Monthly Archives: October 2015

IQ Rasulullah SAW 7000?

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu,bahwa sesungguhnya Tuhan kau ituadalah Tuhan Yang Maha Esa”. Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Awal tahun 1437 Hijriyah ini diisi dengan kajian thibbun nabawi selepas shubuh tanggal 1 Muharram. Beberapa tahun terakhir, pengobatan ala Rasulullah SAW cukup berkembang pesat. Banyak referensi dan informasi yang dapat ditemukan seputar thibbun nabawi, hijamah (bekam), habbatus sauda dan hal-hal lain terkait dengan pengobatan ala Rasulullah SAW. Beberapa informasi dan kontroversi juga kerap menyertai pembahasan ini termasuk berkenaan dengan konspirasi vaksinasi. Namun ada satu informasi yang disampaikan pembicara dan mengusik logika. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa IQ (Intelligence Quotient/ Kecerdasan Inteligensi) Rasulullah Muhammad SAW mencapai angka 7000, sangat jauh dibandingkan IQ seorang jenius sekalipun. Benarkah?

Serangkaian tes untuk memilih orang dengan kualifikasi tertentu memang sudah lama dikenal dan dilakukan manusia, namun tes inteligensi baru berkembang pada abad ke-19, sehingga sudah pasti tidak ada hadits yang menjelaskan tentang besaran IQ Rasulullah SAW. Jika memang benar ada penelitian terkait hal tersebut tentu dilakukan melalui studi literatur dengan kemungkinan bias yang tinggi. Selama ini saja pendekatan kuantitatif tes IQ banyak menuai kritik dengan berbagai perspektif. Dalam catatan sejarah, orang yang memiliki IQ tertinggi adalah William James Sidis yang memiliki IQ sekitar 250 – 300, sementara tokoh seperti Einstein dan Bill Gates memiliki IQ sekitar 160. IQ manusia ini terdistribusi normal, dimana jumlah terbesar ada pada kategori IQ rata-rata sementara mereka yang jenius (very superior) dan yang memiliki IQ jauh di bawah rata-rata (mental defective) jumlahnya sedikit. Jika rata-rata IQ manusia ada di kisaran 90 – 110, maka IQ 7000 jelas tidak masuk akal.

Jika disampaikan bahwa penilaian didasarkan pada kajian literatur bagaimana Rasulullah SAW merespon pertanyaan para shahabat maka bias semakin terjadi. Perkataan Rasulullah SAW adalah bimbingan wahyu Allah SWT, bukan kemauan dan kemampuan beliau sendiri. Jika kecepatan respon dijadikan salah satu indikator kejeniusan, nyatanya tidak semua pertanyaan dapat direspon cepat oleh Rasulullah SAW karena menunggu wahyu. Misalnya ketika para istri Rasulullah SAW meminta tambahan nafkah paska Perang Hunain yang baru terjawab beberapa waktu lamanya dengan turunnya Surah Al Azhab ayat 28 – 29. Atau ketika utusan kafir Quraisy bertanya tentang berbagai hal yang Rasulullah SAW tidak bisa menjawabnya dan menjanjikan jawabannya esok hari. Ternyata wahyu dari Allah SWT tak kunjung datang hingga 15 hari sebagai pelajaran karena kala itu Rasulullah SAW lupa mengucapkan In syaa Allah. Hal ini tertuang dalam Al Qur’an Surah Al Kahfi. Jadi, apa benar IQ Rasulullah SAW mencapai 7000?

