Pijar Sang Pembelajar

“Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu. Ku akan menaklukkan malam dengan jalan pikiranku. Sampaikanlah pada bapakku, aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini, kegelisahan manusia. Rataplah malam yang dingin. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki malam. Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka-teki keadilan…” (Ost. Gie)

Sebut saja Anto, seorang aktivis mahasiswa kelas kakap yang tengah bimbang dengan masa depannya. Semangat berapi-apinya ketika di mimbar demonstrasi seolah tiada arti di hadapan dosen pembimbing akademisnya saat ini. Ia memandangi Kartu Rencana Studi (KRS)-nya yang masih menyisakan beberapa mata kuliah yang harus diselesaikan di semester akhir kuliahnya. Belum lagi skripsinya masih terbengkalai dan aktivitasnya di luar kelas membuatnya telat mengetahui informasi bahwa dosen pembimbing skripsinya sudah berangkat ke luar negeri selama beberapa bulan ke depan untuk menyelesaikan gelar PhD-nya. Ganti judul dan dosen pembimbing skripsi tentu butuh effort besar, belum lagi masih ada mata kuliah yang harus diulang. Ia bingung hendak meminta bantuan ke siapa, sementara teman-teman seangkatannya sudah lulus semua. Ia malu untuk bertemu orang tuanya yang selalu bertanya kapan dirinya diwisuda.

Lain halnya dengan Anti, mahasiswa tingkat akhir yang tengah mengurung diri di kamarnya. Belakangan ini kondisi fisiknya menurun, susah tidur dan kepalanya sering sakit. Kemungkinan dirinya tengah depresi berat. Orang tuanya tampak menyerah menghadapi anaknya yang tiba-tiba saja jadi sensitif dan malas beraktivitas. Sementara tidak ada temannya yang menjenguk dan menghiburnya. Sebelumnya, kuliahnya lancar sampai di semester-semester akhir semakin banyak tugas presentasi yang tidak disukainya. Anti mengalami kesulitan berbicara di depan kelas dan menjadi bahan olok-olok. Label ‘kutu buku gagu’ pun dilekatkan teman-temannya padanya. Puncaknya, ia ‘blank’ dalam seminar skripsi beberapa hari lalu. Presentasi yang sudah dipersiapkannya pun gagal total. Kegagalan yang harus dihadapinya sendirian.

* * *

Masa kuliah adalah masa yang penuh vitalitas, kaya akan impian dan idealisme yang didukung dengan kesegaran potensi jiwa, fisik dan akal. Masa kuliah adalah fase kehidupan yang penuh semangat dan dinamika, dimana mahasiswa merupakan golongan elit pemuda terpelajar yang memiliki potensi besar. Keberadaan mahasiswa dengan potensi keilmuannya sangat diharapkan dapat menjadi solusi bagi kompleksnya problematika bangsa. Mahasiswa juga kerap dipandang sebagai golongan penyalur aspirasi masyarakat yang solid dan massif. Belum lagi, jika melihat perjalanan sejarah, kumpulan pemuda penuh intelektual ini selalu menjadi yang terdepan dalam menggagas perubahan. Ya, di setiap titik perubahan besar dalam sejarah, pemuda selalu hadir memberikan kontribusinya. Menjadi pahlawan pada zamannya.

