Jadi, Siapa Menghormati Siapa?

Suatu hari di bulan Ramadhan di dunia paralel*

Dini hari yang riuh seperti biasanya, ramai anak-anak membangunkan orang untuk makan sahur dengan berbagai kebisingan. Berisik sekali. Tapi disini toleransi begitu besar, warga tak boleh memprotes kegaduhan yang terjadi. Bahkan orang tua harus mengondisikan bayinya untuk tidak menangis demi menghormati mereka yang bersemangat membangunkan sahur. Aku, istriku, dan anak bungsuku segera bersiap makan sahur. Sementara si sulung masih lelap dalam mimpinya. Ia sedang tak ingin berpuasa. Dan kami disini diajarkan untuk menghormati orang yang tidak berpuasa.

Tak terasa waktu shubuh telah masuk. Bergegas aku pergi ke masjid. Untuk menghormati mereka yang masih beristirahat, suara adzan shubuh dan isya melalui speaker masjid memang tidak diperdengarkan disini. Hanya adzan maghrib penanda berbuka yang masih bisa didengar dari kejauhan, konon demi menghormati orang yang berpuasa. Di sepanjang jalan menuju masjid, tidak sedikit kumpulan anak muda yang masih saja asyik berjudi dan mabuk-mabukan, padahal ini bulan Ramadhan. Berjudi dan mabuk-mabukan adalah hak mereka yang layak dihormati.

Selepas wudhu, shalat shubuh pun dilaksanakan. Sementara anak-anak di luar sana sibuk main kembang api dan perang petasan. Jama’ah yang shalat harus tetap fokus untuk khusyuk, tak terganggu oleh suara-suara mengagetkan. Tidak boleh melarang juga, toh orang yang shalat harus menghormati mereka yang sedang main petasan. Selepas shalat, aku kebingungan mencari sendalku. Di tempat aku menaruhnya saat ini hanya ada sandal jepit kumal. Ah tampaknya untuk kesekian kalinya aku harus bersabar dan menghargai mereka yang ingin menukar sandal di masjid.

Sabtu ini aku berangkat lebih awal ke tempatku mengajar dengan naik angkutan umum. Motorku masuk bengkel setelah kemarin tertabrak sebuah mobil pribadi yang pindah jalur seenaknya. Parahnya lagi, alasan apapun tidak berguna menghadapi mobil selaku penguasa jalan. Bus yang kunaiki penuh. Kulihat beberapa manula dan ibu hamil terpaksa berdiri karena hak tempat duduk dimiliki mereka yang lebih dulu naik. Toleransi yang tidak berempati. Di sepanjang jalan, resto dan warung makan buka seperti biasa untuk menghormati mereka yang tidak berpuasa. Para pejalan kaki tampak berjalan hati-hati karena harus mendahulukan sepeda motor sebagai penguasa trotoar. Sial, terjadi kesemrawutan di perempatan jalan sehingga macet parah. Sepertinya (lagi-lagi) karena ada pengendara mobil yang tidak mendahulukan mobil lain yang sedang terburu-buru. Mentang-mentang lampu hijau main jalan saja.

Akhirnya aku tiba di sekolah. Agak terlambat memang, tapi tak apalah. Sebagai guru aku kan punya hak telat. Apalagi macet tadi bukan alasan yang mengada-ada. Kepala sekolah tidak mungkin menghukumku sebagaimana aku tidak bisa menghukum murid-muridku yang datang terlambat ke kelas. Jangankan menghukum, sekadar memarahi mereka yang mengganggu kegiatan belajar mengajar saja bisa panjang urusannya. Menghormati hak peserta didik merupakan salah satu etika guru yang harus dijunjung tinggi.

Salah satu hak peserta didik adalah datang ke sekolah dengan pakaian bebas, tidak ditentukan pihak sekolah. Hal ini mendorong siswa untuk berpakaian sebagus mungkin tanpa memandang status sosial. Memang ada sih siswa yang bajunya itu-itu saja, ada juga yang berbusana nyentrik untuk menarik perhatian. Tapi syukurlah aku belum menemukan siswa yang datang ke sekolah dengan tidak berpakaian. Karena sebagaimana kecenderungan seksual (homoseksual, heteroseksual atau biseksual), menjadi nudis juga merupakan pilihan yang harus dihormati disini.

Kelas berjalan dengan lancar. Bebas dan menyenangkan. Setiap siswa diberikan keleluasaan untuk belajar dan melakukan apa yang diinginkannya, termasuk berkeliaran ataupun mengganggu guru dan temannya. Mencontek juga bukan hal yang tabu. Ujian pun ditiadakan karena dianggap berpotensi membebani peserta didik. Guru adalah partner belajar yang egaliter, tidak boleh memerintah muridnya, termasuk memberinya pekerjaan rumah. Termasuk tidak diperkenankan menyuruh muridnya untuk rajin belajar atau rajin beribadah. Kesadaran dan inisiatif murid dibangun untuk menemukenali potensinya masing-masing. Terdengar hebat, bukan?

Selepas zhuhur, aku merebahkan badan di tempat ibadah. Lelah juga mengajar sambil berpuasa, mana tidak sedikit murid yang dengan santainya makan minum di dalam kelas. Sambil memejamkan mata, pikiranku menjelajah memasuki dunia paralel. Menuju ke sebuah tempat dimana penghormatan diberikan selayaknya. Orang muda yang menghormati orang tua sehingga orang tua bisa menyayangi mereka. Kelompok minoritas yang menghormati kelompok mayoritas sehingga kelompok mayoritas dapat menjaga mereka sebagaimana yang besar mengayomi yang kecil, dan yang kuat melindungi yang lemah. Mereka yang tidak beribadah menghormati orang-orang yang beribadah sehingga kecipratan berkahnya. Mereka yang belum baik menghormati orang-orang yang berbuat baik sehingga kebaikan akan semakin bernilai. Tempat dimana setiap orang bukan sekadar menyadari haknya, tetapi memahami bahwa ada hak orang lain di setiap haknya. Tempat dimana toleransi bukan berarti bebas berbuat semaunya, bukan pula pembatasan berstandar ganda.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tepukan halus di bahuku. Ternyata petugas tempat ibadah ini membangunkanku. Terlihat ia membawa alat pembersih dan sebuah salib besar. Aku segera bangkit, baru ingat bahwa nanti malam tempat ini akan digunakan untuk ibadah hari sabat sehingga harus dibersihkan. Aku keluar membawa banyak pertanyaan dan kegelisahan. Sepertinya ada yang keliru, tapi jika semua orang menganggapnya benar tentunya bukan sebuah kekeliruan. Ah, jadi bingung. Kutinggalkan tempat ibadah multi agama yang kian sedikit dan sepi saja. Manusia semakin banyak yang menuntut haknya sebagai hamba sekaligus mempertanyakan Hak Tuhan. Sembah menyembah dianggap diskriminatif. Entahlah, segala masalah penghormatan ini cuma bikin pusing, dan semua perkara toleransi ini hanya bikin hilang akal. Yang terpenting aku masih berbuat baik dan tidak berbuat jahat pada orang lain. Tapi, benarkah?

 

*dunia paralel adalah sebuah dunia yang berjalan sejajar dengan dunia realita. Keberadaannya masih merupakan misteri. Namun istilah dunia paralel dalam berbagai karya fiksi dan meme kerap diidentikkan dengan dunia berkebalikan (flip world).

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>