Mengentas Buta Aksara di Bumi Reog

Antara tahun 1904 – 1905, Jepang terlibat perang melawan Rusia. Dalam sebuah pertempuran di Selat Tsushima 27 – 28 Mei 1905, Jepang berhasil mengalahkan Rusia. Penyebab kekalahan Rusia adalah hanya 20% dari tentara Rusia yang berperang dalam pertempuran itu yang bisa membaca dan menulis. Akibatnya, banyak di antara tentara itu yang tidak bisa mengoperasikan secara benar persenjataan modern (saat itu), serta seringkali serangan Rusia salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi. Sementara itu hampir semua tentara Jepang bisa membaca dan menulis.

* * *

Tiga pasang mata tua itu nampak serius memandangi lembaran-lembaran kertas di hadapannya. Sebulan yang lalu, tulisan pada lembaran-lembaran tersebut sama sekali tidak memiliki makna bagi mereka. Hanya coretan-coretan tanpa arti yang dapat dipahami. Namun kini, pun masih terbata, dari lisan mereka dapat terucap potongan-potongan kata yang tertulis dalam buku yang mereka pegang. Secara perlahan, mereka mulai melek aksara, huruf demi huruf, suku kata hingga terangkai menjadi kata. Usia yang mulai merangkak senja tidak menyurutkan minat mereka untuk terus menimba ilmu. Kelelahan seharian bekerja sebagai buruh tani tidak menjadi alasan bagi mereka untuk berhenti belajar.

Jawa Timur merupakan provinsi dengan indeks pendidikan yang tergolong rendah di Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa lebih dari 35 ribu anak usia 16-18 tahun (jenjang SMA/ SMK) di Jawa Timur putus sekolah, tertinggi di antara provinsi lain di Indonesia. Di Jawa Timur juga terdapat lebih dari 1,5 juta penduduk yang masih buta huruf, terbanyak di Indonesia. Dari 33 kabupaten/ kota di Indonesia dengan jumlah buta aksara terpadat, Jawa Timur memberikan sumbangan terbesar dengan menempatkan 13 kabupaten yang masuk zona merah. Persentase kasus buta aksara tertinggi di Jawa Timur ada di Kabupaten Sumenep yang mencapai 24,66%, sementara jumlah penduduk buta aksara tertinggi ada di Kabupaten Jember dengan 181.384 jiwa.

Kabupaten Ponorogo, bersama Tuban, Ngawi dan Lamongan masuk ke zona kuning, dimana jumlah penduduk buta huruf sudah di bawah 50 ribu jiwa. Kemiskinan dan kesempatan bersekolah menjadi faktor penyebab utama tingginya angka buta huruf ini. Ibu Watemi, salah seorang peserta pembelajaran tematik untuk pengentasan buta huruf yang diselenggarakan oleh Makmal Pendidikan – Dompet Dhuafa menceritakan bahwa dirinya tidak dapat membaca dan menulis karena memang tidak pernah sekolah. Dari kecil sudah bekerja. Hal tersebut juga diamini Ibu Nganti, warga Desa Sambilawang, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo yang tidak dapat membaca karena putus sekolah sejak kelas 1 SD. Kala itu ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dan pindah ke luar Ponorogo sehingga ia putus sekolah dan memilih untuk membantu orang tua bekerja.

Selain dikenal sebagai Kota Reog, Ponorogo juga dikenal sebagai pemasok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Salah satu efek negatif dari pengiriman TKI ke luar negeri adalah pada tingginya angka perceraian di Ponorogo. Pengadilan Agama mencatat bahwa setiap bulannya ada ratusan pengajuan perceraian, puncaknya adalah ketika lebaran. TKI yang status ekonominya meningkat, datang bukan hanya membawa uang namun juga mengurus perceraian. Ada juga yang mampir pulang untuk menyelenggarakan pernikahan. Dampak negatif pun dirasakan oleh anak-anak di Ponorogo yang harus tinggal bersama kakek neneknya karena orang tua mereka di luar negeri atau bercerai. Pendidikan di Ponorogo pun cenderung stagnan. Anak-anak yang dididik oleh ‘orang tua’ yang buta aksara, bersekolah dengan impian menjadi TKI. Pulang kampung untuk menikah, pulang kampung untuk bercerai dan meninggalkan anak yang memiliki impian sama dengan mereka.

Program Klaster Mandiri yang digagas Dompet Dhuafa di beberapa wilayah kantong kemiskinan yang potensial di Indonesia dirancang untuk memutus rantai kemiskinan ini dengan integrasi intervensi pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Di Ponorogo, permasalahan ekonomi masyarakat yang merambat ke pendidikan keluarga dapat coba dituntaskan dengan menghasilkan produk ekonomi unggulan masyarakat, baik pertanian maupun peternakan. Sejalan dengan upaya tersebut, pemberantasan buta huruf dan parenting masyarakat menjadi penting untuk terus dilakukan guna memperbaiki kualitas pendidikan, pemikiran, dan kehidupan masyarakat.

* * *

Tiga pasang mata tua itu nampak cerah di tengah keremangan malam. Pembelajaran malam ini dicukupkan, buku-buku mereka tutup dengan seulas senyuman. Mereka mungkin termasuk segelintir penduduk buta aksara di Indonesia yang mau dan berkesempatan untuk kembali belajar mengenal huruf. Sebagian besar lainnya tidak mau karena merasa malu, atau tidak berkesempatan karena minimnya akses untuk dapat belajar. Semangat mereka untuk belajar itu begitu terpancar, tak lekang oleh usia, tak goyah walau mereka harus melewati jalanan gelap penuh bebatuan untuk hadir di ruang belajar. Ada secercah harapan untuk masa depan yang lebih baik, tidak lagi terlilit oleh belenggu kebodohan dan kemiskinan. Semoga.

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>