Dicari : Calon Presiden yang REVOLUSIONER

“Berikan saya 100 peti mati, 99 akan saya kirim untuk para koruptor. Satu buat saya sendiri jika saya pun melakukan hal itu” (Zhu Rongji, Perdana Menteri China)

Kata-kata diatas bukan sekedar isapan jempol, ribuan bahkan puluhan ribu orang di China telah dihukum mati sejak tahun 2001 karena terbukti melakukan berbagai kejahatan, termasuk korupsi. Tidak tangung-tanggung, Zhu Rongji berani menghukum mati Cheng Kejie (pejabat tinggi Partai Komunis Cina sekaligus Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional), Hu Changging (Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi), Xiao Hongbo (Deputi Manajer Cabang Bank Konstruksi China), Xu Maiyong (mantan Wakil Walikota Hangzho), Jiang Renjie (mantan Wakil Walikota Suzhou) dan banyak tokoh publik lainnya. Tidak hanya itu, puluhan ribu polisi dipecat karena menerima suap, berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di luar tugas dan kualitas di bawah standar. Terdengar kejam memang, namun begitulah pemimpin yang REVOLUSIONER, berani mengambil resiko untuk tujuan yang lebih besar. Hasilnya, pejabat takut untuk korupsi, pertumbuhan ekonomi China mencapai 9% per tahun dengan PDB melonjak tinggi dan cadangan devisa negara lebih dari 300 miliar USD. China pun menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. REVOLUSIONER, itu kuncinya.

REVOLUSIONER berarti cenderung menghendaki perubahan secara menyeluruh dan mendasar. Berani dan tidak setengah-setengah. REVOLUSIONER adalah jiwa yang mempengaruh karakter pemimpin, bukan metode perjuangannya. Ahmadinejad, presiden Iran yang sangat sederhana dan merakyat. Ia meninggalkan pakaian mewah, rumah dan mobil dinas, pesawat kepresidenan, berbagai protokoler dan seremonial hingga gajinya sebagai presiden. Di balik sikap rendah hatinya, ia bersikap tegas terhadap berbagai propaganda yang dilancarkan Amerika Serikat, Israel dan sekutunya yang membuatnya disegani di mata dunia dan menjadi simbol perlawanan hegemoni Barat. Hebatnya, Iran tetap survive di tengah terpaan embargo, kebutuhan pokok tetap terpenuhi. Militer Iran bahkan ditakuti. Itulah pemimpin REVOLUSIONER. Erdogan, Perdana Menteri Turki yang berhasil memulihkan ekonomi Turki, dimana PDB naik 3 kali lipat, inflasi dan suku bunga turun drastis sementara nilai mata uang dan ekspor naik signifikan, sehingga banyak yang menjulukinya “Inspiring Leader”. Pun berbeda dengan keyakinannya, ia tidak serta merta menghapus sekulerisme di Turki yang sudah mendarah daging. Namun dengan diplomasi, ia memanfaatkan sekulerisme untuk membuat perubahan, termasuk mendorong pemilihan Presiden langsung dan mencabut UU Pelarangan Jilbab. Sosoknya semakin kuat ketika ia menolak pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat di Turki, bahkan ia tidak segan-segan mengutuk dan meminta Israel meminta maaf serta mengusir para diplomat Israel paska peristiwa Mavi Marmara. Ya, dengan metode perjuangan yang berbeda dengan Ahmadinejad, Erdogan pun sosok pemimpin REVOLUSIONER abad ini.

Indonesia saat ini tengah mengalami krisis multi dimensi dan masyarakatnya menderita lahir batin. Permasalahan yang dihadapi terlalu kompleks, diantaranya ambruknya supremasi hukum, krisis kepemimpinan, krisis kepercayaan terhadap institusi negara, lingkungan fisik dan nonfisik yang semakin rusak, hingga berbagai aset dan sumber daya yang dikuasai asing. Kondisi tersebut hanya dapat dihadapi oleh pemimpin yang REVOLUSIONER, yang tidak hanya pandai dalam mengelola pemerintahan, tetapi juga tegas dalam mengambil keputusan. Hampir seluruh bangsa dan negara yang bisa unjuk gigi di level dunia memiliki pemimpin yang REVOLUSIONER. Tak berlebihan, jika berbicara tentang kriteria presiden idaman, REVOLUSIONER  menjadi salah satu kriteria cerdas yang juga memuat kriteria-kriteria dasar yang lain. Berikut adalah kriteria calon presiden idaman masyarakat yang terangkum dalam REVOLUSIONER.

