Tanggapan Atas 12 Lagu Anak yang Menyesatkan

Hari ini, untuk kesekian kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu, ada lagi kiriman postingan yang berisi daftar lagu-lagu anak yang menyesatkan. Ketika pertama kali menerima email berisi kritisasi terhadap lagu-lagu anak tersebut semasa saya kuliah, saya hanya tersenyum dan melihatnya hanya sebagai gurauan. Namun semakin sering pesan tersebut diteruskan dan dimuat di berbagai media publik, saya justru semakin melihat keistimewaan lagu-lagu anak dahulu. Apalagi setelah punya anak, semakin tinggi apresiasi saya kepada para penggubah lagu anak di masa lalu. Lagu-lagu anak yang dinamis, ceria dan sederhana. Mungkin terkesan jadul, namun saya lebih rindu lagu anak-anak di masa lalu. Karenanya, tulisan akan coba menyanggah kritikan terhadap lagu-lagu anak yang menyesatkan.

1. “Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!” Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna hijau ? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5!
Tanggapan : Lirik lagu balonku yang benar adalah “Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. HIJAU, kuning, kelabu, merah muda dan biru…”. Jadi adalah logis jika balon hijau yang disebut pertama diceritakan meletus. Yang menyesatkan adalah yang mengubah liriknya sehingga mengesankan lagu tersebut menyesatkan.

2. “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang… kalo berjalan prok..prok.. prok… aku seorang kapiten!” Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi) . Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)… kalo berjalan prok..prok.. prok..” nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal. .gandul.. atau srek.. srek.. srek..” itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!
Tanggapan : Perhatikan lirik lagunya dengan cermat, “Aku seorang kapiten, mempunyai pedang panjang. Kalau berjalan prok-prok-prok, aku seorang kapiten”. Menyesatkan dari sisi mana, secara tata bahasa sudah tepat. “Aku seorang kapiten” adalah subjek dan inti kalimat, dapat diletakkan di awal atau akhir kalimat. Kalimat lain hanya pelengkap/ pengembangan. Masak kritikus lagu anak ga tau ejaan yang disempurnakan.

3. “Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..” Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan tel4njan9!
Tanggapan : Tau majas pars prototo, menyebutkan sebagian untuk menggambarkan keseluruhan? Itulah yang ada pada lagu “Bangun Tidur”. Mandi menggambarkan keseluruhan aktivitas di dalamnya, begitu pula dengan menggosok gigi. Masak harus didetailkan ambil sikat gigi, buka tutup odol, oleskan odol secukupnya, dan seterusnya. Halo, kita lagi bahas lagu bukan novel! Fokus pada nilai moral bukannya redaksional.

4. “Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X” Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke kanan aja, gak maju2!
Tanggapan : Lagu-lagu anak bercirikan dinamis penuh keceriaan, mengenalkan dunia secara sederhana. Tengok kiri kanan bukan hanya akan menjadi gerak dinamis yang menarik dalam permainan anak, namun juga mengandung unsur eksplorasi kreativitas anak. Jadi tengok kiri kanan adalah bagian dari pembelajaran anak, bukan tanpa maksud. Picik sekali mengintepretasikannya sebagai bingung dan ga tau mau ngapain.

5. “Naik kereta api tut..tut..tut. . siapa hendak turut ke Bandung .. Surabaya .. bolehlah naik dengan naik percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama” Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta- Bandung dan Jakarta-Surabaya!
Tanggapan : Ini lagi, lagu permainan anak yang penuh gerak dinamis dan keceriaan malah dimasukkan unsur komersil. Kalimat “bolehlah naik dengan percuma” tidak salah. Pertama, hal tersebut sesuai dengan rima (tut tut tut dengan turut, surabaya – percuma). Kedua, zaman saya kecil dulu realitanya anak kecil memang tidak bayar karcis, apalagi lagu tersebut dinyanyikan dalam permainan. Emangnya lebih baik anak kecil diajarin matre?

6. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li..” Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak2 akan realita yg sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit..! kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!
Tanggapan : Kritikus lagu anak ini pastinya tidak tau teori onomatope (tiruan bunyi). Jadi tidak masalah bunyi sepatu disebut prok prok prok, bunyi hujan dikiaskan sebagai tik tik tik ataupun bunyi burung kutilang dianggap trilili lili. Awalnya kata “dangdut” juga berasal dari onomatope lho. Onomatope di negara lain banyak yang lebih aneh.