Lalu, bukankah Rasulullah SAW memiliki sifat fathonah (cerdas)? Ya, apa yang beliau tawarkan untuk meletakkan Hajar Aswad sehingga beliau digelari Al-Amin adalah sebuah solusi cerdas. Membangun masjid dan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor setelah hijrah adalah strategi cerdas. Namun kecerdasan Rasulullah SAW ini bersumber pada satu kecerdasan utama: spiritualitas. Kecerdasan spiritualitas inilah yang menguatkan beliau menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, mental, emosional, sosial, adversitas, dan kreativitas. Jadi bukan kecerdasan intelektual yang jadi ukuran. Betapa banyak orang jenius yang tidak jadi apa-apa. Dunia pendidikan pun kian sadar bahwa sekadar kecerdasan intelektual di ranah kognitif tidak cukup untuk menghasilkan SDM unggul. Sayangnya, dunia pendidikan Barat hanya mengenal aspek psikomotorik (adversitas) dan afektif (sosial) sebagai pelengkap aspek intelektual, padahal aspek spiritual jauh lebih mendasar.

Keteladanan Rasulullah SAW adalah menyeluruh pada semua aspek bukan karena intelektualitasnya yang super jenius –dan ternyata tidak penting. Namun keunggulan pada kecerdasan spiritual lah yang mengantarkan beliau menjadi pribadi dengan kecerdasan paripurna. Jadi secara intelektual, Rasulullah SAW mungkin saja memiliki keterbatasan sehingga bisa keliru memilih strategi perang, misalnya. Atau dalam sebuah hadits riwayat Muslim pernah juga beliau keliru ketika menyarankan petani kurma di Madinah untuk tidak melakukan penyerbukan kurma sehingga mereka malah mengalami gagal panen. Ketika hal tersebut dilaporkan ke beliau, Rasulullah SAW menjawab, “ Aku hanyalah manusia. Jika aku memerintahkan sesuatu tentang agama, ikutilah. Tetapi jika aku memerintahkan sesuatu yang berasal dari pendapatku, sebenarnya aku hanyalah seorang manusia. Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian”. Jadi, masih perlukah membanggakan (ataupun mempermasalahkan) IQ Rasulullah SAW?

Satu lagi catatan berkenaan dengan pernyataan di atas adalah begitu mudahnya umat Islam menyebarkan informasi hoax yang terkesan membanggakan. Saya membayangkan betapa seringnya pembicara menyampaikan bahwa IQ Rasulullah SAW 7000 di berbagai forum, kemudian peserta yang hadir membenarkannya untuk kemudian menyebarkannya juga. Kemudian diungkap fakta bahwa IQ maksimal hanya sekian ratus sehingga tidak mungkin ada assessment yang menghasilkan IQ manusia hingga 7000. Sesuatu yang tadinya membanggakan pun bisa berubah jadi memalukan jika dibungkus dengan kepalsuan yang berlebihan. Kasus serupa banyak terjadi misalnya terkait masuk Islamnya seorang ilmuwan atau tokoh agama lain yang begitu mudah tersebar tanpa diperiksa kebenarannya. Ketika klarifikasi disampaikan yang tampak hanyalah keluguan –jika tidak bisa disebut kebodohan—umat Islam. Apalagi jika klaim IQ Rasulullah SAW tersebut hanya dijadikan alat jualan produk nutrisi otak dengan cover thibbun nabawi, tentu sangat tidak pantas. Umat muslim harus lebih cermat dalam menerima, mengolah dan menyebarkan informasi di era informasi seperti sekarang ini. Dan akhirnya, segala kebenaran hanyalah datang dari sisi Allah SWT. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in…

Shubuh Berjama’ah, Simbol Kekuatan Umat Islam

Barangsiapa yang melakukan shalat Isya berjama’ah maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barangsiapa yang melakukan shalat Shubuh berjama’ah maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.” (HR. Muslim)

