awal pengangkatannya sebagai khalifah sehingga setelah semalaman tidak sempat tidur, menjelang zhuhur ia hendak istirahat sejenak. Belum lagi merebahkan diri, anaknya, Abdul Malik menghampirinya dan mengingatkannya untuk segera mengembalikan hak-hak orang yang dizhalimi oleh khalifah sebelumnya. Umar mengatakan bahwa dirinya sudah tak punya tenaga, setelah shalat zhuhur berjama’ah nanti, hak-hak kaum muslimin akan segera dikembalikannya. Abdul Malik menimpali, “Siapa yang bisa menjamin dirimu akan hidup sampai Zuhur, wahai Amirul Mukminin?“. Serta merta Umar bangkit, mencium dan merangkul anaknya, serta mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang rusukku seseorang yang menolongku dalam beragama“. Kemudian beliau berdiri dan menyuruh supaya diumumkan kepada orang-orang bahwa barangsiapa yang merasa teraniaya, hendaklah dia mengajukan perkaranya.

Begitulah kehidupan, mengejar dan dikejar waktu. Tidak ada jaminan kita akan terus memiliki waktu dan tidak ada ketentuan kapan jatah waktu itu akan habis. Waktu yang ada memang terbatas sementara kewajiban terhadap waktu tersebut sangatlah banyak. Dan kewajiban kita ibarat ombak, yang lama belum surut sudah datang lagi yang baru. Seolah tanpa istirahat. Tidak berlebihan jika Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa seorang hamba baru dapat beristirahat setelah kakinya menginjak surga. Kembali ke persoalan menyiasati waktu yang terbatas, cukuplah penulis mengingatkan nasehat Hasan Al Bana, “Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya dan jika anda mempunyai keinginan atau tugas selesaikan segera“.

Dari nasehat tersebut, setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menyiasati kesibukan kita di tengah waktu yang terbatas. Pertama, kewajiban kita sangatlah banyak, baik terhadap diri kita (fisik, intelektual dan spiritual), kepada Allah SWT, maupun kepada sesama manusia, mulai dari orang tua, keluarga, saudara, tetangga, teman hingga manusia pada umumnya. Belum lagi terhadap makhluk hidup dan benda lainnya. Sementara waktu yang dimiliki tidak cukup untuk memenuhi semuanya. Karenanya untuk menyiasati waktu yang terbatas, kita harus pandai mengatur prioritas, tidak harus ngotot memenuhi semua kewajiban secara bersamaan. Memilih prioritas aktivitas yang tepat bisa jadi menyelesaikan beberapa kewajiban sekaligus. Memang semua kewajiban, sekecil apupun, akan dimintai pertanggungjawabannya, namun memilih kewajiban yang diutamakan untuk ditunaikan juga merupakan bagian dari hal yang harus dipertanggungjawabkan.

Kedua, tidak semua hal mampu kita lakukan dan tidak segala kewajiban dapat kita selesaikan. Disinilah kita membutuhkan orang lain, mulai dari mengingatkan, mendukung, hingga secara langsung membantu kita dalam mengatur waktu, memilih prioritas dan menyiasati kesibukan. Ada kewajiban-kewajiban yang memang hanya dapat diselesaikan dengan bantuan orang lain, karenanya saling membantu menjadi kekuatan penting untuk menyelesaikan banyak kewajiban dengan waktu terbatas. Ketiga, prokrastinasi atau suka menunda merupakan musuh terbesar pengelolaan waktu. Padahal kita tidak tahu persis kapan waktu kita akan habis. Penundaan akan menyebabkan berbagai tugas akan menumpuk dan semakin sulit untuk diselesaikan. Karenanya, ‘jangan menunda’ menjadi syarat penting untuk menyiasati kesibukan yang padat di tengah waktu yang singkat.

Selain ketiga hal di atas, ada hal lain yang harus diperhatikan dalam pengelolaan waktu, yaitu bijak dalam menyikapi waktu luang. Waktu luang merupakan salah satu nikmat yang kerap terabaikan (HR. Bukhari), padahal sikap sembrono terhadap waktu luang justru mempersulit terpenuhinya tugas dan kewajiban. Salah satu waktu luang yang dapat dioptimalkan untuk pemenuhan kewajiban adalah ketika menunggu dan berdiam diri (termasuk ketika di toilet) serta waktu dalam perjalanan. Potensi untuk mengoptimalkan serpihan waktu luang juga dapat kita peroleh dari aktivitas menonton TV dan menggunakan intenet yang tidak jarang kontraproduktif. Selain itu juga perlu diperhatikan pengelolaan konsentrasi dan pengoptimalan waktu tidur untuk meminimalisir penggunaan waktu yang tidak bermanfaat. Untuk dua hal terakhir, sepertinya perlu ada pembahasan khusus di lain kesempatan.

Penggunaan waktu yang tepat akan mengantarkan pada kesuksesan sementara penyelewengan terhadap waktu hanya akan mempersulit hidup. Tugas dan kewajiban yang sedemikian banyak hanya dapat disikapi dengan pandai dalam menentukan prioritas, saling membantu, tidak suka menunda dan memanfaatkan sebaik mungkin waktu luang yang kita miliki. Syarat-syarat tersebut terkesan berat, terlalu serius dan sulit untuk dilakukan. Karenanya, ada hal lain yang perlu mengimbanginya: sikap bersyukur dan menikmati segala kesibukan kita. Banyaknya kewajiban akan meningkatkan kualitas diri kita, akan memuliakan kita, karenanya patut disyukuri, layak untuk dinikmati. Waktu kita terbatas, alangkah tidak berharganya hidup tanpa amal produktif. Sikap bersyukur dan menikmati kesibukan sama artinya dengan menghargai hidup. Waktu adalah karunia yang telah diberikan oleh Sang Pemilik Waktu dan keberadaannya pasti. Kita perlu mengelolanya dan kita akan mempertanggungjawabkannya. Waktu sebenarnya selalu tersedia, hanya saja mungkin kita kurang mencarinya. Waktu selalu ada, kecuali bagi para pemalas dan mereka yang suka menunda. Dan waktu selalu hadir, bagi mereka yang senantiasa mencoba mengisinya dengan aktivitas produktif.

The man who says he never has time is the laziest man” (Lichterberg)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>