Perjalanan Panjang Para Pemimpin

Jurus jalan panjang itu perjuangan dengan nafas panjang, berfikir panjang, berhitung lengkap, energi simultan, stamina tangguh, tidak sumbu pendek, berstrategi komprehensif, presisi skala prioritas, cinta dan setia kepada firman Allah” (Emha Ainun Nadjib)

Pada suatu malam, Amirul Mukminin Umar bin Khattab r.a. dalam kegiatan rondanya mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin. Sang Ibu berkata, “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”. Anaknya menjawab, “Kita tak boleh berbuat seperti itu, Bu. Amirul Mukminin melarangnya”. Sang Ibu masih mendesak, “Tidak mengapa, toh Amirul Mukminin takkan tahu”. Anaknya pun menjawab, “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, Tuhan Umar pasti tahu”. Umar r.a. yang mendengarnya lantas menangis, tersentuh dengan kemuliaan hati anak gadis tersebut. Sekembalinya ke rumah, Umar r.a. menyuruh ‘Ashim, anak lelakinya, untuk menikahi gadis tersebut.

Puluhan tahun kemudian, kas di baitul maal berlimpah, tidak ada masyarakat yang mau dan layak menerima zakat hingga harus didistribusikan ke negeri tetangga. Utang pribadi dan biaya pernikahan pun ditanggung kas Negara. Bahkan dikisahkan serigala dan domba dapat hidup berdampingan di masa itu. Adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang telah melakukan perubahan revolusioner hanya dalam kurun waktu 2 tahun 5 bulan pemerintahannya. Kepemimpinannya mungkin singkat, namun karyanya luar biasa. Dan sejatinya kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz adalah proses panjang. Sejak kecil ia telah dibina di Madinah oleh generasi sahabat dan tabi’in. Menjadikan beliau seorang hafizh Al Qur’an, perawi hadits, ahli fiqih sekaligus mujtahid dan pemimpin yang zuhud. Reputasinya kian cemerlang selama 7 tahun menjadi Gubernur Madinah. Kerendahan hati dan kesederhanaannya selama menjadi khalifah semakin menguatkan keteladanannya hingga dijuluki Khulafaur Rasyidin Kelima. Dan sejatinya, proses kepemimpinannya sudah dimulai sejak Umar bin Khattab r.a. bermimpi mempunyai generasi penerus pemimpin ummat yang adil berkharisma dengan luka di dahinya. Bahkan proses tersebut telah dimulai sejak neneknya menolak permintaan Sang Ibu untuk diam-diam menambahkan air ke dalam susu. Ya, Umar bin Abdul Aziz adalah putra dari Ummu ‘Ashim, Laila binti ‘Ashim bin Umar bin Khattab.

Kepemimpinan adalah proses panjang, sejak zaman para Nabi dan Rasul hingga saat ini keniscayaan tersebut tidaklah berubah. Hampir semua pemimpin besar yang kita kenal dibentuk lewat proses panjang. Hari ini mungkin tidak sedikit kita jumpai pemimpin instan. Namun yang sebenarnya dilalui adalah cara instan meraih jabatan kekuasaan, bukan menyoal kualitas kepemimpinan yang butuh proses dalam membangunnya. Karenanya jangan ditanya tentang kualitas para pemimpin karbitan ini. Akselerasi kepemimpinan memang mungkin dilakukan, namun tetap tidak mengesampingkan proses yang harus dijalani. Usamah bin Zayd r.a. yang menjadi panglima perang di usia 18 tahun misalnya, telah melalui berbagai proses pembuktian kepiawaiannya dalam kancah peperangan di usia belasan tahun. Atau sebutlah Muhammad Al Fatih yang menaklukkan Konstantinopel di usia 21 tahun. Kualitas kepemimpinannya sudah dipersiapkan sejak kecil. Hafidz Al Qur’an, menguasai beragam bahasa dan kepakaran, juga tak pernah meninggalkan shalat fardhu, shalat rawatib dan qiyamullail semenjak aqil baligh, tentu membutuhkan kesungguhan ekstra. Proses yang tidak mudah harus dilalui untuk mencapai kuaitas kepemimpinan jempolan.

Bagaimanapun, buah yang matang di pohon akan lebih manis dan segar rasanya dibandingkan buah karbitan. Memang bisa jadi dari luar tampilan buah karbitan lebih menarik, namun isinya tetap saja lebih hambar. Tampilan luar bisa direkayasa menjadi menarik dan simpatik, namun software-nya tetap butuh banyak diupgrade. Pengarbitan memang bisa mengakselerasi tingkat kematangan, namun ketika ada proses alami yang terlewat untuk dilakukan, tentu akan ada bagian kualitas yang hilang. Dan bagaimanapun, masakan rumah akan lebih sehat dibandingkan makanan instan. Mungkin makanan instan bisa lebih cepat mengobati lapar, apalagi dengan bantuan iklan disana-sini. Soal rasa mungkin bisa subjektif, namun efek jangka panjang makanan instan jelas lebih buruk. Kenikmatan semunya hanya sesaat, waktu lah yang akan menunjukkan bahaya penyakit yang menyertainya. Iklan bisa menipu karena memang hanya pesanan untuk membuat publik tertarik. Padahal ada masakan rumah yang barangkali butuh proses ekstra namun lebih sehat dan murah. Dan jangan harap potensi penyakit juga ikut diiklankan.

Een leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden (Jalan pemimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin adalah jalan yang menderita)”, demikian kata Kasman Singodimedjo, seorang anggota parlemen RI dari Masyumi. Proses menjadi pemimpin melalui jalan yang sangat jauh dan membutuhkan nafas panjang. Ada berbagai ujian, hambatan serta medan pembuktian yang menyertai jalan tersebut. Jelas lebih sulit dibandingkan jalan instan yang sebenarnya juga tak mudah. Karenanya lebih banyak yang memilih jalan pengikut yang lebih ramah dan risikonya rendah. Namun kesulitan itu akan sebanding dengan capaian kualitas yang terbentuk. Butuh persiapan matang, strategi tepat dan keyakinan kuat untuk melaluinya. Jalan inilah yang telah dipilih dan dilalui para pemimpin besar, pemimpin teladan, dan pemimpin para pejuang. Berbagai tantangan bahkan penderitaan yang menghadang hanyalah suplemen yang kian menyehatkan kualitas kepemimpinan mereka. Lantas, beranikah kita mengikuti jejak langkah mereka?

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar…” (QS. Al Balad: 10 – 11)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>