Monthly Archives: May 2012

Guru, Wajah Pendidikan Indonesia

“Menggandeng tangan, membuka pikiran, menyentuh hati, membentuk masa depan. Seorang guru berpengaruh selamanya, dia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir” (Henry Adam)

Adalah Pak Saroji, guru kelas 6 SD berwajah tirus dengan dahi yang memperlihatkan kecerdasannya datang ke rumahku. Besok adalah deadline pendaftaran masuk SMP dan nampaknya beliau kurang puas dengan pilihanku yang memang hanya berorientasi ‘biar ada teman’. Beliau mencoba meyakinkanku dan orang tuaku bahwa aku seharusnya memilih sekolah yang lebih berkualitas, walau mungkin tak ada teman SD yang menemani karena NEMku terpaut jauh dengan siswa lainnya. Tersanjung juga atas perhatian beliau, apalagi beliau jauh-jauh datang di luar jam sekolah dengan motor tuanya. Akhirnya aku pun mengikuti saran beliau yang di kemudian hari mengantarkanku ke SMA dan PTN favorit. Beda lagi kenangan dengan guru kelas 4 SD yang berdandan menor dengan pakaian seksi. Ketika pembagian raport catur wulan pertama, beliau menyampaikan “Purwo cawu ini ranking 1, cawu depan gantian ya?”. Aku bingung, ada ya guru kayak gini, bukannya memotivasi dan mengapresiasi. Benar saja, catur wulan berikutnya aku ranking 2, rivalku dari kelas 1 SD bahkan sempat stress karena keluar dari 3 besar sementara yang rangking 1 hanyalah siswi biasa dari keluarga kaya raya yang kerap memberikan hadiah bagi ibu gurunya. Kelas 5 aku pindah sekolah dan bertemu dengan guru-guru baik hati seperti Pak Rusdi dan Pak Saroji. Beberapa tahun kemudian, aku dapat informasi bahwa guru kelas 4 tersebut sudah dikeluarkan karena tertangkap basah selingkuh dengan anak dari kepala sekolah. Astaghfirullah…

