Cinta dalam Wahnan ‘Ala Wahnin

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan wahnan ‘ala wahnin (lemah yang bertambah-tambah), dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Ibu… Ibu…”, demikian erang istriku di malam itu, menjelang kelahiran buah hati kami. Istriku bukan memanggil ibunya untuk turut menemani proses kelahirannya, namun mengingat ibunya. Betapa besar rasa sakit yang harus diderita seorang ibu saat akan melahirkan anaknya, apalagi secara normal. Istriku memang sangat berharap dapat melahirkan secara normal, sebab persalinan sebelumnya harus melalui SC. Namun ternyata rasa sakit yang mendera begitu dahsyatnya hingga nyaris membuat putus asa. Sangat tidak bisa dibandingkan dengan sakit ketika sunat. Rasa sakit yang ini tidak terbayangkan.

Rasa pusing, mual, lemah, kadang bercampur demam ketika awal masa mengandung ternyata tidak ada apa-apanya. Beratnya membawa janin kesana-kemari juga belum seberapa. Bahkan sakit di punggung dan pinggul sehingga sulit tidur saat kehamilan semakin tua juga masih lebih ringan dibandingkan rasa sakit yang menyertai di saat-saat akhir jelang persalinan. Pantas saja tidak sedikit teman yang mengingatkan untuk mendampingi istri saat persalinan. Bukan sekedar karena istri butuh penguatan. Momen ini menyemai  kekaguman dan cinta yang serta merta tumbuh pada perempuan berpredikat IBU.

Luqman, salah seorang ahli hikmah yang namanya tercantum dalam Al Qur’an, mengajarkan hal penting dalam pendidikan anak. Setelah ia mengajarkan untuk memenuhi hak Allah SWT dengan menjauhi syirik dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, ia lantas mengajarkan untuk memenuhi hak kedua orang tua, yaitu dengan berbakti kepada keduanya. Lebih spesifik lagi, Luqman mengingatkan akan hak seorang ibu yang telah bersusah payah mengandung dan membesarkan seorang anak.

Dalam sebuah hadits muttafaqun ‘alaih dikisahkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi SAW menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi SAW menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi SAW menjawab, “Kemudian ayahmu!”. Imam Qurthubi menjelaskan hadits ini bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Rasulullah SAW menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang Yaman itu bersenandung, ”Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.” Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”

Ya, kebaikan dan cinta yang telah diberikan seorang ibu tidaklah akan mampu dibalas. Dan seorang ibu memang tidak menuntut banyak balasan atas semua pengorbanannya. Ikhlash dan tanpa pamrih. Cukup kita yang tahu diri untuk mencoba membahagiakannya dan membuatnya selalu tersenyum. Bersyukurlah orang-orang yang masih memiliki ibu dan mampu menunjukkan baktinya kepadanya. Jarak tidak akan jadi kendala jika seseorang benar-benar cinta. Cinta dalam segala kepayahan yang beliau rasakan mungkin memang takkan pernah terbalaskan, namun masih ada cinta dan perhatian tulus yang dapat tersampaikan. Bahkan jika sosok ibu sudah tiada, masih ada untaian do’a dalam keheningan malam yang sangat beliau rindukan…

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Al-Ahqaf: 15)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>