Monthly Archives: August 2015

Dwi Tunggal Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an untuk Kepemimpinan Bangsa

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kaya akan sumber daya dan kaya akan budaya. Negeri kepulauan nan indah bertajuk zamrud khatulistiwa. Negara besar dengan jumlah penduduk peringkat empat terbanyak di dunia yang tersebar di penjuru nusantara. Mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Pun mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia bukanlah Negara Islam. Sebagaimana beranekanya suku dan budaya, ragam agama juga ada di Indonesia. Ironisnya, statement bahwa Indonesia bukan Negara Islam kerap disalahartikan sebagai dikotomi antara Indonesia dan Islam, seakan identitas keislaman akan kontraproduktif dengan identitas keindonesiaan. Islam dan nasionalisme, akhirnya menjadi dua kata yang dikesankan ibarat minyak dan air, takkan mampu bersatu.

Dalam KBBI, nasionalisme didefinisikan sebagai paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri . Nasionalisme juga didefinisikan sebagai semangat kebangsaan, yaitu kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Rasa cinta terhadap tanah air sejatinya adalah fitrah manusia sebagaimana kecintaan terhadap keluarga. Dan Islam datang sebagai agama yang sesuai dengan fitrah manusia, karenanya mustahil bertentangan dengan nilai cinta tanah air.

Nasionalisme hadir untuk mengikis semangat kesukuan dan memperkuat ikatan masyarakat. Dan Islam telah melakukannya sebelum istilah nasionalisme ada. Di Madinah, beragam suku mulai dari Quraisy, Aus, Khazraj, hingga suku-suku beragama Yahudi dan Nasrani menandatangani Piagam Madinah yang salah satu klausulnya adalah bersatu mempertahankan Madinah dari serangan luar. Itu adalah nasionalisme. Mempererat tali persaudaraan dan mempersatukan dengan tetap menjaga eksistensi dari keragaman suku dan bangsa, itulah Islam.

Nasionalisme menurut Soekarno akan membentuk rasa percaya diri dan merupakan esensi mutlak jika kita mempertahankan diri dalam perjuangan melawan kondisi-kondisi yang menyakitkan. Ya, sebagaimana Islam, nasionalisme sejatinya hadir untuk membebaskan. Revolusi perlawanan rakyat atas hegemoni kaum aristrokat dan anti dominasi gereja di Eropa abad ke-18 adalah nasionalisme yang tidak jauh berbeda dengan bagaimana para pahlawan pejuang kemerdekaan sejak zaman kerajaan dahulu berperang untuk mengusir penjajah. Perlawanan lokal dan sporadis yang gagal mengusir penjajah kemudian bertransformasi menjadi gerakan nasional yang terorganisir. Itulah nasionalisme.

Namun Islam memang berbeda dengan nasionalisme, terutama dalam aspek ruang lingkup dan orientasi. Nasionalisme masih tersekat oleh batas geografis sementara Islam borderless. Kesetiaan tertinggi seorang nasionalis adalah pada bangsa dan Negara, sementara kesetiaan tertinggi seorang muslim adalah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam Islam, kesetiaan terhadap pemimpin ataupun wilayah geografis tertentu haruslah dalam kerangka ketaatan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Itulah semangat nasionalisme untuk mengusir penjajah versi Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin dan banyak pejuang Islam lainnya di nusantara. H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Serikat Islam menyatakan bahwa Islam adalah “faktor pengikat dan simbol nasional”.

Perbedaan antara Islam dan nasionalisme bukan untuk dipertentangkan, melainkan diposisikan dengan tepat untuk membangun kepemimpinan nasional yang kuat. Semangat spiritualitas dan religiusitas Islam yang bersifat universal seharusnya diposisikan sebagai fondasi dengan semangat kebangsaan (nasionalisme) sebagai (salah satu) tiangnya. Tiang nasionalisme tanpa fondasi religiusitas akan mendorong pada primordialisme, chauvinisme, bahkan fasisme. Kecintaan terhadap tanah air yang berlebihan dan tidak didasari spiritualitas yang kuat akan berujung kepongahan, merendahkan bangsa lain, bahkan dalam titik ekstrim justru akan memicu terjadinya imperialisme dan penjajahan yang sebenarnya sangat bertentangan dengan nasionalisme itu sendiri.