Guru, mungkin merupakan sosok yang berkesan, berpengaruh dan berjasa di samping orang tua kita. Masih jelas teringat guru kelas 1 SD yang sangat sabar, guru SMP dan SMA yang dibuat menangis karena kelakuanku, guru yang sering memberikan apresiasi ataupun guru yang kerap menghukum. Dan hampir semua guru-guru itu tetap menjadi guru, entah apa motivasinya. Profesi guru di Indonesia jelas tidak menjanjikan penghasilan tinggi tetapi posisinya tetap terhormat di masyarakat. Guru juga kurang diberi kesempatan untuk pergi ke luar pulau atau negara, namun keberadaannya tetap saja menebar manfaat. Kadang ada yang menjadi guru karena tidak ada pilihan, namun banyak yang memilih untuk menjadi guru sebagai bentuk pengabdian. Motivasi untuk membuat seseorang menjadi lebih tahu inilah yang membuat profesi guru tidak henti digemari. Keinginan untuk melihat senyum anak Indonesia inilah yang menjelaskan bagaimana seorang guru rela berjalan jauh melewati jalan yang tidak nyaman hanya untuk berinteraksi dengan para siswanya.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Maraknya tawuran, narkoba dan pergaulan bebas di kalangan pelajar jelas tidak terlepas dari peran guru. Berbagai kasus ketidaksopanan pelajar, bullying hingga tindak kriminal mencerminkan bahwa pendidikan Indonesia masih menghasilkan lulusan yang kurang berkarakter. Sekolah bukannya menjadi tempat pembenahan moral justru menjadi penyemai nilai-nilai negatif dalam interaksi sosial. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Oknum guru bukannya memberi contoh, justru melakukan perbuatan tak bermoral, mulai dari kekerasan, tindakan asusila hingga mengajarkan ketidakjujuran bagi para peserta didiknya. Jika ingin wajah pendidikan Indonesia berkarakter, perbaiki dulu karakter para gurunya.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Kemiskinan masih menjadi masalah besar di negeri ini. Angka kemiskinan versi pemerintah yang terus menurun dan pendapatan per kapita yang semakin tinggi justru menunjukkan ketimpangan kian terjadi. Kemiskinan dan kesenjangan ini juga berdampak ke dunia pendidikan. Banyaknya sekolah rusak, minimnya fasilitas dan sulitnya akses memperoleh pendidikan mewarnai wajah pendidikan Indonesia, namun bisa jadi tidak terjadi di kota-kota besar. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Indonesia sebenarnya tidak kekurangan guru, terlalu mewah malah dengan rasio guru:siswa = 1:18, lebih tinggi bahkan dari USA sekalipun. Namun jumlah guru yang lebih dari 2,6 juta ini terpusat secara kuantitas dan kualitas di kota-kota besar. Alhasil, mencari guru di daerah pelosok tetap saja sulit, apalagi mencari guru yang berkualitas. Jika ingin wajah pendidikan Indonesia jauh dari ketimpangan, persebaran guru (berkualitas) harus lebih merata.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Indeks Pembangunan Manusia Indonesia masih jauh tertinggal, padahal prestasi anak bangsa tidak henti-hentinya ditorehkan. Jelas ada masalah dalam pengelolaan pendidikan sehingga gagal menghasilkan manusia yang berkualitas unggul. SDM yang jujur dimusuhi, SDM yang hendak mengabdi tidak diapresiasi, SDM yang pintar malah membodohi, SDM yang opurtunis malah diikuti. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Hasil pengujian Depdiknas 2007/ 2008 yang dimuat di Kompas bulan Oktober 2009 menyebutkan bahwa 77,85% guru SD di Indonesia tak layak jadi guru. Jika ukuran kelayakan sebatas harus lulus S1 mungkin masih bisa diperdebatkan, namun nyatanya tidak sedikit guru yang mengutamakan bisnis dan keperluannya daripada hadir tepat waktu di kelas. Ada guru yang merasa paling benar, bangga ketika ditakuti, ada juga guru yang tidak dianggap oleh siswanya. Sertifikasi juga tidak serta merta menunjukkan kualitas seorang guru, karena selembar sertifikasi bisa dibeli, namun tidak dengan kualitas mengajar. Jika ingin wajah pendidikan Indonesia menghasilkan SDM yang berkualitas, proses menghasilkan guru yang berkualitas perlu benar-benar diperhatikan.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Pelajar sibuk dengan dunia khayal, mulai dari menonton acara TV yang tidak mendidik, asyik dengan situs pertemanan dan game online, hingga mengidolakan figur publik atau tim tertentu tanpa meneladani proses yang membuatnya besar. Instansi pendidikan beramai-ramai menjual mimpi dengan harga yang fantastis, visi mencerdaskan kehidupan bangsa pun kian jauh api dari asap. Demikian wajah pendidikan, demikian pula wajah guru Indonesia. Oknum guru menjual impian, oknum guru sibuk dengan dunianya kala mengajar. Budaya produktif tidak berkembang, malas membaca, malas menulis, malas mengajar. Ada juga guru yang tidak datang mengajar namun tetap lolos sertifikasi, bahkan ada guru yang sudah berhenti belajar sehingga yang disampaikan setiap tahun itu-itu saja. Jika ingin wajah pendidikan indonesia lebih kaya dengan karya, produktivitas guru menjadi keniscayaan untuk ditingkatkan.

Guru adalah cerminan wajah pendidikan Indonesia. Wajah pendidikan yang saat ini mulai tersenyum. Anggaran pendidikan semakin besar, banyak sekolah yang dibangun dan diperbaiki, biaya pendidikan mulai digratiskan, beasiswa banyak bertebaran. Guru pun mulai tersenyum, sudah ada upaya peningkatan kesejahteraan mereka, berbagai program pengembangan guru mulai bergulir. Entah kapan wajah pendidikan itu tertawa bahagia. Ketika semua warga negara memperoleh hak pendidikannya, ketika fasilitas pendidikan terpenuhi di penjuru Indonesia, ketika kualitas SDM dan pendidikan Indonesia sejajar dengan Finlandia.