R – Ready (Siap). Seorang Presiden harus siap untuk menjadi pemimpin sekaligus pelayan suatu negara. Siap menghadapi berbagai permasalahan yang ada, siap untuk dibuat sibuk dan siap untuk memberikan segala yang dimilikinya untuk kepentingan bangsa dan negara. Jika seorang Presiden hanya siap untuk dilayani dan memperoleh berbagai macam fasilitas, ia akan mudah berkeluh kesah dan banyak menuntut. Kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan telah terbukti banyak melahirkan pemimpin besar yang REVOLUSIONER.

E – Example (Teladan). Seorang Presiden harus bisa menjadi contoh baik yang dapat ditiru oleh rakyatnya. Pemimpin yang sejati bukan hanya dapat memberikan perintah ataupun himbauan, melainkan mampu mencontohkannya. Modeling the way. Jika seorang Presiden hanya bisa berbicara tanpa memberi contoh, ia takkan mampu menggerakkan rakyatnya dan akan segera ditinggalkan. Keteladanan dalam berpikir, berbicara dan bersikap merupakan cara paling efektif dalam mengusung perubahan yang REVOLUSIONER.

V – Visioner. Seorang Presiden harus berpikiran jauh ke depan untuk kemajuan bangsa dan negaranya, jangan sampai menghabiskan energinya untuk membalas budi atas kemenangannya di awal masa kepemimpinannya dan untuk melanggengkan kekuasaannya di masa akhir kepemimpinannya. Tidak cukup hanya memiliki visi, pemimpin sejati harus mampu mengomunikasikan visinya ke seluruh elemen yang dipimpinnya dan menginspirasi mereka. Jika seorang Presiden berpikiran pendek, hanya ada dua kemungkinan bagi negaranya: diam di tempat atau malah tertinggal. Bagaimanapun, pemimpin yang visioner dekat dengan pemimpin yang REVOLUSIONER.

O – Optimistic (Optimis). Seorang Presiden harus berpikiran positif akan nasib negara yang dipimpinnya di kemudian hari. Pikiran positif ini akan melahirkan pengharapan dan kerja yang positif, cita-cita pun semakin dekat untuk dapat diraih. Jika seorang Presiden sudah pesimis dalam melihat berbagai permasalahan yang ada, usahanya tak akan optimal dan akan selalu mencari pembenaran atas kegagalannya. Rakyat pun putus asa akan masa depannya. Dan optimisme ini perlu diimbangi dengan kerja nyata sehingga dapat menghasilkan perubahan yang REVOLUSIONER.

L – Lovable (Dicintai). Seorang Presiden harus mencintai rakyat, bangsa dan negaranya sehingga ia dapat dicintai oleh rakyatnya. Jika seorang Presiden dicintai rakyatnya, kebijakannya akan mendapat dukungan penuh dari rakyatnya. Sebaliknya, jika seorang Presiden tidak dicintai, ia hanya akan menuai cibiran dan do’a yang buruk dari rakyatnya. Bukan hanya kekuasaannya akan digulingkan, rakyat pun akan berbalik menuntut bahkan menghukmnya. Jadi, walaupun terkesan memiliki sifat yang berjauhan, cinta sangatlah dibutuhkan untuk menguatkan pemimpin yang REVOLUSIONER.

U – Understand (Memahami). Seorang Presiden harus mengetahui dengan jelas kondisi dari apa yang dipimpinnya sebagaimana seorang panglima perang harus memahami seluk beluk medan pertempuran sebelum pergi bertempur. Jika seorang Presiden tidak benar-benar mengerti apa yang dihadapi rakyatnya, kebijakannya tak akan tepat sasaran, hanya akan membuang-buang sumber daya. Seorang yang memahami akan menjadi peduli. Dan seorang yang peduli akan melakukan aksi nyata yang tepat sebagai imlementasi dari pemahaman dan kepeduliannya. Paham kondisi dan pandai membaca situasi menjadi salah satu syarat penting pemimpin yang REVOLUSIONER.

S – Simple (Bersahaja, Lugas). Seorang Presiden harus tampil sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Kata-kata yang disampaikan pun sederhana dan mudah dimengerti. Kepala Negara adalah jabatan strategis yang siapapun pemangkunya akan menjadi sorotan. Revolusi Perancis berawal dari gaya hidup mewah pihak Kerajaan Perancis yang memicu perubahan besar disana. Sebaliknya, kesederhanaan dan ketegasan Ahmadinejad, menjadikannya Presiden yang sangat dielu-elukan di Iran, bahkan rakyat pun rela diembargo bersamanya. Pada suatu titik, kesederhanaanlah yang akan mempelopori perubahan yang REVOLUSIONER.