Dalam skala yang lebih kecil, ‘nasionalisme buta’ akan mematikan logika dan berpikir kritis. Padahal kemerdekaan sebagai buah dari semangat kebangsaan menghendaki kekuatan untuk berdiri sendiri. Berdikari dalam berpikir dan bertindak. Karenanya, tiang nasionalisme yang berdiri di atas landasan religiusitas ini harus berdekatan dengan tiang kemandirian menuju Indonesia berdaya. Tidak cukup hanya merdeka dan bersatu, tetapi juga harus berdaulat, adil dan makmur. Kepemimpinan bangsa yang kuat tidak dapat dipisahkan dari kemampuan untuk berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Semangat kebangsaan dan kemandirian tanpa fondasi keislaman akan mendorong pada kebebasan tanpa batas, pun harus mengorbankan orang banyak. Lihatlah bagaimana ekspansi negara-negara Eropa di masa penjajahan, yang alih-alih berdaya malah memperdaya. Berdikari adalah berdiri di atas kaki sendiri bukan berdiri di atas kesulitan orang lain. Karenanya, tiang nasionalisme dan kemandirian harus pula disertai dengan tiang kepedulian. Berlandaskan perikemanusiaan. Karena memang tidak cukup hanya dengan melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, tetapi juga harus memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Selain makhluk pribadi, manusia adalah makhluk sosial yang pastinya akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalam skala yang lebih besar, suatu bangsa juga selalu butuh untuk membangun hubungan dengan orang lain. Sadar dan peduli bahwa keberadaannya merupakan satu entitas dari komunitas yang lebih luas. Pun demikian dalam konteks kepemimpinan, selalu erat kaitannya dengan aspek pelayanan dan motivasi kepedulian. Shalat yang berdimensi pribadi harus disertai dengan zakat yang berdimensi sosial. Kemandirian sejati adalah mampu memandirikan orang lain, berdaya adalah mampu memberdayakan orang lain.

Bagaimanapun, iman yang abstrak harus disertai amal shalih yang konkret. Semangat kebangsaan juga bukan semata jargon, apalagi kemandirian dan kepedulian yang jelas-jelas harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Karenanya, fondasi keislaman beserta tiang-tiang kebangsaan, kemandirian dan kepedulian ini harus mewujud menjadi sesuatu yang lebih tampak dan terukur. Hal tersebut adalah kompetensi, baik pengetahuan, keterampilan ataupun sikap. Suatu urusan yang dikerjakan oleh orang yang tidak berkompeten hanya akan berujung kepada kehancuran. Karenanya pemimpin haruslah memiliki kompetensi yang mumpuni. Tidak harus sempurna, tetapi kompetensinya sesuai dengan kebutuhan, level dan lingkup amanah serta kekhasan dari kepemimpinan yang diemban.

Kepemimpinan ideal yang didambakan oleh seorang muslim harus berlandaskan fondasi keislaman, Islam yang pertengahan, tidak terlalu kaku tetapi tidak pula terlalu cair. Islam yang menginspirasi dan mencerahkan, tidak taqlid buta namun tidak pula mendewakan akal. Islam yang seimbang, bijak dalam merespon kondisi kekinian dan menghargai berbagai perbedaan. Islam yang bukan hanya baik dalam aspek keimanan dan ibadah, namun kehadirannya mampu menebar kebermanfaatan yang luas. Islam yang dapat menjadi Rahmat bagi semesta alam.

Untuk menghadapi tantangan kepemimpinan Islam, fondasi ini perlu diperkokoh dengan semangat kebangsaan yang mempersatukan elemen bangsa guna mencapai cita bersama. Kedaulatan dan independensi bangsa juga perlu diperkuat dengan semangat kemandirian untuk menghapus segala ketergantungan. Kontribusi kemanusiaan yang dilandasi semangat kepedulian juga akan memperkokoh bangunan kepemimpinan. Fondasi dan tiang-tiang kepemimpinan ini kemudian harus dilengkapi dengan rangka atap berupa kompetensi yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan menunjang terlaksananya fungsi kepemimpinan secara utuh demi kejayaan negeri tercinta.

