Kegelisahan Pribadi Efektif

You have to decide what your highest priorities are and have the courage—pleasantly, smilingly, nonapologetically, to say “no” to other things. And the way you do that is by having a bigger “yes” burning inside. The enemy of the “best” is often the “good”.” (Stephen R. Covey)

Beberapa hari lalu saya mengikuti Training Pribadi Efektif “Seni Mengelola Diri Sendiri dan Memimpin Orang Lain” yang diselenggarakan oleh tim Human Capital Dompet Dhuafa di Universitas Terbuka. Judul pelatihannya yang terdengar familiar ternyata memang diambil dari buku “The 7 Habits of Highly Effective People”nya Stephen R. Covey. Saya pernah membaca buku tersebut belasan tahun lalu saat masih SMA, cukup aplikatif dan inspiratif. Pelatihan yang diselenggarakan pun berisi intisari dari hal-hal yang tertuang dalam buku best seller tersebut.

Ulasan mengenai training pribadi efektif apalagi resensi terhadap bukunya sudah banyak beredar. Apresiasi, modifikasi, hingga kritik terhadap materi yang tertuang dalam buku tersebut juga tidak sedikit. Ada yang coba mengaitkan gagasan dalam buku tersebut dalam perspektif Islam, bahkan ada yang mengkritisi habis konsep yang dikatakan oleh Stephen Covey terinspirasi dari ajaran Mormon, yang dianggap sesat oleh umat Nasrani. Tulisan ini akan lebih banyak mengulas tentang kegelisahan saya akan adanya paradigma yang keliru dalam memaknai tujuh kebiasaan yang efektif. Pelatihan lima hari yang dipadatkan menjadi dua hari tentu memungkinkan terlewatkannya beberapa materi yang sebenarnya penting untuk membentuk paradigma yang benar.

Berkenaan dengan konsep diri, paradigma dan prinsip, konsep agama (Islam) adalah sesuatu yang seharusnya mendasari. Prinsip ‘tanam – tuai’ misalnya, jika dipahami hanya sebatas hukum kausalitas maka akan kontraproduktif ketika dibenturkan dengan takdir dan kehidupan setelah mati. Fenomena banyaknya orang baik yang hidup sengsara atau orang jahat yang hidup sejahtera menjadi sulit dijelaskan. Contoh lain prinsip ‘dari luar ke dalam’ yang jika dipahami sebagai kebertahapan mutlak akan mendorong seseorang untuk tidak membuat perubahan di luar sebab perbaikan diri sendiri sejatinya tidak akan pernah selesai. Bingkai agama akan membuat semuanya lebih jelas dan terarah.

Kebiasaan efektif pertama adalah proaktif (proactive). Proaktif dicirikan dengan sikap pantang menyerah dan pantang penyerang, bertanggung jawab dan tidak mencari kambing hitam, optimis serta fokus pada lingkaran kendali bukan lingkaran kekhawatiran. Lingkaran kendali adalah hal-hal yang bisa kita ubah sementara lingkaran kekhawatiran adalah hal-hal yang ingin kita ubah. Disinilah kemudian timbul dikotomi antara reaktif yang fokus pada lingkaran kekhawatiran dengan proaktif yang fokus pada lingkaran kendali. Padahal lingkaran kekhawatiran sejatinya adalah mimpi dan kepedulian, mereka yang hanya fokus pada lingkaran kendali hanya akan sibuk pada dirinya. Lingkaran kekhawatiran ada bukan untuk diminimalisir oleh lingkaran kendali, tetapi justru untuk diperluas, sehingga lingkaran kendali dapat terus berkembang. Disinilah seharusnya dipersepsikan bahwa proaktif adalah sikap reaktif yang produktif, fokus pada lingkaran kendali untuk mengubah hal-hal yang ingin kita ubah, bukan sekadar mengubah hal-hal yang bisa kita ubah.