Masjid Muniroh Ar Rukban 3 shubuh ini lebih ramai dari biasanya. Padahal baru tadi malam warga Perumahan Muslim Orchid Green Park baru membentuk RT baru dan memilih Ketua RT. Momentum 1 Muharram 1437 Hijriyah ini dimanfaatkan untuk menyebar undangan shalat shubuh berjama’ah ke seluruh warga perumahan, terinspirasi oleh aktivitas serupa yang pernah dilakukan di Masjid Jogokariyan – Yogyakarta. Alhasil, hampir seluruh warga hadir, meningkat dua kali lipat dari jama’ah shubuh biasanya. Tahun ini memang cukup marak gerakan shalat shubuh berjama’ah memanfaatkan momentum Tahun Baru Islam, terutama di kampus-kampus. Pun gerakan ini mungkin masih eventual, belum tentu bisa jadi kebiasaan, tapi hal ini tentu jadi sebuah indikasi kebangkitan Islam yang baik.

Banyak hadits yang mengungkapkan betapa besar keutamaan shalat shubuh berjama’ah, di antaranya adalah menjadi penghalang dari azab neraka, berada dalam jaminan Allah SWT, mendapatkan berkah dari-Nya dan cahaya yang sempurna pada hari kiamat. Masih terkait shalat Shubuh, ada kisah menarik yang terjadi dalam perang Mesir – Israel tahun 1973. Kala itu, seorang tentara Mesir mengutip sebuah hadits akhir zaman bahwa kaum muslimin akan mengalahkan Yahudi bahkan pohon dan batu tempat Yahudi bersembunyi pun akan membantu kaum muslimin. Seorang tentara Israel yang bisa berbahasa Arab dan mendengarnya kemudian menjawab, “Semua itu tidak akan terjadi sebelum shalat shubuh kalian sama dengan shalat Jum’at”.

Shalat malam dan shalat Shubuh kaya akan dimensi spiritual, aspek mendasar yang mampu menggerakkan dan menghadirkan kekuatan. Jernih dan segar. Selain itu, shalat Shubuh juga merupakan ujian keimanan dari bahaya kemunafikan. Dan benih-benih kemunafikan inilah yang nyata menggerogoti kekuatan umat Islam dari dalam sehingga semakin lemah dan tertinggal. Ketika kaum muslimin bisa terbebas dari sifat orang-orang munafik, maka kekuatan besar umat Islam takkan terbendung. Karenanya cukup beralasan shalat Shubuh berjama’ah dapat menjadi salah satu indikator utama kebangkitan Islam.

Saat ini kesadaran umat untuk bangkit dari keterpurukan dan kembali meraih kejayaan bersama Islam semakin tumbuh berkembang di tengah masyarakat. Hal ini secara sederhana dapat dilihat dari shalat shubuh di masjid. Semasa SMA, saya pernah merasakan tatapan heran dari para jama’ah shalat Shubuh yang jumlahnya dapat dihitung dengan jari, mendapati anak usia sekolah ikut shalat Shubuh di masjid yang saat itu didominasi oleh orang-orang yang sudah sepuh. Sekarang masyarakat sudah mulai biasa mendapati anak muda yang rajin shalat berjama’ah di masjid termasuk pada waktu Shubuh. Selanjutnya tinggal terus mendakwahkannya ke masyarakat yang lebih luas dan istiqamah. In syaa Allah perkara yang tampaknya sepele ini akan menjadi penguat alasan Allah SWT untuk memberikan pertolongan dan kemenangan. Dan kesungguhan untuk bangkit berjuang demi tegaknya Islam sebagai Rahmat bagi seluruh alam itu dimulai dari sebuah amal sederhana: shalat Shubuh berjama’ah.

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra’: 78)

Marak Kampus Abal-abal, (si)Apa yang Salah?

