Definisi Manajemen Pengetahuan – 2 (KM Ed.6)

KM pada prinsipnya merupakan continuous improvement (CI) plus speed. CI merupakan kemampuan institusi/ perusahaan untuk melakukan inovasi atau modifikasi secara berkelanjutan dalam rangka menjadikan perusahaan hari ini lebih baik dari kemarin. Speed menunjukkan adanya kebutuhan untuk melakukan CI diatas dalam waktu yang sesingkat mungkin. KM merupakan salah satu competitive advantage dari perusahaan yang menerapkannya. Melalui CI perusahaan akan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi operasional produksi yang bermuara pada peningkatan profitabilitas perusahaan.

Permasalahannya adalah kompetitor yang dengan mudah dapat masuk dan mencuri inovasi yang kita miliki, karenanya dibutuhkan speed agar perusahaan dapat melakukan pengembangan atau inovasi lainnya dengan cepat sehingga perusahaan tetap dapat menjaga jarak dari kompetitor. KM disusun oleh tahapan create, apply dan share yang berkesinambungan, seperti ditunjukkan oleh segitiga diatas. KM adalah teknik membangun suatu lingkungan pembelajaran (learning environment) sehingga orang-orang di dalamnya termotivasi untuk terus belajar, memanfaatkan informasi yang ada, serta pada akhirnya mau berbagi pengetahuan baru yang didapat. Yang termasuk dalam proses manajemen pengetahuan antara lain, pembelajaran (individu, organisasi, kolaborasi), dan berbagi pengetahuan.

Pada dasarnya KM adalah kegiatan yang mengkaitkan antara belajar, perubahan dan inovasi. Secara teknis, KM muncul karena dorongan teknologi yang memungkinkan orang merekam dalam bentuk teks, tulisan, gambar dan sebagainya. Tapi akarnya tidak hanya tehnologi, KM muncul karena orang mau mengaitkan antara inovasi di kelompok manusia, baik yang komersial dan non komersial, dengan pengetahuan. Bagaimana menyimpan apa yang sudah kita ketahui merupakan konsep yang sudah lama ada, sejak manusia mulai bisa mendokumentasikan sesuatu. Tetapi KM saat ini merupakan konsep gabungan dari teknologi, yang ingin merekam segala hal, ditambah keinginan untuk menggabungkan perubahan antara belajar, perubahan dan inovasi. KM dalam arti mengelola pengetahuan sudah ada sejak dulu. Tetapi sebagai proses yang mengkaitkan ketiga hal tersebut mulai muncul sejak tahun 1970-an setelah infrastruktur jaringan cukup baik untuk digunakan tukar menukar data.

Ilmu tentang KM dikembangkan antara lain oleh Karl-Erik Svelby, mantan akuntan dan manajer berkebangsaan Swedia yang sekarang menjadi profesor di Swedish Business School Henken di Helsinki. Salah satu ajarannya yang biasa diistilahkan dengan Unlearning Experience adalah selalu bersikap terbuka, siap terhadap informasi baru. Sedangkan pengajaran teknik KM itu sendiri dikemasnya dalam suatu program pelatihan yang dinamakan Tango[1]. Paradigma Unlearning Experience ini menempatkan pengetahuan bukan lagi sebagai obyek atau barang jadi yang bisa diperjualbelikan atau dihibahkan (seperti pada kursus bahasa Inggris atau kursus komputer), melainkan sebagai suatu proses. Sebagai proses, maka yang dikelola (managed) adalah orang (dinamakan People Track KM), bukan informasinya itu sendiri (IT Track KM).

Kalau kemudian kita bagi lagi kedua jenis KM itu dengan tingkatan manajemennya (tingkat perusahaan atau tingkat individual), maka kita akan mendapat matrix knowledge management berikut

Knowledge Management
Tingkat IT Track

(pengetahuan = obyek)

People Track

(pengetahuan = proses)

Organisasi Komputerisasi organisasi Ahli teori organisasi
Individu Spesialis program Psikolog

(sumber : http://www.neumann.f2o.org/sarlito/know_man.html)

Dari matriks di atas terlihat bahwa orang yang berorientasi pada pengetahuan sebagai obyek merujuk pada ilmu tentang IT (Information Technology), sedangkan orang yang berorientasi pada pengetahuan sebagai proses akan lebih berorientasi pada filsafat, sosiologi atau psikologi. Dalam realitanya, orang IT memerlukan komputer, sedangkan orang People track tidak memerlukan komputer. Menurut Finerty (1997), KM memiliki ruang ringkup dua lapisan. Lapisan pertama adalah proses (process) meliputi utilization, storing, acquisition, distribution/ sharing dan creation. Lapisan kedua meliputi structure, technology, measurement, organizational design, leadership dan culture. Kedua lapisan tersebut terintegrasi membentuk ruang lingkup knowledge management.


[1] Keagenan Svelby Knowledge Associate (SKA) di Indonesia di pegang oleh PT Dunamis – Henk Senkey : http://www.skaglobal.com

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>