Menzhalimi Diri Sendiri

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (QS. Fathir : 32)

Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa makna ayat di atas adalah, “Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu. Dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para shahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Allah SWT telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia. Mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.” Sementara itu, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa ayat tersebut sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi “Al-’Ulama waratsatil anbiya” (ulama adalah pewaris para nabi). “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dari ayat tersebut, ada tiga tipe umat terkait sikap mereka terhadap Alquran. Pertama, zhalimun linafsih (orang yang menganiaya diri sendiri), yaitu mereka yang meninggalkan sebagian amalan wajib dan melakukan sebagian yang diharamkan. Misalnya, menjalankan shalat tetapi korupsi, membayar zakat tetapi menyakiti tetangga, menjalankan shaum Ramadhan tetapi suka riya, pergi salat Jum’at tetapi menggunjing orang, membelanjai istri tetapi juga menyakitinya, berhaji tetapi menzalimi karyawan, dan sebagainya. Sederhananya, kelompok ini masih memadukan dalam dirinya kebaikan dan keburukan, yang wajib kadang ditinggalkan, yang haram kadang diterjang.

Kedua, muqtashid (orang pertengahan), yaitu mereka yang menunaikan seluruh amalan wajib, baik kewajiban pribadi (misalnya salat, zakat, puasa, dan haji) maupun kewajiban menyangkut hak orang lain (seperti berbakti pada orang tua, menafkahi istri, berbuat adil, dan sebagainya) dan meninggalkan segala yang haram (seperti mencela, mengumpat, memeras, dan sebagainya), namun terkadang masih meninggalkan yang sunnah dan mengerjakan yang makruh. Ketiga, sabiq bil khairat (orang yang bergegas dalam kebaikan), yaitu mereka yang menunaikan seluruh yang wajib dan sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh, juga sebagian yang mubah. Kedua kelompok terakhir ini bukan berarti tidak pernah berbuat dosa, namun jika ia berbuat dosa Allah mengampuni dosanya lantaran taubat atau hal lain yang menghapuskannya.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Abu Darda r.a. mendengar dari Rasulullah SAW bahwa kelompok sabiqun bil khairat adalah mereka yang akan masuk surga tanpa hisab. Kelompok muqtashid adalah mereka yang akan dihisab dengan hisab yang ringan (hisaban yasiira). Kelompok zhalimun linafsih adalah mereka yang mendapat rintangan sepanjang mahsyar, kemudian Allah menghapus kesalahannya karena rahmat-Nya, hingga mereka berkata, “Dan mereka Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rab kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (jannah) dari karunia-Nya; didalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.” (QS. Fathir: 34-35).

Bahkan Nabi pun menzhalimi diri sendiri

Untuk bergabung dalam golongan muqtashid apalagi sabiqun bil khairat tentu tidak mudah, butuh konsistensi yang luar biasa dalam menjalani ketaqwaan, senantiasa menjaga untuk melakukan segala apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Manusia pada umumnya tidak jarang lalai dan khilaf sehingga melakukan berbagai dosa dan kesalahan, tidak terkecuali para ulama pewaris agama Islam. Berbagai kisah dalam Al Qur’an mengingatkan kita untuk tidak berkecil hati jika kadang masih menzhalimi diri sendiri, karena manusia memang tempatnya salah dan lupa. Yang terpenting adalah mengiringi kekeliruan dengan taubat sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Setiap anak adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat” (HR. at-Tirmidzi). Menjadi pribadi taqwa memang utama, namun yang lebih mendasar adalah upaya kita untuk meraih predikat itu sebatas kemampuan optimal kita, sesuai dengan kapasitas diri kita, sebagaimana Allah SWT berfirman, “Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu” (QS. At Taghabun : 16).

