Pendidikan Ala Bang Maman

Bang Maman dari Kali Pasir tiba-tiba saja terkenal setelah meminta bantuan Patme berpura-pura sebagai istri simpanan Salim, menantunya, agar bercerai dengan Ijah, anaknya. Padahal Bang Maman hanyalah seorang tokoh fiksi dalam buku pelajaran muatan lokal “Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta” (PLBJ) kelas 2 SD. Adalah istilah ‘istri simpanan’ yang menjadi sumber kehebohan karena dinilai kurang pantas untuk dikenalkan ke siswa kelas 2 SD dan mengaburkan nilai budaya Jakarta. Mendiknas ikut heboh dan (seperti biasa) segera membentuk tim khusus, padahal Pak Akim, wali kelas 2C SD Angkasa IX –sekolah dimana kasus kisah Bang Maman mencuat– malah berani memastikan kalau cerita Bang Maman hanyalah cerita rakyat biasa yang mengandung nilai moral yang perlu diajarkan ke murid.

Ironis, apa yang dikatakan Pak Akim tidak salah, kisah “Bang Maman dari Kali Pasir” bukanlah hal yang luar biasa. Jika “istri simpanan” dianggap kurang pantas, apa lantas cerita rakyat Sangkuriang yang hendak menikahi ibu kandungnya dinilai pantas? Belum lagi kisah Jaka Tarub yang mencuri pakaian bidadari yang sedang mandi. Kisah Bang Maman mungkin memang kurang mendidik, tetapi jangan salah, kisah “Si Angkri” yang dimuat di buku PLBJ kelas I SD bisa jadi lebih kurang mendidik. “Mengenal Cerita Si Angkri” bukan hanya bercerita tentang golok dan dendam, namun juga memuat pembunuh bayaran, darah dan siasat rayuan gadis yang mencuci di sungai. Dan baik “Bang Maman” maupun “Si Angkri” dibuat berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Muatan Lokal DKI Jakarta. Dan ketika kejahatan, kekerasan dan seksualitas sudah mengisi bacaan anak kelas 1 SD di sekolah, mau jadi apa generasi muda bangsa ini?

Istilah (istri) “simpanan” sebenarnya juga tidak benar-benar baru dalam dunia anak-anak. Lihat saja iklan P*n* Ice Cup yang sudah cukup lama tayang di televisi. Sang anak yang baru merayakan ulang tahun menyampaikan kepada papanya bahwa mamanya punya “simpanan” dan serta merta membuat Sang Mama bingung dan salah tingkah. Terlepas dari yang dimaksud “simpanan” oleh anak tersebut adalah produk yang diiklankan, jika dilihat aspek kepatutan, rasanya iklan tersebut kurang pantas. Dan jika berbicara tentang iklan dan tontonan di televisi, kita akan banyak sekali menyaksikan ketidakpantasan yang sepertinya sudah banyak dimaklumi. Ya, berbagai ketidakpantasan sudah menjadi hal yang biasa, bahkan di mata orang tua dan pendidik. Pendidikan di negeri ini belum cukup tegas dalam menyaring ketidakpatutan.

Mungkin terlalu berlebihan jika penulis sampaikan bahwa sistem pendidikan anak di negeri ini justru menghasilkan generasi anak-anak kecil yang miris, “Bang Maman dari Kali Pasir” hanya kasus kecil. Pun terkesan menggeneralisir, namun seyogyanya kita introspeksi mengenai pendidikan anak-anak kita. Dua bulan lalu, seorang anak SD di Depok nyaris membunuh temannya dengan 8 tikaman pisau hanya karena diadukan mencuri HP. Tidak hanya ditikam, teman sekelasnya yang dikiranya sudah tewas dengan usus terburai tersebut dibuangnya di selokan. Beberapa bulan sebelumnya, 2 siswa SMP membunuh temannya hanya gara-gara saling ejek ketika bermain game online. Ada lagi kasus anak SD yang memperkosa teman sepermainannya. Atau puluhan siswa SD di Bekasi yang kedapatan mengonsumsi rokok, ganja dan permen yang mengandung zat aditif serta mabok menghirup lem. Belum lagi berbagai kasus bunuh diri siswa dan bullying yang dilakukan siswa sekolah, bahkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar.

Berbagai kasus tersebut mungkin hanya segelintir namun seperti fenomena gunung es. Masih ada siswa yang ‘membanggakan’ kok. Lihat saja Al, siswa SD cerdas yang dipaksa gurunya memberikan contekan kepada seluruh temannya. Ibunya, Ny. Siami, yang mencoba mengajarkan kejujuran kepada anaknya dengan melaporkan contek massal tersebut justru didemo dan diusir warga karena dianggap mencemarkan nama baik masyarakat dan sekolah. Sekolah yang sakit dan masyarakat yang sakit akan menghasilkan generasi muda yang sakit. Hukum yang sakit membuatnya semakin sempurna. Hukuman bagi anak di bawah umur yang melakukan kejahatan hanyalah dikembalikan kepada orang tua mereka, yang terbukti gagal mendidik anak.

