Monthly Archives: June 2016

Puasa: Metamorfosis Kupu-kupu atau Lebah?

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang dibukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibangun manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan” (QS. An-Nahl: 68 – 69)

Ibadah puasa kerap dianalogikan sebagai proses metamofosis yang dilakukan ulat untuk berubah menjadi kupu‑kupu, yaitu perubahan dari sesuatu yang menjijikkan dan menakutkan (ulat) menjadi sesuatu yang indah dan menarik serta memberi banyak manfaat bagi makhluk lain (kupu-­kupu). Analogi menarik, dan lebih menarik dibandingkan jika mengambil analogi metamorfosis yang dilakukan binatang lain, seperti capung, jangkrik, belalang, lalat, ataupun nyamuk. Apalagi jika dibandingkan metamorfosis katak atau kecoa. Puasanya ulat juga lebih menarik untuk diambil hikmahnya dibandingkan dengan puasanya hewan lain seperti unta, kukang, ular, biawak, ataupun ayam betina.

Namun ada binatang yang juga melakukan metamorfosis sempurna –melewati fase telur, larva (ulat), pupa (kepompong), imago (dewasa)– yang seakan dilupakan. Salah satu dari tiga serangga yang menjadi nama surah dalam Al Qur’an, yaitu lebah. Jika kata An Nahl (lebah) dijadikan nama surah ke-16 Al Qur’an dan disebutkan dalam ayat ke-68 di surah tersebut, kata Al Farasya (kupu-kupu) justru disebutkan dalam surah Al Qari’ah yang menggambarkan kondisi manusia ketika datang hari kiamat. “Pada hari itu manusia adalah seperti kupu-kupu yang bertebaran” (QS. Al Qari’ah: 4). Lalu bagaimana perbandingan analogi metamorfosis pada kupu-kupu dan lebah dengan puasa Ramadhan?

Fase telur kupu-kupu dan lebah relatif sama. Bedanya kupu-kupu bertelur di outdoor sementara lebah bertelur dalam sarangnya. Lebih aman, dijaga lebah dewasa pula. Selanjutnya telur menetas menjadi larva (ulat). Larva kupu-kupu (ulat) sangat menjijikkan bentuknya, kadang bahkan tubuhnya diselimuti duri yang beracun. Tidak sampai mematikan manusia sih, tapi cukup membuat bengkak dan gatal-gatal. Tidak hanya itu, ulat ini sangat aktif makan (jika tidak bisa dibilang serakah) sehingga merusak tumbuhan yang ditinggalinya. Sementara larva lebah tetap tinggal di sarangnya, makanannya pun disediakan oleh lebah yang merawatnya. Secara fisik memang agak menggelikan –istilah yang sepertinya lebih tepat dibandingkan menjijikkan—namun larva lebah tidak merusak. Bahkan dengan komposisi yang dikandungnya, larva lebah dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Menganalogikan manusia sebelum Ramadhan dengan ulat berarti memandang calon kontestan Ramadhan sebagai pribadi menakutkan yang berbuat kerusakan. Analogi yang lebih cocok untuk menggambarkan orang kafir sebelum memperoleh hidayah. Padahal sebelum Ramadhan, umat muslim seharusnya sudah mulai membiasakan amal shalih yang nantinya akan diperkuat di bulan Ramadhan. Bekal Ramadhan bukanlah dengan makan sebanyak mungkin atau berbuat kerusakan sebesar mungkin. Dalam konteks muhasabah (introspeksi) mungkin boleh, tetapi terlalu hina memandang diri sendiri juga bisa membuat manusia berputus asa dari Rahmat Allah. Yang lebih tepat adalah menyadari kekurangan diri, memperbanyak bekal persiapan, tidak berbuat kerusakan dan terus mencoba memberikan manfaat. Bisa saja Allah tidak menyampaikan pada bulan Ramadhan. Ya, seperti larva lebah.

Selanjutnya, larva kupu-kupu dan lebah akan menjadi pupa selama beberapa hari, pekan atau bulan (tergantung spesiesnya) dan berkembang ke bentuk yang lebih baik mengandalkan cadangan makanan yang diperolehnya ketika menjadi larva. Proses di dalam pupa kupu-kupu lebih radikal karena terjadi histolisis atau penghancuran dari dalam jaringan atau tubuh sendiri menggunakan cairan yang sebelumnya digunakan untuk mencerna makanan. Lalu histoblast pada larva akan menyusun ulang tubuh tersebut sehingga mampu menghasilkan bentuk yang (jauh) berbeda dengan fase larvanya. Kondisi pupa ini tidak boleh bocor atau mendapat gangguan berarti karena dapat menggangu jalannya histogenesis atau proses penyusunan ulang. Lebah lebih beruntung karena selama fase pupa dijaga oleh lebah dewasa, selain itu cadangan makanan yang ada di sarang (luar tubuh) membuat histolisisnya tidak terlalu radikal.

Seberapa revolusioner puasa mampu mengubah seseorang memang dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah hidayah dan persiapan menjelang Ramadhan. Persiapan Ramadhan yang cukup tidak akan mendatangkan lonjakan semangat tinggi sesaat ketika Ramadhan yang kemudian lenyap setelah Ramadhan berlalu. Namun memang ada manusia yang memperoleh pencerahan sebagai titik baliknya di bulan Ramadhan. Ia akan berubah secara signifikan keluar dari Ramadhan. Apalagi di dalam Ramadhan ada malam Lailatur Qadar yang juga menjanjikan hal tersebut. Namun ada juga yang berubah secara inkremental atau continuous improvement. Perubahan yang biasanya lebih terjaga.

Kemudian, dari pupa tersebut keluarlah kupu-kupu dan lebah dewasa. Kupu-kupu harus berjuang hidup dalam kemandirian, sementara lebah hidup dalam koloni. Bukan sekedar berjama’ah, lebah juga itqon (profesional). Koloni lebah memiliki pembagian tugas yang jelas, teratur, tertib, disiplin, dan penuh semangat bergotong-royong. Sementara kupu-kupu lebih individualis. Lebah juga gesit dan pekerja keras. Sayapnya berkepak hingga ratusan kali per detik. Dalam sehari, lebah pekerja mampu mengumpulkan nektar dari 250 ribu tangkai bunga dan butuh jarak tempuh lebih dari 1 juta kilometer untuk menghasilkan 1 kg madu. Lebah juga berani dan rela berkorban, menyengat musuh akan membawanya pada kematian. Sementara kupu-kupu lebih indah dipandang. Ya, hanya itu. Pun lebah juga arsitek pembuat sarang indah sih. Kupu-kupu dan lebah sama-sama berperan sebagai polinator yang membantu proses penyerbukan, dan sama-sama makan yang baik tanpa merusaknya. Bedanya, lebah akan menghasilkan madu, lilin lebah, tepung sari (pollen), propolis, susu lebah (royal jelly), hingga sengat lebah yang semuanya bermanfaat. Sedangkan kupu-kupu menghasilkan telur yang akan menjadi larva (ulat) yang menjijikkan dan merusak.

