Antara Tragedi Crane dan Tragedi Mina

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan, “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nisa: 78-79)

Ibadah haji tahun 1436 Hijriyah ini diwarnai berbagai tragedi. Belum lepas dari ingatan pada tanggal 11 September 2015 lalu sebuah crane dari proyek perluasan Masjidil Haram dengan berat sekitar 1300 ton jatuh sehingga mengakibatkan lebih dari seratus orang meninggal –termasuk 11 jama’ah asal Indonesia– dan ratusan orang lainnya luka-luka. Hanya 13 hari berselang, gegap gempita takbir, tahmid, tahlil dan kalimat talbiyah di tanggal 10 Dzuhhijjah 1436 H sontak berubah menjadi teriakan panik di Jalan 204 Mina saat jama’ah haji melempar jumrah. Dikabarkan, sebanyak lebih dari 700 orang jama’ah haji meninggal dan ratusan lainnya luka-luka karena terhimpit dan terinjak-injak. Dunia Islam berduka, seluruh dunia pun turut berbela sungkawa.

Kematian adalah rahasia Allah SWT, kita hanya bisa mendo’akan kebaikan bagi mereka yang meninggal dan terluka di tanah suci sana. Bahkan boleh jadi iri. Namun selalu ada pelajaran dari setiap musibah yang menimpa. Di dunia ini, hampir dalam seluruh hal berlaku hukum sebab akibat, dan hal ini yang sebaiknya menjadi renungan dan perhatian kita semua. Apalagi menurut hemat penulis, tragedi Mina ini memiliki dimensi yang jelas berbeda dengan musibah jatuhnya crane sebelumnya karena hujan badai yang sangat dahsyat. Cuaca Mekkah saat itu memang sedang tidak bersahabat dan sulit diprediksi, sebagaimana sulitnya mempercayai crane seberat 1300 ton bisa roboh. Ketetapan Allah SWT memang tidak bisa dielakkan, namun manusia diberikan kelebihan akal untuk dapat memperhitungkan berbagai potensi kecelakaan, termasuk berbagai kemungkinan terburuk.

Jika pada tragedi jatuhnya crane ada faktor alam yang di luar kendali dan turut berperan, tragedi Mina sungguh menyisakan berbagai ironi. Pertama, kejadian ini bukan kali pertama, bahkan mungkin setiap tahun selalu ada saja korban di Mina. Tercatat ada 360 korban jiwa pada kejadian serupa (di jalan yang sama) pada tahun 2006, 250 korban jiwa dua tahun sebelumnya, berturut-turut 370 dan 180 korban jiwa pada tahun 1997 dan 1998, 270 korban jiwa pada tahun 1994, dan yang paling diingat tentu 1426 jema’ah haji yang meninggal pada tragedi Mina 1990. Kedua, faktor manusia sangat dominan dalam tragedi ini, penyebabnya adalah ketidaksabaran dan ketidakdisiplinan dalam mematuhi peraturan ataupun budaya antri dan tanpa campur tangan faktor alam pula. Ketiga, penyebab kematian adalah manusia juga bukan benda tajam, benda keras atau benda berbahaya. Tertindih dan terinjak, sangat mengenaskan.

Tulisan ini tentu tidak akan berujung pada wacana ‘ga mikir’ orang-orang Jaringan Islam Liberal yang beranggapan bahwa haji dan umroh tidak perlu dilakukan karena pemborosan sementara banyak ibadah yang dapat dilakukan di dalam negeri. Dan tidak pula serta merta menyalahkan ataupun membela pemerintah Arab Saudi sebagai tuan rumah pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Hanya saja tidak jarang ada di antara kita yang masih begitu mudah memandang kematian, sebatas sebuah suratan takdir atau sunatullah yang pasti terjadi. Tanpa coba belajar dari sejarah, tanpa pernah benar-benar introspeksi akan musibah yang terjadi. Merenungi musubah yang bisa terjadi karena dosa dan perbuatan manusia. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).