Bagaimanapun, guru akan sangat menentukan wajah (pendidikan) Indonesia. Tahun 2030 nanti ketika piramida penduduk Indonesia didominasi oleh usia produktif, kontribusi guru hari ini lah yang akan menentukan kualitas SDM pada saat itu. Ada tiga syarat suatu bangsa menjadi maju, yaitu kemandirian bangsa yang tinggi, daya saing yang juga harus tinggi, serta kemampuan membangun peradaban yang unggul dan mulia. Ketiganya sangat ditentukan oleh SDM berkualitas unggul. Dan kualitas SDM di masa mendatang sangat ditentukan oleh kreativitas, produktivitas dan keteladanan para pendidik hari ini. Perubahan menuju (pendidikan) Indonesia yang lebih baik dapat dimulai dari ruang-ruang kelas dan dari hal-hal kecil. Aktivitas perbaikan yang dilakukan sekarang bisa jadi dampaknya baru akan terasa puluhan tahun ke depan, namun perbaikan harus tetap dilakukan segera, karena upaya penghancuran peradaban juga tidak kenal henti.

“Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran. Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas. Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya. Suasana hatikulah yang membuat cuacanya. Sebagai seorang guru, aku memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira. Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan, melukai atau menyembuhkan. Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan.” (Haim Ginott)

Ps. Terinspirasi ketika mengisi pelatihan guru di Batu Licin, Kalsel (260512)

Geothermal Energy: Best Solution to Reduce Emission in Indonesia

GEOTHERMAL ENERGY: BEST SOLUTION TO REDUCE EMISSIONS IN INDONESIA

Rivan Tri Yuono
Department of Physics, Faculty of Mathematics and Natural Science, University Of Indonesia
E-mail: rivankaka22@yahoo.com

Abstract

Environmental issues have become a big issue in the world. It’s associated with the development in a globalizing world that focuses on research related to human needs, namely the field of industry, technology, and energy. The challenge ahead is how to advance these fields without forgetting the environmental aspects. Environmental issues are certainly felt by all countries in the world, not least in Indonesia. Indonesia is a country located in the subduction zone. This makes Indonesia have large energy reserves, reserves of fossil energy such as oil, gas, and coal, and also non-fossil energy such as geothermal energy, water, wind, and sun. Even the mineral wealth is very abundant in Indonesia. Its growth was very significant. However, progress in the field of energy development cause new problems, namely environmental issues. Due to the fact that Indonesia is still very dependent on fossil energy, especially oil. Carbon emissions resulting from fossil energies have an impact on the environmental conditions in Indonesia. Geothermal is one form of energy available in Indonesia are a number of very abundant. This energy is well-known environmentally friendly, renewable and sustainable. Geothermal energy can be an alternative solution for the independence and energy security in Indonesia without forgetting the environmentally friendly.

Key words: Carbon Emissions, Geothermal Energy, Environmentally Friendly

download jurnal disini

Analisa Kepuasan Peserta Program SGI Angkatan III Menggunakan Metode Servqual

ANALISA KEPUASAN PESERTA PROGRAM SEKOLAH GURU INDONESIA (SGI) ANGKATAN III MENGGUNAKAN METODE SERVICE QUALITY (SERVQUAL)

Iis Rahmawati
Peneliti Pendidikan Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa
Email: alifkecil619@yahoo.com

ABSTRAK

Salah satu faktor yang menjadi penyebab mengapa mutu pendidikan kita masih rendah dan jauh dari harapan yaitu jumlah dan kualitas guru belum memadai serta penyebaran yang belum merata. Untuk itulah Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa hingga kini telah aktif membantu masyarakat untuk mendapatkan pendidikan berkualitas melalui berbagai program yang salah satunya melalui jejaring Sekolah Guru Indonesia. Pengukuran kualitas layanan Program SGI didasarkan pada business process yang terdapat dalam program. Survei kepuasan pelanggan dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat kepuasan peserta terhadap penyelenggaraan program Sekolah Guru Indonesia (SGI). Penelitian menggunakan metode survei meliputi enam kriteria kualitas pelayanan jasa dalam program SGI yang dijabarkan ke dalam 55 butir indikator dan dinilai dengan menggunakan skala likert terhadap dua bagian yaitu bagian ekspektasi dan persepsi. Untuk pengukuran kepuasan peserta digunakan metode Servqual (Service Quality) untuk mendapatkan indeks kepuasan pelanggan.