Sekolahlah biasa saja, jangan pintar-pintar, percuma! Latihlah bibirmu agar pandai berkicau, sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu. Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel, peduli titel diktat atau titel mukjizat. Sekolah buatmu hanya perlu untuk gengsi, agar mudah bergaul tentu banyak relasi
(‘Nak (2)’, Iwan Fals)

Beberapa waktu lalu dunia pendidikan tinggi mendapat kabar kurang membanggakan, Kemenristek Dikti secara resmi menonaktifkan 243 perguruan tinggi swasta, pun belakangan direvisi bahwa yang dinonaktifkan ‘hanya’ 239 perguruan tinggi. Sejumlah perguruan tinggi yang dinonaktifkan ini didominasi oleh 103 sekolah tinggi swasta dan 98 akademi dengan kekhususan pendidikan pada berbagai bidang seperti keperawatan, pariwisata dan bahasa asing. Ada berbagai pelanggaran sehingga kampus-kampus tersebut dinonaktifkan, di antaranya terkait laporan akademik, nisbah dosen/ mahasiswa, pelanggaran peraturan perundang-undangan, kelas jauh dan program studi tanpa izin, penyelenggaraan kelas Sabtu-Minggu, jumlah mahasiswa over kuota, ijazah dan gelar palsu, konflik internal, kasus mahasiswa dan dosen, hingga pemindahan/pengalihan mahasiswa tanpa izin Kopertis.

Penonaktifan perguruan tinggi ini memang tidak permanen dan bukan berarti pencabutan izin. Perguruan tinggi yang dinonaktifkan akan memperoleh sanksi berupa penundaan atau tidak memperoleh pelayanan berupa pengusulan akreditasi BAN PT, penambahan prodi baru, mengajukan sertifikasi dosen, bila sebagai calon penerima hibah dari Kemristekdikti maka pengajuan tidak diproses dan pemberhentian beasiswa bagi mahasiswanya. Pun demikian, Kebijakan ini menimbulkan banyak kebingungan di pihak mahasiswa dan perguruan tinggi yang dinonaktifkan, apalagi tidak sedikit perguruan tinggi yang mengaku tidak memperoleh informasinya langsung dari Kemdiknas Dikti. Tidak sedikit pula kampus yang mengajukan keberatan dan pembelaan.

Bakar Lumbung Ala Kemenristek Dikti
Fenomena kampus abal-abal memang bukan isapan jempol. Kasus jual beli ijazah bukan hal baru dan sudah banyak terungkap. Belum lama ini pemerintah telah menutup 12 perguruan tinggi swasta yang tidak memiliki izin operasional dan terbukti memalsukan ijazah. Ironisnya, tidak sedikit di antaranya yang berupa institut keguruan dan ilmu pendidikan yang mencetak guru. Belum lama ini juga ramai kasus wisuda ilegal, beberapa di antaranya yang terungkap adalah kasus wisuda ilegal di kampus Undar (Universitas Darul Ulum) Jombang 31 Mei 2015, wisuda abal-abal di gedung Manggala Wanabakti Kementerian Kehutanan 9 September lalu, dan kasus wisuda ilegal Yayasan Aldiana di Universitas Terbuka Convention Centre (UTCC) 10 hari berselang. Kasus pelanggaran hukum ini tentu perlu ditindak serius.

Namun pertanyaannya, apakah menonaktifkan kampus dapat menyelesaikan masalah? Sementara sumber masalah juga berasal dari permintaan masyarakat akan pendidikan perguruan tinggi ditambah gelar akademik yang menjadi simbol. Permasalahan juga bersumber pada ketegasan pemerintah dan ketimpangan pembangunan. Jangankan perguruan tinggi yang idealnya tentu memiliki standar yang tinggi, Mendikbud bahkan menyebutkan bahwa 75 persen sekolah dasar hingga menengah tidak memenuhi standar pelayanan minimal. Disini perlu ada peran pemerintah dalam pemerataan pembangunan dan pemenuhan standar, bukan sekadar menutup atau menonaktifkan yang di bawah standar.

