Dakwah, Keteladanan dan Kemanusiaan

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung
(QS. Ali Imran: 104)

Ayat di atas merupakan salah satu ayat yang memuat kewajiban untuk berdakwah. Para da’i dan mubaligh tentunya familiar dengan ayat tersebut. Namun satu hal yang berlu dicermati adalah kata “yad’una ilal khair” atau menyeru kepada kebaikan, dan bukan “yad’una ilallah” atau menyeru kepada Allah. Hal ini menunjukkan adanya dimensi keteladanan dan kemanusiaan yang menjadi prioritas dalam berdakwah. Demikian sepenggalan sharing session dari Dr. Hamid Slimi, Ketua Dewan Imam Masjid di Kanada asal Maroko dalam kegiatan Cordofa Islamic Conference (CIC) 2016 yang membahas tentang dinamika dakwah dan kebebasan beragama bagi WNI di luar negeri.

Service to humanity is service to Allah”, demikian ungkap Dr. Slimi. Menurutnya, dakwah Islam di Indonesia jauh berbeda bila dibandingkan dakwah Islam di Negara mayoritas nonmuslim dimana diskriminasi dan perbuatan tak menyenangkan lainnya begitu mudah menimpa umat Islam, terutama yang menampakkan simbol keislaman, mulai dari nama hingga pakaian. Ditambah lagi, media-media asing kerap memberi citra negatif terhadap Islam dan umat Islam. Karenanya dakwah dengan menunjukkan keteladanan, kesantunan dan kebaikan hati terhadap umat manusia, tidak hanya ke sesama muslim, lebih efektif dalam meluruskan pemahaman tentang Islam. Dibandingkan berkoar-koar mengklaim diri lebih baik seraya sibuk mencari kesalahan umat lain.

Da’watunnas ilallah bil hikmah wal mau’izhatil hasanah hatta takfuru biththaghut wayu’minu billah liyukhriju minazh zhulumatil jahiliyah ila nuril Islam. Begitu definisi dakwah yang selama ini saya pahami. Ternyata fokus ke what dan why yang menguatkan goals (kepada Allah), output (mengingkari thaghut dan hanya beriman kepada Allah) dan outcome (mengeluarkan dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam) tidaklah cukup. Tauhid memang fondasi, namun who (menjadikan manusia sebagai objek dakwah, bukan cuma muslim) dan how (dengan hikmah dan pelajaran yang baik) juga layak diperhatikan. Bahkan jika perintah dakwah dalam surah Ali Imran ayat 104 di atas menggambarkan sebuah urutan, maka keteladanan, hikmah dan perbuatan baik harus lebih dulu dilakukan sebelum amar ma’ruf nahi munkar. Dan ma’ruf yang paling utama adalah tauhid.

Keteladanan, kebaikan dan kemanusiaan akhirnya menjadi bahasa dakwah yang dapat dipahami dan diterima semua golongan. Dalam Al Qur’an terdapat surah Al Insan (manusia) yang sarat dengan nilai kemanusiaan. Dalam ayat ke 8 – 11 Surah ke 76 tersebut, Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan (sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.” Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan”.

Dakwah dengan memberi dan melayani sebelum menyeru dan menyampaikan ini menjadi penting terutama di lingkungan yang heterogen, banyak masyarakat awam, atau bahkan dimana muslim menjadi minoritas. Bagaimanapun perbuatan dan kontribusi nyata lebih menimbulkan kesan kuat dibandingkan sekedar kata dan wacana. Bisa dibayangkan sulitnya mendakwahkan Islam kepada mereka yang kebutuhan dasarnya saja belum terpenuhi. Aksi nyata seorang muslim dalam membantu menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan riil tentu akan menjadi metode dakwah yang lebih efektif. Dakwah seperti inilah yang menginspirasi banyak manusia. Lihat bagaimana Rasulullah SAW masih dipercaya menjaga barang-barang kaum kafir Quraisy, atau bagaimana beliau menjenguk orang yang senantiasa melemparinya dengan kotoran, atau bagaimana beliau melayani makan wanita Yahudi buta yang selalu mencelanya. Tidak salah organisasi sebesar Muhammadiyah mengusung teologi Al Ma’un yang kental nilai kemanusiaan. Tidak heran masyarakat nonmuslim di berbagai Negara mendukung isu keumatan yang dilabeli isu kemanusiaan. Akan jauh berbeda jika fokus dakwah ada di ranah halal haram, jihad, apalagi takfiri.

Indonesia punya peran strategis untuk mencitrakan Islam yang Rahmatan lil ‘alamin. Sebagai Negara dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, harapan kebangkitan Islam dari Indonesia (yang disebut Rasulullah SAW sebagai panji-panji hitam dari timur, semoga) tentu sangat besar. Stereotip bangsa Arab yang keras dan kaku di satu sisi namun hedon di sisi lain tidaklah melekat di muslim Indonesia. Di berbagai Negara minoritas Islam, muslim Indonesia yang lebih luwes dan inklusif juga lebih diterima oleh semua golongan, berbeda dengan muslim Negara Islam yang umumnya eksklusif. Gerakan solidaritas muslim yang kerap digagas berbagai elemen di Indonesia tentu juga memperkuat aspek kemanusiaan yang sifatnya universal. Belum lagi potensi sumber daya yang melimpah dan bisa dijadikan kekuatan umat yang diperhitungkan. Lihat bagaimana #AksiSuperDamai212 menjadi perhatian dunia. Bukan karena banyaknya pekik #TangkapAhok, namun bagaimana jutaan manusia bisa tertib terorganisir dan mengindahkan etika. Keteladanan yang menginspirasi dan kebaikan dalam memanusiakan manusia semoga saja semakin masif guna mewujudkan masyarakat yang tertata dalam naungan kebaikan Islam. Mungkin tidak mengislamkan seluruh umat manusia, namun terus menebar kebermanfaatan sehingga Islam –dengan atau tanpa disadari– menjadi sendi-sendi yang mengokohkan tatanan sosial kemasyarakatan. Dan semoga kita termasuk golongan umat yang istiqomah menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin” (QS. Al Ma’un: 1 – 3)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>