Keberkahan ibadah Ramadhan seseorang dapat dilihat selepas Ramadhan, bukan hanya secara fisik, namun juga dari kekuatan ruhiyah dan apa yang ditinggalkan. Ramadhan bukanlah bulan untuk menguruskan badan sehingga lebih enak untuk dilihat. Bukan pula bertujuan menghasilkan lulusan madrasah Ramadhan yang seakan berbeda dengan sebelum Ramadhan. Ramadhan mengharapkan ada jejak perbaikan jelas yang ditinggalkan, kontribusi nyata yang diberikan, dan kebaikan yang diwariskan. Menghadirkan banyak kebaikan secara berjama’ah dan terorganisir. Tidak hilang kebaikannya seiring berlalunya Ramadhan. Tidak kembali membuat kerusakan dan terlalaikan oleh tipu daya dunia. Ya, menjadi seperti lebah, bukan belalang kupu-kupu yang inkonsisten.

Perumpamaan diriku dengan kalian bagaikan seseorang yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron dan kupu-kupu berjatuhan pada api itu, sedangkan ia selalu mengusirnya (serangga-serangga tersebut) dari api tersebut. Dan aku (selalu berusaha) memegang (menarik) ujung-ujung pakaian kalian agar kalian tidak terjerumus ke dalam neraka, namun kalian (selalu) terlepas dari tanganku” (HR. Muslim)

Dikira Enak Jadi Guru? (2/2)

Selepas istirahat, waktunya pelajaran matematika yang paling jadi momok menakutkan buat siswa. Bu Guru menyadari bahwa ia harus membuat kelasnya seaktif dan semenyenangkan mungkin. Bu Guru memulai kelas dengan bertanya kepada Sandi, “Sandi, apa yang sudah kita pelajari di pekan lalu?”. “Plis lah Bu, yang udah lalu ga usah diingat-ingat lagi, saya mau move on nih…”, jawab Sandi seraya menunjukkan mimik aneh diiringi tawa murid yang lain. “Sudah! Tenang! Hari ini kita lanjutkan materi tentang sudut segitiga…”, ujar Bu Guru sambil membawa kapur dan penghapus menuju papan tulis. Bu Guru menghapus tulisan dari pelajaran sebelumnya kemudian menggambar sebuah segitiga sama sisi.

“Baik anak-anak, ini adalah segitiga ABC. Segitiga sama sisi yang panjang ketiga sisinya sama”, jelas Bu Guru menunjuk segitiga yang digambarnya. “Besar sudut A adalah 60 dera…?”, tanya Bu Guru. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak. “Besar sudut B adalah 60 dera…?”, tanyanya lagi. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak. “Dan besar sudut C juga 60 dera…?”, tanyanya lagi. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak. “Jadi, ketiga sudut segitiga sama sisi sama be…”, tanyanya lagi. “Jaat…”, jawab murid-murid serentak sambil tertawa. “Haduh, yang benar ketiga sudutnya sama besar!!”, teriak Bu Guru sambil memukulkan penghapus di papan tulis agar para murid terdiam. “Kalian ini kelas berapa sih? Kok pada ga bisa serius. Ibu kasih soal yang mudah biar tahu kalian fokus atau tidak”, lanjutnya. Para murid pun (seolah-olah) menatapnya serius. “Pertanyaannya, jika tante kalian memberi 5 permen kepada kalian, kemudian di tambah lagi dengan 7 permen, ditambah lagi 12 permen, ditambah lagi 19 permen maka jawabannya adalah…?”, tanya Bu Guru berharap muridnya mau sedikit berpikir. “Terima kasih, Tanteee!!”, jawab murid-murid serentak sambil tergelak. Bu Guru hanya menepuk jidatnya, tak sadar masih memegang penghapus, sehingga jidatnya jadi putih. Tawa para siswa pun kian membahana.

Pelajaran Matematika pun berjalan dengan tidak kondusif, mungkin para siswa kekenyangan jajan pas jam istirahat tadi. Laper galak, kenyang bego. Melihat murid-murid malah asyik ngobrol atau sibuk sendiri, Bu Guru pun marah,“Kalian ini pada ngobrol aja! Apa kalian tidak ada yang mau mendengarkan pelajaran?”. ”Tidak, Buuu…”, jawab serentak murid-murid menambah kesal. “Dasar nakal! Kalau begitu kenapa kalian datang ke sekolah?”, tanya Bu Guru. “Biar pintar, Buuu…”, jawab para murid serentak. “Baik, kalau begitu siapa yang masih merasa bodoh silakan berdiri, nanti biar Ibu ajari!”, tegas Bu Guru. Murid-murid terdiam, tidak ada yang bersuara, tidak ada yang berdiri. “Hmm, jadi sudah merasa pintar semua ya? Jadi ga ada yang mau belajar?”, sindir Bu Guru. Tiba-tiba Lutfi berdiri. “Bagus Lutfi, kamu masih merasa bodoh dan perlu belajar ya? Cuma kamu sendiri?”, tanya Bu Guru. “Tidak, Bu. Saya cuma kasihan..”, jawab Lutfi. “Hah? Kasihan kenapa?”, tanya Bu Guru. “Kasihan lihat Ibu berdiri sendirian”, jawab Lutfi sambil kembali duduk. Tampak para murid cekikikan menahan tawa sementara Bu Guru sudah tidak bisa berkata-kata. Untungnya jam penanda pergantian pelajaran tiba-tiba berbunyi.

