7 Mitos dalam Berinovasi (2/2)

Inovasi butuh biaya mahal
Di beberapa negara maju, ada bagian jalan yang dipasangi sel surya sebagai sumber energi alternatif. Memasang solar cell di sepanjang jalan tentu butuh biaya besar, dan memang tidak sedikit produk inovasi yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, misalnya kereta api cepat ataupun mobil listrik. Biaya yang dianggap wajar untuk sebuah pembaharuan, tetapi apakah inovasi harus berbiaya mahal? Tentu tidak. Grameen Bank sebagai sebuah contoh inovasi sosial yang saat ini asetnya sudah mencapai miliaran dolar ternyata dimulai hanya dengan modal 20 sen. Wikipedia yang jauh mengalahkan Microsoft Encarta bahkan Encyclopedia Britannica dari segi jumlah kontributor dan banyaknya pengetahuan yang tersimpan di dalamnya, ternyata biaya pembuatan dan perawatannya jauh lebih murah dibandingkan ensiklopedia besar lain yang sudah lebih dulu eksis. Inovasi tidak harus berbiaya mahal, dan inovasi berbiaya mahal belum tentu juga lebih baik dari inovasi rendah biaya.

Semakin banyak produk inovatif yang ditawarkan berarti semakin baik
Perusahaan-perusahaan besar memiliki perhatian yang sangat besar terhadap produk inovasi, ketatnya kompetisi membuat mereka terus berinovasi. Hanya saja tidak jarang inovasi yang dilakukan justru kontraproduktif dengan keberhasilan yang mereka harapkan. Terus berinovasi memang penting namun tidak semua produk inovasi akan cocok di pasaran. Coca Cola dan Pepsi pernah mengalaminya ketika membuat varian rasa baru. Alih-alih menarik konsumen, inovasi produk tersebut justru berakhir pada kegagalan. Bahkan perusahaan sekelas Microsoft dan Google pun pernah mengeluarkan produk inovasi yang justru mendatangkan kerugian yang tidak sedikit. Inovasi tidak seharusnya sekadar menawarkan hal yang baru namun tidak sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan pasar. Perhatian terhadap kekhasan dan keunggulan produk juga perlu menjadi perhatian. Memperbanyak varian produk –seinovatif apapun—belum tentu berbanding lurus dengan hasil yang diperoleh.

Inovasi yang berhasil adalah inovasi yang berbeda, besar, dan berkualitas
Era industri yang telah berlalu, digantikan dengan era informasi dan pengetahuan ternyata turut memberi dampak pada paradigma inovasi. Di masa lalu, semakin baru dan canggih sebuah produk inovasi, maka semakin hebat. Saat ini, ukuran kualitas sebuah inovasi justru lebih banyak dilihat kesesuaian dengan kebutuhan dan permintaan pasar, serta dampak dan kebermanfaatannya. Jika dahulu karya inovasi yang unggul adalah yang unik dan sulit ditiru, di era pengetahuan justru kemudahan sebuah produk inovasi untuk bisa digunakan oleh semua orang menjadi nilai keunggulan. Tidak perlu benar-benar berbeda dan rumit, karya inovasi yang sederhana namun dapat dimanfaatkan secara luas akan lebih dianggap berkualitas.

Inovator adalah sosok luar biasa dan berbakat
Apakah inovasi merupakan bakat atau dapat dibentuk? Setiap manusia sejatinya dikaruniai kemampuan berpikir dan mengeluarkan ide, tetapi berapa banyak di antara mereka yang mengimplementasikan ide tersebut dalam sebuah karya inovatif. Sebesar apapun bakat kreativitas seseorang, jika tidak disertai dengan aksi nyata, tentu takkan berbuah inovasi. Aksi seadanya ternyata tidak cukup, belajar dari para inovator hebat seperti Thomas Alfa Edison ataupun Steve Jobs, inovasi harus disertai dengan konsistensi dan persistensi. Kesungguhan dalam menghasilkan sebuah karya inovasi lebih menentukan dibandingkan sekadar bakat. Dan ternyata hampir semua karya inovatif adalah hasil kolaborasi bukan karya seorang individu, pun mungkin sosok yang muncul dikenal public hanya seorang. Ya, selain imajinasi, transformasi, aksi dan konsistensi, inovasi juga butuh kolaborasi. Sehingga tidak ada seseorang yang paling layak menjadi seorang innovator, sebab setiap diri kita punya bakat untuk menjadi seorang inovator.

“I believe in being an innovator” (Walt Disney)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>