Hasil penelitian menunjukkan, kriteria yang memperoleh skor tertinggi dari segi pelaksanaan adalah kriteria pengajar yaitu sebesar 3.91. Hal ini menunjukkan pelayanan SGI dalam  hal kualitas pengajar dianggap hampir sangat sesuai dengan harapan peserta. Sedangkan nilai gap tertinggi terdapat pada kriteria pengelola SGI dan pembina asrama yaitu sebesar -1.55. Semakin besar nilai negatif suatu gap pada suatu kriteria layanan maka semakin besar pula prioritas peningkatan kualitas pelayanan dari kriteria tersebut. Berdasarkan rentang skala kepuasan terdapat tiga kriteria yang memperoleh nilai tinggi yaitu kriteria Pengajar, Materi dan Metode, serta Peningkatan Kompetensi dengan nilai masing-masing 87.08%, 85.39%, dan 84.53%. Hal ini berarti peserta SGI merasa sangat puas dengan pelayanan SGI pada tiga kriteria tersebut.

Kata kunci : program Sekolah Guru Indonesia, mutu layanan, kepuasan pelanggan, metode SERVQUAL

ABSTRACT

One factor that may caused quality of our education is low and far from the expectations is the amount and quality of teachers has not enough and that has not been spread evenly. To solve the problem, Education Division of Dompet Dhuafa until now has been actively helping people to obtain quality education through a variety of programs that one of them is Sekolah Guru Indonesia (SGI). Service quality measurement of SGI based on business process in the program. Customer satisfaction survey was conducted to identify the level of satisfaction of participants (students) in the SGI implementation. This research using the survey method includes six criteria for quality of service in the SGI program that translated into 55 indicators and were assessed using likert scale of two parts: expectations and perceptions. To measure satisfaction of participants used the SERVQUAL (Service Quality) method to get the customer satisfaction index.

The results showed, the criteria that has the highest score is for teachers that is equal to 3.91. It means that the quality of  SGI service for this criteria is most highly regarded educators in accordance with the expectations of participants. While, there is the highest gap in the management criteria of the SGI and dormitory supervisors at -1.55. It means that this criteria has the greater priority to improve its quality. Based on the satisfaction scale range there are three criteria (teachers, materials and methods, competence increasing) that get a higher percentage than other criteria with each value 87.08%, 85.39% and 84.53%. This means that participants were very satisfied with SGI service on this three criteria.

Keywords: Sekolah Guru Indonesia program, service quality, customer satisfaction, SERVQUAL method

download jurnal disini

Cegah Diabetes dengan Rempeyek Lidah Mertua

CEGAH DIABETES DENGAN REMPEYEK LIDAH MERTUA

Zakia Annisa Ulya
Siswa Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor, Jawa Barat
E-mail: zakiaannisa56@gmail.com

ABSTRAK

Indonesia termasuk dalam daftar negara yang memiliki potensi untuk menjadi pengisi buku tamu dalam urutan pengidap penyakit diabetes. Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. Karya ilmiah ini bertujuan untuk membuat formulasi ekstrak Lidah Mertua dalam bentuk rempeyek yang berkhasiat sebagai pencegah diabetes.

Berdasarkan hasil uji organoleptik, rempeyek lidah mertua mendapat nilai lebih unggul pada tiga atribut mutu yang diuji yaitu warna, aroma dan kekerasan. Sedangkan pada atribut mutu rasa gurih, rempeyek lidah mertua memiliki rasa gurih yang tidak berbeda dengan rempeyek biasa. Hal ini menunjukkan dengan komposisi yang tepat, ekstrak lidah mertua dapat dibuat menjadi rempeyek yang dapat disukai oleh konsumen. Kandungan fenol seperti asam galat yang terdapat pada ekstrak lidah mertua dapat mencegah penyakit diabetes karena senyawa asam galat dapat memperlancar sistem pencernaan tubuh pada manusia sehingga organ pankreas dapat aktif memproduksi hormon insulin kembali sesuai kebutuhan tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa Lidah Mertua dapat diolah menjadi produk rempeyek yang berkhasiat untuk mencegah diabetes.