Jam pelajaran terakhir adalah IPS. Cukup membosankan karena belajar sejarah banyak hapalannya, apalagi ini waktu-waktu kritis menjelang pulang. “Anak-anak, kemerdekaan RI diperoleh dengan perjuangan keras para pahlawan yang rela berkorban jiwa dan raga. Namun saat ini kita harus mengupayakan perdamaian dan menghindari peperangan. Kenapa kira-kira?”, pancing Bu Guru agar para muridnya berpartisipasi aktif. “Saya, Bu!”, Galih mengacungkan tangannya. “Agar tidak bertambah daftar para pahlawan yang harus kami hapal, Bu!”, lanjutnya. Seisi kelas pun memberikan koor setuju. Bu Guru hanya geleng-geleng kepala seraya mengulek-ulek kapur yang dipegangnya.

Pelajaran pun dilanjutkan. “Siapa saja para pahlawan revolusi?”, tanya Bu Guru di kesempatan lain. “Parah nih Ibu, pahlawan revolusi siapa aja ga tau…”, jawab Alan. “Dengar ya, Bu. Kami tuh datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk ditanya-tanyain kayak gini. Bikin pusing saja…”, timpal Lutfi. “Bu, kalau banyak nanya, mendingan Ibu jadi polisi aja…”, tambah Galih. Aarrrgghh… teriak Bu Guru sambil mencoret-coret buku presensi kehadiran siswa. Bu Guru merasa menyerah, jam pelajaran juga akan berakhir. “Baik, jika kalian sudah ingin pulang. Bagi yang bisa menjawab boleh pulang lebih dulu…”, ucapnya lemah. “Pertanyaannya, dimana Jendral Soedirman dimakamkan?”, tanya Bu Guru. “Saya, Bu!”, beberapa siswa mengacungkan tangannya dengan penuh semangat. “Ya, kamu Heri”, ucap Bu Guru kepada Heri yang cukup pendiam dan tidak terlihat nakal. “Di kuburan, Bu”, jawab Heri polos. Anak-anak tertawa, Bu Guru semakin lemas. “Lho, benar kan? Dimakamkan di kuburan? Emangnya dimana?”, ucap Heri tampak kebingungan. Tiba-tiba Asep mengangkat tangannya dan berkata, “Bu Guru, saya boleh tanya?”. “Silakan…”, jawab Bu Guru singkat. “Bicara dimana dimakamkan, semua manusia pasti mati kan, Bu?”, tanyanya. “Betul”, jawabnya singkat dan serius. “Pertanyaannya, kalau Bu Guru rencananya kapan?”, tanyanya lagi disertai gelak tawa seisi kelas. Bu Guru yang gregetan guma bisa gigit-gigit kalender di mejanya.

* * *

Alhamdulillah, selesai juga pembelajaran untuk hari ini. Lelah fisik ini tidak seberapa dibandingkan lelah hati dan pikiran. Aku tidak boleh mengeluh, masih banyak guru-guru yang bernasib lebih buruk dari pada aku. Masih mending murid-muridku masih aktif menanggapi pertanyaanku, se-ngaco apapun jawabannya, itu tandanya mereka masih memperhatikanku. Dengan atau tanpa mereka sadari. Ada temanku sesama guru yang benar-benar diacuhkan sepanjang pelajaran layaknya berbicara dengan tembok. Ada juga rekanku yang lain yang lelah diintervensi oleh kepala sekolah dan para wali murid dalam men-treatment peserta didiknya. Temanku di salah satu sekolah elit malah dibentak muridnya yang berkata, “Ibu kan ngajar disini kami yang bayar!”. Sedih. Bahkan ada salah seorang rekanku yang dilecehkan secara fisik dan verbal oleh muridnya. Entah apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kewibawaan pendidik dan pendidikan. Yang pasti kesabaran dan keikhlashan ini harus terus dirawat. Karena pengabdian butuh keikhlashan. Karena mendidik memang butuh kesabaran.

*humor dikompilasi dari berbagai sumber

Jadi, Siapa Menghormati Siapa?

Suatu hari di bulan Ramadhan di dunia paralel*

Dini hari yang riuh seperti biasanya, ramai anak-anak membangunkan orang untuk makan sahur dengan berbagai kebisingan. Berisik sekali. Tapi disini toleransi begitu besar, warga tak boleh memprotes kegaduhan yang terjadi. Bahkan orang tua harus mengondisikan bayinya untuk tidak menangis demi menghormati mereka yang bersemangat membangunkan sahur. Aku, istriku, dan anak bungsuku segera bersiap makan sahur. Sementara si sulung masih lelap dalam mimpinya. Ia sedang tak ingin berpuasa. Dan kami disini diajarkan untuk menghormati orang yang tidak berpuasa.

Tak terasa waktu shubuh telah masuk. Bergegas aku pergi ke masjid. Untuk menghormati mereka yang masih beristirahat, suara adzan shubuh dan isya melalui speaker masjid memang tidak diperdengarkan disini. Hanya adzan maghrib penanda berbuka yang masih bisa didengar dari kejauhan, konon demi menghormati orang yang berpuasa. Di sepanjang jalan menuju masjid, tidak sedikit kumpulan anak muda yang masih saja asyik berjudi dan mabuk-mabukan, padahal ini bulan Ramadhan. Berjudi dan mabuk-mabukan adalah hak mereka yang layak dihormati.

Selepas wudhu, shalat shubuh pun dilaksanakan. Sementara anak-anak di luar sana sibuk main kembang api dan perang petasan. Jama’ah yang shalat harus tetap fokus untuk khusyuk, tak terganggu oleh suara-suara mengagetkan. Tidak boleh melarang juga, toh orang yang shalat harus menghormati mereka yang sedang main petasan. Selepas shalat, aku kebingungan mencari sendalku. Di tempat aku menaruhnya saat ini hanya ada sandal jepit kumal. Ah tampaknya untuk kesekian kalinya aku harus bersabar dan menghargai mereka yang ingin menukar sandal di masjid.

Sabtu ini aku berangkat lebih awal ke tempatku mengajar dengan naik angkutan umum. Motorku masuk bengkel setelah kemarin tertabrak sebuah mobil pribadi yang pindah jalur seenaknya. Parahnya lagi, alasan apapun tidak berguna menghadapi mobil selaku penguasa jalan. Bus yang kunaiki penuh. Kulihat beberapa manula dan ibu hamil terpaksa berdiri karena hak tempat duduk dimiliki mereka yang lebih dulu naik. Toleransi yang tidak berempati. Di sepanjang jalan, resto dan warung makan buka seperti biasa untuk menghormati mereka yang tidak berpuasa. Para pejalan kaki tampak berjalan hati-hati karena harus mendahulukan sepeda motor sebagai penguasa trotoar. Sial, terjadi kesemrawutan di perempatan jalan sehingga macet parah. Sepertinya (lagi-lagi) karena ada pengendara mobil yang tidak mendahulukan mobil lain yang sedang terburu-buru. Mentang-mentang lampu hijau main jalan saja.