Pertanyaannya, potensi kepahlawanan tersebut dimiliki oleh mahasiswa seperti apa? Apakah mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang), kura-kura (kuliah rapat – kuliah rapat) atau bahkan mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring – kuliah nangkring)? Secara umum, ada empat domain prestasi yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa dan diseimbangkan. Pertama, domain spiritualitas yang menjadi pondasi dasar pemuda dalam berpikir dan bersikap. Kekuatan spiritual akan menjaga pemiliknya dari perilaku menyimpang, disorientasi dan berbagai energi negatif lainnya. Domain inilah yang akan membentuk karakter berkualitas dengan paradigma yang benar. Kedua, domain intelektual yang mengharuskan pemiliknya terus menjadi pembelajar seumur hidup. Mengisi hari dan hidupnya dengan ilmu yang bermanfaat dan mengaplikasikannya untuk kebermanfaatan yang luas. Sifatnya yang terus berkembang memungkinkan pemiliknya untuk terus menggali sumber ilmu kapanpun, dimanapun dan dari siapa (atau apa) pun. Ketiga, domain pengembangan diri yang akan melengkapi kapasitas intelektual. Penguasaan bahasa, keterampilan dan kepemimpinan, misalnya, akan melipatgandakan potensi yang dimiliki. Domain ini juga akan mendorong terciptanya kompetensi spesifik dan tajam. Keempat, domain sosial yang akan menyeimbangkan sisi individual pemiliknya dengan dunia luar di sekelilingnya. Kekuatan sosial ini jika dipenuhi dengan interaksi lingkungan yang positif akan membuat hidup lebih bermakna. Domain ini akan mengantarkan pada kekayaan jiwa, keberkahan ilmu dan kebermanfaatan diri.

Kasus Anto mencerminkan mahasiswa yang kuat di domain pengembangan diri dan sosial, namun lemah di domain intelektual. Ia pun akan tertinggal. Sementara Anti sebaliknya, fokus di domain intelektualnya melupakan domain spiritual, pengembangan diri dan sosialnya. Ia pun terpuruk. Menyeimbangkan keempat domain tersebut memang tidak mudah, namun mengabaikan salah satunya saja akan menghambat optimalisasi kualitas diri. Mahasiswa jenis kupu-kupu, kura-kura, ataupun kunang-kunang harus bertransformasi menjadi ’kutu kupret’ yang produktif: kuliah bermutu, kuliah berprestasi.

Kualitas dan produktivitas mahasiswa tidak hanya ditentukan di bangku kuliah, produktivitas juga tercermin dalam aktivitas organisasi, bahkan nangkring pun bisa produktif. Menjadi kontraproduktif jika jadi aktivis hanya sebagai pelarian karena gagal di akademis. Di sisi lain, kontribusi mahasiswa juga tidak dimonopoli mereka yang turun ke jalan atau terjun langsung ke masyarakat. Mahasiswa yang gemar dengan diskusi, mengikuti kajian, bahkan riset di laboratorium pun dapat berkontribusi ke masyarakat. Sebagaimana prestasi mahasiswa pun tidak melulu terkait akademik, keunggulan di ranah non-akademik pun dapat menjadi prestasi yang membanggakan.

Kesia-siaan dalam hidup biasanya diawali dari kesia-siaan dalam menjalani masa muda, yaitu dengan banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Padahal potensi yang dimiliki sebenarnya begitu besar, tidak akan habis jika hanya ‘sekadar’ mengikuti banyak kompetisi atau mencoba menorehkan banyak prestasi. Bahkan biasanya waktu akan lebih efektif di tangan mereka yang sibuk. Aktivis pembelajar akan mengoptimalkan waktunya dengan aktivitas bermanfaat. Sebaliknya, mahasiswa yang bermasalah justru banyak diisi mereka yang ’tidak jelas kerjaannya’.

Pengembangan kualitas diri ini akan terhenti ketika aktivis berhenti belajar. Tidak berani melakukan sesuatu yang baru. Stagnan. Karenanya, gelora kontribusi aktivis akan terus bergemuruh selama perbaikan diri terus dilakukan tak kenal henti. Pijar prestasi aktivis kan terus bersinar kala mereka terus belajar. Dan hanya para pembelajar sejati lah yang akan mampu menyeimbangkan domain prestasinya. Melahirkan pribadi-pribadi unggul yang siap melakukan perubahan besar yang akan menggoncangkan dunia. Dan jika bukan tidak mungkin pribadi unggul itu adalah kita, tak tergerakkah kita untuk mencoba mengoptimalkan potensi yang kita miliki? Tak tertarikkah kita untuk menjadi pahlawan pada zaman ini?

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Soekarno)

*tulisan ini merupakan kata pengantar bukuonline “Pijar-pijar Aktivis Pembelajar” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>