Menjamurnya ‘kampus seadanya’ tidak terlepas dari besarnya permintaan masyarakat sementara ketersediaan kampus berkualitas masih sangat terbatas. Perhatikan saja data BPS yang menyebutkan bahwa pada tahun 2013, Angka Partisipas Sekolah (APS) untuk anak usia 7 – 12 tahun dan 13 – 15 tahun sudah mencapai 98.42% dan 90.81%. Sementara APS untuk anak usia 16 – 18 tahun hanya 63.84%. Parahnya lagi, APS untuk anak usia 19 – 24 tahun hanya 20.14%. Artinya memang banyak anak lulusan setingkat SMP yang tidak terserap ke jenjang setingkat SMA. Dan lebih banyak lagi anak lulusan setingkat SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Faktor ekonomi mungkin memang menjadi salah satu alasan, namun ada faktor keterbatasan kuota yang juga terjadi. Dalam hal ini, daya tampung jenjang pendidikan yang lebih tinggi memang tidak memungkinkan untuk menyerap seluruh lulusan jenjang pendidikan yang ada di bawahnya. Hal inilah yang terjadi pada dunia perguruan tinggi di Indonesia sehingga angka partisipasinya sangat jauh dari 100%.

Sesuai hukum supply – demand, berbagai ‘kampus alternatif’ pun muncul untuk menampung mereka yang berkeinginan dan berkemampuan namun terbatasi oleh kuota. Kualitas bukan menjadi hal yang prioritas karena masyarakatpun mengutamakan gelar dan ijazah. Gayung bersambut, sejumlah oknum bahkan menjadikannya sebagai ladang bisnis pun harus bertentangan dengan hukum. Di sisi lain, ada pula inisiatif masyarakat untuk mendidik generasi mudanya yang ‘terpaksa putus sekolah oleh sistem’ dengan mendirikan kampus. Faktor keadaan memaksa mereka untuk belum bisa memberikan kualitas terbaik. Berbeda motif, dengan standar yang sama, keduanya pun memperoleh tindakan dan sanksi serupa.

Dalam UU nomor 12 tahun 2012, ada lima jenis sanksi yang dapat diberikan kepada kampus yang tidak memenuhi standar dan melanggar aturan, yaitu peringatan tertulis, pemberhentian bantuan sementara oleh pemerintah, pemberhentian sementara kegiatan, pemberhentian pembinaan, dan pencabutan izin. Terkait nasib mahasiswa dan dosen yang kampusnya dinonaktifkan, Dikti akan membantu mengalihkan ke perguruan tinggi lain yang terdekat. Terlihat sekali terlalu menyederhanakan masalah. Mahasiswa dan dosen tersebut ada di kampus yang dinonaktifkan bukan tanpa alasan, malah barangkali tanpa pilihan. Alih-alih membantu agar tidak merugikan masyarakat, kebijakan gegabah justru berpotensi merugikan masyarakat.

Adil adalah proporsional bukan sama rata. Ada fungsi pembinaan dari pemerintah dan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) yang tersebar di 12 wilayah yang semestinya harus didahulukan sebelum memberikan sanksi. Kualitas kampus dan pendidikan di seluruh Indonesia perlu diidentifikasi dan dipetakan untuk kemudian diperkuat dengan pembinaan sehingga standar yang diharapkan dapat dipenuhi, bukan sekedar diberangus yang tidak menyelesaikan masalah. Kontribusi masyarakat untuk membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa perlu diapresiasi, atau pendidikan untuk semua hanya akan menjadi jargon ketika pemerintah berpikir semuanya dapat ditanganinya tanpa peran serta masyarakat.

Rasio Dosen – Mahasiswa dan Kualitas Pendidikan
Nisbah atau rasio dosen terhadap mahasiswa adalah kasus paling banyak terjadi sehingga perguruan tinggi dinonaktifkan. Pemerintah telah menetapkan bahwa untuk program studi eksakta, rasio tersebut minimal 1:30 dan untuk program studi non-eksakta minimal 1:45. Berbicara konsep pembelajaran ideal, hal tersebut tentu beralasan, namun ketika berbicara dalam konteks realita, perlu ada penanganan terintegrasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan menonaktifan kampus.

