Retorika dan Aksi Nyata Mahasiswa untuk Indonesia

Di sini negeri kami, tempat padi terhampar. Samuderanya kaya raya, negeri kami subur, Tuhan. Di negeri permai ini, berjuta rakyat bersimbah luka. Anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja. Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar. Bunda relakan darah juang kami, ‘tuk membebaskan rakyat…

Lagu ‘Darah Juang’ di atas tampaknya tidak asing di kalangan aktivis mahasiswa. Bersama dengan ‘lagu-lagu perjuangan’ lain seperti ‘Berderap dan Melaju’, ‘Buruh Tani’ atau ‘Totalitas Perjuangan’, senandung ‘Darah Juang’ biasa menemani aksi mahasiswa yang acap kali penuh retorika. Keberpihakan mahasiswa terhadap rakyat ketika menggelar parlemen jalanan jelas tersurat dalam lirik lagu-lagu tersebut. Retorika kian terasa dalam mimbar dan podium demonstrasi, menguatkan asa rakyat jelata bahwa masih ada mahasiswa yang memperjuangkan nasib mereka. Pun baru sebatas retorika.

Dalam memperjuangkan  perbaikan bagi bangsa, tidak salah menggunakan retorika. Sebab retorika mampu menyalakan harapan, membakar semangat juang, sekaligus pengingat yang dapat memanaskan telinga para penguasa. Apalagi retorika yang penuh data. Namun tentu akan jadi ironi ketika perjuangan berhenti pada tataran retorika tanpa aksi. Sebatas memobilisasi massa tanpa berupaya menggerakkan masyarakat untuk lebih mandiri dan berdaya. Sekadar turun ke jalan tanpa coba turun tangan menyelesaikan masalah riil di lapangan. Hanya lelah berkoar-koar tanpa pernah merasakan kepayahan dalam berkontribusi nyata di tengah masyarakat.

Saat ini tidak sedikit masyarakat yang skeptis dengan gerakan mahasiswa, karena dinilai hanya sebatas retorika tanpa aksi nyata. Wacana mahasiswa yang kaya pembaharuan ibarat ada di menara gading, sementara permasalahan rakyat yang kompleks ada di dasar samudera. Terlampau terbentang jarak antara mahasiswa dengan masyarakatnya. Padahal Tri Dharma Perguruan Tinggi butir terakhir adalah pengabdian masyarakat yang menuntut aksi nyata. Tak salah Tan Malaka pernah mengingatkan, “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia memang masih lebih asyik bermain dalam ranah kognitif teoritis, belum benar-benar mempertemukan mahasiswa dengan dunia paska kampus, termasuk realita masyarakat. Namun kesadaran mahasiswa dan pihak kampus untuk menebar kebermanfaatan ke tengah masyarakat saat ini semakin tinggi. Kampus dan organisasi kemahasiswaan mulai berlomba menjalankan program sosial kemasyarakatan. Di satu sisi, tuntutan akademis membuat mahasiswa kian apatis dan individualis. Di sisi lain, kompleksitas masalah justru mendorong banyak pihak berpartisipasi dalam mengurai permasalahan masyarakat.

Dan asa itu masih banyak tersisa, semangat mahasiswa masih bergelora, retorika akan segera dilengkapi dengan aksi nyata. Hipotesis bahwa mahasiswa hanya pandai bicara akan terbantahkan. Karena kenyataannya, banyak mahasiswa yang aktif berkarya di tengah masyarakat. Di berbagai wilayah nusantara, menjawab permasalahan masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Jumlahnya juga bukan cuma satu dua. Para mahasiswa ini bekerja untuk kepentingan rakyat Indonesia, bergerak bersama ‘tuk wujudkan cita mulia: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Kekuatan suatu bangsa terletak pada simpul terlemahnya. Kemiskinan adalah simpul terlemah bangsa ini, sehingga advokasi, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat marginal merupakan sebuah upaya strategis untuk melipatkangandakan kekuatan bangsa. Butuh pengorbanan dan tidak bisa sendirian memang, namun harus ada yang berani memulai. Rakyat yang sudah jemu akan janji palsu para pengampu kebijakan, banyak menggantungkan harapannya kepada para mahasiswa yang memiliki semangat, vitalitas, intelektualitas, sekaligus idealisme yang tinggi. Kelompok elit masyarakat yang senantiasa hadir membawa perubahan.

Bagaimanapun, pemuda hari ini adalah pemimpin bangsa di masa depan. Jika hari ini dunia pendidikan cuma memproduksi ‘robot-robot bernyawa’, masa depan bangsa akan jauh dari kreativitas dan berdaya. Jika hari ini kampus hanya menghasilkan sarjana yang pandai beretorika, kebangkitan bangsa Indonesia hanya akan berkutat dalam wacana. Namun ketika hari ini banyak sekumpulan pemuda yang peduli terhadap masyarakatnya, dan berkontribusi nyata dengan segenap cinta bagi bangsa dan negara, masa depan bangsa akan cerah dan berjaya. Menuju kegemilangan Indonesia yang dimulai hari ini, dari diri kita, untuk mulai menebar karya dan kontribusi nyata demi kemajuan bangsa.

Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat Indonesia!!!

*tulisan ini merupakan prakata dalam buku “Hak Rakyat Digasak, Mahasiswa Bergerak!” karya penerima Beasiswa Aktivis Nusantara

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>