Kembali ke Bang Maman, seharusnya berbagai pihak menyadari bahwa permasalahan pendidikan anak di Indonesia bukan hanya sebatas cerita di buku ajar. Dongeng anak seharusnya penuh dengan nilai moral positif, bukan dendam dan kelicikan. Cerita anak seharusnya memuat lebih banyak kisah kepahlawanan, bukan kebencian dan permusuhan. Jangan biarkan impian dan moral anak rusak dari awal, biarlah waktu dan perkembangan fase kehidupan yang akan mengajarkan anak tentang realita. Bijak menghadapi kenyataan dalam kerangka positif. Nilai-nilai positif dalam pendidikan anak di keluarga ini kemudian harus didukung dengan persemaian nilai-nilai positif di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Hal yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan anak adalah pemanfaatan media dengan tepat. Saat ini terlalu banyak bacaan dan tontonan tidak mendidik yang disajikan demi keuntungan materi. Kekerasan fisik, verbal dan psikologis mengisi ruang-ruang visual anak yang kemudian menganggapnya biasa. Kata-kata kotor dan melecehkan mulai menghiasi lisan anak-anak kita. Sikap tidak beretika dan tidak sesuai norma hasil meneladani tokoh fiksi di komik, TV, game online ataupun internet semakin dianggap wajar. Mengutiip perkataan Prof. Robert Billingham, “Anak terlalu banyak bergaul dengan lingkungan semu di luar keluarga, dan itu adalah tragedi yang seharusnya diperhatikan oleh orang tua”.

Pendidikan ala Bang Maman mengajarkan bahwa anak adalah aset untuk memperoleh kekayaan dunia. Karenanya, Ijah dinikahkan dengan Salim yang kaya raya dan diminta untuk cerai ketika Salim jatuh miskin. Pendidikan anak yang benar akan memandang anak lebih dari sekedar aset yang tidak dapat diukur dengan materi. Karenanya mengherankan jika ada orang tua yang senantiasa menyediakan waktu untuk rapat dengan klien, sementara untuk anak hanya diberikan waktu sisa, jika pun ada. Atau orang tua yang selalu siap mendengarkan keluhan pelanggan, sementara ungkapan anak-anak mereka diabaikan begitu saja. Pendidikan ala Bang Maman mengajarkan untuk menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan, selicik apapun. Pendidikan yang benar akan mengajarkan cara yang benar untuk mencapai tujuan yang benar.

Tantangan pendidikan anak di era informasi ini jelas tidak dapat disamakan dengan kondisi tiga dasawarsa lalu, orang tua dan pendidik mesti menyadarinya. Anak-anak di zaman ini cenderung lebih banyak melihat, mendengar, merasakan, mengetahui dan melakukan hal-hal yang bahkan mungkin tidak terbayangkan oleh anak-anak di masa sebelumnya. Grand design pendidikan anak bangsa sudah tentu harus cepat beradaptasi dan terus berkembang. Pun demikian, ada dua hal yang tidak berubah dalam pendidikan anak : keteladanan orang tua dan perhatian yang diberikan. Jangan salahkan anak yang tidak ramah, jika orang tua jarang bertemu muka dengan anaknya. Jangan salahkan anak yang tidak dapat mengendalikan emosi, jika orang tua kerap bertengkar di hadapan anak. Jangan harap anak bisa punya integritas, jika orang tua tidak konsisten dalam perkataan dan perbuatan. Jangan harap anak akan terbuka dengan masalah yang dialaminya, jika orang tua tidak menyempatkan waktu untuk bercengkrama dengan anaknya. Dan ketika anak-anak hanya belajar dari buku tanpa ditemani atau belajar dari televisi tanpa didampingi, bersiaplah kehilangan anak yang punya jati diri.

Bila seorang anak hidup dengan kritik, ia akan belajar menghukum. Bila seorang anak hidup dengan permusuhan, ia akan belajar kekerasan. Bila seorang anak hidup dengan olokan, ia belajar menjadi malu. Bila seorang anak hidup dengan rasa malu, ia belajar merasa bersalah. Bila seorang anak hidup dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Bila seorang anak hidup dengan keadilan, ia belajar menjalankan keadilan. Bila seorang anak hidup dengan ketentraman, ia belajar tentang iman. Bila seorang anak hidup dengan dukungan, ia belajar menyukai dirinya sendiri. Bila seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan, ia belajar untuk mencintai dunia.” (Dorothy Law Nolte)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>