Review Buku “Keajaiban Silat”

Ada empat tujuan belajar silat, yaitu untuk beribadah atau mengenal Tuhan melalui diri sendiri, menjalin silaturahim, menjaga kesehatan, dan melestarikan budaya.
(Alm. Lazuardi Malin Marajo – Guru Besar Perguruan Silek Kumango)

Dalam KBBI, silat didefinisikan sebagai olahraga (permainan) yang didasarkan pada ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan menggunakan senjata maupun tidak. Adapun definisi pencak silat menurut Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) dan Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela, mempertahankan eksistensi (kemandiriannya) dan integritasnya (manunggal) terhadap lingkungan hidup/ alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selama ini, masyarakat umum menilai silat sebagai olahraga beladiri, bahkan tidak jarang diidentikkan dengan perkelahian atau kekerasan. Padahal bagi para pesilat, silat adalah filosofi pola perilaku jasmani, rohani, serta sikap mental dan pola pikir manusia. Syaikh Abdul Rahman Al Khalidi Kumango, pencetus aliran Silat Kumango dari Minangkabau mengatakan bahwa silat lahir hanya 25%, dan yang 75% lagi adalah olah batin, olah rasa, atau pemahaman mengenai kaidah-kaidah kehidupan yang universal. Buku “Keajaiban Silat” karangan Edwin Hidayat Abdullah coba untuk menguatkan sisi filosofi silat yang selama ini kurang dikenal. Hasilnya adalah sebuah buku kaidah silat dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak mengajarkan menendang, memukul, menangkis, apalagi membanting lawan. Silat diposisikan sebagai hidden national treasure yang kaidahnya bersifat universal dan semua orang bisa mengambil manfaatnya.

Kekuatan dari buku ini terletak pada perspektif yang tidak mainstream tentang silat dan dibuat berdasarkan pengalaman nyata. Ketika silat dipandang sebagai pendidikan kearifan yang penuh dengan kaidah yang relevan dengan kehidupan keseharian, inspirasi nyata dari berbagai sumber menguatkan sudut pandang tersebut. Ketika berbicara mengenai filosofi silat dengan kehidupan, kepemimpinan, bisnis, hingga manajemen konflik, pembaca tidak akan merasa digurui karena pengalaman dan pelajaran dalam perjalanan kehidupan sifatnya reflektif, tidak menggurui. Dan buku ini tentunya mampu menambah khazanah dan referensi mengenai (filosofi) silat yang saat ini jumlahnya masih sangat terbatas.

Ada 17 kaidah silat yang diungkapkan dalam buku ini yang ternyata sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya kaidah pertama tentang arah yang merefleksikan pilihan hidup manusia. Selain kaidah yang nampak teoritis, buku ini juga mengungkapkan berbagai kisah yang inspiratif. Misalnya saja ambisi seseorang yang dianalogikan oleh Alm. Lazuardi Malin Marajo dengan filosofi makan. Ketika masih kekurangan dan tidak punya apa-apa, orang akan bertanya, “Bagaimana saya makan hari ini?”. Ketika sudah mampu mencukupi kebutuhan dasarnya, pertanyaannya akan berubah menjadi, “Makan apa saya hari ini?”. Ketika pemenuhan kebutuhan dasarnya sudah lebih dari cukup dan status sosialnya meningkat, pertanyaannya akan berubah menjadi, “Dimana saya makan hari ini?”. Dan ketika semua kebutuhan hidupnya terpenuhi, pertanyaan yang muncul menjadi, “Siapa yang saya makan hari ini?”, sebuah gambaran mereka yang tidak mampu mengendalikan ambisinya.