Akhirnya aku tiba di sekolah. Agak terlambat memang, tapi tak apalah. Sebagai guru aku kan punya hak telat. Apalagi macet tadi bukan alasan yang mengada-ada. Kepala sekolah tidak mungkin menghukumku sebagaimana aku tidak bisa menghukum murid-muridku yang datang terlambat ke kelas. Jangankan menghukum, sekadar memarahi mereka yang mengganggu kegiatan belajar mengajar saja bisa panjang urusannya. Menghormati hak peserta didik merupakan salah satu etika guru yang harus dijunjung tinggi.

Salah satu hak peserta didik adalah datang ke sekolah dengan pakaian bebas, tidak ditentukan pihak sekolah. Hal ini mendorong siswa untuk berpakaian sebagus mungkin tanpa memandang status sosial. Memang ada sih siswa yang bajunya itu-itu saja, ada juga yang berbusana nyentrik untuk menarik perhatian. Tapi syukurlah aku belum menemukan siswa yang datang ke sekolah dengan tidak berpakaian. Karena sebagaimana kecenderungan seksual (homoseksual, heteroseksual atau biseksual), menjadi nudis juga merupakan pilihan yang harus dihormati disini.

Kelas berjalan dengan lancar. Bebas dan menyenangkan. Setiap siswa diberikan keleluasaan untuk belajar dan melakukan apa yang diinginkannya, termasuk berkeliaran ataupun mengganggu guru dan temannya. Mencontek juga bukan hal yang tabu. Ujian pun ditiadakan karena dianggap berpotensi membebani peserta didik. Guru adalah partner belajar yang egaliter, tidak boleh memerintah muridnya, termasuk memberinya pekerjaan rumah. Termasuk tidak diperkenankan menyuruh muridnya untuk rajin belajar atau rajin beribadah. Kesadaran dan inisiatif murid dibangun untuk menemukenali potensinya masing-masing. Terdengar hebat, bukan?

Selepas zhuhur, aku merebahkan badan di tempat ibadah. Lelah juga mengajar sambil berpuasa, mana tidak sedikit murid yang dengan santainya makan minum di dalam kelas. Sambil memejamkan mata, pikiranku menjelajah memasuki dunia paralel. Menuju ke sebuah tempat dimana penghormatan diberikan selayaknya. Orang muda yang menghormati orang tua sehingga orang tua bisa menyayangi mereka. Kelompok minoritas yang menghormati kelompok mayoritas sehingga kelompok mayoritas dapat menjaga mereka sebagaimana yang besar mengayomi yang kecil, dan yang kuat melindungi yang lemah. Mereka yang tidak beribadah menghormati orang-orang yang beribadah sehingga kecipratan berkahnya. Mereka yang belum baik menghormati orang-orang yang berbuat baik sehingga kebaikan akan semakin bernilai. Tempat dimana setiap orang bukan sekadar menyadari haknya, tetapi memahami bahwa ada hak orang lain di setiap haknya. Tempat dimana toleransi bukan berarti bebas berbuat semaunya, bukan pula pembatasan berstandar ganda.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tepukan halus di bahuku. Ternyata petugas tempat ibadah ini membangunkanku. Terlihat ia membawa alat pembersih dan sebuah salib besar. Aku segera bangkit, baru ingat bahwa nanti malam tempat ini akan digunakan untuk ibadah hari sabat sehingga harus dibersihkan. Aku keluar membawa banyak pertanyaan dan kegelisahan. Sepertinya ada yang keliru, tapi jika semua orang menganggapnya benar tentunya bukan sebuah kekeliruan. Ah, jadi bingung. Kutinggalkan tempat ibadah multi agama yang kian sedikit dan sepi saja. Manusia semakin banyak yang menuntut haknya sebagai hamba sekaligus mempertanyakan Hak Tuhan. Sembah menyembah dianggap diskriminatif. Entahlah, segala masalah penghormatan ini cuma bikin pusing, dan semua perkara toleransi ini hanya bikin hilang akal. Yang terpenting aku masih berbuat baik dan tidak berbuat jahat pada orang lain. Tapi, benarkah?

 

*dunia paralel adalah sebuah dunia yang berjalan sejajar dengan dunia realita. Keberadaannya masih merupakan misteri. Namun istilah dunia paralel dalam berbagai karya fiksi dan meme kerap diidentikkan dengan dunia berkebalikan (flip world).

Dikira Enak Jadi Guru? (1/2)

Memang ironis nasib guru di Indonesia. Setelah masa ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ dimana guru digaji ala kadarnya –dan sekarang tidak sedikit guru honorer yang masih merasakannya—, sekarang masuk zaman terbolak-balik dimana guru harus hormat pada muridnya. Guru yang berani menghukum murid siap-siap saja kena sanksi, dipecat, dipukuli orang tua murid, atau bahkan dipidanakan. Padahal reward dan punishment adalah hal yang wajar –bahkan perlu—ada dalam dunia pendidikan. Bahasan serius mengenai hukuman dari guru ke murid (dan sebaliknya) ini mungkin bisa dieksplorasi di lain waktu. Tulisan ini hanyalah tulisan fiksi ringan yang sedikit banyak coba menggambarkan betapa seorang guru butuh kesabaran ekstra dalam mendidik murid-muridnya, apalagi di era sekarang dimana murid semakin berani membantah gurunya.

* * *

Bel masuk baru saja berbunyi, siswa-siswi di SDN 1 Sukahumor bergegas memasuki kelas. Seorang guru honorer yang baru beberapa bulan bertugas di sekolah ini tampak masuk ke ruang kelasnya. Baru saja ia lewat di depan kelas, belum lagi sempat duduk di kursinya, salah seorang muridnya yang bernama Sandi menyapanya, “Pagi, Bu! Bu Guru kelihatan cantik banget hari ini…”. Bu Guru pun tersenyum sambil tersipu-sipu berkata, “Ah… Masak sih??!”. “Benar Bu, liat aja tuh gambar garudanya aja sampe nengok pas Ibu lewat…”, jawab Sanji. Seisi kelas pun tertawa tanpa memerhatikan wajah guru mereka yang semakin memerah.