7. “Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum susu..”
Ini jelas lagu dewasa dan untuk konsumsi anak2! karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!
Tanggapan : Kritiknya semakin mengada-ada. Pertama, sudah jelas kata “kupu-kupu” dan “minum susu” adalah rima dalam pantun singkat. Kedua, anak kecil yang ga boleh makan nasi cuma ampe usia 6 bulan, MPASI aja udah dicampur nasi. Siapa bilang anak kecil ga boleh makan nasi? Menyesatkan. Ketiga, lirik lagu yang cerdas, penelitian kontemporer menunjukkan bahwa waktu untuk minum susu terbaik adalah malam hari! Sekarang siapa yang sesat? Yuk pok ame-ame (tepuk ramai-ramai ^_^)

8. “nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk”
Anak2 indonesia diajak tidur dgn lagu yg “mengancam”
Tanggapan : Anak kecil itu kritis, perlu dijelaskan alasan untuk mengerjakan sesuatu. Digigit nyamuk adalah jawaban paling sederhana dan logis untuk meminta anak kecil tidur. Masak harus kita jelaskan mengenai kerja otak, saraf dan organ-organ tubuh kita. Sementara jawaban atas pertanyaan mengapa kita tidur pun masih misteri.

9. “Bintang kecil dilangit yg biru…”
Bintang khan adanya malem, lah kalo malem bukannya langit item?
Tanggapan : Ada dua fakta yang dilanggar oleh kritikus kita. Pertama, bintang tidak hanya terlihat di malam hari. Kedua, langit identik dengan warna biru. Frasa “langit yang biru” juga menegaskan bahwa langit gelap di malam hari sama dengan langit terang di siang hari, bahkan menegaskan bahwa bintang hanya akan tampak di langit yang cerah. Kita sendiri tentu akan kesulitan jika harus menjelaskan bahwa langit itu sebenarnya tidak ada, warna biru muncul karena batas pandangan manusia.

10. “Ibu kita Kartini…harum namanya.”
Namanya Kartini atau Harum?
Tanggapan : Komennya mirip dengan jawaban nomor 2, perhatikan lirik lagu dengan cermat. “Ibu kita Kartini” adalah subyek dan inti kalimat, kalimat lain hanya tambahan/ pelengkap. Perlu juga dicermati bahwa kata “harum” tidak diawali dengan huruf kapital sehingga tidak dimaksudkan untuk menyebut nama manusia. Penggunaan frasa “harum namanya” bahkan mengajarkan lebih awal anak kecil tentang majas sinestesia. Daripada mencemooh lebih baik kita TERSENYUM MANIS ^_^

11. “Pada hari minggu ku turut ayah ke kota. naik delman istimewa kududuk di muka.”
Nah,gak sopan khan..
Tanggapan : Kritikan yang sangat tidak cerdas. Dalam KBBI juga sudah jelas bahwa salah satu definisi muka adalah “sisi bagian (sebelah depan)”. Kalau kata “depan” yang digunakan, malah tidak terbentuk rima (kota – muka – bekerja – jalannya). Seharusnya tidak perlu dipermasalahkan, kecuali kalo liriknya “duduk di roda” ^_^

12. “Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung dikebun kita…”
kalo mau nanam jagung, ngapain nyangkul dalam-dalam…
Tanggapan : Seperti halnya jawaban nomor 4, lagu “Menanam Jagung” penuh keceriaan, gerak yang dinamis dan memuat unsur edukasi. Secara psikologis, kalimat “cangkul yang dalam” sudah tepat karena akan merangsang aktivitas psikomotorik yang anak lakukan. Secara logika pun masuk akal, seberapa kuat sih daya cangkul anak kecil? Jangan disamakan dengan petani yang biasa mencangkul. Kedalaman cangkulannya beda. Lagipula mereka mencangkul di kebunnya sendiri kok situ yang repot ^_^

Masih terkait dengan kritikan terhadap lagu anak di atas, saya sejujurnya justru merasa prihatin dengan anak-anak di masa sekarang. Mereka justru hapal lagu tentang patah hati dibanding lagu yang penuh keceriaan masa kecil. Mereka justru belajar meniru gerakan-gerakan aneh mulai dari goyang ngebor, goyang gergaji hingga gangnam style daripada bergerak dinamis sambil bernyanyi gembira bersama teman-teman mereka. Mereka terlalu cepat dewasa dan kehilangan masa kecil yang menyenangkan. Dalam pandangan saya, kritik dan kewaspadaan seharusnya justru ditujukan untuk lagu-lagu sekarang yang kurang mendidik. Bagaimana dengan Anda?

  1. Setuju 100% dgn tanggapan ini

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>