Kata, Cerita, dan Kita

Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu, jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Dan bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.” (Abu Hatim)

Sebagai seseorang yang tidak hobi nonton, aktivitas menonton film justru bisa memberikan banyak insight. Setidaknya itu yang kurasakan setelah menonton film “A Thousand Words” yang diperankan Eddie Murphy beberapa waktu lalu. Film keluaran tahun 2012 yang mungkin biasa saja –bahkan konon masuk dalam jajaran film terburuk— dengan skenario yang standar, alur relatif datar, dan tidak ada adegan yang luar biasa ini, justru memberi kesan mendalam bagiku untuk menjaga apa yang perlu kita ucapkan. Bagaimana tidak, dalam film tersebut dikisahkan seseorang yang biasa (terlalu) banyak bicara tiba-tiba harus menahan dirinya untuk berkata-kata karena setiap kata yang terucap, lisan ataupun tulisan, akan mengurangi waktu hidupnya. Seketika aku teringat hiruk pikuk pemilihan presiden tahun 2014 ini. Mungkin bukan hanya aku yang merasa jengah dengan berbagai informasi dan komentar negatif yang memenuhi linimasa media sosial sepanjang penyelenggaraan Pilpres 2014 ini. Jika setiap informasi dan komentar negatif berimbas langsung pada usia hidup, mungkin banyak orang yang akan menahan diri untuk berkomentar.

Kata yang Terbatas
Seseorang yang menyadari waktu hidupnya tak lama lagi umumnya akan mengisi hari-hari tersisanya dengan perbuatan baik yang akan meninggalkan kesan baik. Waktu yang terbatas akan mendorong seseorang untuk mengoptimalkan setiap menit bahkan detik tersisa. Dengan konteks yang sama, tanpa kita sadari, jumlah kata yang mampu kita ucapkan sebenarnya juga terbatas. Dalam satu hari, laki-laki mengeluarkan sekitar 7.000 kata sementara perempuan mencapai 20.000 kata. Tinggal dikalikan dengan bilangan tahun rata-rata usia hidup manusia, jumlah tersebut kurang lebih merupakan jatah kata-kata kita. Secara hitung-hitungan memang banyak, karenanya kita kerap lalai menjaga lisan dari kata-kata yang tidak berguna. Lain ceritanya tentu jika jatah kata tersebut dianalogikan dalam jumlah daun dalam satu pohon seperti dalam film “A Thousand Words”.

Bicara yang Baik atau Diam
Kenyataannya, jumlah kata yang dapat diucapkan memang terbatas sebagaimana terbatasnya usia. Realitanya setiap kata yang kita ucapkan memang ada yang mencatat dan menilainya. “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18). Faktanya, sudah seharusnya kita hanya mengucapkan kata-kata yang baik dan bermanfaat, dan hal ini erat kaitannya dengan keimanan seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ucapkanlah (perkataan) yang baik atau diam!” (HR. Bukhari – Muslim). Berkenaan dengan hadits tersebut, Imam Syafi’I berkata, “Makna hadits ini adalah apabila seseorang ingin berbicara maka hendaklah dipikirkan dahulu. Apabila nampak bahwasanya tidak ada bahaya padanya maka berbicaralah, sebaliknya apabila nampak padanya bahaya atau dia ragu (apakah mengandung bahaya atau tidak) maka tahanlah (diamlah)”. Senada dengan hal tersebut, Ibnu Hajar berkata, “Makna hadits ini adalah bahwasanya seseorang apabila ingin berbicara maka pikirkanlah terlebih dahulu sebelum berbicara. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya pembicaraannya tersebut tidak mengandung kerusakan dan tidak pula mengantarkan kepada yang haram ataupun yang makruh maka berbicaralah. Dan sekalipun perkataan yang mubah maka yang selamat adalah diam (tidak mengucapkannya) agar perkataan yang mubah tersebut tidak mengantarkan kepada yang haram dan makruh”.

Pepatah mengatakan, “Mulutmu adalah harimaumu”. Salah dalam bertutut kata bisa mendatangkan kerugian besar bagi diri kita. Secara teoritis pepatah tersebut mudah diterima, bahkan banyak yang dapat menjadi contoh. Kasus Florence yang menghujat Yogyakarta dan kemudian habis di-bully mungkin menjadi contoh terkini. Secara imajinatif, tokoh Jack McCall dalam film “A Thousand Words” juga sangat menyadari bahwa kata-kata yang tidak bermanfaat hanya akan mempercepat kematiannya tanpa manfaat. Namun dalam tataran praktis ternyata tidak semudah itu. Lisan begitu mudah tergelincir, berdusta, membanggakan diri sendiri, menghina, membicarakan keburukan orang lain, memfitnah, dan melakukan berbagai kelalaian lisan termasuk terlalu banyak berbicara.

Padahal diam itu emas, hanya kalah berharga oleh berbicara yang baik dan bermanfaat. Padahal diam itu kerap kali menjadi cermin kebijaksanaan. Tidak sesumbar dan banyak mengumbar kata-kata yang belum tentu bermanfaat. Belum tentu pula selaras antara kata-kata dengan ketulusan hati dan realisasi tindakan. Bagaimana pun, kata-kata yang terucap erat kaitannya dengan hati dan pikiran. Karenanya, menjaga lisan tidak akan berhasil tanpa upaya untuk menjaga hati dan pikiran. Kebersihan hati dan kejernihan pikiran akan menghasilkan kata-kata yang penuh kebaikan dan cerita yang penuh kebajikan. Apalagi seperti halnya waktu, kata yang sudah terucap tidak akan dapat ditarik kembali, dan akan selalu meninggalkan bekas. Karenanya, sudah sepatutnya kita coba perhatikan setiap kata yang kita ucapkan, cerita yang kita kisahkan, dan berita yang kita sampaikan, agar tidak menjadi duka dan petaka bagi kehidupan kita.

Sesungguhnya seorang hamba, benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang tidak jelas apa manfaat perkataan tersebut, (akan tetapi) dengannya dia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari – Muslim)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>