Presensi kehadiran selesai dibacakan, tinggal Zahra yang belum datang, sama seperti hari-hari sebelumnya. “Asep, mengapa kamu kemarin tidak masuk sekolah?”, tanya Bu Guru. “Saya sakit, Bu”, jawab Asep. “Lalu kenapa kamu tidak mengirim surat?”, tanyanya lagi. “Habisnya, percuma, Bu”, jawab Asep. “Percuma bagaimana?”, Bu Guru tampak tidak paham. “Ya, karena setiap saya mengirim surat, Bu Guru tidak pernah membalas surat saya…”, jawab Asep sambil cengengesan. Geerrr… seisi kelaspun tertawa sementara Bu Guru hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kelas mendadak terdiam ketika Zahra datang dan masuk kelas. Bu Guru yang mood-nya sudah jelek pun bertanya, “Zahra, kamu itu setiap hari kerjaannya terlambat. Sebenarnya kamu tuh niat sekolah nggak sih?. “Lho, tapi kan, Bu. Katanya tidak ada kata terlambat untuk belajar…”, jawabnya enteng sambil berlalu untuk duduk di kursinya. Bu Guru hanya bisa menghela nafas.

Jam pertama adalah pelajaran IPA. Siswa-siswi di sekolah ini sangat aktif dan sulit diajak serius sepanjang jam pelajaran. Menjelang akhir jam pelajaran Bu Guru bertanya, “Sebutkan binatang yang bisa hidup di dua alam!”. Para siswa berebut mengacungkan tangannya. “Coba, Nami”, ujar Bu Guru sambil menunjuk dengan pulpen yang dipegangnya. “Katak, Bu! Bisa hidup di darat dan di air”, jawab Nami. “Baguuss. Coba kamu Lutfi sebutkan contoh binatang lainnya…”, ujar Bu Guru lagi sambil menggigit pulpennya. “Babi ngepet, Bu! Bisa hidup di alam nyata dan alam gaib…”, jawab Lutfi diikuti riuh tawa seisi kelas. Sementara Bu Guru hampir tersedak pulpen yang tadi digigitnya.

Tak mau kalah, Bu Guru lanjutkan bertanya, “Sekarang sebutkan binatang yang alat kelaminnya ada di punggung”. Seisi kelas sejenak terdiam sampai Sandi nyeletuk, “Hahaha, kalo pipis muncratnya ke udara dong, Bu…”. Kelas pun kembali ramai, Lutfi yang merasa Bu Guru coba membalasnya pun berkata, “Ngaco nih Ibu, mana ada binatang yang kelaminnya di punggung”. “Ada kok”, jawab Bu Guru sambil tersenyum misterius. “Apaan, Bu?”, tanya kepo murid-murid. “Kuda lumping!”, jawab Bu Guru. Kelas seketika hening, loading, berpikir. Tiba-tiba bel tanda ganti jam pelajaran berbunyi. Ternyata humor Bu Guru ketinggian. (Anda para pembaca mengerti kah? ^_^)

Jam pelajaran kedua adalah Bahasa Inggris, ada PR pekan lalu yang harusnya diperiksa. Tiba-tiba saja Galih berseru, “Maaf Bu, beberapa hari lalu rumah saya kemalingan”. “Tapi kamu gak kenapa-kenapa, kan?”, tanya Bu Guru dengan penuh selidik. “Saya sih ga apa-apa, Bu. Tapi buku PR-nya hilang…”, jawab Galih. Kelas pun riuh, Bu Guru hanya menepok jidatnya. Tiba-tiba Alan turut berseru, “Bu Guru, apakah boleh seseorang dihukum karena sesuatu yang belum diperbuatnya?”. “Tentu saja tidak, jika belum melakukan ya belum boleh dihukum”, jawab Bu Guru mencoba untuk sabar. “Syukurlah, berarti saya tidak boleh dihukum karena saya belum mengerjakan PR… hehehe…”, ujar Alan. Kelas kembali ramai sementara Bu Guru mulai mencakar-cakar mejanya. Lutfi yang tertawa paling keras ditanya oleh Bu Guru, “Tertawa saja. Mana PR kamu? Kalau tidak dikerjakan nanti kamu dihukum”. “Baik, Bu. Tapi kalo saya ngerjain, Ibu yang saya hukum ya?”, jawab Lutfi. Arrgghh… Bu Guru semakin emosi sambil gigit-gigit meja. Kelas pun kian bergemuruh.

Pelajaran tentang kosakata Bahasa Inggris berjalan ramai. Bu Guru mengetes para muridnya dengan bertanya, “Anak-anak, apa bahasa Inggris-nya ‘hari’??”. “Day, Bu.”, jawab murid serentak. “Baguuss… sekarang apa bahasa Inggrisnya seminggu??”, tanya kembali Bu Guru. “Day day day day day day day, Bu…”, jawab murid serentak yang membuat Bu Guru tersentak. Menyadari tanya jawab bisa dipelesetin, Bu Guru pun mengubah metodenya. Ia mulai dengan memberi penjelasan singkat. “Work artinya kerja, kalau working artinya bekerja, paham anak-anak??”, jelasnya. “Paham, Bu.”, jawab murid serentak. “Baik, sekarang silakan kalian cari kata lain, mulai dari kamu Eko”, perintahnya sambil menunjuk Eko dengan penggaris. Eko menjawab, “Sing artinya nyanyi, jadi singing artinya bernyanyi”. “Pintar, sekarang kamu Narto”, ujarnya seraya menunjuk Narto. “Hmm, song artinya lagu, jadi kalo songong artinya belagu”, jawab Narto dengan wajah polosnya. Aarrggh… penggaris yang dipegangnya pun remuk redam. Kelaspun ramai sampai kemudian Lutfi bertanya, “Bu, kalo bahasa Inggris tomorrow tuh artinya apa ya?”. “Besok”, jawab Bu Guru bete. “Yah, Ibu pelit. Cuma nanya gitu doang aja jawabannya mesti nunggu besok”, protes Lutfi sambil tersenyum senang. Bu Guru pun refleks melempar penggaris rusaknya ke Lutfi yang malahan melet. Bel penanda waktu istirahat berbunyi, seketika anak-anak pun bergegas keluar untuk istirahat.

