Tak Alpa Bina Generasi Alfa

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
(QS. An Nisa: 9)

Hebat Isha saat main komputer tebak bentuk, namun saat menggunakan mouse masih perlu bantuan”, demikian salah satu komentar guru yang tertulis di buku penghubung TK putri sulungku. Wajar saja si sulung bingung, memang ia belum pernah belajar menggunakan mouse karena kebetulan laptop di rumah menggunakan layar sentuh (touchscreen). Tiba-tiba aku jadi merasa tua. Dulu aku pertama kali melihat langsung dan mengoperasikan komputer ketika kelas IV SD di rumah pamanku. Itupun tergolong cepat dibandingkan teman-temanku yang baru belajar MS-DOS, wordstar dan lotus 123 ketika SMP. Namun saat ini, bahkan dua balita di rumah sudah akrab dengan gadget.

Waktu berjalan begitu cepat, teknologi informasi berkembang begitu pesat. Generation gap pun semakin terasa. Orang tua muda saat ini didominasi oleh generasi Y (kelahiran 1981 – 1995) yang tumbuh besar di era teknologi informasi. Generasi Y juga dikenal sebagai echo boomers karena orang tua mereka umumnya masuk generasi baby boomers (kelahiran 1946 – 1965). Pun ada juga yang orang tuanya sudah masuk generasi X (kelahiran 1966 – 1980) atau bahkan ada yang orang tuanya dari generasi pre baby boomers (lahir sebelum tahun 1945). Yang jelas para generasi Y ini merasakan perubahan pola dan pendekatan pendidikan seiring dengan kemajuan zaman.

Sudah banyak penelitian, kajian, ataupun tulisan yang mengupas tentang perbedaan karakteristik antar generasi, terutama antara Gen X dengan Gen Y yang saat ini ada di usia produktif. Hanya saja jika kita mau merekayasa masa depan, semestinya fokus kajian ada pada bagaimana mempersiapkan generasi Z (kelahiran 1996 – 2010) atau bahkan generasi Alfa (lahir setelah tahun 2010) untuk produktif menghadapi tantangan hidup yang jauh berbeda dengan generasi orang tuanya. Kedua generasi ini adalah generasi cerdas yang tidak tahan banting dan salah mendidik mereka sama artinya dengan menghancurkan masa depan dunia.

Beberapa hari lalu ramai berita tentang guru di Makassar yang menegur seorang siswa kemudian malah dipukuli orang tua siswa tersebut. Beberapa bulan lalu ada berita tentang guru yang sempat dipenjara hanya karena mencubit siswa, bahkan ada guru yang dipidana karena mencukur rambut gondrong siswa. Mudah saja menyalahkan ‘kecengengan’ siswa dan memberikan dukungan ke guru karena barangkali kita pernah merasakan pendidikan yang lebih ‘keras’ daripada itu. Namun sejatinya masalah ada pada kegagalan pendidikan dalam membentuk karakter dan mentalitas mereka. Dalam hal ini, orang tua lah yang terlalu memanjakan mereka sehingga anak tidak mandiri dan tidak berani bertanggung jawab. Atau dalam perspektif yang lebih luas, berbagai kasus ini seharusnya menjadi perhatian bagi para pendidik untuk lebih tepat dalam membina peserta didiknya.

Generasi baby boomers dan generasi X melihat generasi Y sudah berkurang rasa hormatnya terhadap orang tua dan guru, maka generasi Z dan Alfa tentu berpotensi lebih ‘berani’ lagi. Ketegasan dalam mendidik memang masih diperlukan, namun tidak ada salahnya pendidik, dalam hal ini orang tua dan guru lebih menyesuaikan dirinya sebagai mitra dari anak-anak. Tidak bersikap superior namun tetap menjaga wibawa sehingga tetap disegani. Tak perlu mengelu-elukan euforia pendidikan masa lalu karena generasi ini cukup mengerti bahwa mereka tidak hidup di masa lalu. Sikap kritis mereka bahkan akan menemukan celah kolotnya pendidikan generasi sebelumnya yang malah menumbuhkan ego mereka. Cukup sampaikan hikmah dan pembelajaran di masa lalu yang dapat menginspirasi mereka tanpa harus mengajak mereka kembali ke masa lalu.

Generasi saat ini adalah generasi instan, bukan generasi militan. Sejak dini mereka perlu dididik untuk menghargai proses. Tidak perlu membuat mereka merasakan perjuangan yang sama dengan yang pernah pendidik rasakan karena realita dan kesulitan yang akan mereka hadapi juga berbeda, namun tetap menjadi penting bagi mereka untuk belajar berjuang dan menghargai perjuangan. Generasi ini juga kurang menghargai pemberian karenanya perlu diajarkan untuk senantiasa memberi dan berbagi. Tidak akan mudah karena mereka generasi pembosan. Pola pendidikan konvensional yang kaku dan monoton tidak mereka sukai. Mereka adalah generasi kreatif yang menghargai ide dan pembaruan, disinilah kreativitas pendidik memainkan peran.

Meniadakan televisi yang jarang menghadirkan tontonan bermutu mungkin baik untuk pembentukkan karakter anak. Membatasi penggunaan gadget pada anak juga barangkali bermanfaat dalam mendidik anak. Namun aksi boikot teknologi informasi sejatinya bukan solusi jangka panjang, karena mereka akan hidup di zaman itu. Salah-salah malah mereka akan mencarinya di luar dan kian sulit diawasi. Hal penting yang sangat perlu diperhatikan adalah keteladanan. Generasi Y adalah generasi awal teknologi yang punya potensi sama untuk kecanduan teknologi. Karenanya pendidik harus memberi contoh bagaimana memanfaatkan teknologi informasi dengan bijak. Lebih banyak melakukan aktivitas bersama tanpa disibukkan oleh gadget yang banyak melahirkan generasi asosial.

Didiklah anak sesuai zamannya”, sebuah ungkapan yang barangkali banyak benarnya. Lingkungan dan tantangan zaman berubah, sehingga proses pendidikan yang sama belum tentu menghasilkan output yang serupa. Butuh desain pendidikan yang jelas, bukan sekedar menitipkan mereka ke sekolah atau bahkan membiarkan teknologi terbaru mendidik mereka. Jika generasi Y memandang generasi baby boomers sebagai generasi kolot yang gagap teknologi, barangkali seperti itu juga persepsi generasi Alfa terhadap generasi Y. Tantangan mendidik generasi Alfa ini kian berat seiring lahirnya generasi selanjutnya di masa mendatang –sebutlah generasi Beta—tempat mereka nanti tumbuh dan berkembang. Gap generation kian membesar, membekali mereka dengan pendidikan yang sesuai dengan zaman mereka semakin krusial.

Saat ini banyak romantika generasi Y yang kembali diangkat, mulai dari permainan, tontonan, hingga jajanan. Pada saatnya nanti, romantika generasi Z lah yang akan kembali mencuat ke permukaan. Salah satunya adalah momentum reformasi. Titik balik perubahan ke arah yang lebih baik. Bisa jadi kebangkitan umat dan bangsa ada di tangan generasi Alfa. Karenanya kita tak boleh alpa membina mereka. Silih bergantinya generasi adalah keniscayaan, namun apa yang bisa kita wariskan untuk generasi masa depan adalah pilihan.

Teach the children so that it will not be necessary to teach the adults” (Abraham Lincoln)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>