Mahasiswa Ada Kok, Gak Kemana-mana

Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu. Ku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku. Sampaikanlah pada bapakku, aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia. Rataplah malam yang dingin. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki malam. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki keadilan…” (Ost. Gie)

Beberapa waktu lalu penulis sempat berbincang dengan sekumpulan mahasiswa dari berbagai universitas. Salah seorang mahasiswa ITB menyampaikan keresahannya tentang kepedulian mahasiswa yang terasa kian sulit untuk digugah. Penulis menanggapinya dengan mencoba memahami kondisi mahasiswa saat ini tanpa membandingkan dengan euphoria kondisi mahasiswa di masa lalu. Tantangannya berbeda. Pun penulis juga sampaikan bahwa kepedulian terwujud dalam aksi nyata, bukan sebatas keprihatinan dalam do’a. Karenanya bentuk kepedulian tidak melulu harus berupa aksi massa, walaupun tetap harus ada yang melakukannya. Yang penting harus ada keresahan yang kemudian menjelma menjadi gerak dalam aktivitas nyata. Yang menjadi masalah adalah ketika tidak merasa ada masalah, tidak peka terhadap problematika yang dihadapi bangsa ini.

Penulis jadi teringat sajak yang ditulis salah seorang senior saya di FTUI dan BEM UI beberapa saat lalu yang mempertanyakan kemana gerangan para pemuda. Tulisan serupa juga diungkapkan salah seorang aktivis alumni ITB yang sempat mendapat respon balik dari juniornya mahasiswa ITB. Tulisan-tulisan senada lainnya bisa di-googling, tidak perlu penulis sampaikan dalam tulisan ini. Intinya, memang terdapat perbedaan antara gerakan mahasiswa di masa lalu dengan dinamika mahasiswa saat ini. Ketika keresahan para alumni akan adik-adiknya yang dinilainya terjebak semakin hedonis dan individualis, tidak bertemu dengan pembelaan mahasiswa yang merasa biaya kuliah yang semakin tinggi dengan beban akademis yang semakin berat.

Alhasil, gerakan alumni kembali menggunakan almamaternya yang sejatinya merupakan bentuk kepedulian jadi terkesan aneh. Ekskalasi isu tanpa momentum yang tepat justru kurang mendapat tempat di hati masyarakat. Para alumni jadi terkesan sekedar post power syndrome, bahkan nuansa politis lebih terlihat dibandingkan gerakan moral intelektual, sementara mahasiswa kurang mendapatkan pendewasaan yang baik dalam membangun gerakan. Gerakan alumni ini selain mengangkat isu permasalahan bangsa juga memperlihatkan problematika yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini. Sayangnya, penyadaran yang dibangun belum didesain sempurna untuk menyelesaikan permasalahan.

Apatisme memang menjadi tantangan gerakan mahasiswa saat ini, tidak perlu ditutup-tutupi atau berusaha terus mencari pembenaran. Tidak perlu juga menyalahkan pihak eksternal, termasuk alumni yang sebenarnya juga punya andil. Kembali turunnya alumni sejatinya menunjukkan ada yang salah dengan kaderisasi gerakan mahasiswa. Biaya kuliah memang kian mahal tapi nyatanya parkiran kampus semakin penuh, mahasiswa semakin banyak yang memiliki barang mewah dan gemar menghabiskan waktu ke pusat perbelanjaan ataupun tempat makan kelas menengah ke atas. Beban akademis mungkin semakin tinggi, tetapi nilai dan kelulusan semakin mudah, teknologi informasi juga telah jauh berkembang. Masalahnya cuma di pengelolaan waktu yang lebih efektif dan efisien.

Jadi tidak perlu ditanya kemana mahasiswa, mereka ada, sibuk berkuliah di tengah sistem pendidikan yang mencetak robot. Mahasiswa ada dan tidak kemana-mana, sibuk dengan dirinya dan masa depan semunya. Sebagai kakak, alumni semestinya dapat berperan untuk mengenalkan mahasiswa pada dirinya, lingkungan masyarakatnya, bangsa dan negaranya, serta masa depannya. Bukan lantas mengambil alih peran mahasiswa ataupun mendikte mereka dengan solusi yang berbeda zaman. Permasalahan gerakan mahasiswa kontemporer haruslah diurai oleh mahasiswa itu sendiri, sebagai elemen bangsa yang cakap berpikir dan bertindak. Alumni bisa menjadi katalisator, tetapi bukan penentu sikap. Problematika akan terselesaikan ketika segenap elemen dapat berbuat sesuai peran, fungsi dan tanggung jawabnya.

Dunia pendidikan tinggi kita saat ini memang banyak melahirkan sarjana yang biasa dan luar biasa. Luar biasa dapat lulus cepat dengan indeks prestasi gemilang. Tetapi dunia kampus lupa untuk menghasilkan sarjana yang biasa di luar, mencermati perubahan zaman, berinteraksi dengan masyarakat, dan menjadi bagian dari solusi atas permasalahan bangsa. Tri Dharma perguruan tinggi seolah berhenti di tataran pendidikan dan penelitian, meninggalkan sisi pengabdian masyarakat. Segenap pemangku kepentingan perlu kembali diingatkan bahwa mahasiswa masih menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat Indonesia. Mahasiswa adalah elemen strategis bangsa yang mampu membawa perubahan baik secara vertikal maupun horizontal. Beban berat yang tidak banyak disadari para mahasiswa.

Mahasiswa perlu didukung untuk menjawab tantangan gerakan mahasiswa di zamannya. Pertanyaan ‘dimana mahasiswa’ tampak tidak berbeda dengan pertanyaan ‘kapan menikah’ atau ‘kapan punya anak’. Alih-alih memotivasi, justru bisa mengerdilkan. Tidak solutif. Jangan-jangan mahasiswa saat ini hanya mewarisi ‘pesta, buku, dan cinta’ dari para seniornya, bukan idealisme perjuangan. Sekarang pertanyaannya adalah ‘bagaimana mahasiswa akan mengambil sikap’, mandiri dan independen dalam mengatasi permasalahan mereka serta permasalahan bangsa dan Negara. Di tengah arus apatisme yang kian merebak, penulis optimis masih ada mahasiswa-mahasiswa ‘setengah dewa’ yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dan terus berkontribusi melakukan perbaikan. Di ruang kuliah, di organisasi, di tengah masyarakat, dimanapun mereka berkata. Penulis yakin setiap zaman ada pahlawannya, dan masih ada pahlawan mahasiswa di zaman ini. Mahasiswa peduli bukan utopis. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Katakan hitam adalah hitam, katakan putih adalah putih. ‘Tuk kebenaran dan keadilan, menjunjung totalitas perjuangan. Seluruh rakyat dan mahasiswa, bersatu padu bergerak bersama. Berbekal moral intelektual, selamatkan Indonesia tercinta…

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>