Negeri itu bernama Indonesia. Negeri yang kuat dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbagai perbedaan yang ada akan kian memperindah khazanah bangsa. Negeri yang satu, terikat dalam cita wawasan nusantara. Bangsa yang utuh dan tak terpisah-pisahkan. Bangsa besar yang mampu berdiri sendiri. Negeri yang ramah, gemar menolong dan penuh tenggang rasa. Negeri dimana Islam yang juga bermakna damai penuh keselamatan, akan menjadi penguat negeri itu. Bukan hanya secara kuantitas, tetapi melakukan banyak perbaikan kualitas. Selamanya menjadi penguat, pun ketika berbagai ujian menerpa dan duka melanda. Senantiasa menjadi solusi untuk menjawab kompleksitas permasalahan bangsa. Terus menjadi cahaya yang mengantarkan bangsa Indonesia mencapai cita mulia…

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…” (Pembukaan UUD RI 1945)

*tulisan ini dimuat sebagai prolog buku “Islam, Kepemimpinan & Keislaman” karya para pengurus Forum Negarawan Muda

Kegelisahan Pribadi Efektif

You have to decide what your highest priorities are and have the courage—pleasantly, smilingly, nonapologetically, to say “no” to other things. And the way you do that is by having a bigger “yes” burning inside. The enemy of the “best” is often the “good”.” (Stephen R. Covey)

Beberapa hari lalu saya mengikuti Training Pribadi Efektif “Seni Mengelola Diri Sendiri dan Memimpin Orang Lain” yang diselenggarakan oleh tim Human Capital Dompet Dhuafa di Universitas Terbuka. Judul pelatihannya yang terdengar familiar ternyata memang diambil dari buku “The 7 Habits of Highly Effective People”nya Stephen R. Covey. Saya pernah membaca buku tersebut belasan tahun lalu saat masih SMA, cukup aplikatif dan inspiratif. Pelatihan yang diselenggarakan pun berisi intisari dari hal-hal yang tertuang dalam buku best seller tersebut.

Ulasan mengenai training pribadi efektif apalagi resensi terhadap bukunya sudah banyak beredar. Apresiasi, modifikasi, hingga kritik terhadap materi yang tertuang dalam buku tersebut juga tidak sedikit. Ada yang coba mengaitkan gagasan dalam buku tersebut dalam perspektif Islam, bahkan ada yang mengkritisi habis konsep yang dikatakan oleh Stephen Covey terinspirasi dari ajaran Mormon, yang dianggap sesat oleh umat Nasrani. Tulisan ini akan lebih banyak mengulas tentang kegelisahan saya akan adanya paradigma yang keliru dalam memaknai tujuh kebiasaan yang efektif. Pelatihan lima hari yang dipadatkan menjadi dua hari tentu memungkinkan terlewatkannya beberapa materi yang sebenarnya penting untuk membentuk paradigma yang benar.

Berkenaan dengan konsep diri, paradigma dan prinsip, konsep agama (Islam) adalah sesuatu yang seharusnya mendasari. Prinsip ‘tanam – tuai’ misalnya, jika dipahami hanya sebatas hukum kausalitas maka akan kontraproduktif ketika dibenturkan dengan takdir dan kehidupan setelah mati. Fenomena banyaknya orang baik yang hidup sengsara atau orang jahat yang hidup sejahtera menjadi sulit dijelaskan. Contoh lain prinsip ‘dari luar ke dalam’ yang jika dipahami sebagai kebertahapan mutlak akan mendorong seseorang untuk tidak membuat perubahan di luar sebab perbaikan diri sendiri sejatinya tidak akan pernah selesai. Bingkai agama akan membuat semuanya lebih jelas dan terarah.

Kebiasaan efektif pertama adalah proaktif (proactive). Proaktif dicirikan dengan sikap pantang menyerah dan pantang penyerang, bertanggung jawab dan tidak mencari kambing hitam, optimis serta fokus pada lingkaran kendali bukan lingkaran kekhawatiran. Lingkaran kendali adalah hal-hal yang bisa kita ubah sementara lingkaran kekhawatiran adalah hal-hal yang ingin kita ubah. Disinilah kemudian timbul dikotomi antara reaktif yang fokus pada lingkaran kekhawatiran dengan proaktif yang fokus pada lingkaran kendali. Padahal lingkaran kekhawatiran sejatinya adalah mimpi dan kepedulian, mereka yang hanya fokus pada lingkaran kendali hanya akan sibuk pada dirinya. Lingkaran kekhawatiran ada bukan untuk diminimalisir oleh lingkaran kendali, tetapi justru untuk diperluas, sehingga lingkaran kendali dapat terus berkembang. Disinilah seharusnya dipersepsikan bahwa proaktif adalah sikap reaktif yang produktif, fokus pada lingkaran kendali untuk mengubah hal-hal yang ingin kita ubah, bukan sekadar mengubah hal-hal yang bisa kita ubah.