(to be continued)

EURO, EUforia ROmadhon 2016

Bulan Juni di tahun genap adalah bulan yang dinantikan oleh para penggemar sepakbola. Jika tahun genap tersebut habis dibagi empat seperti tahun 2016 ini, akan ada gelaran kompetisi sepakbola antar negara di benua Eropa yang biasa dikenal dengan Euro. Jika tahun genap tersebut tidak habis dibagi empat seperti tahun 2014 kemarin maka akan ada pesta bola yang lebih besar, yaitu piala dunia. Kompetisi sepakbola internasional memang biasa dilangsungkan di bulan Juni – Juli setelah kompetisi lokal/ nasional umumnya selesai. Tahun 2016 ini bahkan lebih spesial karena ada penyelenggaraan Copa America Centenario di waktu yang hampir bersamaan. Copa America Centenario adalah edisi khusus memperingati 100 tahun penyelenggaraan Copa America yang gelaran terakhirnya baru saja selesai medio 2015 lalu.

Bulan Juni tahun ini juga merupakan bulan yang dinantikan umat Islam karena bertepatan dengan masuknya bulan istimewa, yaitu Ramadhan. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut secara eksplisit dalam Al Qur’an, di dalamnya diturunkan Al Qur’an dan umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan dimana pahala kebaikan dilipatgandakan, pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Jika 1 Ramadhan 1437 Hijriah jatuh pada tanggal 6 Juni 2016 dan akan berakhir di tanggal 5 Juli 2016 (atau 4 Juli 2016 jika Ramadhan hanya 29 hari), Copa America Centenario berlangsung 4 – 27 Juni 2016 waktu Indonesia, sementara Euro akan dilangsungkan pada 11 Juni – 11 Juli 2016 waktu Indonesia. Euro akan disiarkan langsung dari malam hingga dini hari sementara Copa America Centenario disiarkan dari dini hari hingga menjelang siang.

Sepakbola dan Ramadhan mudah saja dibenturkan. Bukan hanya jadwal siaran sepakbola yang bentrok dengan jadwal tarawih, tadarusan, shalat malam, keberkahan waktu sahur, hingga waktu shubuh dan dhuha. Namun secara konten pun menonton sepakbola sulit dikategorikan sebagai ibadah. Jika bermain sepakbola masih ada unsur tarbiyah jasadiyah yang menyehatkan selama masih dalam koridor syar’i, menonton sepakbola lebih kental nuansa membuang waktu, jauh sekali dibandingkan dengan berbagai keutamaan ibadah yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan. Tidak perlu terburu-buru menghakimi menonton sepakbola sebagai suatu aktivitas yang makruh atau bahkan haram. Namun umat Islam memang perlu waspada akan kesia-siaan perkataan dan perbuatan, terutama di bulan Ramadhan ini.

Kompetisi sepakbola memang pada akhirnya banyak menjadi ujian Ramadhan dibandingkan sebagai factor pndukung. Namun alih-alih menghakimi para penggemar sepakbola, ada baiknya kita mengambil ibrah dari fenomena sepakbola. Setidaknya ada satu kesamaan antara Ramadhan dengan kompetisi sepakbola, keduanya disambut dengan euforia. Dalam KBBI, euforia didefinisikan sebagai perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Dan segala sesuatu yang berlebihan biasanya berkonotasi negatif. Euforia sepakbola membuat penggemarnya rela bangun malam atau bahkan tidak tidur demi menonton pertandingan. Malah ada yang rela menempuh jarak sangat jauh hanya demi menonton sepakbola. Euforia terhadap suatu klub bisa membuat seseorang berkata dan bersikap tidak sepantasnya untuk membela klubnya, bahkan bisa jadi tawuran antar supporter.

Ramadhan, sebagai bulan yang dinanti banyak orang, sangat mungkin mendatangkan euforia, dengan atau tanpa disadari. Lihat saja betapa ramainya tempat ibadah di hari pertama penyelenggaraan shalat tarawih. Euforia Ramadhan. Lihat juga betapa banyaknya makanan tersaji –dan akhirnya terbuang—ketika berbuka. Euforia Ramadhan. Tidak sedikit juga orang yang mendadak jadi islami, bukan karena hidayah tetapi hanya sebagai penyesuaian menyambut euforia Ramadhan. Dan yang namanya berlebihan biasanya tidak baik, terlalu cinta pun bisa berbuah bosan dan benci. Ternyata tidak banyak mereka yang mampu menjaga semangat Ramadhannya sepanjang dan selepas Ramadhan.

Euforia Ramadhan tidak hanya terkait dengan semangat menyambut datangnya Ramadhan, tetapi akan kembali diuji ketika akan datang hari Idul Fitri. Alih-alih memperbanyak ibadah, banyak orang yang malah sibuk dengan berbagai persiapan lebaran, termasuk sibuk menghabiskan uang THR yang baru saja diterimanya. Kegembiraan yang berlebihan memang kerap abai terhadap esensi. Padahal siapapun juara Copa America dan Euro tidak ada pengaruhnya terhadap kita yang ikut-ikutan gembira. Akhirnya, Ramadhan berlalu, kegembiraan kita seketika berubah kesedihan karena ternyata kita terlalu larut dalam kegembiraan sehingga lalai terhadap berbagai keutamaan Ramadhan yang mastinya bisa diraih. Atau mungkin euforia Ramadhan berganti dengan euforia lebaran, dan kemudian hampa. Karena ternyata Ramadhan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan lain.

Sepakbola mengajarkan kita untuk banyak berlatih sebelum bertanding. Mengajarkan kita untuk memilih formasi dan strategi yang tepat. Bahwa kemenangan bukan ditentukan dengan tidak kebobolan, namun juga harus membobol gawang lawan sebanyak mungkin. Bahwa tidak boleh lengah dan bersantai-santai, semangat harus terus terjaga sepanjang pertandingan. Masa-masa akhir jelang pertandingan berakhir adalah saat krusial. Lebih baik bersusah payah menahan lelah dan menunda perayaan kemenangan di saat-saat itu, dari pada kemenangan yang sudah di depan mata buyar karena inkonsistensi, gagal fokus dan euforia. Ya, mumpung Ramadhan belum lama dimulai, kita masih bisa menguatkan persiapan, menetapkan target dan strategi, serta menjaga semangat dan keikhlashan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Kita tunda euforia kita, sampai nanti ketika kita sudah masuk ke Surga-Nya. Aamiiin…

Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan. Tinggikan hari dengan kesibukan Rabbani. Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa. Tiada hasil kecuali lapar dahaga. Ingatkan diri Sang Junjungan di bulan Rahmah. Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah. Cerah hari hari bercahayakan, indah menyinar ketakwaan…” (‘Ramadhan’, Izzatul Islam)

Dua Rukun Iman

Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk…” (HR. Muslim)

Dalam KBBI, rukun adalah asas, dasar, sendi, atau sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan. Sementara rukun iman didefinisikan sebagai dasar keyakinan dalam agama Islam, yaitu percaya kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-Nya, kepada para nabi dan rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada untung baik dan buruk yang datang dari Allah. Ada enam asas dalam agama Islam, jika didetailkan lagi dalam cabang-cabang iman jumlahnya akan lebih banyak lagi. “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari – Muslim).

