Membalas Keburukan dengan Cinta

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
(QS. Fushshilat: 34-36)

Di sebuah desa, tersebutlah seorang petani yang bertetangga dengan seorang pemburu. Petani ini memiliki domba-domba peliharaan sementara si pemburu memiliki anjing-anjing galak tetapi kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba milik Petani. Petani sudah meminta tetangganya itu untuk menjaga anjing-anjingnya, namun sayangnya si Pemburu tak mau peduli. Suatu hari, anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba Petani, sampai terluka parah. Petani itu marah dan merasa tak sabar. Ia memutuskan pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim. Hakim tersebut mendengarkan cerita petani itu dengan seksama kemudian berkata, “Saya bisa saja menghukum Pemburu itu kemudian memerintahkannya untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi kau akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman, atau musuh yang jadi tetanggamu?

Petani itu kemudian menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman. Hakim kemudian menawarkan win-win solution yang akan memastikan domba-domba milik Petani akan aman dan Petani tetap berteman dengan tetangganya. Mendengar penjelasan dari Hakim tersebut, Petani itu pun setuju. Sesampainya di rumah, Petani itu segera melaksanakan apa yang disarankan Hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga orang anak Pemburu. Anak-anak si Pemburu tentunya sangat senang menerima hadiah tersebut dan mulai bermain-main dengan domba-domba yang diberikan Petani. Pemburu itupun ikut senang. Karena senang serta untuk menjaga mainan baru anak-anaknya, si Pemburu itu kemudian membuatkan kandang dan mengurung anjing-anjing pemburunya. Sejak itu, anjing-anjing si Pemburu tak pernah lagi menganggu domba-domba milik si Petani. Lebih jauh lagi, sebagai rasa terimakasihnya pada kedermawanan si Petani pada anak2nya, Pemburu itu lalu mulai sering membagi hasil buruan pada si Petani. Sebagai balasannya, si Petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya. Dalam waktu singkat mereka menjadi sahabat karib.

* * *

Kebaikan dibalas dengan kebaikan mungkin hal yang biasa, balas budi namanya. Keburukan dibalas dengan keburukan juga wajar saja, balas dendam namanya. Namun keburukan yang dibalas dengan kebaikan tentu hal yang utama, apalagi jika saat itu kita mampu membalasnya dengan keburukan juga. Jangankan membalas keburukan dengan kebaikan, sekedar memaafkan saja sudah menyimpan banyak keutamaan. Musa bin Imran a.s. pernah berkata, “Wahai Tuhanku, siapakah orang yang paling mulia pada pandangan-Mu?” Allah SWT menjawab, “Barangsiapa yang memberi maaf meskipun dia memiliki kemampuan untuk membalas dendam.” (HR Baihaqi). Dalam riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menahan kemarahan padahal ia mampu memuntahkannya, maka Allah SWT kelak akan memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk hingga Allah memperkenankan kepadanya untuk memilih bidadari yang dikehendakinya” (HR.Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah). Subhanallah…

Syech Abdurrahman Nashir As-Sa’dy berkata, “Jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita, balaslah kejahatannya itu dengan kebaikan. Jika ada orang yang jahat kepadamu dengan perbuatannya, dengan perkataannya, atau dengan sesuatu yang lain, maka balaslah hal itu dengan kebaikan. Jika ia memutus hubungan denganmu, cobalah jalin hubungan baik dengannya. Jika ia menzalimi, maafkanlah ia. Jika berbicara tentang kamu, janganlah engkau hiraukan. Tetapi, maafkanlah ia, dan sambutlah ia dengan perkataan yang baik. Apabila ia menjauhimu dan tidak menghiraukanmu, tetaplah berkata yang lembut dan mengucapkan salam kepadanya. Jika engkau mampu membalas kejahatan dengan kebaikan, niscaya engkau akan mendapatkan faedah yang sangat besar”. Membalas keburukan dengan kebaikan terdengar mudah diucapkan, namun mengimplementasikannya tentu tidak semudah itu.

Mungkin kita pernah mendengar kisah Rasulullah SAW yang menjenguk orang non muslim yang kerap meludahinya ketika beliau hendak melaksanakan shalat. Atau bagaimana Rasulullah SAW menyuapi seorang Yahudi Buta di pinggir jalan yang mulutnya selalu mencaci maki beliau. Butuh jiwa besar untuk dapat membalas keburukan dengan kebaikan, apalagi pada saat kita mampu membalas dendam. Namun hasilnya luar biasa. Kedua kisah di atas berakhir dengan masuk Islamnya kedua orang yang berbuat buruk terhadap Rasulullah SAW. Ganjaran kebaikan yang berlipat buah dari membalas keburukan dengan kebaikan dapat serta merta dirasakan, dapat pula tertunda, sebagaimana kisah penduduk Thaif yang pernah melempari Rasulullah SAW dengan batu hingga kaki beliau berdarah. Saat Malaikat Jibril hendak menimpa penduduk Thaif dengan gunung, Rasulullah SAW mencegahnya, bahkan mendo’akan penduduk Thaif. Jauh di kemudian hari, penduduk Thaif bukan saja berbondong-bondong beriman, namun menjadi garda terdepan pembela agama Allah setelah kematian Rasulullah SAW, dimana saat itu banyak muncul nabi-nabi palsu dan umat yang enggan membayar zakat.

Kebaikan dibalas dengan kebaikan, atau keburukan dibalas dengan keburukan sudah menjadi hukum sebab akibat, namun keburukan dibalas dengan kebaikan sebenarnya juga logis. Jika ada orang yang berbuat buruk kepada kita, bisa jadi karena kita kurang berbuat baik terhadapnya. Kurang berbuat baik saja merupakan suatu keburukan. Jika ada orang yang bekerja atau berprilaku tidak sesuai dengan yang kita harapkan, bisa jadi ada haknya yang belum kita berikan. Jika ada orang yang menzhalimi kita, bisa jadi Allah SWT sedang membukakan jalan bagi kita untuk semakin dekat kepada-Nya. Dan ketika kita membalas perlakuan buruk dengan keburukan juga, maka potensi rantai kebaikan akan terputus. Tidak ada kawan yang bertambah. Tidak ada kekurangan yang diperbaiki. Tidak ada kezhaliman yang terhenti. Tidak ada kebaikan yang terus mengalir.

Sesungguhnya jarak antara teman dan musuh setipis jarak antara cinta dan benci. Orang bijak mengatakan, “Cintailah kekasihmu sewajarnya saja (jangan berlebihan) karena bisa saja suatu saat nati ia akan menjadi orang yang paling kamu benci. Jika membenci bencilah sewajarnya (jangan berlebihan) karena bisa jadi suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang paling kamu cintai”. Umar bin Khattab r.a. mungkin salah satu contoh orang yang masa jahiliyahnya sangat membenci dan memusuhi Islam, namun setelah masuk Islam begitu besar kecintaannya. Adanya orang yang tidak suka atau terus berkonflik pada kita padahal kita tidak merasa pernah berbuat buruk padanya barangkali karena kita kurang memberikan kebaikan, kurang menghadiahkan cinta kepadanya. Dalam hal ini, sikap diam dan memaafkan saja tentu tidak cukup. Riak kebaikan dan cinta harus dimulai, untuk mendatangkan gelombang besar kebaikan dan cinta.

Saya menumpas musuh ketika saya menjadikan mereka sebagai teman
(Abraham Lincoln)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>