Kebiasaan efektif kedua adalah mulai dari tujuan akhir (begin with the end in mind) yang ditandai dengan menuliskan mimpi dan pernyataan misi (mission statement). Menuliskan ‘terminal tujuan’ dan ‘halte-halte’ dalam hidup sudah banyak dipahami sebagai salah satu upaya penting dan serius dalam menggapai impian. Namun ada dua catatan disini. Pertama, ‘terminal tujuan’ memang sebaiknya lebih fundamental dan jangka panjang, tidak melulu ukuran materi. Namun bagaimanapun, target dan tujuan hidup yang terukur tetaplah diperlukan sebagai indikator keberhasilan, yang terkadang bersifat materi. Esensinya adalah kejelasan arah dan keterhubungan dengan ‘terminal tujuan’ bukan sebatas materi atau nonmateri, terukur atau tidak terukur. Kedua, fleksibilitas dan agility dalam mencapai ‘terminal tujuan’ tetap diperlukan di tengah arus perubahan dan ketidakpastian. Menambah halte, mengubah rute, bahkan membuat terminal bayangan tidak masalah jika memang diperlukan.

Kebiasaan efektif ketiga adalah dahulukan yang utama (put first things first). Sudah sejak SMA saya punya perspektif bahwa prioritas baru akan muncul jika ada benturan. Jadi selama semua masih bisa dikelola tanpa ada benturan, semua hal masih bisa dilakukan. Memprioritaskan kuadran penting dan tidak mendesak justru akan kontraproduktif jika tidak banyak hal yang perlu dilakukan. Belum lagi berbicara fakta bahwa banyak hal yang tidak bisa dikatakan penting namun tidak pula tepat disebut tidak penting, atau berbagai hal yang rasanya tidak pas dikatakan mendesak tapi tidak dapat pula dibilang tidak mendesak. Menariknya, adanya aktivitas di seluruh kuadran justru kerapkali membuat hidup lebih seimbang dan optimal, selama bisa dikelola dengan baik. Menyusun skala prioritas memang baik, namun mewaspadai penyakit malas dan suka menunda (prokrastinasi) tidak kalah baik.

Ketiga kebiasaan efektif pertama berbicara tentang sukses pribadi, sementara ketiga kebiasaan efektif berikutnya fokus pada sukses bersama yang memang lebih dapat dipahami dengan simulasi dan implementasi. Kebiasaan efektif keempat adalah berpikir menang – menang (think win – win). Faktanya, kita tidak bisa memuaskan semua orang, selalu ada pihak yang merasa tidak menang atau tidak diuntungkan. Sehingga jika win-win solution tidak mungkin dihasilkan, paradigma yang bisa dimunculkan adalah tidak boleh menzhalimi, tidak merugikan dan meminimalisir kemudhorotan. Akhirnya, tidak mendapat apa-apa atau bahkan menerima kekalahan dengan sikap positif bisa jadi merupakan sebuah kemenangan.

Kebiasaan efektif kelima adalah komunikasi empatik (seek first to understand, then to be understood). Mungkin karena keterbatasan waktu penjelasannya tidak menyeluruh. Komunikasi empatik tidak sesederhana yang dijelaskan. Mengulang dengan singkat apa yang dikatakan, membahasakan kembali dan merefleksikan perasaan hanyalah bagian kecil dari komunikasi empatik. Pun demikian dengan kebiasaan efektif keenam yaitu sinergi (synergize). Sinergi tidak melulu berbicara tentang perbedaan, tetapi justru kuat dengan berbagai kesamaan, sinergi juga tidak semata ada dalam ranah komunikasi namun banyak bermain dalam ranah aksi. Adapun kebiasaan efektif ketujuh adalah mengasah gergaji (sharpen the saw) yang melingkupi semua kebiasaan. Sayangnya fokus pembahasan lebih banyak menyoal mengapa dan apa, bukan bagaimana.

Kesuksesan bersumber dari rangkaian kebiasaan yang efektif sebenarnya mudah dipahami, banyak kisah yang dapat menjadi contoh. Akan lebih baik lagi jika kesuksesan tersebut dihubungkan dengan visi jangka panjang dalam bingkai keimanan dan ketakwaan. Jika sukses pribadi adalah menjadi hamba Allah yang beribadah dan sukses bersama adalah menjadi khalifah yang memakmurkan bumi, maka mengasah gergaji adalah keistiqomahan dalam menjalankannya. Semoga kita bisa menjadi pribadi efektif yang sukses pribadi dan sukses bersama, yang sukses dunia dan akhirat. Aamiiin…

Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a, “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 201-202)