Kebiasaan efektif kedua adalah mulai dari tujuan akhir (begin with the end in mind) yang ditandai dengan menuliskan mimpi dan pernyataan misi (mission statement). Menuliskan ‘terminal tujuan’ dan ‘halte-halte’ dalam hidup sudah banyak dipahami sebagai salah satu upaya penting dan serius dalam menggapai impian. Namun ada dua catatan disini. Pertama, ‘terminal tujuan’ memang sebaiknya lebih fundamental dan jangka panjang, tidak melulu ukuran materi. Namun bagaimanapun, target dan tujuan hidup yang terukur tetaplah diperlukan sebagai indikator keberhasilan, yang terkadang bersifat materi. Esensinya adalah kejelasan arah dan keterhubungan dengan ‘terminal tujuan’ bukan sebatas materi atau nonmateri, terukur atau tidak terukur. Kedua, fleksibilitas dan agility dalam mencapai ‘terminal tujuan’ tetap diperlukan di tengah arus perubahan dan ketidakpastian. Menambah halte, mengubah rute, bahkan membuat terminal bayangan tidak masalah jika memang diperlukan.

Kebiasaan efektif ketiga adalah dahulukan yang utama (put first things first). Sudah sejak SMA saya punya perspektif bahwa prioritas baru akan muncul jika ada benturan. Jadi selama semua masih bisa dikelola tanpa ada benturan, semua hal masih bisa dilakukan. Memprioritaskan kuadran penting dan tidak mendesak justru akan kontraproduktif jika tidak banyak hal yang perlu dilakukan. Belum lagi berbicara fakta bahwa banyak hal yang tidak bisa dikatakan penting namun tidak pula tepat disebut tidak penting, atau berbagai hal yang rasanya tidak pas dikatakan mendesak tapi tidak dapat pula dibilang tidak mendesak. Menariknya, adanya aktivitas di seluruh kuadran justru kerapkali membuat hidup lebih seimbang dan optimal, selama bisa dikelola dengan baik. Menyusun skala prioritas memang baik, namun mewaspadai penyakit malas dan suka menunda (prokrastinasi) tidak kalah baik.

Ketiga kebiasaan efektif pertama berbicara tentang sukses pribadi, sementara ketiga kebiasaan efektif berikutnya fokus pada sukses bersama yang memang lebih dapat dipahami dengan simulasi dan implementasi. Kebiasaan efektif keempat adalah berpikir menang – menang (think win – win). Faktanya, kita tidak bisa memuaskan semua orang, selalu ada pihak yang merasa tidak menang atau tidak diuntungkan. Sehingga jika win-win solution tidak mungkin dihasilkan, paradigma yang bisa dimunculkan adalah tidak boleh menzhalimi, tidak merugikan dan meminimalisir kemudhorotan. Akhirnya, tidak mendapat apa-apa atau bahkan menerima kekalahan dengan sikap positif bisa jadi merupakan sebuah kemenangan.

Kebiasaan efektif kelima adalah komunikasi empatik (seek first to understand, then to be understood). Mungkin karena keterbatasan waktu penjelasannya tidak menyeluruh. Komunikasi empatik tidak sesederhana yang dijelaskan. Mengulang dengan singkat apa yang dikatakan, membahasakan kembali dan merefleksikan perasaan hanyalah bagian kecil dari komunikasi empatik. Pun demikian dengan kebiasaan efektif keenam yaitu sinergi (synergize). Sinergi tidak melulu berbicara tentang perbedaan, tetapi justru kuat dengan berbagai kesamaan, sinergi juga tidak semata ada dalam ranah komunikasi namun banyak bermain dalam ranah aksi. Adapun kebiasaan efektif ketujuh adalah mengasah gergaji (sharpen the saw) yang melingkupi semua kebiasaan. Sayangnya fokus pembahasan lebih banyak menyoal mengapa dan apa, bukan bagaimana.

Kesuksesan bersumber dari rangkaian kebiasaan yang efektif sebenarnya mudah dipahami, banyak kisah yang dapat menjadi contoh. Akan lebih baik lagi jika kesuksesan tersebut dihubungkan dengan visi jangka panjang dalam bingkai keimanan dan ketakwaan. Jika sukses pribadi adalah menjadi hamba Allah yang beribadah dan sukses bersama adalah menjadi khalifah yang memakmurkan bumi, maka mengasah gergaji adalah keistiqomahan dalam menjalankannya. Semoga kita bisa menjadi pribadi efektif yang sukses pribadi dan sukses bersama, yang sukses dunia dan akhirat. Aamiiin…

Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a, “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari (amal) yang mereka usahakan; dan Allâh sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 201-202)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>