Masalah dosen tidak terlalu berbeda dengan masalah guru bahkan pendidikan di Indonesia, kata kuncinya adalah kualitas, kuantitas, dan pemerataan. Kita kesampingkan dulu 5,4 jutaan mahasiswa di Indonesia, dan fokus pada 270 ribuan dosen dimana sepertiganya masih lulusan S1 dan hanya 11% yang bergelar doktor. Dari sejumlah dosen ini, hanya sekitar 60% yang dosen tetap dan hanya sekitar 40% yang sudah tersertifikasi. Jika hanya ada sekitar 108 ribuan dosen yang memenuhi kualifikasi untuk mengajar 5,4 jutaan mahasiswa, artinya nisbah dosen – mahasiswa hanya 1:50, tidak memenuhi persyaratan Undang-undang. Padahal hitung-hitungan tersebut belum memperhatikan aspek spesialisasi dan persebaran dosen, sehingga tidak heran rasio dosen – mahasiswa yang ideal masih sulit dipenuhi.

Akhirnya, masalah penonaktifan kampus mau tidak mau merambat ke sistem penyiapan dosen, apalagi standarnya dosen sudah tidak boleh hanya lulusan S1. Selain itu juga perlu diperhatikan masalah kesejahteraan dosen dengan kerumitan kerja yang harus dihadapi. Terciptalah rantai setan permasalahan. Kampus dinonaktifkan membuat jumlah kampus semakin dikit. Semakin sedikit kampus, semakin sedikit mahasiswa, pendapatan kampus dari mahasiswa semakin sedikit, gaji dosen tidak naik, semakin sedikit yang mau jadi dosen, rasio dosen – mahasiswa tidak terpenuhi. Kampuspun dinonaktifkan, terus begitu. Kampus pun menaikkan biaya pendidikan untuk memutus rantai setan tersebut, namun yang terjadi adalah diskriminasi pendidikan, dimana hanya masyarakat mampu saja yang dapat mengenyam pendidikan tinggi.

Karenanya, permasalahan ini harus diurai secara sistematis dan terintegrasi. Perlu ada desain besar pengelolaan pendidikan tinggi, agar kebijakan yang dilakukan tidak reaktif. Adalah aneh jika mengharapkan angka partisipasi pendidikan tinggi naik dengan sekadar menonaktifkan kampus. Aneh juga berharap peningkatan jumlah dosen tanpa memperhatikan pembinaan dan kesejahteraan mereka sebagaimana tidak masuk akalnya mengharapkan seluruh kampus memenuhi standar minimum tanpa melakukan pembangunan pendidikan yang adil dan merata.

Tindakan tegas terhadap kampus yang melanggar hukum memang diperlukan, namun pembinaan jangan dilupakan. Kampus-kampus besar perlu dikembangkan, bahkan jika perlu dikuatkan dengan membangun cabang di daerah dan dikolaborasikan dengan kampus-kampus kecil untuk keterjaminan kualitas dan pemerataan. Kuantitas dan kualitas dosen perlu diperbaiki dan dimeratakan. Kesejahteraan dosen diperhatikan tanpa harus melakukan diskriminasi pendidikan. Peran serta masyarakat perlu diapresiasi dan ditingkatkan sehingga kampus dengan masyarakat dapat saling mengedukasi dan menguatkan. Pendidikan (tinggi) berkualitas untuk semua pun bukan lagi sebatas wacana.

Inspirasi Merawat Indonesia dari Mancanegara

“Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu” (Imam Syafi’i)

Beberapa tahun lalu, Rhenald Kasali, salah seorang Guru Besar FEUI membuat tulisan tentang paspor yang disebutnya sebagai “surat izin memasuki dunia global”. Tanpa paspor, manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, dan menjadi pemimpin yang steril. Yang dimaksudkan Pak Rhenald tentu bukan sekedar keberadaan paspor, tetapi penggunaannya dalam bepergian ke luar negeri. Sebegitu pentingnya kah ‘tamasya’ ke mancanegara?