Golongan muqtashid apalagi sabiqun bil khairat tentu lebih mulia, namun golongan zhalimun linafsih juga tidak tertutup jalannya menuju surga. Nenek moyang manusia, Nabi Adam a.s. telah memberi pelajaran berharga bagaimana menyikapi kekhilafan yang berujung pada dosa dan kemaksiatan. Nabi Adam a.s. dikisahkan diajarkan seluruh nama-nama dan dapat menunjukkan keutamaannya dalam ujian ilmu pengetahuan, namun beliau tidak selamat dari ujian iradah (mengekang hawa nafsu). Di antara sekian banyak makanan di surga, ada satu pohon yang dilarang didekatinya dan dimakan buahnya. Bujuk rayu dan tipu daya syaithan berhasil membuat Nabi Adam a.s. dan istrinya melupakan larangan Allah SWT dan terjerumus ke dalam kemaksiatan. Nabi Adam a.s. segera sadar dari kekhilafannya seraya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 23). Allah SWT pun menerima taubatnya, “Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 121-122).

Al Qur’an juga menceritakan kekhilafan Nabi Musa a.s., salah seorang Rasul yang memperoleh predikat Ulul ‘Azmi. Nabi Musa a.s. pernah menuruti permintaan seseorang dari kaumnya yang sedang bertengkar dengan kaum Fir’aun untuk membantunya, kemudian Musa memukulnya dan orang itupun tewas seketika. Beliau pun segera sadar bahwa telah melakukan suatu dosa karena menuruti hawa nafsunya. “Musa berkata: Ini adalah perbuatan syaithan. sesungguhnya syaithan adalah musuh yang menyesatkan, lagi nyata (permusuhannya). Musa berdo’a: Ya Tuhanku, sesungguhya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Qashash: 15-16)

Salah satu kisah lain yang masyhur adalah taubat Nabi Yunus a.s. yang kurang sabar dalam berdakwah sehingga marah dan meninggalkan kaumnya. Allah SWT kemudian menguji beliau dalam sebuah pelayaran dimana kapal yang dinaikinya diterjang badai besar sehingga hampir tenggelam kecuali mereka mengurangi muatan kapal. Barang-barang yang dibuang ke laut ternyata tidak cukup, mereka harus memilih penumpang untuk diceburkan agar penumpang lain selamat. Undian pun dilakukan dan takdir jatuh kepada Nabi Yunus a.s., beliau dilemparkan ke laut dan ditelan oleh seekor ikan paus. Di dalam perut ikan paus inilah Nabi Yunus a.s. tersadar dari kekhilafan dan kemudian bertaubat hingga akhirnya beliau diselamatkan Allah SWT. “Dan (ingatlah) kisah Dzun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya atau menyulitkannya, maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Bahwa tidak ada tuhan (yang berhak di sembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya: 87-88)

Lalu, Dimana Kita?

Sekali lagi, kekhilafan yang membuat seorang manusia –bahkan Nabi sekalipun—menzhalimi diri sendiri bukanlah aib, tinggal bagaimana menyikapinya. Kesadaran akan kelemahan dan kekurangan diri ini bahkan merupakan kemuliaan jika melahirkan sikap yang benar, sebagaimana berbagai teladan yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul serta orang-orang shaleh terdahulu yang begitu khawatir atas kelalaian dan dosanya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa suatu ketika Aisyah r.a. ditanya oleh Uqbah bin Shuhban al-Hinai tentang Al Qur’an surat Fathir ayat 32 di atas. Beliau menjawab, “Wahai anakku, mereka berada di jannah. Adapun sabiq bil khairat adalah mereka yang telah berlalu pada masa Rasulullah SAW, beliau menjanjikan untuk mereka jannah. Adapun muqtashid adalah mereka yang mengikuti jejaknya dari kalangan sahabatnya sehingga bertemu dengan mereka. Adapun zhalim linafsih adalah seperti aku dan kalian…”.

