Al Qur’an Addict (1/2)

Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Abdullah bin Mas’ud)

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, Hudzaifah r.a. menceritakan pengalaman shalat malamnya bersama Rasulullah SAW. Setelah membaca Al Fatihah, Rasulullah SAW membaca surat Al Baqarah. Menjelang ayat ke-100 Hudzaifah r.a. mengira bahwa setelah ini Rasulullah SAW akan ruku’, ternyata beliau meneruskan bacaannya. Menjelang ayat ke-200 Hudzaifah r.a. mengira bahwa setelah ini Rasulullah SAW akan ruku’, ternyata beliau meneruskan bacaannya. Demikian seterusnya hingga Rasulullah SAW menyelesaikan Surah Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa.Dalam satu raka’at. Dalam hadits tersebut juga disebutkan bahwa lamanya ruku’ beliau sama seperti saat berdiri, dan lamanya sujud beliau sama seperti saat beliau ruku’. Hingga saat ini di Sudan dikenal adanya Qiyam Hudzaifah yang menyelesaikan Al Qur’an Surah Al Baqarah, Ali Imran, dan An Nisa dalam satu raka’at.

Tulisan ini tidak hendak membahas tentang kualitas dan kuantitas shalat kita, namun mari kita bayangkan persistensi kita dalam berinteraksi dengan Al Qur’an. Berapa lama kita merasa nyaman mendengarkan Al Qur’an dalam shalat? Barangkali jika imam membaca satu halaman saja, makmum ramai ‘pura-pura batuk’. Dan esoknya sudah ada kekhawatiran: yah, dia lagi yang jadi imam. Tak heran, masjid atau musholla yang ramai jama’ah shalat tarawih misalnya, biasanya karena bacaan imamnya cepat. Tak sampai satu menit, cukup satu hembusan nafas. Lebih cepat, lebih baik, dan lebih banyak peminat. Atau di luar shalat, berapa lama kita mampu bertahan tilawah? Ketika tiba-tiba rasa kantuk menyerang, dan waktu pun seolah terasa lama. Tanpa sadar, kita berhenti membaca dan mulai menghitung jumlah halaman yang sudah dibaca. Banyak sedikitnya bacaan mungkin relatif, namun kekurangnyamanan itu jelas dirasakan. Ada kekhusyu’an yang berat dipertahankan.

Mengapa waktu terasa begitu cepat ketika kita mendengarkan musik atau menonton film yang kita sukai? Karena jiwa kita menikmatinya. Rasa kantuk dan bosan mudah menyerang aktivitas yang kurang atau tidak dinikmati. Hal itu pula yang menjelaskan mengapa banyak orang yang tahan menonton pertandingan bola dua jam atau berjam-jam memancing ikan di kolam. Ya karena mereka menikmatinya. Kecepatan baca kita pun meningkat ketika membaca komik atau novel yang disukai. Semuanya selesai dalam waktu singkat. Lalu coba bayangkan kecintaan Hudzaifah r.a. mendengarkan bacaan Al Qur’an lebih dari lima juz dalam satu raka’at. Tak perlu bayangkan beratnya, karena semua menjadi ringan ketika kita menikmati prosesnya.

Kesulitan yang kita rasakan untuk merasa nyaman berinteraksi dengan Al Qur’an di antaranya disebabkan karena kita belum menemukan ketertarikan dengan Al Qur’an. Padahal Allah SWT telah memudahkan Al Qur’an untuk dipelajari, untuk dinikmati. Bahkan dalam Surah Al Qamar, Allah SWT empat kali mengatakan, “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”. Al Qur’an turun di kala Bangsa Arab tengah menggandrungi syair dan sastra. Nyatanya bahasa Al Qur’an menjadi daya magnet yang luar biasa kala itu. Tidak sedikit shahabat yang masuk Islam hanya karena mendengar lantunan ayat suci Al Qur’an, di antaranya Umar bin Khattab yang mendengarkan Al Qur’an Surah Thoha. Bahkan dikisahkan, para dedengkot musuh Islam kala itu seperti Abu Lahab dan Abu Jahal, diam-diam mencuri dengar pembacaan ayat Al Qur’an. Fitrah mereka tertarik dengan AlQur’an, pun kesombongan mereka mengingkarinya.

Ada sebagian orang yang tertarik dengan Al Qur’an karena berbagai inspirasi di dalamnya, termasuk hikmah dan ilmu pengetahuan. Beberapa orang membuka Al Qur’an di sembarang tempat ketika tertimpa masalah, dan secara ‘kebetulan’ surah atau halaman yang dibuka akan menyediakan jawaban atas permasalahan mereka. Sayangnya, bukan begitu karakteristik para pecinta Al Qur’an. Mereka tulus mencintai Al Qur’an secara keseluruhan. Bukan karena satu dua ayat yang menjadi sumber ketertarikan, apalagi hanya mendatangi Al Qur’an di saat butuh inspirasi ataupun jawaban atas berbagai permasalahan hidup. Para pecinta Al Qur’an ini menjadikan Al Qur’an sebagai candu di setiap bagiannya.

Perwujudan Al Qur’an Addict ini bisa dilihat di bulan Ramadhan, dimana sejak selepas shubuh, seusai zhuhur bahkan hingga setelah shalat tarawih di malam hari begitu banyak orang yang membaca Al Qur’an. Sebagian orang bahkan berlomba-lomba mengkhatamkan Qur’an. Namun para pecinta Al Qur’an sejati tidak mengenal sekat waktu bernama Ramadhan. Ketagihan berinteraksi dengan Al Qur’an mengisi hari-hari mereka. Dalam berbagai riwayat dikisahkan suatu ketika Abdullah bin Amr r.a. bertanya kepada Rasulullah SAW tentang lama waktu mengkhatamkan Al Qur’an. Rasulullah SAW awalnya menjawab satu bulan, namun Abdullah bin Amr r.a. terus mengatakan bisa lebih kuat dari itu sehingga Rasulullah SAW akhirnya bersabda, “Tidaklah bisa memahami jika ada yang mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari”.

(bersambung)

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>