Inspirasi Merawat Indonesia dari Mancanegara

“Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu” (Imam Syafi’i)

Beberapa tahun lalu, Rhenald Kasali, salah seorang Guru Besar FEUI membuat tulisan tentang paspor yang disebutnya sebagai “surat izin memasuki dunia global”. Tanpa paspor, manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, dan menjadi pemimpin yang steril. Yang dimaksudkan Pak Rhenald tentu bukan sekedar keberadaan paspor, tetapi penggunaannya dalam bepergian ke luar negeri. Sebegitu pentingnya kah ‘tamasya’ ke mancanegara?

Indonesia Negara yang ramai dan ramah, penduduknya yang banyak takkan merasa kesepian. Indonesia Negeri yang kaya akan keragaman, hampir semua sketsa keindahan dunia ada di Indonesia. Mulai dari panorama dasar laut, pantai, sawah, hutan, hingga gunung berpuncak salju dapat ditemukan di nusantara. Lalu buat apa wisata ke luar negeri yang hanya menambah devisa Negara destinasi? Apalagi seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, gambaran tentang Negara-negara di penjuru dunia sudah terpampang jelas di dunia maya.

Katak yang terkungkung dalam tempurung akan melompat lebih rendah dibandingkan katak yang hidup di alam bebas. Tak heran, banyak pemimpin besar lahir dari mereka yang pernah merasakan perjalanan jauh ke tempat baru yang memberi inspirasi tersendiri yang mewarnai hidup mereka. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, begitu kata petuah Arab. Bukan Cina sebagai satu-satunya destinasi yang ditekankan, tapi betapa banyak hikmah yang dapat diambil dari setiap perjalanan. Hikmah yang lebih membentang cakrawala dalam berpikir dan bertindak.

Inspirasi itu datang melalui proses panjang, bahkan sekalipun ‘belum berhasil’ menempuh perjalanan ke luar negeri, hikmah itu sudah dapat dirasakan. Saya pernah urung mempresentasikan paper dalam kegiatan World Zakat Forum di New York, USA karena terbentur dengan berbagai prioritas kegiatan lain. Namun pengalaman mengurus visa USA yang penuh lika-liku bisa jadi cerita tersendiri. Dan dalam banyak kesempatan, selalu ada skenario lebih indah yang menyertai ‘asa yang tertunda’ asalkan ada keyakinan dan ikhtiar nyata. Karenanya kisah perjuangan yang tidak mudah untuk dapat menuai hikmah di luar negeri bisa menjadi inspirasi dan bahan refleksi diri.

Inspirasi itu hadir melalui interaksi lintas bahasa dan lintas budaya. Ada berbagai hal positif yang dapat diambil hikmahnya dan potret negatif yang kian memperkaya rasa syukur kita. Memang sudah menjadi watak manusia untuk kurang bersyukur sebelum kehilangan. Kecintaan terhadap tanah air akan semakin menguat di negeri orang, setidaknya itulah yang pernah saya rasakan. Di balik kekaguman akan kedisiplinan dan penataan kota di Singapura misalnya, ada semburat syukur atas potret Indonesia yang lebih humanis dan ramah. Di balik inspirasi akan fokus, kerja keras dan kemandirian penduduk negeri India, ada kebanggaan tersendiri menjadi warga Negara Indonesia yang lebih egaliter dan santun. Tekad untuk merawat Indonesia pun kian berkobar. Nilai rasa yang tidak tergantikan hanya dari telusur literatur ataupun berselancar di dunia maya.

Dunia adalah sebuah buku dan orang-orang yang tidak pernah melakukan perjalanan ia hanya membaca satu halaman. Hikmah dapat datang dari mana saja. Sesekali kita memang perlu menengok dari luar untuk memperbaiki rumah kita. Tentu berbagai inspirasi menandang mancanegara untuk merawat Indonesia tidak sebanding dengan inspirasi yang langsung dirasakan dengan bertualang ke negeri orang. Semoga kumpulan tulisan ini bukan sekedar menginspirasi, tetapi juga mampu memotivasi kita untuk bergabung sebagai para penjelajah hikmah perjalanan. Perjalanan yang –kata Imam Syafi’i—mampu melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” (H. Jackson Brown Jr.)

*tulisan ini merupakan kata pengantar buku online “Menandangi Mancanegara” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>