Keledai tidak akan jatuh dua kali ke lubang yang sama karenanya kejadian yang kerap berulang seharusnya mudah diantisipasi. Dalam hal ini wajar saja jika sorotan utama ditujukan kepada Pemerintah Arab Saudi kerena musibah berulang semestinya tidak perlu terjadi. Di Indonesia, beberapa kali ada kejadian tewasnya orang-orang karena rebutan zakat. Pihak yang paling disoroti tentu pihak penyelenggara dan pemberi zakat, pun bisa jadi ada faktor ketidakpedulian dan ketidakdisiplinan dari para mustahiq (penerima zakat). Tim pengamanan dan pengawalan ibadah haji seharusnya sudah cukup piawai menghadapi rutinitas tahunan dan memahami betul celah-celah kemungkinan terjadinya kecelakaan. Bahkan paham benar apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir korban. Memang tidak sedikit jama’ah haji dan umroh yang bandel dan sulit diatur, namun tentu bisa dibuatkan mekanisme untuk menertibkan mereka. Menghormati tamu jelas berbeda dengan membiarkan tamu berbuat semena-mena.

Namun jika ditelaah lebih dalam, kesalahan tidak pantas ditimpakan semua ke Pemerintah Arab Saudi yang pastinya sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut para tamu Allah SWT. Ada masalah akhlak kaum muslimin yang juga perlu mendapat perhatian serius agar kejadian serupa tidak terulang. Budaya disiplin, santun dan taat aturan sejatinya sejalan dengan nilai-nilai Islam, sayangnya tidak tercermin dalam keseharian banyak kaum muslimin. Pantas saja ada riset yang menyebutkan bahwa Negara paling Islami di dunia ternyata bukan Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Alih-alih instropeksi, tidak sedikit pihak yang malah skeptis bahkan su’uzhon dengan riset tersebut.

Tragedi Mina semestinya tidak perlu terjadi jika umat muslim di seluruh dunia dapat menerapkan budaya tertib dan patuh aturan. Kabarnya, sudah ada peringatan dari PPIH Arab untuk tidak melempar jumrah pada waktu-waktu tertentu, termasuk ketika waktu kejadian, namun tidak diindahkan padahal melempar jumroh sudah disediakan waktu dan tempatnya. Kabarnya ada jema’ah haji yang berhenti bahkan berbalik melawan arah padahal pelaksanaan ibadah haji sudah ada alurnya. Ketidakdisiplinan yang harus dibayar mahal. Jika aturan manusia yang konkret dibuat untuk kepentingan hidup bermasyarakat saja dilanggar, bagaimana dengan aturan Allah SWT yang bisa jadi lebih abstrak?

Sungguh ibadah haji seharusnya menunjukkan kekuatan umat Islam, mampu bersatu dan mengatasi segala perbedaan. Bukannya menyisakan catatan pilu yang mencoreng muka umat Islam. Hukuman pancung untuk para petugas yang bertanggung jawab tidak serta merta menghapus duka. Penanganan korban tewas dan terluka termasuk pemberian santunan adalah hal lain yang bagaimanapun tidak lebih utama dari memastikan keselamatan para tamu Allah SWT. Dan tamu yang baik semestinya meringankan beban tuan rumah dengan persiapan yang optimal, mulai dari kebersihan hati, pemahaman yang utuh hingga persiapan fisik. Ya, memastikan bahwa para tamu dapat selamat dan terlayani dengan baik sebenarnya juga menjadi tanggung jawab para tamu. Pihak penyelenggara ibadah haji harus instropeksi, namun semua pihak semestinya juga harus mawas diri.

Tulisan ini tidak hendak mencari kambing hitam. Belajar dari sejarah, orang-orang munafik biasa menjadikan momentum musibah untuk memecah belah. Selain penanganan korban yang sudah dan tengah dilakukan, ada baiknya kita banyak berdo’a dan beristighfar, memohon ampunan dan pertolongan. Takdir Allah SWT ada di luar jangkauan kita, tapi bukan berarti tidak ada yang bisa kita persiapkan, antisipasi dan lakukan untuk menyambutnya. Tragedi dalam prosesi melempar jumrah ini semoga mampu menumbuhkan tekad kuat untuk memerangi syaithan dan para sekutunya, termasuk yang mengalir dalam darah setiap Bani Adam. Dan bagi mereka yang wafat di tanah suci biarlah Allah SWT yang memberikan balasan. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan dikembalikan…

Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>