Selain iman kepada Allah SWT yang sangat mendasar, dari enam rukun iman dan puluhan cabang iman yang telah diklasifikasikan oleh berbagai ulama, iman kepada hari akhir adalah iman yang paling banyak disebut dalam Al Qur’an dengan berbagai bentuknya. Bahkan dalam 19 ayat Al Qur’an, iman kepada hari akhir disebut bersamaan dengan iman kepada Allah SWT. Misalnya, dalam Al Qur’an surah An Nisa ayat 59, Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Penyebutan secara bersamaan memperlihatkan adanya keterkaitan erat, sementara penyebutan secara berulang menunjukkan tingkat kepentingan hal tersebut untuk menjadi perhatian. Misalnya jika  kita perhatikan tentang mendirikan shalat dan menunaikan zakat yang sebanyak 28 kali dalam Al Qur’an disebut bersamaan, sangat jelas keduanya saling terkait dan melengkapi, tidak bisa berdiri sendirian. Para sahabat dan ulama terdahulu banyak mengingatkan bahwa shalat dan zakat diwajibkan bersama, tidak secara terpisah-pisah. Bahkan Abu Bakar r.a. memerangi mereka yang enggan membayar zakat pun mereka masih menunaikan shalat.  “Dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari akhir, orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar” (QS. An Nisa: 162).

Iman kepada Allah SWT mengandung empat unsur, yaitu mengimani wujud Allah SWT, mengimani rububiyah Allah SWT, mengimani uluhiyah Allah SWT, dan mengimani nama dan sifat Allah SWT. Sementara iman kepada hari akhir adalah percaya penuh bahwa semua yang Allah beritahukan di dalam kitab-Nya dan yang Rasul-Nya sampaikan mengenai kehidupan setelah mati adalah benar, yaitu tentang adanya fitnah kubur, berikut azab dan nikmat yang ada di dalamnya. Dan juga tentang adanya hari kebangkitan (yaumul ba’ats), hari pengumpulan (yaumul mahsyar), dibagikannya catatan amal (ash-shuhuf), hari perhitungan (yaumul hisab), timbangan (mizan), telaga (al-haudh), jembatan (ash-shirath), syafa’at, serta adanya surga dan neraka yang telah Allah SWT persiapkan.

Sebagian besar komponen iman tersebut bersifat ghaib, tidak seperti Rasul atau Kitab yang jelas terlihat sosok atau wujudnya. Mengimaninya juga memiliki konsekuensi besar yang terwujud dalam tingkah laku. Kaum kafir Quraisy sebenarnya mengakui adanya (Rububiyah) Allah sebagai pencipta alam semesta melalui nenek moyang mereka, namun menolak menyembah (Uluhiyah) Allah karena kebodohan dan kesombongan mereka. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mereka mengimani hari akhir dimana ibu lupa pada anaknya atau matahari hanya berjarak 1 mil dari manusia. Belum lagi mengimani tanda-tanda hari kiamat seperti munculnya Dajjal, binatang melata (ad-daabah), ya’juj dan ma’juj, turunnya Nabi Isa a.s. ataupun terbitnya matahari dari barat. Alhasil, pun mereka yang menggelari Muhammad sebagai Al Amin (orang yang dapat dipercaya), kaum kafir Quraisy menolak risalah yang dibawanya, bahkan mencibirnya. Mereka memilih untuk tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.

Iman kepada Allah SWT dan hari akhir ibarat hubungan antara iman dan amal shalih yang sebanyak 60 kali disebutkan bersamaan dalam Al Qur’an. Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Ath-Thabrani, Rasulullah SAW bersabda, “Allah tidak menerima iman tanpa amal dan tidak pula menerima amal tanpa iman”. Menariknya, korelasi iman (keshalihan individu) dengan amal shalih (keshalihan sosial) ini sejalan dengan korelasi antara iman kepada Allah dengan iman kepada hari akhir, dimana iman harus selalu terimplementasi dalam amal nyata. Tidak heran dalam berbagai ayat dimana iman kepada Allah dan hari akhir disebutkan bersamaan, juga dicantumkan amal shalih yang menyertainya, misalnya dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 177, surah Al Maidah ayat 69, atau surah At Taubah ayat 18.

Dalam sebuah hadits yang riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya”. Indikator keimanan kepada Allah dan hari akhir yang ghaib, dalam berbagai dalil justru sangat jelas ukurannya. Tercermin dalam aktivitas sehari-hari, termasuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, sabar, dan sebagainya. Tidak semua komponen rukun iman punya korelasi sekuat ini.

Iman kepada Allah SWT dan iman kepada hari akhir memberi dampak positif bagi kehidupan manusia, di antaranya sama-sama mendorong sikap teguh, sabar, berani, penuh semangat dan optimisme. Iman kepada Allah SWT akan menguatkan jiwa merdeka seorang hamba, sementara iman kepada hari akhir akan mendorong motivasi produktif untuk beramal. Tidak cinta dunia, tidak takut mati. Memahami hakikat diri beserta masa depan abadi yang menanti, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya. Seimbang antara sikap takut (khauf) dan harap (raja’). Banyak mengingat Allah SWT dan meneladani peri kehidupan Rasulullah SAW.

