Muhammad Al Fatih: Sang Pembebas

Sultan Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih adalah sultan ketujuh kekhalifahan Turki Utsmani. Gelar al-Fâtih (Sang Pembebas/ Penakluk) diperolehnya karena kerberhasilannya membebaskan Konstantinopel, ibukota Romawi Timur. Ia pula yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Sejak saat itu, Islambol menjadi pusat kekhalifahan Turki Ustmani hingga 407 tahun berikutnya. Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.

Sejak kecil, Muhammad dilatih hidup sederhana dan dididik oleh orang-orang terbaik di zamannya. Beliau hapal Al Qur’an di usia dini dan gemar mempelajari biografi tokoh Eropa. Dalam Perkembangannya, Muhammad tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan ahli dalam bidang militer, tata negara, sains, dan matematika. Bahkan, saat usianya masih 21 tahun, ia telah berhasil menguasai 6 bahasa, yaitu Arab, Latin, Yunani, Serbia, Turki, Persia, dan Hebrew. Di atas semua itu, ia merupakan pribadi yang saleh dan ahli ibadah. Ia tidak pernah meninggalkan salat wajib, tahajjud dan rawatib sejak balig hingga wafat.

Muhammad memerintah selama dua periode. Periode pertama adalah 1444-1445 M saat berusia 12 tahun. Muhammad diberi mandat menggantikan ayahnya, Murad II yang memilih beruzlah dan menjauh dari hiruk pikuk politik di tengah berbagai masalah, internal dan eksternal. Sebagai khalifah yang masih sangat belia, Muhammad berinisiatif mengirim utusan kepada ayahanya dengan membawa pesan yang isinya mengajak sang ayah tidak berdiam diri menghadapi masalah Negara. Akhirnya, Murad II kembali memerintah hingga meninggal dunia tahun 1451 dan digantikan oleh Muhammad.

Pada periode ini kedua kepemimpinannya (1451-1481 M), Sultan memulai upaya pembebasan Konstantinopel. Ia melakukan langkah-langkah matang untuk menyukseskan misi suci itu. Sejak menaiki singgasananya, Sultan harus rela ‘begadang’ setiap malam guna mempelajari peta dan keadaan kota Konstantinopel guna mencari strategi jitu untuk penyerangan. Sultan mempelajari lokasi-lokasi mana yang cocok untuk pertahanan dan mencoba menemukan titik-titik kelemahan musuh. Selain itu, sultan juga mengevaluasi kegagalan pasukan Islam sebelumnya.

Pada hari Jum’at, 6 April 1453 M, Sultan bersama gurunya Syekh Aaq Syamsuddin, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Byzantium dari berbagai penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 150.000 pasukan dan meriam buatan Urban, teknologi baru saat itu, Sultan mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Konstantin Paleologus menjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.

Kota dengan benteng setinggi 10 meter tersebut memang sulit ditembus. Apalagi di sisi luar benteng dilindungi oleh parit selebar 7 meter. Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis. Dari arah selatan laut Marmara, pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Beberapa pekan berlalu, benteng Byzantium tidak juga bisa ditembus. Usaha penyerangan lain dengan menggali terowongan di bawah benteng memang cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dilakukan hanya dalam semalam. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang, hanya dalam semalam dan 70-an kapal bisa memasuki selat Golden Horn.

29 Mei, setelah sehari istirahat perang, diiringi hujan Sultan kembali menyerang total dengan tiga lapis pasukan: Irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan elit Turki Utsmani, Yanisari. Melihat semangat juang umat Islam, Giustiniani menyarankan Konstantin untuk mundur atau menyerah. Tapi Konstantin tetap bergeming hingga gugur di medan perang. Dikabarkan, Konstantin melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tidak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.

Saat Konstantinopel telah berhasil dibebaskan, Sultan Muhammad yang masih berusia 21 tahun itu turun dari kudanya dan bersujud syukur kepada Allah. Sultan lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memberikan perlindungan kepada semua penduduk, termasuk Yahudi dan Kristen. Kemudian Sultan mengubah Hagia Sophia menjadi masjid yang dikenal dengan Aya Sofia dan membiarkan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.

Setelah itu, Sultan membebaskan Serbia (1460 M) dan Bosnia (1462 M). Selanjutnya Sultan membebaskan Italia, Hungaria, dan Jerman. Pada puncak kegemilangannya, Sultan Muhammad memerintah di 25 Negeri. Kemudian Sultan membuat persiapan untuk membebaskan Rhodesia. Tapi sebelum  rencana itu terlaksana Sultan meninggal dunia karena diracun oleh seorang Yahudi bernama Maesto Jakopa. Sultan Muhammad wafat pada 3 Mei 1481 ketika berusia 49 tahun.

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>