Kata kunci : diabetes, ekstrak Lidah Mertua, rempeyek, Asam Galat

ABSTRACT

Indonesia is included in the list of countries that have the potential to be a guest book in the order of filling people with diabetes. Diabetes Mellitus (DM), also known as diabetes or blood sugar disease is a type of chronic disease characterized by elevated levels of sugar in the blood as a result of disturbances in the body’s metabolic system, where pancreas unable to produce insulin that body needs. This research aims to make a mother in law-tongue extract formulation that has efficacious to prevent diabetes. This extract will be mixed with other ingredients and made as  “rempeyek”.

The result shows that “rempeyek lidah mertua” get the higher point for three criteria tested: colour, smell, and crispiness than “common rempeyek”.  But for flavor criteria, “rempeyek lidah mertua” has the same point to other. It means that, this “rempeyek lidah mertua” has the same flavor with “common peyek”. So that, with the right composition, we can make “rempeyek” that can be like by costumers. However, based on study of important metabolite of mother in law-tongue extract which is contain in “rempeyek”, the result shows that this product still contains  a few of important metabolites such as Gallic Acid where it has efficacious to prevent diabetes. Gallic Acid can activated pancreas to reproduce insulin that body needs. It means that, we can use mother in law-tongue extract and produce it as “rempeyek” which can use to prevent diabetes.

Key words: diabetes, mother in law-tongue extract, rempeyek, Gallic Acid

download jurnal disini

Aspek Kepribadian Guru Ideal dan Pembentukan Perilaku Siswa dalam Novel “Pertemuan Dua Hati”

THE GREAT TEACHER :
MENDEDAH ASPEK-ASPEK KEPRIBADIAN GURU IDEAL DAN PEMBENTUKAN PERILAKU SISWA DALAM NOVEL “PERTEMUAN DUA HATI” KARYA NH. DINI

Lucky Maulana Hakim
Mahasiswa Sekolah Guru Indonesia Angkatan III
Email:lucky.maulana18@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisa tentang aspek-aspek kepribadian guru ideal terhadap pengelolaan perilaku dalam novel “Pertemuan Dua Hati” karangan Nh. Dini. Meskipun penelitian ini merupakan analisis terhadap sebuah karya sastra yang ditulis lebih dari satu dekade yang lalu, tetapi pemikiran, pandangan dan persepsi imajinatif Nh. Dini dalam karyanya “Pertemuan Dua Hati” sangat relevan konteks situasinya dewasa ini. Novel ini menjelaskan sekaligus merepresentasikan bahwa tugas utama seorang guru (pendidik sejati) adalah mampu mengubah perilaku, sikap dan kebiasaan buruk siswa menjadi perilaku dan sikap yang baik. Kepribadian unggul dari seorang guru ideal merupakan poin yang sangat penting dalam memahami bagaimana sejatinya menjadi seorang pendidik. Pesan ini dapat dijadikan referensi, sekaligus bahan refleksi bagi setiap guru yang menganggap dirinya tidak saja sebagai seorang pengajar, melainkan sebagai seorang pendidik.

Kata kunci : Kepribadian guru ideal, pengelolaan perilaku, dedikasi, kasih sayang, pendidik.

ABSTRACT

This study aims to describe and analyze aspects of the personality of the ideal teacher to behavior management in the novel “Pertemuan Dua Hati” by Nh. Dini. Although this study is an analysis of a literary work written more than a decade ago, but the thoughts, ideas and imaginative perception of Nh. Dini in her novel “Pertemuan Dua Hati” is very relevant to the context of the situation today. This Novel explained and described that the main task of a teacher (a true educator) is able to change behavior, attitudes and habits of students to be good. The superior personality of an ideal teacher is a very important point in understanding how to actually become an educator. This message can be used as a reference and a reflection for every teacher who considers himself not only as a teacher but as an educator.

Keywords: ideal teacher personality, behavior management, dedication, compassion, educators.

Download jurnal disini