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Syukur dan Sabar dalam Berumah Tangga

Pada suatu hari, Imran bin Haththan menemui dan menatap istrinya. Secara fisik, Imran adalah laki-laki buruk rupa dan bertubuh pendek. Sedangkan istrinya cantik jelita dan tinggi semampai. Semakin lama dipandang, sang istri kian terlihat cantik di mata Imran. Merasa dipandangi terus-menerus, istri Imran pun bertanya, “Ada apa dengan dirimu?”. Imran menjawab, “Segala puji bagi Allah. Demi Allah, kamu perempuan yang cantik.” Sang istri kemudian berkata, “Bergembiralah, karena sesungguhnya saya dan kamu akan masuk surga.” Imran pun bertanya, “Dari mana kamu tahu hal itu?”. Istrinya menjawab, “Sebab, kamu telah dianugerahi istri seperti aku, dan engkau bersyukur. Sedangkan aku diuji dengan suami seperti kamu, dan aku bersabar. Orang yang bersabar dan bersyukur ada di dalam surga.

Kisah tersebut dengan berbagai versinya kerap disampaikan sebatas humor mengenai pasangan ‘Beauty and the beast’. Padahal jika diselami maknanya lebih dalam, syukur dan sabar merupakan hal utama dalam berumah tangga. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa penyebab terbesar perceraian adalah masalah finansial, kemudian perselingkuhan, baru faktor-faktor lainnya termasuk KDRT, masalah anak dan keluarga, ataupun karena perbedaan prinsip. Jika perselingkuhan erat kaitannya dengan iman serta kesetiaan (dan biasanya hanya merupakan dampak bukan akar masalah); masalah keuangan (dan berbagai faktor penyebab perceraian lainnya) lebih dekat dengan manajemen syukur dan sabar.

Tanpa bermaksud mendikotomikan, syukur memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan sabar. Karenanya dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah SWT mengungkapkan betapa sedikit manusia yang pandai bersyukur. Karenanya ketika Aisyah r.a. bertanya mengapa Rasulullah SAW shalat sampai sebegitunya padahal dosa beliau sudah pasti diampuni, Rasulullah SAW hanya menjawab, “Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Padahal tetap beribadah hingga kaki bengkak-bengkak adalah wujud kesabaran, namun syukurlah yang menjadi tujuan. Misi sebagai hamba dijalani dengan bersyukur, sementara misi sebagai khalifah dihadapi dengan bersabar. Dimensi syukur lebih abstrak, bahkan kita perlu bersyukur atas karunia mampu bersyukur.

Problematika berumah tangga biasa dimulai dari keluhan-keluhan yang muncul diikuti dengan sikap suka membandingkan dengan nikmat yang diperoleh orang lain. Bukti nyata terkikisnya rasa syukur dan sabar. Rasa syukur untuk bisa bersabar dan kesabaran untuk terus bersyukur. Pernikahan biasanya diawali dengan kesyukuran, kecuali dalam beberapa kasus misalnya kawin paksa atau married by accident. Bahtera rumah tangga yang mengarungi samudera kehidupan tentu tidak terlepas dari hujan badai dan ujian. Disinilah kesabaran dibutuhkan. Sabar adalah sikap aktif untuk mengatasi permasalahan dengan penuh kesungguhan. Kerja keras tanpa batas.

Bersabar itu sulit, namun bersyukur lebih rumit dan kerap dilupakan. Kala ujian datang menghadang, manusia sering alpa akan segala nikmat yang telah diberikan dalam bentuk lain. Orang sakit mungkin ingat akan nikmat sehat, namun lupa bahwa adanya keluarga yang menemani juga merupakan nikmat. Ketika masalah finansial menerpa bahtera rumah tangga, suami istri tentu tidak tinggal diam dan bekerja keras. Itu adalah kesabaran. Namun tanpa kesyukuran, kesabaran tersebut biasanya tak mampu bertahan. Suami istri seakan lupa nikmat ketika mereka baru menapaki mahligai pernikahan, kebahagiaan dikaruniai keluarga yang mendukung dan anak yang terlahir sempurna, termasuk nikmat keharmonisan rumah tangga yang pernah dirasakan. Toh rezeki tidak harus berupa uang.

Ketika kesyukuran tiada, yang tersisa adalah sikap emosional dan kesombongan. Sebab rasa syukur ditandai dengan ketenangan dan berbagi. Dan saat kesabaran juga terkikis, yang muncul adalah ego dan menyalahkan pihak lain. Sebab kesabaran menghadirkan sikap solutif dan mau bekerja sama. Bisa dibayangkan neraka rumah tangga tanpa kesyukuran dan kesabaran. Dalam beberapa hadits yang menyampaikan bahwa penghuni neraka didominasi oleh wanita, Rasulullah SAW mengemukakan penyebabnya adalah karena para wanita banyak melaknat/ mengeluh dan durhaka pada suaminya. Mengingkari banyak kebaikan pada suaminya ketika menemukan suatu hal yang tidak disukainya. “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i).

Jika istri perlu lebih banyak bersyukur untuk mengikis sikap gengsi dan ketidakstabilan emosinya, suami perlu lebih banyak bersabar untuk meruntuhkan egonya. Laki-laki memang pemimpin dalam rumah tangga, namun mengedepankan statement tersebut bukan solusi dalam mengatasi problematika rumah tangga. Sebab istri perlu dihargai sebagai tulang rusuk bukan alas kaki. “Tulang rusuk yang bengkok”, kata Rasulullah SAW. Harus bersabar untuk meluruskannya karena akan patah jika dipaksa. Bukan hanya bersabar untuk tidak menyakiti, tetapi juga bersabar atas berbagai sikap istri yang kadang emosional, moody, suka menuntut, kekanak-kanakan dan kurang bijaksana. “…Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19).

Kesyukuran dan kesabaran ini harus terinternalisasi dalam nurani dan pikiran dan terimplementasi dalam perbuatan. Mulai dari hal yang sederhana misalnya suami yang biasa meminta maaf pun tidak salah dan istri yang berterima kasih atas pemberian sekecil apapun. Kesyukuran pasti akan menambah nikmat. Sementara kesabaran akan mendatangkan solusi atas berbagai permasalahan dari arah yang tidak terduga. Bahtera rumah tangga akan kokoh dengan kesabaran, dan akan semakin indah dengan kesyukuran. Semoga kita –dan pasangan hidup kita– menjadi hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur dan khalifah-khalifah di muka bumi yang teguh besabar.

“Sungguh mengagumkan urusannya orang mukmin itu, semua urusannya menjadi kebaikan untuknya, dan tidak didapati yang demikian itu kecuali pada orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu pun menjadi kebaikan baginya”. (HR. Muslim)