I – Integrity (Integritas). Seorang Presiden haruslah memiliki integritas, jujur dan dapat dipercaya. Punya sikap yang jelas dan tidak plin plan. Integritas ini bukan hanya membuat seseorang terlihat berwibawa di mata orang lain, namun juga dapat memberi ketenangan bagi rakyat yang dipimpinnya. Jika seorang Presiden kehilangan integritasnya, ia akan kehilangan kewibawaan, kepercayaan dan hanya akan menuai kegalauan dan kekecewaan di tengah masyarakat. Karenanya, integritas pribadi merupakan syarat penting untuk mengusung perubahan sekaligus menjadi kriteria yang harus dimiliki oleh pemimpin yang REVOLUSIONER.

O – Objective (Objektif). Seorang Presiden haruslah dapat berlaku adil dan tidak berat sebelah. Pertimbangan yang objektif lebih dikedepankan dibandingkan subjektivitas pribadi yang kerap emosional. Jika seorang Presiden tidak objektif dalam melihat suatu permasalahan ataupun dalam memutuskan suatu kebijakan, ia hanya akan menuai prasangka dan kecurigaan, hasilnya pun tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sikap berat sebelah hanya akan menjadi bumerang bagi seorang pemimpin. Dan rasionalitas selalu mampu melandasi perubahan yang REVOLUSIONER.

N – Nationalist (Nasionalis). Seorang Presiden harus cinta tanah air dan bangsa, mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan. Rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk kesejahteraan masyarakat. Jika seorang Presiden kehilangan jiwa nasionalis, ia hanya akan menjadi pemimpin simbol, yang dikuasai oleh golongan di belakangnya, atau bahkan didikte oleh pihak asing. Salah satu bentuk semangat patriotik yang sudah dilakukan oleh beberapa kepala negara adalah tidak mengambil gajinya demi kemakmuran rakyat, hasilnya sudah tentu perubahan yang REVOLUSIONER.

E – Encourage (Mendorong, Membesarkan hati). Seorang Presiden harus mampu memotivasi dan membesarkan hati rakyat yang dipimpinnya. Encourage the heart. Atau Tut Wuri Handayani jika meminjam istilah Ki Hajar Dewantara. Dorongan ini akan menginspirasi dan menghadirkan partisipasi aktif masyarakat untuk juga berubah, karena masalah bangsa ini terlalu rumit untuk dapat ditangani sendirian. Jika seorang Presiden tidak mampu membesarkan hati rakyatnya, ia akan segera lelah tidak memperoleh energi positif dari rakyat yang dipimpinnya. Para pemimpin besar selalu mampu mengobarkan semangat yang dipimpinnya sehingga memperkuat perubahan yang REVOLUSIONER.

R – Responsible (Bertanggung jawab). Seorang Presiden harus berani mempertanggungjawabkan atas apa yang dipimpinnya, tidak berlepas tangan ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi sampai mengkambinghitamkan orang lain. Jika seorang Presiden lepas tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya, ia akan kehilangan kepercayaan dan kehancurannya tinggal menunggu waktunya. Karakter bertanggung jawab selalu lekat dengan pemimpin idaman, tidak terkecuali pemimpin yang REVOLUSIONER.

Perubahan memang tidak menjamin perbaikan, namun tanpa perubahan sudah pasti tidak akan ada perbaikan. Kompleksitas permasalahan bangsa ini hanya dapat diselesaikan dengan perubahan yang menyeluruh dan mendasar, karenanya dibutuhkan pemimpin yang REVOLUSIONER. Pemimpin yang tegas dan berani seperti halnya Bung Karno dengan “Indonesia Menggugat”nya sehingga bangsa ini tidak dipandang sebelah mata. Pemimpin REVOLUSIONER yang selalu siap sedia, dapat menjadi panutan, menginspirasi,  berpengharapan positif, kharismatik, empati, bersahaja, bermoral baik, bijaksana, patriotik, mengayomi dan bertangung jawab. Terdengar terlalu ideal memang, namun tidak ada yang salah dengan impian dan harapan yang ideal, daripada putus harapan dan hanya menjadi masalah bagi bangsa yang butuh sejuta solusi dan aksi nyata ini. Asa itu masih ada, selama kita masih meyakininya, dan berbuat sebisa kemampuan kita, memberi warna ceria bagi dunia…

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>