Membina Pahlawan Masa Depan

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” (Soekarno)

Pemuda seperti apakah yang bisa mengguncang dunia? Mengapa harus pemuda sementara orang tua lah yang memiliki kematangan emosional dan finansial? Apa hebatnya pemuda yang cuma bisa tawuran, ngebut-ngebutan, bahkan terjebak dalam jerat narkoba dan pergaulan bebas? Ya, tentunya bukan sembarang pemuda yang dimaksud olah Bung Karno. Melainkan pemuda yang terbina. Dan bukan hanya seorang pemuda, tetapi sekumpulan pemuda. Ya, para pemuda yang mampu mengoptimalkan potensi kebaikannya lah yang disinyalir Soekarno mampu untuk membuat perubahan dan mengguncang dunia.

Para pemuda yang terbina itu seperti ashabul kahfi. Teguh dalam memperjuangkan keyakinan dan idealismenya di tengah fitnah dan ancaman nyata. “…Sesungguhnya mereka itu orang-orang muda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahi mereka dengan hidayah dan petunjuk. Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian)…” (QS. Al Kahfi: 13 – 14). Pemuda yang terbina itu ibarat Usamah bin Zayd r.a. Keberaniannya diarahkan untuk membela tegaknya kebenaran. Sudah mulai terjun ke medan jihad Ahzab (Perang Khandaq) di usia lima belas tahun, Usamah diangkat Rasulullah SAW sebagai penglima perang di usia 18 tahun dan berhasil mengalahkan pasukan Romawi.

Pemuda yang terbina itu layaknya Muhammad Al Fatih. Ambisinya mewujudkan visi Rasulullah SAW membuatnya memenuhi semua syarat untuk menaklukkan Konstantinopel, di usia 21 tahun. Hafizh Al Qur’an, menguasai berbagai bahasa dan kepakaran di usia muda, hingga tak pernah meninggalkan shalat fardhu, shalat rawatib dan tahajud menunjukkan kegigihannya untuk membebaskan Romawi Timur ke dalam pelukan Islam. Merealisasikan bisyarah Rasulullah SAW. “Kota Konstantinopel akan jatuh di tangan umat Islam. Pemimpin yang menaklukannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad).

Tentu banyak lagi potret pemuda terbina yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah hidup mereka. Lihat saja kumpulan pemuda di berbagai belahan bumi mulai dari China, Mesir hingga Yunani yang bergerak bersama di garda terdepan dalam membebaskan negeri mereka dari cengkeraman tirani. Tak terkecuali di Indonesia, para pemuda sejak masa Sarekat Dagang Islam, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, hingga runtuhnya orde baru memegang peran vital sebagai pembaharu zaman. Tak berlebihan Hasan Al Banna, salah seorang mujahid dakwah pernah berujar, “Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya. Keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, dan amal (serta pengorbanan) merupakan karakter yang melekat pada pemuda. Karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertakwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal (dan pengorbanan) adalah kemauan yang kuat. Hal itu semua tidak terdapat kecuali pada diri pemuda. Oleh karena itu sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar sebuah kebangkitan, pemuda merupakan aktor terbaik penggerak skenario peradaban bangsa, pemuda merupakan rahasia kekuatannya, dalam setiap fikrahnya pemuda adalah pengibar panji-panjinya”.

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”, begitu ungkap Tan Malaka. Arti penting pemuda memang bukan sebatas perannya sebagai generasi penerus di masa yang akan datang. Idealisme, kecerdasan, kekuatan fisik hingga semangat yang berapi-api merupakan modal utama kemenangan yang jika bisa dioptimalkan hari ini, kebaikannya akan dapat dirasakan hingga ke masa depan. Sebaliknya, jika potensi ini disia-siakan sama artinya dengan menghancurkan masa depan, apalagi jika diarahkan kepada hal-hal negatif. Karenanya, memastikan kualitas pemuda hari ini merupakan langkah strategis dalam memastikan kualitas umat dan bangsa di masa yang akan datang.

Rasulullah SAW telah berpesan untuk mengingat “syababaka qabla haramika” (masa mudamu sebelum masa tuamu). Beliau juga mengungkapkan bahwa “syabbun nasya’a fi ‘ibadatillah” (pemuda yang tumbuh dalam ibadah dan taat kepada Allah) merupakan satu dari tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah SWT di hari kiamat. Membina para pemuda bukan hanya akan menyelamatkan dirinya dunia akhirat, namun juga akan menyelamatkan masa depan dunia ini. Karena kelak merekalah yang akan menjadi pemimpin di semua lingkup kehidupan. Pemimpin yang terbina dengan baik akan memakmurkan dunia, sementara generasi yang rusak akan menghancurkannya. Butuh energi yang sangat besar untuk membina pemuda hari ini, dan nyatanya memang tidak harus semuanya. Cukup ‘sepuluh pemuda’ yang berkualitas jika mengutip kata-kata Bung Karno. Dan untuk melahirkan sekelompok pemuda pemimpin yang berkualitas butuh pembinaan yang serius dan juga berkualitas. Tak bisa asal-asalan. Butuh desain bahkan rekayasa pembinaan yang komprehensif. Agar lahir pemimpin masa depan yang berkarakter, berkompeten dan berkontribusi menyelesaikan berbagai problematika yang menempanya. Supaya lahir pahlawan di zamannya yang membawa umat dan bangsa ini pada kejayaan dan kegemilangan. Semoga Allah SWT membimbing dan meridhai langkah kita dalam membina dan membersamai mereka.

We cannot always build the future for our youth but we can build our youth for the future
(Franklin D. Roosevelt)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>