Indonesia Negara yang ramai dan ramah, penduduknya yang banyak takkan merasa kesepian. Indonesia Negeri yang kaya akan keragaman, hampir semua sketsa keindahan dunia ada di Indonesia. Mulai dari panorama dasar laut, pantai, sawah, hutan, hingga gunung berpuncak salju dapat ditemukan di nusantara. Lalu buat apa wisata ke luar negeri yang hanya menambah devisa Negara destinasi? Apalagi seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, gambaran tentang Negara-negara di penjuru dunia sudah terpampang jelas di dunia maya.

Katak yang terkungkung dalam tempurung akan melompat lebih rendah dibandingkan katak yang hidup di alam bebas. Tak heran, banyak pemimpin besar lahir dari mereka yang pernah merasakan perjalanan jauh ke tempat baru yang memberi inspirasi tersendiri yang mewarnai hidup mereka. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, begitu kata petuah Arab. Bukan Cina sebagai satu-satunya destinasi yang ditekankan, tapi betapa banyak hikmah yang dapat diambil dari setiap perjalanan. Hikmah yang lebih membentang cakrawala dalam berpikir dan bertindak.

Inspirasi itu datang melalui proses panjang, bahkan sekalipun ‘belum berhasil’ menempuh perjalanan ke luar negeri, hikmah itu sudah dapat dirasakan. Saya pernah urung mempresentasikan paper dalam kegiatan World Zakat Forum di New York, USA karena terbentur dengan berbagai prioritas kegiatan lain. Namun pengalaman mengurus visa USA yang penuh lika-liku bisa jadi cerita tersendiri. Dan dalam banyak kesempatan, selalu ada skenario lebih indah yang menyertai ‘asa yang tertunda’ asalkan ada keyakinan dan ikhtiar nyata. Karenanya kisah perjuangan yang tidak mudah untuk dapat menuai hikmah di luar negeri bisa menjadi inspirasi dan bahan refleksi diri.

Inspirasi itu hadir melalui interaksi lintas bahasa dan lintas budaya. Ada berbagai hal positif yang dapat diambil hikmahnya dan potret negatif yang kian memperkaya rasa syukur kita. Memang sudah menjadi watak manusia untuk kurang bersyukur sebelum kehilangan. Kecintaan terhadap tanah air akan semakin menguat di negeri orang, setidaknya itulah yang pernah saya rasakan. Di balik kekaguman akan kedisiplinan dan penataan kota di Singapura misalnya, ada semburat syukur atas potret Indonesia yang lebih humanis dan ramah. Di balik inspirasi akan fokus, kerja keras dan kemandirian penduduk negeri India, ada kebanggaan tersendiri menjadi warga Negara Indonesia yang lebih egaliter dan santun. Tekad untuk merawat Indonesia pun kian berkobar. Nilai rasa yang tidak tergantikan hanya dari telusur literatur ataupun berselancar di dunia maya.

Dunia adalah sebuah buku dan orang-orang yang tidak pernah melakukan perjalanan ia hanya membaca satu halaman. Hikmah dapat datang dari mana saja. Sesekali kita memang perlu menengok dari luar untuk memperbaiki rumah kita. Tentu berbagai inspirasi menandang mancanegara untuk merawat Indonesia tidak sebanding dengan inspirasi yang langsung dirasakan dengan bertualang ke negeri orang. Semoga kumpulan tulisan ini bukan sekedar menginspirasi, tetapi juga mampu memotivasi kita untuk bergabung sebagai para penjelajah hikmah perjalanan. Perjalanan yang –kata Imam Syafi’i—mampu melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” (H. Jackson Brown Jr.)

*tulisan ini merupakan kata pengantar buku online “Menandangi Mancanegara” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara