Menyambut Ramadhan Ala Kadarnya

Tlah datang menjelang, meluruhkan kerinduan, oh Ramadhan, sambut ke hadapan. Bulan perjuangan tingkatkan iman, pupuk pengorbanan suci. Bina kesungguhan, bina keikhlashan, berbekal taqwa untuk kehidupan Ramadhan…” (‘Ramadhan’, Izzatul Islam)

Awal pekan ini banyak orang tua yang disibukkan dengan persiapan anaknya yang mulai masuk sekolah. Bukan hanya persiapan seragam dan peralatan sekolah, tidak sedikit orang tua yang harus menjual harta miliknya untuk dapat membiayai anaknya sekolah. Persiapan tidak hanya sampai disitu, orang tua dan siswa sudah datang menyerbu ke sekolah selepas shalat shubuh, bahkan ada yang membawa kursi sendiri dari rumah. Beberapa orang tua mengambil cuti untuk menemani buah hatinya mengawali hari pertama di sekolah. Momen masuk sekolah memang momen menarik yang dianggap layak untuk disambut. Ada perubahan status yang akan disandang, ada serangkaian kenangan yang akan dijalani, bahkan tidak jarang ada barang-barang baru yang dimiliki dan pertama kali diperlihatkan.

Pekan ini juga ada momen lain yang layak untuk disambut, datangnya bulan penuh keutamaan dimana didalamnya dibuka pintu syurga, setan-setan dibelenggu dan ditutup pintu neraka. Ya, Ramadhan akan kembali menyapa dengan tawaran yang sama: limpahan rahmat dan pahala, dibukanya pintu taubat dan pengampunan dosa, hingga lailatur qadr yang mulia. Sayangnya, seolah sekedar rutinitas, tidak ada penyambutan yang gegap gempita, persiapanpun seadanya. Jangankan mempersiapkan fisik, pikiran dan jiwa, bergembira dengan kedatangannyapun tiada. Ada yang bersiap dengan tampilan baru yang menutup aurat, lagu dan tayangan televisi yang mendadak religi, dan berbagai simbol islami lainnya, namun tidak sedikit di antaranya yang hanya musiman demi bisnis dan citra.

Sebagaimana sudah umum terjadi, penyambutan dan persiapan yang dilakukan sangat erat kaitannya dengan bagaimana kita memposisikan momen atau ‘tamu’ tersebut. Persiapan yang dilakukan untuk menyambut kedatangan lurah dalam meresmikan suatu acara tentu berbeda dengan persiapan yang dilakukan jika sekiranya Presiden yang hadir. Bahkan persiapan dan penyambutan antara kepala negara yang satu dengan yang lain bisa saja berbeda, (lagi-lagi) tergantung bagaimana kita memposisikannya. Rasulullah SAW dan para shahabat mempersiapkan kedatangan Ramadhan setengah tahun sebelumnya dan sangat bersiap di dua bulan terakhir (Rajab dan Sya’ban) karena memposisikan Ramadhan sebagai sayyidusysyuhur, pemimpin bulan-bulan lainnya. Lalu bagaimana dengan kita?

Persiapan adalah setengah dari keberhasilan”, para olahragawan dan orang-orang yang biasa tampil di muka umum tentu sangat mengamini pepatah ini. Tidak sedikit keberhasilan dalam event berdurasi jam, menit bahkan detik yang ditentukan oleh persiapan berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Lalu apakah sudah pasti mereka yang kurang optimal dalam mempersiapkan Ramadhan akan menemui kegagalan dalam Ramadhannya? Sering ada momentum dimana kita tidak dapat mundur dan harus menghadapi tantangan di depan dengan persiapan yang belum optimal. Kala hal itu terjadi, hanya ada tiga hal yang harus dilakukan: mengoptimalkan waktu tersisa untuk bersiap dan berbekal, berjuang keras di medan pertempuran dengan penuh kesungguhan dan menyerahkan segala hasil kepada Allah SWT.

Realitanya, waktu untuk terus memperbaiki persiapan sebenarnya selalu tersedia. Dalam Deming Cycle, Plan – Do – Check – Action selalu berputar, tidak hanya berhenti dalam satu siklus. Ada waktu untuk menguatkan persiapan di waktu malam, memperbaharui niat ketika sahurpun akan menguatkan persiapan itu. Melewati hari dengan berbagai kesibukan sehingga kita perlu menata waktu hingga tiba saatnya berbukapun sarat dengan momen meneguhkan persiapan. Dan persiapan sebagus apapun takkan sempurna tanpa realisasi yang terejawantahkan dalam amal nyata. Amal yang utama tentunya, amal yang diterima. Betapa banyak orang yang sudah mempersiapkan diri untuk menghidupkan malam, namun yang diperolehnya hanya lelah dan kantuk saja. Betapa banyak orang yang sudah mempersiapkan diri untuk mengoptimalkan waktu siang, namun yang diperolehnya hanya lapar dan dahaga saja. Karena memang medan beramal berbeda dengan sekedar berencana. Dan mengerjakan amal shalih dengan kesungguhan tentu berbeda dengan beramal seadanya. Belum lagi fenomena para pelari sprint dalam bulan Ramadhan. Mereka yang bersemangat beribadah di awal bulan Ramadhan, namun semangat tersebut memudar seiring berjalannya waktu sehingga hanya sedikit yang tersisa di sepuluh hari terakhir Ramadhan yang penuh keutamaan. Mereka bukan berarti tidak bersiap, namun tidak cukup siap dalam membangun persiapan untuk melewati sepanjang bulan Ramadhan.

Mungkin saat ini persiapan kita menyambut Ramadhan masih jauh dari mengesankan. Puasa sunnah jarang dilakukan, makan minum kerap tak kenal aturan. Tilawah Al Qur’an hanya jika ada kesempatan, yang ternyata tak kunjung tersedia karena berbagai kesibukan. Hari-hari masih diwarnai khilaf dan kesalahan, bukannya taubat, porsi tidur malah lupa daratan. Hatta, sekurangoptimal apapun persiapan, masih ada secercah harapan, sebagaimana baiknya persiapan tidak serta merta berarti sudah meraih kemenangan. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi keterlambatan dan ketertinggalan dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengisi pundi-pundi perbekalan. Kemudian mengisi tiap jenak waktu yang tersedia dengan kebaikan yang berkesinambungan. Sisanya, biarlah Allah SWT yang menilai dan memberi ganjaran.

Pemenang tidaklah selalu mereka yang diunggulkan dan sudah memiliki persiapan matang. Persiapan memang akan memperbesar peluang menjadi juara, namun bukan satu-satunya faktor penentu kemenangan. Pemenang adalah mereka yang tersenyum di akhir, bukan di awal. Sikap pesimisme dan berputus asa dari Rahmat Allah SWT bahwa Ramadhan hanya akan berakhir dengan kegagalan karena minimnya persiapan, adalah sikap pecundang. Jika belum siap, maka bersiaplah, karena mundur jelas bukan pilihan. Jika persiapan belum optimal, maka berikan yang terbaik dalam pelaksanaan, karena kesungguhan dalam mengerjakan kebaikan, sekecil apapun, tetap akan diperhitungkan. Dan akhirnya hanyalah kepada Allah SWT segala urusan dikembalikan.

“Ku mengharapkan Ramadhan kali ini penuh makna agar dapat kulalui dengan sempurna. Selangkah demi selangkah, setahun sudah pun berlalu. Masa yang pantas berlalu, hingga tak terasa ku berada di bulan Ramadhan semula” (‘Harapan Ramadhan’, Raihan)

  1. subhanallah.. Mantap akh!
    Banyak org sdh buat persiapan ttg jadwal ifthor bareng tuh akh.. Iftor tmn kantor, kampus, alumni sma, smp, dll.. Smg dg mbaca tulisan ini bs menyadarkan kembali hakikat persiapan yg diperlukan utk mhadapi Ramadhan.. Syukron ya.

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>