Menanggapi jawaban Aisyah r.a. yang mengelompokkan dirinya dalam golongan zhalim linafsih, Uqbah bin Shubhan menganggapnya sebagai bentuk ketawadhu’an karena menurutnya Aisyah r.a. justru termasuk pemuka sabiq bil khairat. Yang perlu menjadi perhatian kita bukanlah di golongan mana sebenarnya Aisyah r.a. tetapi di golongan manakah kita. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa menulis, “Zhalimun linafsih termasuk dalam kelompok orang-orang yang beriman, mereka mendapatkan walayah (kecintaan) dari Allah sebatas iman dan takwanya, sekaligus mendapatkan adawah (permusuhan) sebatas kefajirannya. Yang demikian itu karena pada seseorang bisa jadi terkumpul kebaikan-kebaikan yang menjanjikan pahala dan kejelekan-kejelekan yang menjanjikan siksa, sehingga seseorang mungkin saja diberi pahala dan disiksa. Ini adalah pendapat seluruh sahabat, para imam dan Ahlus Sunnah wal-Jamaah yang menyatakan bahwa siapa pun yang dihatinya ada iman seberat zarrah, tidak akan kekal di neraka.”

Istiqomah dalam kebaikan memang tidak mudah, apalagi senantiasa melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya seraya menunaikan yang sunnah dan meninggalkan yang makruh seperti golongan sabiq bil khairat jelas bukan perkara gampang. Jangankan menambah kebaikan dengan amalan sunnah, menjaga diri untuk tetap melaksanakan yang wajib dan menjauhi yang haram seperti golongan muqtashid saja tidak banyak yang dapat melakukannya. Tanpa bermaksud berputus asa dari Rahmat Allah SWT yang teramat luas, golongan yang paling realistis untuk kita capai adalah zhalimu linafsih. Pun posisinya terancam karena harus melalui hisab yang berat, jika kita berada di luar dari ketiga golongan ini kondisinya jelas lebih mengkhawatirkan.

Kesadaran untuk mengakui banyaknya dosa yang masih dilakukan tentu akan membawa kepada kehati-hatian, tidak lagi mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan. Kesadaran bahwa hisab Allah SWT sangatlah teliti dan berat tentu akan memunculkan ketakutan yang positif (khouf) untuk berupaya mengisi jenak waktu tersisa dengan kebaikan. Namun khouf ini harus diiringi dengan pasangannya agar seimbang, yaitu roja’ (berharap). Ketika diri mendapati bahwa secara realistis sangat sulit bergabung dalam golongan sabiq bil khairat ataupun muqtashid, masih ada secercah harapan bahwa Allah SWT akan mencurahkan Rahmat dan Ampunan-Nya kepada golongan zhalimu linafsih, sebagaimana Firman-Nya, “Dan barangsiapa berdosa atau menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun.” (QS. An Nisa’: 110). Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Kalau kalian tidak berbuat dosa niscaya Allah SWT akan mengganti kalian dengan kaum yang lain pembuat dosa, tetapi mereka beristighfar dan Allah SWT mengampuni mereka” (HR. Muslim). Banyak sekali dalil yang menyebutkan tentang kemurahan ampunan dari Allah SWT yang jika tidak diiringi dengan khouf akan membuat manusia jadi santai dan lalai. Tidak sedikit pula dalil yang menggambarkan betapa dahsyat Siksa-Nya, yang jika tidak diiringi dengan roja’ hanya akan membuat jiwa tertekan. Keseimbangan antara khouf dan roja’ akan mendorong pikiran dan sikap yang optimis, tidak meremehkan dosa dan yakin akan luasnya karunia Allah SWT, terus berbuat kebaikan dan mengharap ganjaran terbaik dari sisi-Nya. Semoga saja Allah SWT mengampuni dosa dan kesalahan kita yang kerap masih menganiaya diri sendiri, senantiasa memberi petunjuk dan pertolongan atas segala urusan kita, dan memasukkan kita dengan Rahmat-Nya ke dalam surga bersama orang-orang shalih. Aamiin…

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”
(QS. Ali Imran: 133 – 136)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>