Tidak ada gading yang tak retak, buku “Keajaiban Silat” yang kaya filosofi dan cerita ini juga butuh beberapa perbaikan, terutama dilihat dari kekuatan penyampaian. Judul “Keajaiban Silat: Kaidah Ilmu Kehidupan dalam Gerakan Mematikan” terasa terlalu berat dan kurang relevan karena hampir tidak ada penekanan mengenai keajaiban dan kedahsyatan silat. Masyarakat awam yang membaca sepertinya takkan menangkap hal yang luar biasa karena kurangnya dramatisasi penyampaian. Misalnya filosofi “tiga serangan dan satu balasan” yang sebenarnya mengungkapkan empat hal penyebab konflik (love/ relationship, value & faith, knowledge & intellectual pride, dan interest) tidak terasa istimewa. Kesan yang dimunculkan adalah filosofi silat relevan dengan ilmu manajemen modern, bukan sebaliknya. Filosofi silat yang lahir berabad-abad sebelumnya dari ilmu manajemen modern tidak ditonjolkan sehingga tidak ada kesan ajaib dan mencengangkan.

Kekuatan penyampaian ini terasa semakin kurang dengan minimnya referensi yang diungkapkan. Daftar pustaka bahkan tidak ada, padahal beberapa bagian buku menyampaikan pentingnya data. Referensi ini sebenarnya dapat menggambarkan keajaiban silat. Kaidah kelima misalnya, “Semakin kuat kita menekan lawan, maka semakin kuat lawan bertahan dan balas menekan” sebenarnya mirip dengan teori medan gaya (force field theory) yang dikemukan Kurl Lewin tahun 1943. Tentu lebih mencengangkan jika dapat dibuktikan bahwa teori tersebut sudah diungkapkan oleh para pesilat berabad-abad sebelumnya. Filosofi Madi – Sabandi – Kari juga bisa jadi identik dan lebih mudah dijelaskan dengan teori/ model proses perubahan (Model of Change Process, Kurt Lewin & Edgar H Schein) atau mungkin dengan tiga tahap transisi vital (Bogue, 1969).

Di sisi lain, kurangnya referensi dapat meningkatkan sikap kritis pembaca untuk pengembangan tulisan. Wisdom (kearifan) yang disamakan dengan tacit knowledge misalnya, sebenarnya kurang tepat jika ditinjau dalam terminologi knowledge management. Atau bahkan kaidah pertama empat arah silat yang kurang tepat jika dikaitkan dengan gerak silat dalam dimensi ruang yang seharusnya memiliki 6 arah (kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah). Alur penyampaian juga agak ‘janggal’, lihat saja kaidah 1 sampai 17 yang semakin lama semakin sedikit pembahasannya. Atau bagaimana pembahasan silat dan kepemimpinan di awal sebanyak 32 halaman, namun ketika membahas silat dan manajemen konflik di akhir hanya sebanyak 16 halaman. Belum lagi bagian penutup yang menyisakan tanda tanya, tidak berbeda dengan bagian pengantar.

Terlepas dari kekurangan dari sudut pandang penyampaian tersebut, buku ini sangat layak mendapat apresiasi karena mencoba mengungkap keunggulan silat yang selama ini tertutup oleh ulah oknum yang mencoreng wajah persilatan. Buku ini secara lugas membuka wawasan bahwa silat bukan sekedar perkara pukul memukul, namun ada universal wisdom yang coba diperkenalkan. Ada banyak inspirasi tentang pendidikan kearifan melalui silat dalam buku ini yang sangat berharga dalam menjalani kehidupan. Sekali lagi, silat bukanlah sekedar olah raga, bela diri dan seni semata, tetapi ia memiliki spiritualitas yang kuat yang mendidik seseorang menjadi seorang adi manusia, a noble man.

Seorang pendekar yang memahami dan menjalankan spiritualitas silat dalam kehidupan sehari-hari adalah seorang manusia luar biasa atau dalam ungkapan Betawi: kagak ada matinye. Seorang pendekar dikatakan kagak ada matinye, bukan karena dia jago berkelahi, tapi ketinggian akhlaknya, kecerdasannya berpikir, dan pemuliaannya terhadap sesama yang membuat ia selalu mendapat kehormatan di mana pun dia berada. Seorang pendekar adalah seorang yang mampu memanusiakan manusia.
(DR. Eddie M. Nalapraya dalam buku “Keajaiban Silat”)

  1. Resensinya keren…
    colek Um Edwin di Twitter ah.. :D

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>